
Karel sudah mendapatkan semua rekapan dari Waldorf Astoria ****Hotel**** tempat dimana kejadian saat itu terjadi, sangat jelas jika Saudara dan Ibu tirinya sengaja menjebak Lexa malam hari itu.
" Semua sangat jelas Jika memang Saudara Nyonya Alexa sengaja mencampuri obat di minuman dan memberikannya kepada Nyonya " Ucap Remon.
" Kamu bisa keluar "
" Baik Tuan "
Karel memijat pelipisnya, antara ingin memberi tahu Lexa berita ini atau tidak, jika dia memberitahu berarti pernikahannya berakhir dan melepaskannya namun kenapa malah hatinya terasa sesak.
Karel,, Come On bukan kah ini sangat baik kamu bisa terlepas dari gadis itu,, gumam Karel mengusap wajahnya kasar.
Sedangkan Lexa bersama Milea berjalan menuju Kantin, berita tentang Karel semalam tersebar luas di Kampusnya bahkan mereka menyayangkan karena tidak bisa melihat wajah wanita yang bersama Karel malam itu, mereka terlihat begitu dekat bahkan Karel terlihat sangat menjaganya.
" Hai Saudara tiri gue,, gimana kabar Lo hidup bahagia kah bersama suami baru Lo " Ucap Sesil dengan senyuman mengejek.
Lexa tidak menjawabnya dan terus memainkan ponselnya,,
" Eh,, gue bicara sama Lo " Kesal Sesil
Lexa tersenyum dan menatap Sesil,,
" Oh,, aku kira tidak ada orang,, Sorry tadi bicara apa aku sama sekali tidak mendengarnya "
" Loe,, !! "
" Sesilia " Ucap Seseorang membuat Sesil menurunkan tangannya.
Terlihat Nicol lah yang memanggil dan berjalan menghampirinya,,
" Kak Nicol,, " lirih Sesil
Nicol melirik Lexa dan menarik tangan Sesil,,
" Lo bilang ada makan malam, gue bisa datang" Ucapnya dan Sesil mengangguk.
Mereka berjalan meninggalkan Lexa yang masih menatapnya,,
" Ehem,, "
" Lea,, Apa sih "
" Jangan bilang Lo cemburu lihat mereka,, "
" Engga lah,, Aku hanya sangat merindukan Ayah saja "
Milea mengusap tangan Lexa, dia tau bagaimana manjanya Lexa dulu terhadap Ayahnya dan kini mereka malah berjauhan karena sebuah kesalahpahaman.
" Silahkan Mba Lexa, Mba Milea " Ucap Mang Mirja penjaga kantin Kampus.
" Terima kasih Mang " Ucap Lexa ramah.
" Sama sama Mba "
__ADS_1
Lexa menatap takoyaki di depannya sungguh sangat menggodanya dia pun langsung melahapnya.
Namun tiba tiba Lexa memegang dadanya yang terasa sesak,,
" Lexa,, Alexa Lo kenapa " Ucap Milea panik.
Lexa terus memegang dadanya yang semakin sesak, pandangannya pun kabur.
Bruk..!!!
Lexa jatuh pingsan membuat beberapa orang di sana berkerubung.
" Alexa, Lo kenapa Lexa bangun " Milea terus menggoyangkan tubuh Lexa
" Kenapa kalian cuma lihat,, Bantu gue "
Mereka akan membopong tubuh Lexa namun seseorang langsung menahannya.
" Permisi,, Astaga Nyonya " Ucap Rian yang langsung membopong tubuh Lexa dan membawanya menuju mobil.
Wajah Lexa mulai pucat semakin membuat Rian panik, sudah pasti dia akan di pecat Karel karena kejadian ini.
Sementara Karel segera menuju Rumah Sakit setelah mendapatkan Telpon dari Rian, dia pun panik saat mendengar jika Lexa pingsan di kampus.
Dengan kecepatan tinggi Karel melajukan mobilnya untuk bisa segera sampai di Rumah Sakit.
" Bagaimana keadaanya " Ucap Karel yang kini sudah sampai membuat Rian langsung beranjak.
" Dokter masih memeriksanya Tuan " Ucap Rian menunduk karena terlihat aura kegelapan di wajah Karel saat ini.
Pintu terbuka dan Karel langsung menghampiri
" Bagaimana keadaanya "
" Tu- Tuan Karel " Ucap Dokter gugup saat tau jika pasien yang baru saja di periksa nya merupakan orang laki laki Nomor satu.
" Maaf Tu-Tuan, Apa pasien memiliki alergi makanan "
Karel mengernyit, bagaimana dia tau selama ini bahkan mereka sangat jarang bertemu dab bicara.
" Apa Maksud Anda "
" Pasien mengalami alergi tetapi saya sudah memberikan obat di cairan infusnya "
Karel langsung menerobos masuk, mengabaikan Dokter yang masih berusaha menjelaskan.
Sementara Rian menatap bingung, seorang Karel Juan pria sedingin Es bisa sangat khawatir dengan seorang gadis kecil.
" Baik Dok,, terima kasi "
" Sama sama Tuan, Lebih baik pasien di rawat beberapa hari "
Rian mengangguk,,
" Saya permisi, "
__ADS_1
" Silahkan "
Rian kembali duduk menunggu di ruang tunggu dan terus memikirkan ucapan Dokter jika Lexa mengalami alergi.
Karel menatap Lexa yang terbaring lemah, tangannya di infus dan wajahnya masih pucat.
" Kenapa kamu begitu bodoh gadis kecil hingga sampai keracunan makanan " batin Karel menatap Lexa yang masih belum sadar.
Hari semakin senja dan Lexa belum juga bangun dari pingsannya, sedangkan Karel dia masih berada di sana menemaninya tanpa meninggalkannya.
Lexa mengerjabkan matanya dan menatap sekeliling, Ruangan yang asing dengan cat dinding bernuansa putih.
Dan kini matanya menatap laki laki di sampingnya, laki laki yang juga sedang menatapnya.
" Kamu sudah sadar, Saya panggil Dokter " Ucap Karel beranjak dan berjalan keluar.
Tidak lama Dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Lexa.
" Kondisi pasien masih sangat lemah, untuk beberapa hari lebih baik pasien di rawat "
" Lakukan yang terbaik "
" Baik Tuan "
Karel mengangguk dan kembali duduk menatap Lexa,,
" Kenapa begitu ceroboh memakan makanan yang ada racunnya "
Lexa mengernyit,,
Dirinya mengalami keracunan bukannya dia hanya makan takoyaki saja di kampus.
" Aku sakit kenapa kamu malah marahin aku "
Karel mengusap wajahnya,,
" Maaf,, " Ucapnya dengan merubah raut wajahnya.
" Apa yang kamu makan, kenapa bisa sampai seperti ini "
" Aku hanya jajan takoyaki "
" Takoyaki,, Apa isi di dalamnya "
Lexa terdiam dan dia baru teringat jika dia memiliki alergi Udang, namun tidak mungkin berisi Udang.
" Aku gak tau,, Aku memang alergi udang "
Karel menghela napasnya dan menatap Lexa,
" Terus bagaimana keadaan kamu, apa masih sesak "
Lexa menggeleng,,
" Istirahatlah,, Saya tinggal sebentar "
__ADS_1
Lexa menatap Karel yang berjalan keluar, rasanya begitu aneh sikap Karel hari ini apa dia mencemaskan nya?? Tapi tidak mungkin karena dia hanya serigala kutub yang bahkan hatinya sangat dingin seperti es.