
Keesokan harinya Abrar datang menemui Dandi di ruang kerjanya. Dandi sangat terkejut saat melihat Abrar yang masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan, jika kau perlu sesuatu kau tinggal menghubungiku saja tak perlu repot-repot datang kesini." Kata Dandi.
"Mulai sekarang jangan panggil aku tuan!" Kata Abrar.
"Lalu?" Tanya Dandi bingung.
"Panggil aku papi! Bersiaplah, bulan depan kau dan Delina akan segera menikah." Kata Abrar.
"Apa?" Ucap Dandi terkejut dengan keputusan Abrar.
"Apa kau tidak mau?" Tanya Abrar.
"Aku mau!" Seru Dandi kegirangan.
Abrar menipiskan senyumannya dan berlalu keluar ruangan Dandi. Masih terlihat oleh Abrar kalau Dandi sedang jejingkrakan di dalam karena terlalu senang.
"Hehehe, dia tergila-gila dengan pesona putriku!" Gumam Abrar
Azlan yang baru saja tiba di kantor melihat Dandi yang sedang kegirangan di dalam ruangannya. Azlan sangat kebingungan saat melihat asistennya jejingkrakan gak jelas di dalam sana.
"Si Dandi kenapa?" Gumam Azlan kebingungan.
Lalu Azlan melebarkan matanya seolah tau apa yang terjadi pada Dandi. Azlan menyuruh pada sekretarisnya untuk membeli kembang tujuh rupa untuk Dandi. Tak lama kemudian, Azlan masuk keruangan Dandi dengan kembang tujuh rupa yang di beli oleh sekretarisnya.
"Pergilah kau setan! Pergilah." Kata Azlan sambil melemparkan kembang tujuh rupa itu ke wajah Dandi.
"Bos, apaan sih?" Tanya Dandi sambil tersedak karena salah satu kelopak bunga itu masuk kedalam mulutnya.
"Pergi kau setan! Jangan ganggu asistenku!" Teriak Azlan bak seorang dukun yang sedang mengobati orang kerasukan.
"Bos, mana setannya?" Teriak Dandi ketakutan menoleh ke segala arah.
"Dasar setan! Berlagak begok, hah? Kau setannya! Kau sedang merasuki tubuh asistenku hingga dia jejingkrakan tak jelas tadi." Kata Azlan.
Seketika si asisten cerdas itu berpikir untuk mencerna perkataan bosnya yang sangat konyol.
"Bos, aku ini bukan kerasukan setan, tapi aku sedang senang." Kata Dandi sewot.
"Apa? Kau tidak kerasukan?" Tanya Azlan sambil memegang kantung plastik yang berisikan kembang tujuh rupa.
"Ya enggak lah, bos! Apaan sih." Sahut Dandi.
"Hah, dasar konyol! Aku pikir kau sedang kerasukan tadi." Kata Azlan melemparkan kantong plastik yang ia pegang ke wajah Dandi.
"Kau yang konyol!" Teriak Dandi sudah hilang batas kesabarannya mengahadapi seorang CEO seperti Azlan.
Azlan duduk di kursi ruang kerja asistennya itu.
"Jadi kenapa kau jingkrak-jingkrak tak jelas begitu?" Tanya Azlan.
"Bos, aku mau nikah dengan Delina!" Seru Dandi.
"Sejak tahun lalu kau mengatakan hal itu padaku, tapi mana buktinya?" Kata Azlan.
"Kali ini aku pastikan akan menikahinya, bos! Tadi papi Abrar sudah mengatakannya padaku." Kata Dandi.
Medengar nama papi Abrar, Azlan yang awalnya duduk santai langsung menegakkan tulang punggungnya.
"Apa kau serius?" Tanya Azlan.
Dandi mengangguk cepat.
"Wah, selamat ya kau akan menjadi suami dari adikku yang bodoh itu." Kata Azlan.
"Hei, Delina itu istimewa." Kata Dandi.
"Dari mana kau tau kalau dia istimewa?" Tanya Azlan.
"Kan bos sendiri yang pernah bilang kalau Delina itu adiknya bos yang paling istimewa karena kebodohannya!" Teriak Dandi.
"Hehehe, aku lupa!" Kata Azlan cengengesan.
"Baiklah, kalau begitu selamat menikmati hidup dengan seorang wanita yang sangat bodoh seperti Delina. Jangankan dalam urusan belajar, terkadang bicara dengan Delina itu harus memiliki energi kesabaran yang sangat ekstra, karena dia tulalit!" Kata Azlan.
"Kau benar." Sahut Dandi frustasi.
"Hehehehe, terima saja nasibmu." Kata Azlan.
Abrar sudah kembali pulang dari kantor setelah menemui Dandi disana. Ia di sambut oleh wanita yang sudah puluhan tahun hidup mendampingi dirinya.
"Kau dari mana saja? Pergi tidak bilang padaku." Tanya Balqis.
"Aku baru saja keluar rumah, kau sudah seperti ini? Apa kau sedang memancing gairahku, Balqis?" Kata Abrar menatap mesum padanya.
"Hei, pak tua! Kenapa kau selalu saja mesum padaku, hah?" Ujar Balqis sewot.
"Hehehehe, karena kau adalah cintaku!" Seru Abrar memeluk tubuh istrinya yang judes itu.
"Kau dari mana?" Tanya Balqis bergelayut manja pada Abrar.
"Aku tadi dari kantor." Jawab Abrar.
"Untuk apa kau kesana? Bertemu dengan Azlan?" Tanya Balqis.
"Bukan untuk bertemu dengan Azlan, tapi Dandi." Kata Abrar.
"Untuk apa?" Tanya Balqis.
"Bersiaplah Balqis, bulan depan Delina dan Dandi akan menikah." Kata Abrar.
"Bulan depan?" Teriak Balqis kaget.
"Iya! Kenapa?" Tanya Abrar bingung.
"Dasar bodoh! Kenapa kau selalu mengambil keputusan sesingkat itu? Menyiapkan pernikahan sangat lah membutuhkan waktu yang lama! kau membuatku pusing saja." Kata Balqis.
"Hei, nenek-nenek judes! Aku ini ingin segera memiliki cucu yang banyak, jadi aku harus menikahkan putri-putriku dengan cepat." Kata Abrar.
"Kau bilang apa tadi? Kau bilang aku nenek-nenek judes?" Teriak Balqis dengan aura kegelapannya.
"Hehehe, aku hanya bercanda saja, sayang." Sahut Abrar ketakutan menerima amukan Balqis.
"Hhheeemmp! Awas saja kalau nanti malam kau minta jatah padaku, tidak akan aku berikan." Kata Balqis ngambek.
"Hehehe, aku kan hanya bergurau saja! kau itu nenek-nenek yang menggemaskan." Kata Abrar membujuk Balqis.
"Dan kau kakek-kakek tua!" Ujar Balqis.
Ketiga cucunya yang sudah bisa berjalan dengan lancar cengar cengir melihat sepasang kakek dan nenek yang sedang berdialog itu.
Delina yang baru saja pulang dari kampusnya, menghela nafas berat duduk di sofa ruang tengah. Disana ia melihat ketiga ponakannya yang baru saja menghancurkan perabotan untuk ke 298 kalinya. Tingkah Ari yang hobi menghancurkan barang-barang perabotan dirumah, menarik perhatiannya saat Ari membawa perabotan lainnya yang akan di hancurkan olehnya. Delina mengambil perabotan kecil dari tangan ponakan laki-lakinya itu.
"Apa kau ingin mencetak rekor baru, Ari? Sudah 298 perabot yang kau hancurkan! kau ingin menggenapkannya menjadi 299?" Kata Delina melotot pada Ari.
"Hhuuwaaaa, tante bodoh!" Ucap Ari nangis sambil menunjuk pada Delina.
"Eh, kenapa kau tau kalau aku ini bodoh?" Tanya Delina bingung.
"Nona, angka 299 itu bilangan ganjil bukan genap." Kata pengasuh yang sedang menjaga ketiga anak Yasmin dan Azlan.
"Oh, benarkah? Jadi aku salah ya?" Tanya Delina dengan wajah blo'onnya.
"Tentu saja." Sahut pengasuh itu.
__ADS_1
"Wah, ponakan tante memang jenius! kau bisa menebak kebodohanku. Baiklah! Ini ambil hancurkan saja semuanya, nanti ayahmu akan membeli barang perabot lagi dirumah ini." Seru Delina memberikan perabot kecil pada Ari untuk di hancurkan.
Praaanggg......
Perabot yang terbuat dari keramik dan di impor dari jepang hancur seketika di banting Ari. Ari tertawa ceria saat ia berhasil menghancurkan barang-barang perabot dirumah itu, sedangkan ketiga pengasuh yang sedang menjaga mereka hanya bisa tapok jidat melihat ketiga anak Yasmin dan Azlan yang memiliki hobi sangat aneh.
Disisi lain, si kembar Ara dan Arum sedang mencoret-coret dinding ruang tengah dengan spidol warna yang di kirimkan oleh Melia dan Melani setiap bulannya. Ara dan Arum memiliki hobi yang suka mencoret dinding di manapun mereka berada. Bahkan dinding di ruang tengah itu sudah ratusan kali di cat ulang oleh Azlan karena ulah kedua putrinya.
Saat sedang makan malam, Abrar melihat Delina sedang menyantap makan malamnya dengan lahap.
"Delina, jangan makan terlalu banyak, nanti kau gendut!" Kata Abrar.
"Benarkah akau gendut?" Teriak Delina panik.
"Papi bilang, kalau kau makan dengan porsi banyak nanti kau gendut." Kata Abrar.
"Tak masalah! Kak Dandi bilang dia suka melihat tubuhku yang montok, hahahaha." Kata Delina membuat Abrar tepok jidat.
"Mulai lah diet, Delina! Nanti gaun pengantin tidak ada yang muat di tubuhmu." Kata Balqis.
"Untuk apa pakai gaun penganti?" Tanya Delina.
"Sebentar lagi kau akan menikah." Kata Abrar.
"Sama siapa?" Tanya Delina.
"Astaga! Ya sama Dandi lah!" Teriak Abrar sudah habis kesabaran menghadapi putrinya yang bodoh.
Delina terkejut saat tau kalau dia akan segera menikah dengan kekasih pujaan hatinya itu. Delina bangkit dari kursinya dan berlalu pergi dari ruang makan.
"Mau kemana kau?" Tanya Azlan.
"Mau diet! Aku harus tampil cantilk saat pesta perniakahanku dan kak Dandi." Jawab Delina.
"Diet tapi bukan berarti kau tidak makan apapun." Kata Azlan.
"Semua makanan yang ada di atas meja tidak baik untuk tubuhku, kak!" Kata Delina.
"Hehehe, biarkan saja dia. nanti aku akan membuatkan salad untuknya." Kata Yasmin.
"Yasmin, tolong bantu mami mempersiapkan pernikahan untuk Delina dan Dandi ya." Pinta Balqis.
"Oke, mi!" Sahut Yasmin.
Pesta pernikahan Delina dan Dandi pun di adakan dengan mewah pastinya. Keluarga, sahabat dan juga rekan bisnis di undang untuk memeriahkan pesta perniakahan tersebut. Tak ketinggalan Zidan yang datang dengan membawa istri serta putra bungsunya yang sering di juluki Rendang. Kali ini Reyn membawa Fatya untuk menjadi pasangan pestanya. Dengan terpaksa dan gaun yang mewah Fatya menggandeng lengan Reyn yang berotot di pesta pernikahan kakak sepupunya.
Flashback saat Reyn menginjakkan kakinya di rumah Fatya untuk kesekian kalinya ketika ia berkunjung ke Indonesia.
"Hai calon Ibu mertuaku yang cantik!" Seru Reyn pada Ibunya Fatya.
"Wah, calon mantuku yang tampan!" Seru Ibu.
"Sini, ayo masuk!" Ajak Ibu sambil menarik tangan Reyn untuk masuk kedalam rumah.
Seperti biasanya Reyn selalu membawa oleh-oleh dari Itali untuk kedua orang tuanya Fatya sebagai sogokan untuk mendekati Fatya tentunya. Reyn celingak celinguk mencari sosok pria yang menjadi ayahnya Fatya.
"Dimana Ayah?" Tanya Reyn.
"Ayah sedang berada di kedai." Sahut Ibu dengan membawa secangkir teh untuk Reyn.
"Ibu, aku ingin membawa Fatya sebagai pasanganku ke sebuah pesta pernikahan kakak sepupuku, apa boleh?" Tanya Reyn.
"Tentu saja boleh! Jika kau ingin membawa Fatya ke Itali juga boleh." Sahut Ibu yang sudah ngebet pengen punya mantu setampan dan sekonyol Reyn.
"Wah, baiklah! Setelah Fatya lulus SMA aku akan segera menikahinya dan membawanya ke Itali." Seru Reyn girang.
"Baiklah! Ibu dan Ayah menyetujuinya." Seru Ibu.
Setelah berbincang lama dan makan rendang buatan Ibunya Fatya, Reyn pamit untuk pergi menjemput Fatya di sekolahnya dan membawanya ke pesta pernikahan Delina dan Dandi. Reyn melajukan mobilnya menuju ke sekolah Fatya. Saat menginjakkan kakinya di halaman sekolah Fatya, begitu banyak gadis di sekolah itu terpesona dengan ketampanan Reyn. Reyn membuka kaca mata hitamnya dan mencari-cari gadis pujaan hatinya tersebut. Lama bercelingak celinguk, akhrinya Reyn melihat Fatya yang sedang berjalan dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah teman sekelas Fatya.
Reyn berjalan mendekati Fatya dan laki-laki itu.
"Calon istriku!" Sapa Reyn pada Fatya.
Betapa kagetnya Fatya melihat Reyn berada di sekolahnya.
"Kak Reyn! Sedang apa disini?" Tanya Fatya.
"Menjemput calon istriku, dong!" Sahut Reyn.
Lalu Reyn menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di samping Fatya sambil bengong melihat Reyn yang konyol.
"hei, aku ini pria normal! jangan menatapku seperti itu. ya, aku tau kalau aku ini sangat tampan, tapi aku tak tertarik pada laki-laki yang jelek sepertimu." kata Reyn pada teman sekelas Fatya.
"Tya, apa dia sedang bicara padaku?" tanya teman sekelasnya seraya menunjuk Reyn.
"hah, si idiot bertemu dengan si konyol! membuatku pusing saja." gumam Fatya.
Lalu Reyn menarik tangan Fatya untuk ikut masuk kedalam mobil bersamanya. Dengan langkah yang terburu-buru Fatya mengikuti Reyn yang menyeret dirinya. Reyn memasangkan safety belt pada Fatya yang sudah duduk di dalam mobil bersamanya.
"Hari ini kau tidak akan pulang!" Kata Reyn.
"Apa? Tapi kita mau kemana?" Tanya Fatya panik.
"Malam ini kau harus menjadi pasanganku di pesta pernikahan." Jawab Reyn mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Pesta pernikahan siapa?" Tanya Fatya.
"Kakak sepupuku!" Jawab Reyn.
"Tapi kak, aku belum izin dari Ibu dan Ayah." Kata Fatya.
"Mereka sudah mengizinkannya, bahkan kata Ibu aku boleh membawamu ikut pulang denganku ke Itali, hehehe." Sahut Reyn.
"Astaga, Ibu!" Gumam Fatya yang paham kalau sifat Ibunya memang sedikit konyol.
Tiba-tiba Reyn menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Fatya mati ketakutan.
"hehehe, ngomong-ngomong kau semakin cantik saja." Ucap Reyn mengelus pipi Fatya.
"Apaan sih dia? Membuatku malu saja!" Gumam Fatya di dalam hatinya.
Reyn melihat pipi Fatya memerah saat ia mengatakan Gadis pujaannya itu cantik.
"Kau sudah berusia 17 tahun kan sekarang?" Tanya Reyn.
Fatya mengangguk sambil menundukkan wajahnya. Reyn mendekatkan wajahnya pada Fatya. Jantung Fatya berdegup kencang menyangka kalau Reyn akan segera menciumnya.
"Berarti kau sudah bisa pacaran denganku! Hehehehe." Kata Reyn lalu melajukan mobilnya kembali.
Fatya bingung melihat Reyn yang ternyata bukan ingin mencium dirinya.
"Aku sudah terlalu kepedean!" Gumam Fatya kecewa dalam hatinya.
Reyn dan Fatya pergi ke butik untuk membeli gaun pesta yang akan di pakai Fatya ke pesta pernikahan. Setelah banyak mencoba beberapa gaun, akhirnya pilihan Reyn jatuh pada gaun pesta berwarna pink muda yang sangat cocok di tubuh Fatya. Kemudian mereka pergi ke sebuah salon untuk melakukan treatment disana. Fatya melakukan segala macam treatment yang di perintahkan oleh Reyn pada pelayan salon itu.
"Kak, ini terlalu berlebihan." Kata Fatya yang tak suka dengan perawatan-perawatan salon.
"Diam!" sahut Reyn.
Fatya berdecak kesal saat Reyn selalu saja memaksakan kehendaknya pada Fatya. Selang beberapa jam, Reyn sudah hampir mati kebosanan saat sedang menunggu Fatya di salon tersebut. Reyn melirik jam di tanganya dan ternyata sudah jam 7 malam.
"Eh, busseet! Lama amat." Ujar Reyn.
__ADS_1
Tak lama kemudian, keluarlah Fatya dengan menggunakan gaun pesta yang Reyn belikan dan sedikit riasan make-up yang membuatnya terlihat seperti wanita muda yang cantik. Reyn menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
Terngiang di telinga Reyn lirik lagu Teman Hidup (TULUS).
Dia indah, peretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Pembawa sejuk, pemanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
oh... uho... ho...
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta…
Sangking terpesonanya Reyn hingga ia tak sadar kalau Fatya berkali-kali mengelap darah yang mengucur deras dari hidungnya dengan tissu.
"Kau cantik sekali, Fatya." Ucap Reyn.
"Hei kak, tissunya sudah habis tapi kau masih saja mimisan!" Sahut Fatya menata wajah Reyn.
"Let's go!" Seru Reyn menyeret Fatya untuk pergi ke pesta.
Pesta pernikahan Delina di hadiri banyak tamu undangan dari kelas atas. Delina tampak sangat cantik dan begitu juga dengan Dandi yang tampak gagah dengan jas penikahannya. Di pernikahan itu Chika tampak sibuk menggendong Ari yang sangat suka menghancurkan benda-benda yang terbuat dari bahan kaca dan keramik.
Saat itu Ari melihat gelas-gelas yang tersusun rapi di atas meja. Dengan senyuman nakalnya, Ari menarik kain taplak meja yang di atasnya terdapat gelas-gelas yang tersusun rapi.
Prraaaaang.........
Semua gelas pecah berhamburan di lantai membuat semua mata tertuju pada Chika yang sedang menggendong Ari.
"kau sangat menyebalkan, Ari." Gumam Chika sambil melotot pada Ari yang kegirangan dengan ulahnya barusan.
Chika membalas tatapan para tamu yang melihatnya dengan senyuman yang canggung. Yasmin dan Azlan hanya bisa tepok jidat melihat putra sulungnya yang memiliki hobi aneh. Chika membawa Ari jauh-jauh dari ruang pesta itu. Disisi lain Gaby melihat Reyn yang baru tiba di pesta dengan seorang gadis cantik di sampingnya. Dengan mengembang kempiskan lubang hidungnya, Reyn melangkah dan memamerkan gadis belia yang menjadi pasangannya kepada tamu undangan yang menatap kagum pada Fatya.
"Eh, si Rendang bawa siapa?" Tanya Gaby pada Boy.
"Eh, itu kan gadis SMA yang di kejar-kejar Reyn selama ini." Sahut Boy yang mengenali wajah Fatya.
"Hah? Itu Fatya?" Teriak Gaby terkejut.
"Iya lah." Jawab Boy.
"Wah, cantik banget!" Seru Gaby.
Zidan dan Isabel pun melihat putra bungsunya yang menggandeng gadis di pesta itu. Mereka kebingungan dan mendekati Reyn yang sedang duduk makan bersama Fatya.
"Siapa gadis ini, Reyn?" Tanya Isabel.
"Dia calon istriku, ma." Sahut Reyn.
"Calon istri?" Teriak Isabel dan Zidan kaget.
"Hehehehe, tidak usah kaget, tahun depan aku akan menikahinya." Sahut Reyn dengan santainya.
Fatya ketakutan saat melihat kedua orang tua Reyn yang belum pernah ia kenal.
"Halo om, tante, aku Fatya, temannya kak Reyn." Sapa Fatya memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Kak Reyn sedikit berlebihan mengenai diriku." Sambung Fatya.
"Hahahaha, jika itu memang benar kami juga tak masalah! Kapan kalian akan menikah?" Tanya Zidan.
"Astaga! Ternyata sifat konyol kak Reyn berasal dari papanya." Gumam Fatya sambil menatap Zidan.
"Hehehehe, jangan malu-malu, kami mendukung kalian berdua kok!" Kata Isabel.
"Eh, mamanya ikutan konyol juga?" Gumam Fatya.
"Baiklah, karena kedua belah pihak keluarga sudah setuju, jadi aku memutuskan untuk menikah dengan Fatya tahun depan setelah ia lulus SMA!" Seru Reyn.
"Oke!" Sahut Zidan dan Isabel.
Fatya menghela nafas panjang saat bertemu dengan orang-orang konyol di sekelilingnya.
Malam semakin larut dan semua para tamu telah pulang dari pesta pernikahan yang sangat meriah itu. Delina dan Dandi sedang menuju ke apartemen mereka. Azlan memberikan hadiah sebuah apartemen yang mewah untuk pernikahan Delina dan Dandi. Dandi pergi untuk mandi duluan dan setelah selesai ia duduk di tepi ranjang untuk menunggu Delina yang masih mandi di kamar mandi. Tak lama kemudian, Delina keluar dengan piyama berlengan panjang dan juga celana panjang. Dandi bingung menatap Delina yang tampak biasa saja.
"Eh, bukannya kalau malam pertama pengantin wanita menggunakan pakaian tidur yang sexy?" Gumam Dandi dalam hatinya.
"Ah, tak masalah! Yang penting aku akan segera melaksanakan tugasku malam ini, hehehehe." Gumam Dandi yang sudah tak sabar ingin menjamah si centil.
Delina berbaring di samping Dandi dan Dandi memeluknya dengan erat.
"Sayang, ini malam pengantin kita." Bisik Dandi.
"Hehehe, di tunda dulu ya kak!" Sahut Delina.
"Hah? Kenapa?" Tanya Dandi.
"Aku lagi dapet!" Sahut Delina.
Dandi berdecak kesal mengetahui Delina sedang mendapatkan tamu bulanannya.
"Kapan berakhir?" Tanya Dandi dengan wajah kecewa.
"Sekitar semingguan lagi." Jawab Delina.
"Aaarrrgghhh! Aku harus puasa!" Teriak Dandi frustasi karena malam pertamanya gagal total.
__ADS_1