
Karel tersenyum menatap wajah gadis kecilnya yang masih terlelap dalam pelukannya, bahkan wajahnya sangat damai, wajah polosnya terlihat sangat cantik membuat Karel betah untuk terus menatapnya.
Kejadian malam tadi terus terbayang membuat Karel tersenyum, dimana mereka telah menyatukan rasa cinta mereka dan tidak akan mungkin berpisahkan.
Derrt,,, Derrt,,
Ponsel Lexa kembali berdering membuat Karel segera mengambilnya dan membawanya menjauh agar tidak membangunkan gadis kecilnya yang masih terlelap.
Di tatapnya Sesil yang menghubungi Lexa membuat Karel langsung menggeser tombol hijau,,
" Dasar Lo pembohong,, Lo bilang bakal bujuk Nicol untuk meneruskan pertunangan gue dengan nya tapi mana, sampai saat ini Nicol tetap tidak mau meneruskan dan Nicol selalu mengharap kalian kembali bersama,, mana janji Lo hah,, "
" Sepertinya Anda lupa dengan ucapan Saya saat itu Nona Sesilia "
" Ka- Karel,, "
" Saya sudah pernah bilang jangan pernah ganggu istri saya tapi sepertinya Anda sama sekali tidak mendengarnya,, Atau Anda lupa jika Saya bisa saja menyebarkan Vidio Anda malam itu "
Tut,, tut,, tut,,
Karel meremas ponselnya dan segera menghubungi Rian,,
--------_------
Sementara Sesil langsung menyimpan ponselnya, wajahnya berubah merah ketakutan karena dia salah berurusan dengan orang.
Sesil lupa jika Karel memiliki Vidio dirinya malam Itu dan jika tersebar tamat sudah riwayat dia tidak akan bisa menjadi menantu keluarga Bagaskara.
" Kamu disini ternyata Sayang " Ucap Sarah menghampiri Sesil.
" Sayang,, Kamu sakit kenapa wajah kamu merah seperti itu " Lanjutnya membuat Sesil menggeleng.
" Tidak Ma, Aku tidak papa,, Aku ke toilet Bentar " Ucap Sesil langsung menuju toilet namun Sarah terus menatapnya bingung.
Mereka masih berada di Rumah Sakit namun hingga saat ini Nicol tidak mau bertemu dengan Sesil.
" Nicol,, kamu makan dulu ya terus minum obatnya " Ucap Miranda
" Ma,, Bagaimana keadaan Bapak itu "
Miranda menatap Nicol, dia tau yang Nicol maksud adalah penjual yang telah di tabrak nya.
" Dia sudah pulang karena tidak ada luka yang parah, dan masalah kerugian Papa sudah mengurusnya,,
Sekarang kamu lebih baik fokus untuk kesehatan kamu "
Nicol mengangguk dan mulai menikmati sarapannya.
**********
Karel sudah rapi dengan pakaian santainya namun Lexa masih terlelap membuat Karel membiarkannya.
__ADS_1
Dia pun berjalan turun dan terlihat sudah ada Bik Minah di sana.
" Tuan Karel,, Sudah lama tidak bertemu Tuan " Ucapnya saat melihat Karel.
" Bik Minah apa kabar "
" Baik Tuan,, Maaf Tuan,, Bambang bilang jika Tuan datang bersama istri Tuan apa itu benar"
" Ya,, Istri Saya masih di kamar "
" Astaga,, Berarti Tuan sudah menikah,, Saya ikut bahagia mendengarnya "
Karel tersenyum,,
" Oya Bik,, tolong buatkan teh untuk saya dan istri saya ya "
Minah terdiam,,
Dia tau jika majikannya ini selalu minta dibuatkan kopi dan sekarang Teh, apa dia salah mendengarnya.
" Bik,, " Ucap Karel
" Maaf Tuan,, sebentar saya buatkan"
Karel mengangguk dan duduk di kursi, menatap beberapa foto yang terpajang di sana dan sama sekali tidak di ubah namun tetap di rawatnya.
" Aw,, sakit,, sakit " Rintihnya
Karel yang baru saja masuk langsung mendekat,,
" By,, " Ucapnya meletakan nampan di atas meja dan duduk di samping Lexa yang masih menahan rasa sakitnya.
" Sakit,, " Ucapnya membuat Karel tidak tega
" Mana Aku lihat "
" Eh,, Engga mau " Cegah Lexa membuat Karel menatapnya.
" Kenapa,, Aku bahkan sudah melihat semuanya By " Ucap Karel membuat Lexa merasa malu mengingat jika semalam mereka telah melakukannya.
" Aku mau mandi " Ucap Lexa dan Karel tersenyum,,
Tidak membutuhkan waktu lama Karel langsung membopong tubuh Polos Lexa dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Karel sudah menyiapkan air hangat dan sedikit ramuan untuk meringankan rasa sakit Lexa.
" A- aku bisa sendiri " Ucap Lexa saat Karel akan membantunya
" Tapi kamu masih sakit By "
__ADS_1
" Tidak,, Kamu tunggu di luar "
" Baiklah,, Panggil aku jika membutuhkan sesuatu,, "Ucap Karel mengacak rambut Lexa.
Lexa mengangguk dan memejamkan matanya dengan berendam di sana.
Air hangat juga ramuan dengan harum yang membuat Rilex.
Sudah hampi satu jam namun Lexa belum keluar membuat Karel khawatir.
"By,, kamu tidak apa apa, aku masuk ya "
Ceklek,,
" Rel,, Tolong bantu aku ambilkan handuk, aku lupa bawa tadi " Ucap Lexa dengan hanya memunculkan wajahnya
Karel berjalan menuju lemari dan mengambilkannya.
" Makasih Hubby " Ucapnya langsung menutup pintu membuat Karel menggeleng.
Lexa jalan dengan sangat pelan dan menatap sekeliling, dia mencari keberadaan Karel di sana.
" Yes aman " Ucap Lexa berjalan menuju lemari hanya dengan handuk yang melilit tubuh polosnya.
Sementara Karel yang baru saja dari balkon kamarnya menatap kaki jenjang gadis kecilnya bahkan hanya dengan menggunakan handuk membuat tubuh mulusnya terekspos.
Karel terus menatapnya tidak berkedip, dia menelan salivanya saat kembali melihat Lexa yang berjinjit mengambil pakaiannya.
" Eh,, " Ucap Lexa memegang handuknya yang hampir terlepas karena seseorang yang memeluknya dari belakang.
Siapa lagi jika bukan Karel suaminya,,
" Rel,, lepas dong " Lanjut Lexa namun Karel menggeleng dan menciumi punggung mulus Lexa menghirup wangi sabun.
Lexa menghela napasnya dan memutar tubuhnya,,
" Nanti lagi ya,, masih sakit " Ucap Lexa membuat Karel tersenyum.
Cup,,
Kecupan singkat Karel berikan untuk gadis kecilnya.
" Tubuh kamu benar benar membuat candu by "
Lexa menautkan alisnya,,,
" Udah ah,, Aku ganti baju dulu Oke "
Karel terkekeh dengan tingkah istrinya,,
Dia pun merogoh saku celananya dan senyumannya terpancar saat melihat isi pesan di ponselnya..
__ADS_1