MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
ALASAN


__ADS_3

Minggu pagi para gadis yang menginap di apartemen pergi lari pagi di seputaran komplek apartemen tersebut. Disana ada taman yang cukup luas untuk lari pagi. Sambil tertawa girang mereka berlari bersama-sama.


“Hos…hos…hos….aku mau pingsan! Capek banget.” Kata Melia berhenti sejenak.


“Kak melia lebay banget, padahal baru lari jarak 5 meter sudah ngos-ngosan!” Ujar Delina terus berlari bersama yang lain.


“Hheeemmpp!” Sahut Melia kesal sembari memalingkan wajahnya.


Melia pun duduk di bangku taman sambil menenggak minuman botol yang ia bawa. Matanya memperhatikan setiap pemandangan di seluruh taman yang terlihat ramai. Matanya pun tertuju pada beberapa pasangan kekasih yang sedang bermesraan di taman itu.


“Hah, menjadi jomblo sangat menyedihkan.” Ucap Melia menghela nafas.


“Jadi kau jomblo?” Suara seorang pria yang duduk disamping Melia.


“Eh, bbbuussseeetttt! Sejak kapan kau duduk disini, hah?” Kata Melia kaget melihat Evan 0 duduk di sebelahnya.


“Sejak tadi! Makanya jadi wanita itu jangan banyak bengong, jadi tak sadar ada pria tampan duduk di sebelahnya, hehehe." Kata Evan penuh percaya diri.


“Apa? Kau bilang kau tampan?” Teriak Melia sewot.


“Iya lah!" Sahut Evan songong.


“Najiiiissss! Dasar pria aneh." Umpat Melia kesal pada Evan.


Melia beranjak pergi, namun Evan menarik tangannya.


“Hei, kau mau kemana?” Tanya Evan.


“Ke nereka!" Sahut Melia ketus berbicara pada Evan.


“Mau apa kau kesana?” Tanya Evan lagi.


“Mau cari raja neraka dan mengatakan padanya agar membawamu kesana!” Sahut Melia kesal.


“Hahahahahahha.” Evan tertawa geli mendengar jawaban dari Melia.


“Ddiihhh, malah ngakak!” Ujar Melia.


“Wah...wah, dia pasti sudah gila!” Sambung Melia lagi kepada Evan.


Evan terus tertawa sambil memegang tangan Melia. Tiba-tiba wanita cantik yang menemani Evan di pesta pertunangan Azlan dan Yasmin menghampiri mereka berdua. Melia langsung menarik tangannya saat Evan memegangnya dengan erat.


“Bahagia banget, van!” Kata wanita itu bernama Rasti.


“Dia wanita yang unik!” Tunjuk Evan pada Melia.


“Hheemmppp!” Melia langsung pergi meninggalkan Evan dan Rasti.


Kemudian Rasti duduk di samping Evan.


“Apa kau menyukai dia?” Tanya Rasti.


“Iya! Aku suka padanya karena sifatnya yang jahil itu.” Sahut Evan.


“Kenapa kau malah mengganggunya? Seharusnya kau mengatakan padanya tentang perasaanmu.” Kata Rasti.


“Aku masih ingin bermain-main dengannya! Aku suka melihatnya kesal padaku.” Sahut Evan.


“Ayo kita kembali ke apartemenmu, pacarku akan datang menjemputku!” Kata Rista menarik tangan Evan..


“Oke!” Sahut Evan.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan taman tersebut. Sedangkan Melia masih berdecak kesal melihat Evan yang sangat akrab berdua dengan Rasti.


“Sudah punya kekasih masih berlaku genit padaku! Dasar playboy!" Gumam Melia menatap Evan dari kejauhan.


Setelah puas lari pagi di taman tersebut para gadis itupun kembali ke apartemennya. Mereka bersih-bersih dan membantu Yasmin yang sedang memasak makan siang untuk mereka. Anak-anak abrar yang tak pernah menyentuh pekerjaan rumah membuat dapur menjadi berantakan. Yasmin yang mengerti tentang mereka hanya tertawa melihat tingkah si kembar yang berkali-kali menjatuhkan telur ke lantai.


Two hour later.


“Hore! Makanan sudah siap!" Seru Yasmin.


“Wah, pasti enak!” Seru lainnya.


Saat akan menyantap makananya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Tak lama wajah si kembar dan Delina pucat melihat Azlan yang menatap mereka dengan tajam. Yasmin gemetar saat melihat Azlan yang akan meledak memarahi adik-adiknya.


“Ampun, kak! Huuuwwaaa, ampun!” Seru ketiganya berlutut di kaki Azlan.


“Semalam aku tidak ikutan ya kak! Hehehehe.” Ucap Jovanka pada Azlan.


Kkkrrriiuukkkk…….


“Yasmin, aku lapar! Hehehehe." Kata Azlan pada tunangannya itu.


Yasmin dan ketiga adik Azlan kaget saat Azlan tak memarahi mereka setelah menindasnya semalam. Azlan melihat banyak makanan di atas meja. Ia langsung duduk dan memakan makanan itu dengan lahap. Si kembar dan Delina hendak duduk namun Azlan melarangnya.


“Jangan duduk disini!” Bentak Azlan pada adik-adiknya itu.


"Kenapa?” Tanya Delina.


“Semalam kalian menindasku habis-habisan, sekarang kalian aku hukum dan berdiri di pojok sana!” Kata Azlan.


Mereka bertiga masih diam dan saling pandang.


“Cepat!” Teriak Azlan membuat ketiga adiknya kocar kacir ketakutan.


“Huh, kak Azlan berteriak membuatku kaget saja! Lihat nih ayam gorengku jadi terbang.” Kata Jovanka.


Azlan tak menyahut dia terus melanjutkan makan siangnya. Yasmin yang masih berdiri tampak tersenyum saat melihat ayam goreng Jovanka melompat dari piringnya.


“Jangan senyum-senyum kau, Yasmin! Setelah aku selesai makan, giliranmu untuk di hukum karena mengirimkan fotoku semalam.” Ujar Azlan.


Yasmin bergetar saat Azlan mengatakan hal itu dengan nada yang super datar. Beberapa saat kemudian Azlan selesai makan.


“Wah, kenyangnya!” Seru Azlan mengelus perutnya.


“Jo, pergi ke minimarket depan dan belikan aku rokok!” Perintah Azlan pada adiknya.


“Siiaaappp!" Sahut Jovanka bergegas pergi setelah mengambil uang dari Azlan.


Kemudian Azlan melihat ketiga adiknya yang masih berdiri di pojok ruangan dengan wajah yang manyun.


“Hei bocah, kemari kalian! Duduk dan makan.” Perintah Azlan pada ketiga adiknya itu.


Ketiganya pun menuruti perintah kakaknya tersebut. Lalu Azlan melihat Yasmin yang masih berdiri sejak tadi.


“Kau, ikut aku!” Kata Azlan pada Yasmin.


Yasmin tak bergeming.


“Cepat!” Teriak Azlan membuat Yasmin ketakutan.


Azlan membawa Yasmin masuk kedalam kamar. Setelah Yasmin masuk Azlan mengunci pintu itu. Azlan duduk di tepi ranjang.


“Kemari!” Perintah Azlan pada Yasmin untuk duduk di atas pangkuannya.


Yasmin pun menurutinya.


“Sejak kapan kau menjadi wanita somplak, hah? Apa karena kau kebanyakan bergaul dengan si kembar makanya kau jadi somplak?” Ujar Azlan menusuk-nusuk jidat Yasmin dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


“Aduh, sakit!” Gumam Yasmin mengelus jidatnya.


“Apa kau ikut dalam rencana mereka semalam?” Tanya Azlan.


Yasmin mengangguk.


“Apa kau tau betapa rindunya aku padamu, semalam?” Tanya Azlan lagi.


“Huh, aku hanya ingin bersenang-senang dengan yang lain!” Sahut Yasmin.


“Jadi maksudmu kau tak senang jika bersamaku?” Kata Azlan sewot.


“Bukan begitu! Kita hampir setiap hari bertemu dan kau juga setiap hari menciumku, jadi aku pikir aku ingin bersenang-senang dengan mereka disini.” Kata Yasmin.


Kkkkrrriiiuuuukkkkkkkk…….


Perut Yasmin keroncongan.


“Apa kau lapar?” Tanya Azlan.


“Tentu saja, aku menahan air liurku saat melihatmu makan tadi." Sahut Yasmin.


“Jika kau lapar makan saja tubuhku!” Ujar Azlan genit.


“Tidak mau, tubuhmu tidak enak! Kau pikir aku zombie?” Sahut Yasmin.


“Hehehehe, kalau begitu aku saja yang memakanmu!” Sahut Azlan mencium Yasmin.


Setelah puas mencium bibir tunangannya itu, Azlan berencana untuk mengajak Yasmin makan di luar. Saat ia membuka pintu kamar itu tiba-tiba ketiga adiknya jatuh terperosok ke lantai. Ternyata mereka sedang menguping Azlan dan Yasmin yang sedang berduaan di dalam kamar. Azlan kembali murka kepada adik-adiknya itu.


“Kurang ajaaaaarrrrrrrrrr!” Teriak Azlan kepada ketiga adiknya itu.


Ketiga adiknya langsung berlari keluar apartemen tak lupa mereka menyeret Jovanka yang baru saja tiba dari mini market. Sementara Yasmin hanya tersenyum melihat calon adik iparnya itu melarikan diri dari amukan sang kakak. Dan Azlan hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat adiknya kocar kacir berlarian menghindarinya.


Para gadis resek itu bernafas lega saat berada di parkiran bawah. Mereka pun masuk kedalam mobil. Saat Melia akan masuk kedalam mobil matanya beradu pandang dengan Evan. Melia juga melihat Rasti yang berpelukan dengan pria lain di hadapan Evan. Melia menjadi bingung melihat hubungan antara Rasti dan Evan.


Evan tersenyum pada Melia.


“Hheemmmpp!" Balas Melia memalingkan wajahnya dari Evan.


Melia langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari parkiran itu. Sementara Evan terkekeh geli melihat Melia memalingkan wajahnya dengan kesal.


“Bukankah dia putrinya tuan Abrar?” Tanya Wiki kekasih Rista saat melihat Melia.


“Iya!" Sahut Evan.


“Evan menyukainya!” Sambung Rasti.


“Hei, dia itu punya saudari kembar! Apa kau tau cara membedakan mereka berdua?” Tanya Wiki pada Evan.


“Hehehe, itu perkara mudah! Melani punya tahi lalat di sudut matanya, sedang Melia yang aku sukai tak punya.” Sahut Evan.


“Cepat kejar dia! Setahuku banyak pria yang menginginkan si kembar itu.” Kata Wiki lagi.


“Kau tenang saja, aku pasti bisa menaklukan hatinya. Hehehe.” Sahut Evan.


Saat mengendarai mobilnya, pikiran Melia tak fokus. Ia terus teringat Rista yang bergelayut manja dengan pria lain di hadapan Evan.


“Sebenarnya hubungan Evan dan wanita cantik itu apa sih?” Gumam Melia dalam hatinya.


Pikiran Melia melayang entah kemana dan seketika buyar saat mendengar teriakan Jovanka yang sangat histeris. Dengan cepat Melia menginjak rem mobilnya.


“Ada apa?” Tanya Melia kaget.


“Kak, aku lihat ada gulali kapas di pinggir jalan itu! Aku ingin membelinya.” Kata Jovanka.


Melia langsung mendidih mendengar perkatan jovanka. Dengan cepat tangannya memukul kepala Jovanka.


“Hehehe.” Jovanka hanya cengengesan saja.


Setelah Jovanka membeli cemilan kesukaannya itu, mereka langsung tancap gas dan kembali kerumahnya.


 


*****


Didalam sel tahanan tampak Elita sedang duduk meringkuk karena perbuatan jahatnya kepada Yasmin. Tak lama polisi penjaga mendatanginya dan mengatakan ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


“Naura.” Ucap Elita melihat putri kesayangannya.


“Ibu, aku tak akan lama-lama menemuimu!” Kata Naura dingin terhadap ibunya.


“Nak, ibu sangat merindukanmu! Apa kau makan dengan baik selama ibu tidak ada?” Tanya Elita.


“Hah, jangankan makan, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak gara-gara kejahatan ibu!" Ujar Naura.


“Ibu melakukannya hanya untuk dirimu, sayang.” Sahut Elita.


“Apa? Untukku? Asal ibu tau, aku diusir oleh ayah dari rumah itu!" Kata Naura.


Elita kaget saat tau anaknya diusir oleh Teo.


“Ibu jelaskan padaku, apa alasan ibu berniat untuk membunuh Yasmin?” Tanya Naura.


“Ibu melakukan itu agar kau bisa menikah dengan Azlan!” Kata Elita.


“Apa? Apa ibu sudah gila?” Ujar Naura semakin kesal.


“Dengarkan ibu! Ibu berpikir setelah mereka berdua bertunangan dan menentukan hari pernikahan mereka di depan halayak ramai, ibu berencana untuk menyingkirkan Yasmin. Setelah Yasmin mati, maka kau lah yang akan menggantikan posisinya untuk menikah dengan Azlan! Pernikahan itu tak mungkin di batalkan karena semua orang tau kalau dua keluarga akan segera menikahkan anaknya, jadi ibu hanya ingin kau menggantikan Yasmin untuk menikah dengan Azlan." Kata Elita menjelaskan alasan di balik perbuatan buruknya itu.


“Kau tau ibu? Aku sangat menbencimu! Aku memang tak menyukai Yasmin, namun aku tak pernah ingin menjadi pengganti dirinya!” Kata Naura.


“Semenjak aku lahir aku tak pernah melihat sosok seorang ayah! Namun saat ibu menikah dengan ayah Teo, aku sangat bahagia karena telah memiliki sosok ayah walaupun ayah tiri! Gara-gara ulah ibu yang serakah aku kehilangan sosok ayah lagi dalam hidupku." Ujar Naura dengan linangan air matanya.


“Naura." Gumam Elita menangis.


“Selamat tinggal ibu! Setelah ini kau tidak akan pernah melihatku lagi.” Kata Naura beranjak pergi meninggalkan ibunya.


“Naura…. Naura, kau mau kemana, nak?” Panggil Elita sambil menangis.


Dengan air mata kekesalannya, Naura meninggalkan rumah tahanan itu. Saat sedang menghapus air matanya, ia melihat Teo yang baru tiba di tempat itu dengan beberapa berkas di tangannya. Mata Teo dan Naura beradu pandang sejenak sampai Teo memalingkan pandangannya dan mengacuhkan anak tirinya itu.


“Ayah!” Gumam Naura kembali berlinang air matanya melihat Teo yang mengacuhkannya.


Setelah Teo masuk kedalam rumah tahanan itu Naura berjongkok dan menangis sejadi-jadinya. Ia sangat bersedih saat ayah tirinya mengacuhkannya begitu saja. Naura mengenal sosok Teo saat ia berusia 4 tahun. Semenjak lahir ia tak mengenal ayah kandungnya yang lari kedalam pelukan wanita lain saat ia masih dalam kandungan.


Setelah ibunya menikah dengan Teo, ia sangat senang karena memiliki sosok seorang ayah. Karena rasa keinginannya memiliki seorang ayah, membuatnya tak mau berbagi ayah dengan Yasmin yang berstatus anak kandung dari Teo. Dengan kelicikannya ia terus menjauhkan Teo dari Yasmin.


Di dalam rumah tahanan itu Teo menemui Elita. Ia memberikan surat perceraian kepada istrinya itu.


“Tanda tangani surat cerai itu!” Kata Teo.


“Kau ingin menceraikan aku?” Tanya Elita.


“Iya!” Sahutnya.


“Apa kau lupa? Dulu keluargaku menolong keluargamu dari kebangkrutan!” Teriak Elita kesal.


“Aku tak melupakan hal itu! Tapi asal kau tau selama bertahun-tahun aku berusaha untuk hidup bersama wanita yang tak pernah aku cintai, yaitu kau!” Sahut Teo.

__ADS_1


“Tidak tau diri kau!” Ujar Elita.


“Jadi itu alasanmu selama ini yang tak ingin memiliki anak dariku?” Tanya Elita.


“kau benar! Aku tak sudi memiliki anak dari wanita serakah sepertimu! Lagi pula aku sudah memiliki anak dari wanita yang aku cintai.” Kata Teo.


“Hahahaha, Nina sudah mati!" Kata Elita tertawa jahat.


“Cepat kau tanda tangani surat perceraian kita!” Kata Teo.


“Aku tak sudi!” Sahut Elita menolak.


“Apa kau tau, aku melihat anakmu di luar? Cepat kau tanda tangani surat ini atau aku akan membunuh Naura!” Ancam Teo pada Elita.


“Aku mohon jangan sakiti anakku!” Pinta Elita.


“Aku akan menanda tanganinya!” Sambung Elita yang langsung menandatangani surat perceraian itu.


Setelah urusannya selesai, Teo langsung pergi dari rumah tahanan itu. Ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Teo yang memiliki riwayat penyakit darah tinggi, saat itu kambuh. Kepalanya terasa sakit dan tubuhnya sangat tegang sehingga membuatnya tak dapat mengendalikan mobinya yang sedang melaju dengan kencang. Terjadilah kecelakaan yang menewaskan Teo seketika itu juga.


Kabar kecelakaan Teo terdengar hingga ketelingan Yasmin saat ia sedang bersama Azlan. Jantung Yasmin berdetak kencang saat tau ayahnya mengalami kecelakan saat itu. Yasmin dan Azlan langsung menuju kerumah sakit dimana tempat Teo berada.


Yasmin berlari menuju ruangan Teo dengan air mata yang telah membasahi wajahnya. Tampak di sana sudah ada Naura yang nangis sesunggukan di samping mayat Teo.


“Ayah.” ucap Yasmin melihat ayahnya terbujur kaku.


Tangis Yasmin pecah saat mengetahui ayahnya sudah tiada. Azlan memeluk Yasmin untuk menenangkannya. Yasmin melihat Naura yang sedang menangis di sambil memeluk Teo.


“Naura.” Ucap Yasmin mendekati Naura.


“Aku tak punya sosok ayah lagi, hanya dia yang aku anggap sebagai sosok ayah selama ini." Sahut Naura sambil menangis.


“Walaupun aku tau dia tak pernah bersungguh-sungguh untuk menyayangi aku sebagai anak tirinya, namun aku tetap bahagia memiliki dia sebagai ayahku.” Sambung Naura lagi.


Yasmin yang begitu sangat membenci Naura, saat itu melupakan rasa bencinya dan langsung memeluk Naura.


“Maafkan aku Yasmin! Dulu aku merebut kebahagiaanmu dengan ayahmu.” Ucap Naura.


“Lupakanlah! Aku tak ingin mengungkit kisah lama yang kelam.” Kata Yasmin terus memeluk Naura.


Teo di makamkan tepat disamping makan ibunya Yasmin. Setelah acara pemakaman selesai Naura berpamitan kepada Yasmin.


“Yasmin, sekali lagi aku ingin minta maaf padamu karena kelakuanku dan juga ibuku yang menghancurkan kebahagianmu dan juga orang tuamu." Kata Naura.


“Sudahlah, semua sudah berlalu!" Sahut Yasmin.


Tak lama ponsel Naura berdering. Naura mengangkat ponselnya.


“Iya aku tau, sebentar lagi aku akan menuju bandara.” Kata Naura.


“Kau mau kemana?’ Tanya Yasmin pada Naura.


“Aku akan ke London! Disana ada tanteku, aku akan membuka hidup baruku disana.” Jawab Naura.


“Lantas bagaimana dengan ibumu?” Tanya Yasmin lagi.


“Aku tak ingin bertemu dengannya lagi!” Sahut Naura.


“Baiklah, aku akan pergi! Selamat tinggal Yasmin, semoga kau bahagia dengan hidup barumu setelah menikah nanti.” Kata Naura beranjak pergi.


Setelah kepergian Naura, Azlan membawa Yasmin pergi dari pemakaman itu.Di tengah jalan Yasmin meminta Azlan untuk mengantarkannya kerumah lamanya itu. Rumah yang seharusnya ia tempati bersama ibu dan ayahnya.


Setibanya disana ia memandangi sejenak rumah yang tampak megah dan mewah. Banyak kenangan indah yang ia rasakan saat ia masih tinggal bersama ayah dan ibunya. Ia masuk dan melihat semua ruangan masih terlihat sama seperti dulu. Ia masuk kedalam sebuah kamar yang dulu menjadi kamar kedua orang tuanya.


Yasmin terkejut di dalam kamar  itu masih terpajang foto ibunya dan juga banyak foto-foto kenang-kenangan mereka dulu. Yasmin kembali menangis melihat foto itu terpajang dengan rapi bahkan sangat bersih. Selama hidupnya Teo selalu membersihkan semua foto yang terpajang di dinding kamar itu. Jika ia rindu kepada istri dan anak yang ia cintai ia selalu masuk dan berjam-jam memandangi foto-foto tersebut.


“Ayahmu sangat mencintai ibumu.” Kata Azlan pada Yasmin.


“Iya kau benar! Namun aku tak tau kenapa kami harus mengalami hal yang seperti ini? Aku bahkan tak pernah menyangka dulu ayahku tega mengusir ibuku dari rumah ini setelah ia menikah dengan ibunya Naura." Sahut Yasmin.


“Jangan bersedih lagi! Aku tak sanggup melihatmu seperti ini.” Kata Azlan.


Yasmin mengelap air matanya.


“Biarlah menjadi rahasia ayahku kenapa ia tega mengusir ibuku dulu.” Kata Yasmin.


Tak lama seorang pelayan yang bekerja dirumah itu menghampiri mereka dan mengatakan ada seorang pengacara yang ingin bertemu dengan Yasmin. Yasmin dan Azlan menemui pengacara itu di ruang tengah.


“Ada apa, pak?” Tanya Yasmin.


“Apa anda nona Yasmin?’ Tanya pengacara itu.


“Iya benar!” Sahutnya.


“Saya pengacara tuan Teo mau memberikan surat wasiat dari tuan Teo untuk anda.” Kata pengacara itu.


Yasmin membaca surat wasiat itu dengan seksama.


“Maaf pak, bukannya perusahaan ayah saya hampir bangkrut?” Tanya Yasmin.


“Itu tidak benar, nona! Perusahaan tuan Teo sedang berkembang dengan pesat! Tuan teo sengaja mengatakan perusahaannya segera bangkrut hanya kepada istri dan juga anak tirinya saja!” Kata pengacara itu.


“Kenapa?’ Tanya Yasmin.


“Karena tuan Teo ingin memberikan semua harta yang ia miliki hanya untuk anda saja! Lagi pula anda anak tunggal darinya. Jadi andalah yang berhak atas semua harta milik tuan Teo." Kata pengacara itu.


Yasmin tak percaya ayahnya melakukan itu semua hanya untuk memberikan semua hartanya kepda dirinya.


“Rumah mewah, semua aset dan juga saham perusahaan sudah di balik nama atas nama anda, nona! Silahkan tanda tangani beberapa berkas ini.” Kata pengacara itu kepada Yasmin.


Yasmin pun menandatangani surat-surat yang di berikan kepada pengacara ayahnya itu. Setelah semuanya selesai, Azlan mengantar Yasmin kembali ke apartemen. Azlan melihat Yasmin masih murung dan juga sedih. Azlan memutuskan untuk menemani Yasmin di apartemen itu.


“Azlan, apa kau punya waktu untuk menemaniku membawa semua barang-barang milik ibuku pindah kerumah ayahku?” Tanya Yasmin.


“Tentu saja sayang! Besok kita akan melakukannya bersama.” Sahut Azlan.


Malam itu Azlan menamani Yasmin di apartemen milik keluarganya. Azlan terus mendekap Yasmin yang tertidur setelah berhenti menangis. Sesekali ia mengelus wajah Yasmin yang tampak polos saat terlelap. Ia menyadari betapa ia sangat mencintai wanita yang kini dalam dekapannya.


*****


Di kediaman kampung hawa, Melia sedang berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Sambil memeluk boneka kesayangannya, ia memainkan ponselnya. Saat itu ia melihat pesan masuk dari nomor asing.


“Hai gulali kapas! Aku sangat merindukanmu.” Pesan yang Melia baca.


“Apaan sih? Gulali kapas? Dia kira aku apaan! Dasar orang iseng!” Kata Melia.


Melia pun membalas pesan tersebut.


“Hei, idiot! Jangan ganggu aku!” Balas Melia.


“Jangan galak-galak dong, nanti tambah cantik, hehehe.” Pesan masuk lagi.


“Dasar orang gila.” Balas Melia lagi.


Di apartemennya, Evan tertawa berguling-guling saat mengganggu Melia melalui pesan yang ia kirim melalui ponselnya.


“Astaga, dia memang sangat menarik!” Ucap Evan.


“Apapun yang terjadi aku akan mendapatkannya, hehehehe.” Ucap Evan lagi.

__ADS_1


Hampir setiap waktu Evan selalu membuat Melia jengkel dengan pesan yang ia kirimkan dan ia tertawa saat Melia membalas pesannya dengan ujaran dan makian kepadanya.


__ADS_2