MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
BERBAIKAN


__ADS_3

Sepulang dari honeymoon, Azlan dan Yasmin melihat pamflet yang berada di depan gerbang utama rumahnya, Ia melihat tulisan tangannya sewaktu kecil telah berubah. Azlan tau siapa yang melakukan hal itu. Dengan tersenyum tipis Azlan memiliki rencana untuk kedua orang tuanya. Azlan mengambil ponsel di dalam saku celananya untuk menghubungi Dandi yang menggantikan dirinya selama ia tak berada di dalam negeri. Azlan dan Yasmin masuk kedalam rumah dan melihat betapa kacaunya ruang bermain dan juga melihat ketiga pengasuh yang mereka gaji untuk menjaga anak mereka.


"Astaga, apa yang terjadi?" Tanya Yasmin pada salah satu pengasuh.


"Kami sangat lelah, nyonya!" Sahut pengasuh itu.


"Mereka membuat kami pusing!" Sahut pengasuh lain.


"Iya, nyonya!" Sahut pengasuh lainnya lagi.


"Hehehehe, karena kalian sudah bekerja keras aku akan berikan kalian bonus." Kata Yasmin bagaikan malaikat tak bersayap.


"Terima kasih, nyonya." Ucap ketiganya.


Azlan dan Yasmin berisitirahat seharian untuk mempersiapkan diri melakukan aktiftas seperti biasanya menjalankan pekerjaan mereka sebagai pemegang perusahaan keluarga mereka masing-masing. Di dalam kamarnya Yasmin melihat kalender yang biasanya terletak di samping ranjang tidur.


"Azlan, bukannya minggu depan hari ulang tahun pernikahan papi dan mami?" Tanya Yasmin.


"Iya! Saat kita di swiss aku sudah merencanakan sesuatu untuk mereka." Sahut Azlan.


"Apa itu?" Tanya Yasmin.


"Hadiah yang spesial!" Jawab Azlan.


"Iya, tapi apa?" Tanya Yasmin.


"Nanti kau juga akan tau,Yasmin." Sahut Azlan.


"Hah, kau membuatku penasaran saja!" Kata Yasmin.


"Sekarang tidurlah! Aku sangat lelah!" Kata Azlan.


 


Keesokan paginya saat sedang sarapan Azlan senyum-senyum melihat kedua orang tuanya. Adik-adiknya sangat kebingungan melihat sikap Azlan yang senyum-senyum sendiri.


"Kak Yasmin, apa yang terjadi padanya? Pulang dari swiss malah seperti orang gila." Tanya Chika pada Yasmin.


"Entahlah! Aku juga tak tau." Sahut Yasmin.


"Kak Azlan senyum-senyum sendiri seperti itu karena dia senang telah menindas kak Yasmin selama di swiss, hehehehe." Kata Tantia.


"Hehehe, kau benar!" Sahut Jovanka.


"Sotoy!" Seru Azlan pada kedua adiknya.


"Lalu apa yang terjadi padamu?" Tanya Abrar.


"Hehehe, rahasia." Sahut Azlan.


Setelah selesai sarapan bersama, semuanya melakukan aktifitas yang biasa mereka lakukan. Azlan dan Yasmin pergi bekerja di kantor dan adik-adiknya berangkat untuk mengecam pendidikan sedangkan Abrar dan Balqis hanya bersenang-senang main dengan cucu-cucu mereka. Di kantornya, Dandi menemui Azlan yang sedang menatap bebapa berkas yang akan di tanda tanganinya.


"Bos, semuanya beres!" Kata Dandi.


"Baiklah, nanti sore aku akan memberi kejutan pada papi dan mami, hehehe." Sahut Azlan.


"Bagaimana keadaan adikku yang istimewa itu?" Tanya Azlan.


"Dia sedang menikmati hari-harinya menjadi seorang ibu muda, sampai-sampai aku di lupakan!" Jawab Dandi.


"Hahahaha, aku pikir hanya aku saja yang merasakan hal seperti itu, ternyata kau juga." Sahut Azlan.


"Wanita yang baru saja memiliki anak memang begitu, mereka selalu perduli dengan anak mereka tanpa perduli dengan suaminya." Kata Azlan lagi.


"Tapi kan pria juga butuh." Kata Dandi.


"Makanya kau juga jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu! Kau juga harus mengambil waktu untuk merayu Delina." kata Azlan.


"Hei, siapa yang selalu membuatku lembur, hah?" Teriak Dandi kesal.


"Hehehehe, i'm the boss!" Sahut Azlan cengengesan.


"Huh, menyebalkan!" Ujar Dandi sewot.


 


 Azlan pulang dari kantornya sedikit terlambat. Setelah selesai makan malam, Azlan baru tiba dirumah dalam keadaan yang sangat lelah. Yasmin menyambutnya dengan senyuman manis yang membuat rasa lelah Azlan hilang begitu saja.


"Pergilah mandi, setelah itu aku akan bawa makan malam untukmu." Kata Yasmin.


"Baiklah! Aku ingin makan di kamar saja." Sahut Azlan.


"Iya." Sahut Yasmin.


Saat akan menaiki anak tangga menuju kamarnya, Azlan melirik kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah bersama dengan adik-adiknya. Azlan tersenyum tipis lalu naik ke atas untuk masuk kedalam kamarnya.


Selesai mandi ia melihat makanan sudah tertata rapi di sebuat meja yang ada di dalam kamarnya. Namun bukan makanan itu yang membuat Azlan bersemangat namun sebuah tas yang berisikan hadiah spesial untuk kedua orang tuanya.


"Kau mau kemana?" Tanya Yasmin melihat Azlan hendak keluar dari kamar.


"Ada hal yang ingin aku kerjakan sebentar." Sahut Azlan.


"Hei, makan lah dulu." Kata Yasmin.


"Sebentar saja! Setelah ini aku akan makan." Kata Azlan.


Azlan pun keluar dari kamar menuju ke kamar kedua orang tuanya. Azlan masuk dan meletakkan hadiah yang akan ia berikan kepada kedua orang tuanya di atas ranjang tidur orang tuanya. Setelah itu Azlan keluar dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia pun makan malam sambil di temani oleh istri tercintanya.


Malam semakin larut, Abrar dan Balqis masuk ke kamar mereka untuk beristirahat setelah seharia bermain dengan ketiga cucu kembarnya. Abrar dan Balqis melihat sebuah kotak yang ada di atas ranjang tidur mereka.


"Apa itu?" Tanya Balqis.


"Entahlah! Sebentar biar aku buka." Sahut Abrar.


"Abrar, jangan!" Teriak Balqis.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Abrar.


"Jangan-jangan itu isinya bom!" Jawab Balqis.


"Hei, kau terlalu banyak menonton film mafia." Sahut Abrar.


"Huh, film mafia itu kan asik!" Kata Yasmin.


"Balqis, yang asik itu olah raga di atas ranjang, hehehe." Sahut Abrar tertawa mesum.


"Huh, kau sangat menjengkelkan!" Ujar Balqis.


"Akui saja, kau juga menyukainya kan? Hehehehe" Kata Abrar.


"Cepatlah buka kotak itu!" Teriak Balqis.


"Oke, my sweet heart!" Seru Abrar.


Dengan perlahan Abrar pun membuka kotak yang di letakkan Azlan sebagai hadiah ultah pernikahan untuk mereka berdua.


"Eh, ini kan....


"Wah, liburan ke Maldives!" Seru Balqis dengan mata yang berbinar-binar.


"Sayang, kau sangat romantis." Ucap Balqis bergelayut pada Abrar.


"Hei, ini bukan dariku!" Sahut Abrar.


"Lantas dari siapa?" tanya Balqis.


Abrar membuka selembar kartu ucapan yang terselip di dalam kotak itu.


Selamat ulang tahun pernikahan, papi dan mami. Semoga kalian selalu menjadi pasangan yang bahagia dan panutan bagi 12 anak yang kalian besarkan penuh dengan kasih sayang.


Dari kami, 12 anak yang super.


Setelah membaca kartu itu mata Abrar dan Balqis berkaca-kaca.


"Aku sangat terharu." Ucap Abrar.


"Hhuuuwwwaaa, anak-anakku memang hebat!" Ucap Balqis menangis.


"Sayang, mari kita buat satu orang anak lagi untuk Azlan!" Kata Abrar.


"Jangan mimpi, kau! Aku sudah monopause dan tidak bisa hamil lagi, kau hanya bisa menikmatinya saja." Sahut Balqis.


"Ya sudahlah, kalau begitu. yang penting enak! Hehehehe." Ujar Abrar.


Keesokan harinya, Abrar dan Balqis bersiap-siap untuk liburan ke Maldives. Tanpa permisi dengan anak-anaknya, mereka langsung kabur begitu saja. Azlan dan yang lainnya kebingungan mencari-cari orang tuanya.


"Kemana papi dan mami?" Tanya Yasmin.


"Mereka pasti sudah kabur ke Maldives." Sahut Azlan.


"Apa maksudmu?" Tanya Yasmin.


"Kak, kau seperti tidak tau papi dan mami saja! Mereka selalu tidak sabaran untuk pergi liburan, makanya mereka mempercepat tanggal keberangkatan mereka kesana." Sahut Jovanka.


"Kau benar juga." Sahut Azlan.


"Baiklah, ayo kita sarapan bersama!" Seru Yasmin mengajak semua adik-adik iparnya yang kini menjadi tanggung jawabnya di saat Abrar dan Balqis tidak berada di rumah.


 


 


*****


Beberapa hari kemudian, Kenzo menemui Azlan di kantornya, kebetulan hari itu masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan Azlan dan juga Dandi di sana. Kenzo tampak membawa secarik undangan pernikahan di tanganya.


"Kak, aku akan menikah dengan Syeril." Kata Kenzo pada Azlan.


"Ya, aku sudah tau itu!" Sahut Azlan.


"Ini undangannya, aku harap kau datang." Pinta Kenzo.


Tak ada sahutan dari Azlan.


"Kak, tolonglah, jangan seperti ini! Syeril sudah menyadari kesalahannya." Kata Kenzo.


"Kenzo, berhentilah merengek seperti ini padaku!" Ujar Azlan.


Kenzo hanya menghela nafas panjang saat berusaha untuk membujuk Azlan untuk berbaikan dengan Syeril. Kenzo sangat memahami karakter Azlan yang susah untuk memaafkan jika ia sakit hati dengan seseorang.


Tengah malam Azlan pulang dengan wajah yang sangat letih, Yasmin yang masih terjaga menyambut kepulangannya saat itu. Yasmin melihat Azlan sedang memegang sebuah undangan pernikahan yang indah.


"Apa itu?" Tanya Yasmin.


"Undangan pernikahan Kenzo dan Syeril." Sahut Azlan.


"Eemm, tunggulah sebentar, aku akan siapkan air hangat untuk kau mandi." Kata Yasmin.


Azlan pun mengiyakan dan duduk di tepi ranjang menunggu air mandi yang disiapkan oleh Yasmin sambil membuka pakaiannya satu persatu. Tak lama Yasmin keluar dari kamar mandi dan mengatakan kalau air mandinya telah siap. Azlan yang sudah telanjang mendekati Yasmin dan berbisik padanya.


"Apa kau mau join denganku, sayang?" Bisik Azlan.


"Baiklah." Sahut Yasmin balas berbisik.


Azlan dan Yasmin menikmati tengah malam mereka di dalam bathup kamar mandi yang telah di penuhi oleh busa sabun. Azlan duduk menyender di dinding bathup sambil memeluk Yasmin dari belakang.


"Azlan." Panggil Yasmin.


"Hemm?" Sahutnya.


"Apa kau akan datang ke pernikahan Kenzo dan Syeril?" Tanya Yasmin.

__ADS_1


"Entahlah!" Sahut Azlan.


"Sayang, lupakanlah masa lalu." Kata Yasmin.


"Entah kenapa aku masih kesal dengan perbuatan Syeril padaku. Bukan hanya kau yang di ganggunya, tapi setiap wanita yang berhubungan denganku pasti di ganggu olehnya." Kata Azlan.


"Iya, tapi itu kan cerita lama saat dia masih mencintaimu, sekarang hanya ada Kenzo di hatinya." Kata Yasmin.


"Kau tidak mungkin tidak hadir di acara pernikahan itu, Kenzo adalah sepupumu dan dia tidak memiliki masalah apapun denganmu." Sambung Yasmin lagi.


"Kita lihat saja nanti." Sahutt Azlan.


"Oh ayolah, sayang! Memiliki musuh itu tidak enak rasanya, bukan?" Kata Yasmin lagi.


Azlan hanya diam saja.


"Ayolah, demi aku." Pinta Yasmin memohon pada Azlan.


"Iya, baiklah." Sahut Azlan.


"Gitu dong." Ucap Yasmin senang.


"Yasmin, aku sudah memberikan apa yang kau mau, sekarang giliranmu!" Bisik Azlan.


"Maksudmu, kau ingin melakukanya?" Tanya Yasmin.


"Tentu saja, sayang." Sahut Azlan.


"Disini?" tanya Yasmin lagi.


Azlan mengangguk cepat. Tak ingin merubah suasana hati Azlan menjadi kecewa, Yasmin pun melakukan apa yang di inginkan oelh suaminya itu padahal seharian Yasmin sudah merasa kelelahan dengan aktifitas yang padat di perusahaan dan juga mengatur adik-adik iparnya yang masih dalam pengawasannya.


 


 Acara pernikahan Kenzo dan Syeril di langsungkan dengan meriah. Banyak tamu undangan yang  mengucapkan selamat pada kedua penganti yang sedang berbahagia itu. Syeril melihat Kenzo yang sedari tadi merasa gelisah di pesta pernikahan mereka.


"Ada apa, sayang?" Tanya Syeril.


"Aku tidak melihat kak Azlan dan Yasmin disini." Sahut Kenzo.


"Mungkin mereka tidak datang karena aku." Kata Syeril sedih.


"Jangan sedih! Ini hari pernikahan kita." Kata Kenzo.


"Iya baiklah." Sahut Syeril.


Tak lama kemudian, mata Syeril melihat Azlan dan Yasmin datang menghampiri mereka berdua.


"Kak Azlan." Gumam Syeril terkejut melihat kehadiran Azlan di pesta pernikahan mereka.


"Selamat untuk kalian berdua, semoga kalian bahagia." Ucap Azlan.


Yasmin pun mengucapkan hal yang sama untuk kedua penganti tersebut.


"Terima kasih kak, kau mau datang ke pesta pernikahanku, huhuhuhuhuhu." Ucap Kenzo nangis bombai sambil memeluk Azlan dengan erat.


"Biasa saja nangisnya, dodol!" Ujar Azlan pada Kenzo.


"Syeril, kau cantik sekali." Kata Yasmin.


"Terima kasih kak." Sahut Syeril.


Syeril melirik Azlan yang sedang menatapnya, lalu Syeril menundukkan wajahnya takut membalas tatapan Azlan padanya.


"Apa kau tidak mau memelukku, Syeril? Sekarang kau juga bagian dari keluargaku." Kata Azlan.


"Hhuuwwwaaaa, kak Azlan aku minta maaf!" Ucap Syeril menangis dalam pelukan Azlan.


"Sudahlah, jangan menagis! Nanti make-up mu luntur." Kata Azlan mengelus kepala Syeril.


Dari dulu Azlan selalu menganggap Syeril hanya sebagai adik saja tidak lebih, itu pun karena orang tua mereka bersahabat baik. Abrar dan Balqis yang baru beberapa hari pulang dari liburan mereka di  Maldives ikut memeriahkan suasana pernikahan sang keponakan. Mereka duduk di sebuah meja bundar bersama dengan sahabat-sahabatnya yang kini juga sudah tampak menua seperti mereka.


"Aku tak menyangka, kalau keturunan kita hanya berputar di tempat saja." Kata Devan.


"Iya, kau benar! Anakku menikah dengan putrinya Zidan, dan sekarang putramu menikah dengan putrinya Aska." Sahut Romi.


"Abrar, bagaimana dengan nasib putraku?" Tanya Luky.


"Mana aku tau." Sahut Abrar.


"Hei, ayo jodohkan saja salah satu putrimu dengan putraku, Geof." Pinta Luky.


"Tidak semudah itu, furgoso! Anak-anakku bebas memilih pasangan mereka masing-masing." Sahut Abrar.


"Abrar, Jo itu sangat cantik, ayolah berikan saja pada putraku." Pinta Luky lagi.


"Tidak akan aku berikan, Jo akan aku jodohkan dengan Adrian." Sahut Abrar.


"Ya sudah deh, kalau begitu dengan Chika juga boleh, hehehehe" Kata Luky bercanda.


Chika yang tak jauh dari mereka, mendengar perkataan Luky tentang dirinya. Chika menatap Geof dengan kesal, sementara Geof terseyum padanya.


"Apa lihat-lihat?" Teriak Chika sangat judes pada Geof.


"Apa kau tidak dengar tadi? Kau dan aku akan menikah, hahahaha." Kata Geof mempermainkan Chika yang masih berusia 10 tahun.


"Aku tidak mau sama pria tua sepertimu!" Ujar Chika sambil berdengus kesal.


"Dasar gadis kecil judes kau!" Teriak Geof kesal pada Chika.


Chika pergi dengan sombongnya melintasi Geof yang berdiri di hadapannya. Sementara yang lain hanya tertawa melihat Chika yang kesal pada Geof seakan benar akan di jodohkan denganya. Geof terkekeh melihat tingkah gadis kecil yang sedang kesal padanya. Seketika Geof mengatupkan bibirnya saat ia mengingat sosok Merta yang kini sudah tidak bersamanya lagi.


"Tiba-tiba aku merindukan pelayan itu." Gumam Geof dalam hatinya mengingat sosok Merta.


 

__ADS_1


 


__ADS_2