
Lexa merasakan sesuatu dengan perutnya dan ini membuatnya sedikit tidak nyaman, bukan karena alerginya namun sepertinya tamu bulanan akan datang.
Dia pun melirik Karel yang masih berada di sampingnya namun dengan fokus menatap laptop yang sebelumnya Remon antar karena ada suatu pekerjaan yang harus segera di urusnya.
Rasanya tidak enak jika harus mengganggunya namun dia tidak mungkin menahannya sedangkan mereka berada di Rumah sakit sangat jelas jika tidak tersedia pembalut di sana.
" Karel " Lirih Lexa
Karel menoleh, namun matanya mengernyit menatap Lexa yang malah menggigit bibir bawahnya.
" Ada Apa "
" Tidak,, "
" Katakan,, sangat jelas jika kamu sedang memikirkan sesuatu "
Lexa menghela napasnya,,
" Aku,, aku bisa minta tolong " Ucapnya gugup
" Katakan "
" Tolong belikan aku pembalut,, "
" Apa,, Mana saya tau Alexa tahan sampai besok pagi dan baru aku meminta Rian untuk membelikannya "
" Mana bisa di tahan dasar aneh " gerutu Lexa
Karel menghela napasnya,,
" Tunggu sebentar " Ucapnya beranjak dan berjalan keluar sementara Lexa menahan perutnya yang mulai merasa tidak nyaman.
Karel sudah berada di supermarket yang tidak jauh dari Rumah Sakit, dengan menggunakan masker juga Topi dia berada di rak yang berisi berbagai macam merk. namun dia merasa bingung sedangkan dia sama sekali tidak tau Alexa biasa memakai merk apa.
" Permisi Tuan, Apa bisa dibantu " Ucap salah satu pegawai
Karel mengangguk,,
" Carikan yang paling nyaman "
" Baik Tuan, biasanya Merk ini sangat nyaman di pakai "
Karel mengambilnya,,
" Terima kasih "
Dia pun segera menuju kasir untuk membayarnya sementara beberapa orang termasuk karyawan yang membantunya tadi merasa kagum karena biasanya seorang laki laki akan malas jika di minta untuk membelikan pembalut namun berbeda dengan Karel.
Karel kembali ke dalam mobilnya dan melepas topi juga masker yang menutupi wajahnya, dia sengaja menyamar untuk menutupi Identitasnya.
Banyak wartawan yang masih terus mengejarnya.
Di Rumah Sakit,,
Lexa sudah berada di dalam kamar mandi menunggu Karel membuatnya sedikit tidak nyaman.
Karel mengernyit saat tidak menyadari adanya Lexa di ranjangnya,,
" Alexa,, " Ucap Karel beranjak.
__ADS_1
" Aku di sini, bawa ke mari " teriak Lexa dengan berteriak.
Karel berjalan mendekat dan mengetuk pintunya,
" Terima Kasih "
Karel menunggunya di kursi dan tidak lama Lexa keluar dengan tangannya memegang perutnya,,
Karel terus menatapnya,, hingga Lexa kembali berbaring dengan meringkuk,,
" Ada Apa dengan perut kamu, apa kembali merasa sakit " Ucap Karel namun Lexa menggeleng.
" Perutku " Ucap Lexa menahan rasa yang begitu sakit.
" Saya panggil Dokter "
Lexa menahan tangannya dan menggeleng membuat Karel mengernyit bingung,,
" Ini biasa terjadi jika tamu bulanan datang "
Karel terdiam, dia sama sekali tidak tau akan hal itu namun dia teringat saat dulu Mommy nya merasa kesakitan dan akan lebih baik saat minum air hangat.
Karel beranjak dan mengambil air hangat untuk Lexa..
" Minumlah " Ucapnya dan Lexa menggeleng.
" Air hangat bisa meringankan rasa sakit "
Lexa menatapnya dan beranjak bangun dengan Karel membantunya,,
Lexa menurut dan meminumnya,,
" Istirahatlah,, Saya di sini temani kamu "
Karel terus menatapnya, rasanya tidak tega menatap Lexa menahan rasa sakitnya,,
Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Lexa namun di tahannya.
Dia pun hanya terus menatapnya hingga Lexa pun terlelap.
Hari semakin larut,,
Karel memijat pelipisnya dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 12 malam, dia pun menatap wajah damai Lexa yang sudah tertidur.
Tanpa sadar tangannya mengusap pucuk rambutnya,,
Ada apa dengan gadis kecil ini, kenapa aku selalu saja tidak bisa menolak keinginannya..
Karel yang mulai mengantuk pun menyenderkan kepalanya pada tepi kursi dan tidak lama dia pun tertidur.
******
Keesokan Harinya,,
Lexa membuka matanya dan langsung menatap Karel yang tertidur di kursi, bahkan tangannya menggenggam tangannya.
Lexa akan melepaskannya namun takut mengganggu tidurnya,,
Ternyata serigala Kutub pun bisa setampan ini saat tertidur bahkan wajahnya begitu damai. Gumam Lexa tersenyum menatap wajah Karel namun matanya membulat merutuki ucapan yang baru saja dilontarkannya.
Karel mengerjabkan matanya merasakan sesuatu yang mengganggu tidurnya,,
__ADS_1
" Kenapa begitu berisik " Ucap Karel dengan suara Khas bangun tidur
Lexa mengangkat tangannya,,
" Aku ingin ke kamar mandi tapi kamu terus memegang tanganku "
Karel langsung melepaskannya,,
" Tidak mungkin Saya yang menggenggamnya pasti kamu sendiri kan? "
Lexa mencebikan bibirnya dan langsung menurunkan kakinya berjalan menuju kamar mandi.
Sementara Karel mengusap wajahnya, dia tidak menyangka jika malah menggenggam tangan Alexa.
Lexa sudah bersiap pulang karena keadaanya sudah lebih baik, dan dia masih menunggu Rian untuk menjemputnya,,
Karel menatapnya,,
" Kenapa " Ucapnya
" Kenapa Rian belum datang, bahkan aku telpon tidak dia angkat "
" Rian masih ada pekerjaan "
" Loh,, Terus aku, -
" Aku pulang bersama Saya "
Lexa membulatkan matanya namun tatapan Karel membuatnya tersenyum,,
" Iya,, Tapi, -
" Apa lagi ? "
" Mana Topi kamu,, "
" Buat Apa "
" Ya Udah sini "
Karel memberikannya dan Lexa langsung memakainya,,
" Tidak lucu bukan jika kembali ada berita Karel Juan bersama seorang wanita dan wanita itu adalah Alexa " Ucap Lexa menatapnya
Karel menggeleng dan melangkah keluar,,
" Karel tunggu,, " Teriak Lexa namun Karel terus berjalan cepat.
" Karel,, Aku baru saja sembuh "
Ucapan Lexa kini membuat Karel menghentikan langkahnya dan menoleh,,
Dia pun kembali berjalan menghampiri Lexa yang tersenyum menatapnya,,
" Yuk " Ucap Lexa dengan tangannya memeluk lengannya sontak saja membuat Karel kaget namun juga membiarkannya.
__ADS_1
Mereka berjalan menyusuri Lorong Rumah Sakit, beberapa suster menatap mereka namun siapa sangka jika di sana ada salah satu wartawan yang langsung mengambil foto mereka.