
Abrar menghubungi Devan untuk memeriksa keadaan si kembar yang sedang demam di kamarnya. Delina dan balqis tampak sedang menemani mereka berdua. Delina tak henti-hentinya ngakak saat melihat si kembar yang tergolek lemas di ranjang mereka.
“Ngakak mulu!” Ujar Melia kesal pada Delina.
“Senang banget kita sakit!” Sambung Melani.
“Lucu banget, wanita usil sedang sakit! Hahaha.” Delina tambah kenceng ngakaknya.
“Awas loh, di kamarmu ada setan.” Kata Melia menakuti Delina.
“Pppfffttt, hahahahahaha.” Delina tambah ngakak.
“Setan apanya?” Tanya Balqis.
“Mi, semalam waktu kami masuk ke kamar Delina, tiba-tiba muncul kuntilanak di hadapan kami.” Kata Melia lagi.
“Mau apa kalian ke kamar Delina?” Tanya Balqis.
“Biasa lah!” Sahut keduanya.
“Dasar, tukang jahil!” Ujar Balqis.
“Mami, om Devan mana? Lama banget!” Kata Melani tak sabaran.
“Iya mi, aku sudah tak tahan! Rasanya nyawaku sudah di tenggorokan!” Kata Melia berlebihan.
“Hei, kalian cuma demam biasa bukan flu ****!” Ujar Balqis kesal pada si kembar.
Delina terus tertawa di samping Melia. Tak lama Devan pun tiba dan langsung menemui sang keponakan di dalam kamar yang terbaring lemah nan tak berdaya.
“Om dokter, tolong selamatkan nyawaku om!” Kata Melia dengan tampang memelas.
“Sini aku periksa dulu ya!” Sahut Devan memeriksa dengan stetoskopnya.
“Om, apa aku akan meninggal?” Tanya Melia lagi.
“Diamlah, kau menjijikan!” Ujar Melani kesal pada Melia yang terlalu berlebihan.
“Hehehe, kalian hanya demam biasa! Om akan berikan obat pereda demam dan juga vitamin.” Kata Devan.
“Om, vitaminnya jangan buat aku jadi gendut ya om.” Kata Melani.
“Iya!” Sahut Devan.
“Om, aku tak mau minum obat! Suntik aja om, biar cepat sembuh.” Kata Melia.
“Tak perlu suntik, melia!” Kata Devan masih sabar.
"Kenapa om? Suntiknya habis buat tante Clara ya? Hehehe." Ujar Melia meledak Devan.
"Bukan suntik yang itu, melia!" Sahut Devan.
"Hohohohohoho." Si kembar masih bisa ngakak melihat wajah Devan memerah malu.
“Dokter…dokter….tolonglah aku! Cepat suntik saja sebelum telat.” Kata Melia.
“Itu lirik lagu grup band zambrut, Mel.” Sahut Devan dengan tingkat kesabaran yang tinggal setengah.
“Om, kalau dia minta suntik saja! Sekalian suntik mati.” Kata Melani.
“Tidak boleh ngomong gitu melani.” Sahut Devan dengan tingkat kesabaran tinggal seperempat.
Devan tak fokus menulis resep obat saat si kembar yang tak mau berhenti bicara padanya.
“Om…..
“Apa lagi, hah?” Teriak Devan emosi pada si kembar.
Si kembar kaget dan langsung nangis.
“Hhhuuuwwwaaa, om dokter udah gila! Tiba-tiba ngamuk.” Ujar keduanya.
“Aku memang gila mendapat pasien aneh seperti kalian berdua, huhuhuhu.” Si Devan malah ikutan nangis.
Abrar, Balqis dan Delina malah ngakak melihat Devan menangis karena ulah si kembar.
“Ini resepnya!” Kata Devan pada Abrar.
“Kau mau kemana?” Tanya Abrar.
“Pulang!” Sahut Devan.
“Apa kau tidak mau minum kopi dulu?" Sambung Balqis.
“Tidak nafsu!” Sahut Devan.
“Kenapa?” Seru Abrar dan Balqis.
“Karena si kembar! Mereka memang super.” Kata Devan.
“Hehehehe, semua anak-anakku memang super!” Kata Abrar.
“Super somplak! Sama seperti mami papinya.” Sahut Devan.
Setelah Devan pergi, Balqis kembali menemani si kembar di kamarnya. Tak lama kemudian terdengar suara mobil di depan rumah. Ternyata Azlan yang baru saja tiba setelah perjalanan bisnisnya.
“Sepi sekali!” Gumam Azlan masuk kedalam rumahnya.
“Kau sudah kembali?” Kata Abrar.
“Iya pi.” Sahut Azlan.
“Hei, bagaimana dengan Yasmin?” Tanya Abrar.
“Aku berhasil! Hehehehe.” Sahut Azlan kegirangan.
“Bagus! Kau memang persis seperti diriku, hehehe.” Kata Abrar mengacungkan dua jempolnya kepada Azlan.
“Mami mana pi?” Tanya Azlan.
“Di kamar si kembar! Si kembar sedang sakit.” Kata Abrar.
Mendengar adiknya sakit, Azlan langsung berlari menemui adiknya itu dengan perasaan yang sangat cemas.
Saat azlan masuk si kembar langsung mewek(sedih) minta di peluk.
“Kakak!” Seru keduanya mewek.
“Kenapa?’ Tanya Azlan.
__ADS_1
“Demam.” Sahut keduanya memeluk Azlan.
“Sudah hubungi om Devan, mi?’ Tanya Azlan pada Balqis.
“Sudah, katanya cuma demam biasa.” Kata Balqis.
“Kak, mana oleh-oleh untukku?” Tanya Melia.
“Iya, aku ingin sepatu bermerk dari Itali!” Sahut Melani.
Pppllleeetttaaakkk………
Pplllleeeetttaaakkkkkk………
“Bisa-bisanya menanyakan hal itu saat aku sedang khawatir pada kalian, hah?” Teriak Azlan kesal pada kedua adiknya yang kembar itu.
“Hhuuwwaaaa, sudah sakit malah di ketok!" Ujar si kembar.
“oke, oke! Aku minta maaf!” Ucap Azlan agar adiknya berhenti menangis.
Si kembar berhenti menangis dan menengadahkan tanganya.
“Apa?” Tanya Azlan.
“Kau mau maaf dari kami?” Tanya Melia.
Azlan mengangguk.
“Belikan baju bermerk untuk kami, nanti malam kan malam minggu.” Kata si kembar.
“Hah, mereka selalu menodongku!” Ucap Azlan menghela nafas panjang.
“Iya, baiklah! Tapi janji jangan sakit lagi.” Kata Azlan.
Si kembar mengangguk.
Akhirnya si Azlan ikut berbaring untuk menemani si kembar beristirahat di kamarnya menggantikan Balqis yang repot setelah Chika pulang dari sekolahnya. Mereka bertiga pun tertidur dengan sangat pulasnya dengan posisi si Azlan berbaring di tengah si kembar.
Malam harinya Azlan sudah rapi dengan kemeja biru dengan bau minyak wangi yang dapat tercium hingga radius 500 kilometer jaraknya. Chika si bungsu nyelonong masuk ke dalam kamarnya.
“Wangi banget! Pakai minyak wangi satu botol ya kak?” Tanya Chika.
“Bukan 1 botol, tapi 5 botol! Hahaha.” Sahut Azlan.
“Dasar gila!” Ujar Chika sewot pada Azlan.
“Pasti mau pergi kerumah kak Yasmin!” Kata Chika.
“Ddiihh, tau aja nih bocah!” Sahut Azlan.
“Iya dong! Kak Azlan kan tergila-gila padanya.” Kata Chika.
“Kak……
“Tak boleh! Kau tidak boleh ikut!” Azlan langsung memotong omongan Chika dengan tegas.
“Huh, tau saja aku mau minta ikut!” Gumam Chika kesal.
“Bye!” Azlan langsung pergi meninggalkan chika.
“Hhheemmmpppp!” Chika semakin kesal dengan kakaknya.
“Hei, mau apa kau?” Tanya Azlan dengan songongnya kepada sang asisten.
“Jemput kekasih dong!” Sahut Dandi.
“Aku mengawasi kalian berdua.” Ancam Azlan.
Lalu Azlan keluar dari mobilnya dan berdiri di hadapan Dandi.
“Bagaimana tampangku malam ini?” Tanya Azlan.
“Siiipp lah!” Sahut Dandi mengacungkan dua jempolnya.
“Oke!” Ujar Azlan masuk kembali kedalam mobilnya.
“Yasmin, i am coming!” Teriak Azlan langsung menancap gas mobilnya.
Tak lama kemudian tibalah si konyol Azlan di depan pintu rumah Yasmin. Ia pun mengetuk pintu rumahnya dan memanggil Yasmin. Yasmin pun membuka pintu rumahnya dan melihat Azlan berdiri di hadapannya.
“Kau?” Ucap Yasmin.
“Eh?” Gumam Azlan kaget.
“Apa?” Tanya Yasmin.
Azlan masuk kedalam rumah dan menarik Yasmin masuk ke dalam kamarnya.
“Apaan sih?” Ujar Yasmin.
“Ini malam minggu, kenapa kau hanya pakai baju daster?” Tanya Azlan.
“Apa kau lupa kalau kau sudah punya pacar tertampan sejagat raya sepertiku ini?” Tanya Azlan lagi.
“Hah, aku lelah! Jadi aku hanya ingin santai dirumah saja.” Sahut Yasmin.
Azlan melihat Yasmin dari atas hingga bawah. Malam itu Yasmin hanya menggunakan daster pendek hingga lututnya. Azlan tersenyum mesum.
“Hehehe, begini juga tak masalah, biar lebih gampang.” Ucap Azlan sudah mikir jorok.
“Apa maksudmu?” Tanya Yasmin berdegik ngeri dengan tatapan mesum Azlan.
“Hehehe, kau bilang kau lelah bukan? Kalau begitu kita tiduran saja, karena aku tiba-tiba juga lelah!” Ucap Azlan modus sambil menarik Yasmin berbaring di atas ranjang miliknya.
“Huh, dasar modus! Bilang saja kau mencari kesempatan dariku.” Gumam Yasmin sewot.
“Hehehehehe, pinter banget mikirnya.” Kata Azlan.
Mereka berdua pun memutuskan untuk berkencan dirumah saja. Mereka hanya berbaring dan saling mendekap
sambil mengobrol tentang rencana Abrar dan Balqis yang akan membuat acara pertunangan untuk mereka.
“Yasmin, jika kita sudah menikah nanti kau ingin punya anak berapa?” Tanya Azlan yang mikir kejauhan.
“Eeeemmm, kalau kau ingin berapa?” Yasmin nalik bertanya.
“1 saja, biar tidak repot!" Sahut Azlan trauma dengan 11 adiknya.
“Hehehehe, trauma bener nih.” Gumam Yasmin.
__ADS_1
“Sepasang deh!” Sahut Yasmin ingin dua anak cowok cewek.
“Anak pertama cowok dan yang kedua cewek, atau sebaliknya.” Sambung Yasmin lagi.
“Eh, kalau anak kedua cowok lagi gimana?” Tanya Azlan.
“Hamil lagi dong!” Sahut Yasmin.
“Kalau yang ketiga cowok juga?” Tanya Azlan berpikir keras.
“Ya hamil lagi, hehehehe.” Sahut Yasmin.
“Sampai dapat anak cewek?” Tanya Azlan.
Yasmin mengangguk.
“Jika itu terjadi………
Azlan sedang berkhayal jika dia di kelilingi oleh belasan anak laki-laki dan juga melihat Yasmin sedang hamil lagi karena ingin mendapatkan bayi perempuan.
“Aaaarrggghh, aku bisa gila!” Ujar Azlan menjambak rambutnya sendiri.
“Eh, kenapa?” Tanya Yasmin bingung.
“Satu saja cukup!” Kata Azlan merengek.
“Tidak! Aku mau sepasang.” Ujar Yasmin.
“Satu saja deh, pliiiisss!” Kata Azlan memohon.
“Tidak!” Sahut Yasmin.
Setelah lelahnya berdebat dengan jumlah anak yang sedang mereka rencanakan, akhirnya kedua bocah itu tertidur lelap di kamar itu. Keesokan paginya, saat Yasmin membuka mata ia melihat sosok pria yang membuatnya terkejut.
“Aaarrgghh!” Teriak Yasmin yang kaget melihat Azlan di sampingnya.
Azlan pun terbangun.
“Ada apa? Pagi-pagi sudah teriak!” Kata Azlan.
“kau, semalam menginap disini?” Tanya Yasmin.
“Hah, baru sadar?” Ujar Azlan.
Yasmin cepat-cepat membuka selimutnya dan melihat pakaiannya yang masih lengkap.
“Hhuuufftt, syukurlah!” Gumam Yasmin bernafas lega.
“Hei, aku sudah katakan padamu! Aku tak akan melakukan hal itu sebelum menikah! Aku masih perjaka, tau.” Ujar Azlan.
Yasmin kemudian turun dari ranjang dan menuju ke dapur. Azlan mengikutinya dan memeluknya dari belakang.
“Kau masak apa?’ Tanya Azlan.
“Nasi goreng dan telur mata sapi” Jawab Yasmin.
“Siipp!” Sahut Azlan.
Azlan duduk di kursi meja makan sambil menunggu Yasmin yang sedang membuat sarapan. Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Yasmin pun membukanya.
“Kakak!” Seru kesebelasan dari kampung hawa.
Yasmin kaget melihat semua adik Azlan datang kerumahnya pagi-pagi.
“Hahahaha, hai!” Sapa Yasmin canggung.
Azlan yang mendengar suara adik-adiknya langsung berlari mencari tempat untuk bersembunyi. Semua adik-adiknya masuk dengan membawa makanan untuk sarapan bersama dengan Yasmin. Azlan masuk kedalam lemari pakaian Yasmin di dalam kamar untuk bersembunyi.
“Kalau mereka tau aku disini, bisa gawat! Mami sama papi akan menghajarku kalau tau aku menginap dirumah Yasmin semalam.” Gumam Azlan.
Yasmin tak bisa berkutik saat semua adik Azlan datang mengunjunginya. Mereka pun makan bersama pagi itu. Nasi goreng buatannya di makan oleh rindi yang doyan makan pedas. Sedangkan Yasmin makan makanan yang di bawa oleh mereka untuknya.
Saat sedang menyantap makanannya, mata si kembar tertuju pada sepasang sepatu yang tak lain adalah milik Azlan. si kembar saling tatap dan mulai cengengesan.
“Yasmin, apa kak Azlan datang kesini semalam?” Tanya si kembar.
“I..i…iya.” Sahut Yasmin gugup.
“Setelah itu dia pergi kemana? Apa kau tau?” Tanya Melani.
“Aku tak tau!” Sahut Yasmin dusta.
“Soalnya kak Azlan tidak pulang semalam! Aku pikir dia nyangkut disini, hehehe.” Kata Melia menyindir Azlan yang berada di tempat persembunyiannya.
“Huh, si kembar pasti tau aku berada disini!” Gumam Azlan yang masih di dalam lemari.
Two hour later.
Kkrrriiuukkkk…………..
“Yasmin, aku sangat lapar.” Ucap Azlan dalam hatinya sambil memegangi perutnya yang keroncongan.
Para jamaah dari kampung hawa mengitari rumah Yasmin. Mereka melihat-lihat beberapa foto yang terpajang
di dinding rumahnya. Saat perhatian Yasmin sedang sibuk dengan yang lain, si kembar masuk ke dalam kamar Yasmin untuk memastikan Azlan sedang bersembunyi. Mata melani melihat kearah lemari.
“Hihihi, kakak pasti disitu!” Bisik Melani pada Melia.
“Iya, kau benar!” Sahut Melia.
Si kembar yang jahil pun tak tinggal diam, mereka ingin membuat Azlan mati ketakutan dengan mereka berdua.
“Melia, aku ingin sekali membuka lemari ini dan melihat-lihat baju Yasmin.” Kata melani yang membuat jantung Azlan berdebar kencang.
Melia mencoba untuk membuka pintu lemari itu, namun tak bisa karena Azlan menariknya agar tak bisa terbuka dari luar.
“Sialan!” Umpat Azlan.
“Hah, lemari ini sangat susah untuk di buka!” Kata Melani.
“Aku akan menendangnya!” Ujar Melia.
Melia dan Melani pun menendang lemari itu dengan keras sambil tertawa jahat.
“Kurang ajar! Dasar adik yang tidak berprasaan.” Umpat Azlan dalam hatinya sambil terus menahan lemari itu.
Setelah puas menjahili Azlan, si kembar keluar dari kamar Yasmin sambil terkekeh jahat.
__ADS_1