
Zidan dan keluarganya sudah tiba di itali. Mereka memutuskan untuk beristirahat setelah menjalani perjalanan yang memakan waktu lama. Tentunya Reyn membawa Fatya untuk beristirahat di dalam kamarnya. Sebelum mandi Fatya tampak sibuk membongkar kopernya untuk menyimpan pakaian di dalam lemari. Sementara Reyn pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Fatya telah selesai menyimpan pakaiannya tersusun rapi di dalam lemari. Fatya merasa sangat lelah, ia merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang yang terbilang cukup lebar. Fatya menatap sekeliling ruang kamar yang menjadi kamarnya bersama Reyn.
"Ternyata dia suka main game." Gumam Fatya melihat koleksi game yang dimiliki Reyn.
Tak lama kemudian Reyn keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkat di pinggangnya. Reyn mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
"Pergilah mandi agar kau segar." Kata Reyn pada Fatya.
"Oh iya, cuaca di sini sedang dingin jadi kau mandi dengan air hangat saja agar tidak flu." Sambung Reyn lagi.
Fatya pun mengiyakan dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan pakaian ganti di tanganya. Kebetulan saat Fatya menginjakkan kakinya untuk pertama kali di negara asing tersebut ternyata sedang mengalami musim dingin. Salju menebal di ruas-ruas jalan kota Itali. Fatya berendam cukup lama di air hangat yang dapat menenangkan tubuhnya. Tak lama kemudian Fatya keluar dari kamar mandi dan tak melihat Reyn di kamar. Fatya duduk di depan cermin untuk menggunakan pelembab di wajahnya. Kemudian ia melihat Reyn dari pantulan cermin. Fatya menoleh saat Reyn berjalan mendekatinya.
"Ayo kita makan malam bersama papa dan mama." Ajak Reyn pada Fatya.
"Iya." Sahut Fatya.
Reyn dan Fatya bergandengan tangan menuju keruang makan. Disana telah menunggu Zidan dan juga Isabel. Mereka makan malam sambil berbincang ringan.
"Tya, mudah-mudahan kau betah tinggal disini bersama kami." Kata Isabel.
"Iya ma." Sahut Fatya.
Zidan melirik Reyn yang terus menatap Fatya saat di meja makan.
"Reyn, makan makananmu." Kata Zidan.
"Papa ini membuat lamunanku buyar saja." Sahut Reyn.
Zidan mendekatkan wajahnya pada Reyn untuk berbisik.
"Kau sedang melamunkan apa?" Tanya Zidan sambil berbisik pada Reyn.
"Malam pertamaku! Hehehe." Jawab Reyn cengengesan.
"Eh, saat di pesawat kau belum memakannya?" Tanya Zidan.
"Melakukan hal seperti itu harus di lakukan dengan nyaman dan menyenangkan. Di pesawat terlalu sempit, jadi aku tidak bisa leluasa jika melakukannya." Jawab Reyn.
"Jadi bagaimana kau menghabiskan waktumu dengannya saat di pesawat?" Tanya Zidan.
"ya berciuman lah! Itu pun aku harus bekerja keras untuk memaksanya." Jawab Reyn.
"Hehehe, kasihan sekali kau!" Ujar Zidan menertawakan nasib putranya itu.
"Huh, menyebalkan." Sahut Reyn kesal di ejek Zidan.
Setelah makan makan, Reyn menyeret Fatya untuk masuk ke dalam kamar. Reyn sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan istrinya itu. Reyn mendudukkan Fatya di tepi ranjang bersamanya. Ia pun memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat mesra. Saat Reyn akan menciumnya, Fatya mendadak menolak.
"Ada apa? Kenapa menolak?" Tanya Reyn bingung.
"Apa yang akan kau lakukan padaku?" Fatya balik bertanya.
"Hei, apa kau lupa? Kita ini sudah menjadi suami istri, jadi aku akan melakukan apa yang seharusnya suami istri lakukan." Kata Reyn.
"Tapi kata papa saat di bandara kita belum boleh melakukan hal itu sekarang." Sahut Fatya.
"Kenapa?" Tanya Reyn bingung.
"Karena kata papa kau memiliki raja singa." Jawab Fatya.
"Raja singa? Apa maksudnya?" Tanya Reyn semakin bingung.
"Aku juga tidak terlalu mengerti yang papa katakan, tapi kata papa kalau kau tidak mengerti kau cari saja di google." Sahut Fatya.
Reyn pun segera mengambil ponselnya dan mencari arti dari perkataan yang di utarakan oleh Fatya padanya. Reyn kaget saat tau kalau raja singa itu maksudnya adalah julukan atas penyakit kelamin pria. Amarah Reyn memuncak seketika.
"Penyakit kelamin." Gumam Reyn setelah membaca di google.
Reyn menatapa mata Fatya yang duduk di sebelahnya.
"Apa hal itu yang papa bisikkan saat kita di bandara?" Tanya Reyn.
"Iya." Sahut Fatya dengan wajah polosnya.
Reyn bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke arah pintu kamar. Kebetulan kamar Zidan berhadapan dengan kamarnya. Reyn berteriak kesal pada Zidan dari depan pintu kamarnya.
"Papa! Kenapa kau bilang pada istriku kalau aku memiliki penyakit kelamin?" Teriak Reyn kesal pada Zidan.
Zidan yang sedang berada di dalam kamar sambil mendekap Isabel hanya terkekeh mendengar putranya berteriak kesal padanya.
"Kau selalu saja mengganggunya." Ujar Isabel marah pada Zidan.
"Hehehe, menantu kita sangat polos ya." Sahut Zidan cengengesan.
Reyn membanting pintu kamar dengan sangat kesal. Ia kembali mendekat pada Fatya yang masih duduk sambil membaca nama penyakit di ponsel. Reyn merampas ponsel itu dan memeluk Fatya. Reyn memaksa Fatya untuk berciuman denganya. Sekuat tenaga Fatya mendorong tubuh Reyn yang sedang memaksanya hingga ciuman itu terlepas.
"Ada apa lagi sih?" Tanya Reyn.
"Kau sedang sakit, jadi jangan melakukan hal itu dulu. Kalau tidak nanti aku bisa tertular." Kata Fatya yang menyangka Reyn benar-benar memiliki penyakit tersebut.
"Apa kau begitu bodoh, hah? Papa sudah menipumu! Aku tidak memiliki penyakit itu. Aku ini pria yang bersih." Ujar Reyn kesal.
__ADS_1
Fatya masih menatap Reyn dalam-dalam.
"Hah, loadingnya lama!" Ucap Reyn pada Fatya yang belum mengerti apapun yang ia katakan barusan.
Reyn langsung menimpa tubuh istrinya dan melakukan malam pertama mereka dengan penuh kehangatan.
*****
Di kediaman Penitipan cucu, Azlan terus memberikan perhatian kepada Yasmin yang sedang mengandung buah cinta mereka. Kali ini Yasmin sering membuat Azlan kerepotan dengan permintaannya yang aneh-aneh saat mengidam. Yasmin bahkan sampai menangis hanya karena ingin makan labu tanah yang di rebus oleh orang yang bertubuh gendut dan berkepala botak. Azlan kebingungan mencari orang berciri-ciri tersebut hanya untuk memasak labu tanah untuk Yasmin. Namun dengan bantuan Geof, akhirnya keinginan Yasmin pun terwujud. Kebetulan di perusahaan Geof, memiliki karyawan yang persis seperti ciri-ciri yang Yasmin inginkan. Atas perintah Geof, karyawan tersebut datang ke rumah Azlan hanya untuk bertemu dengan Yasmin dan merebus labu tanah untuknya.
Pukul 2 dini hari Yasmin membangunkan Azlan yang sedang tertidur pulas.
"Sayang, bangunlah." Ucap Yasmin pada Azlan.
"Ada apa, sayang?" Tanya Azlan sambil mengucek matanya.
"Aku ingin lihat spiderman." Kata Yasmin.
"Hah? Spiderman?" Kata Azlan terkejut.
"Iya." Jawab Yasmin.
"Di Indonesia mana ada spiderman, sayang." Kata Azlan.
"Kalau kau tidak mewujudkan keinginanku maka aku akan nangis sampai subuh." Ancam Yasmin mulai menangis.
Azlan merasa sangat panik dengan permintaan istrinya.
"Aaaarrgghhh, aku harus apa ya lord?" Teriak Azlan menjambak rambutnya sendiri.
"Huuuwwwaaaa!" Tangisan Yasmin semakin kencang.
"Oke sayang, aku akan cari spidermannya." Kata Azlan berusaha untuk mendiamkan Yasmin.
"Cepatlah cari." Kata Yasmin.
"Oke." Sahut Azlan.
Azlan melompat turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Azlan menuju ke kamar Chika untuk mencari tau apakah Chika memiliki boneka atau mainan karakter spiderman. Azlan membangunkan Chika yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
"Chika, bangunlah." Kata Azlan berupaya membangunkan adik bungsunya itu.
"Pergi kau pria jelek! Aku tidak menyukaimu." Racau Chika sedang mengigau.
"Sayang, kau membelai rambutku, hehehe." Racau Chika lagi.
"Hei, hei, bocah! Sedang mimpi apa kau, hah?" Teriak Azlan kesal membangunkan Chika.
"Masih kecil sudah mimpi mesum." Sambung Azlan lagi.
Azlan terus membangunkan Chika dan akhirnya dengan susah payah chika pun terbangun dengan kesal.
"Kakak, ada apa sih? Kenapa membangunkan aku? Aku tadi hampir saja berciuman dengan kekasihku di dalam mimpi." Ujar Chika kesal pada Azlan.
"Beraninya kau berciuman di dalam mimpi!" Teriak Azlan pada Chika.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan berciuman di dunia nyata saja." Sahut Chika.
"Tidak boleh! Kau masih bocah, Chika." Kata Azlan.
"Ada apa membangunkan aku?" Tanya Chika.
"Apa kau punya mainan atau apalah itu yang penting berbentuk karakter spiderman?" Tanya Azlan.
"Dasar gila! Membangunkan aku hanya untuk hal tidak penting seperti itu." Sahut Chika kembali tidur.
"Hei, bagimu tidak penting tapi itu sangat penting untukku, Chika!" Teriak Azlan membangunkan adiknya lagi.
"Kau punya atau tidak?" Teriak Azlan lagi.
"Aku tidak punya, tapi kak Rindi yang punya." Kata Chika.
Azlan pun berlari menuju ke kamar Rindi. Sampai disana ternyata Rindi belum tidur. Rindi masih sibuk chatingan dengan pacar barunya. Hal itu sering di lakukan oleh Rindi hingga menjelang fajar.
"Ada apa kak?" Tanya Rindi.
"Apa kau punya boneka atau mainan apalah yang berkarakter spiderman?" Tanya Azlan.
"Kalau mainan atau bonekanya gue gak punya, tapi gue punya kostumnya." Sahut Rindi.
"Berikan padaku." Kata Azlan.
"Untuk apa?" Tanya Rindi bingung.
"Yasmin sedang ngidam dan ingin melihat spiderman." Jawab Azlan.
"Apa? Hahaha." Ucap Rindi tertawa geli.
__ADS_1
"Hei, cepatlah." Kata Azlan.
"Iya, baiklah." Kata Rindi.
Azlan pun menggunakan kostum itu dengan bantuan sang adik yang tanpa henti tertawa saat melihatnya menggunakan kostum spiderman.
"ngomong-ngomong kau dapat kostum ini dari mana?" Tanya Azlan pada Rindi.
"Ini punya pacar gue. Waktu pesta halloween di sekolah dia memberikan ini ke gue." Jawab Rindi.
"Kau sudah punya pacar sekarang?" Tanya Azlan.
"ya iya lah, secara gue kan sudah S to the M to the A. SMA." Jawab Rindi dengan bahasa gaulnya.
"Aku peringatkan kau jangan mau di cium olehnya. Apa kau dengar?" Kata Azlan.
"Hehehe, terlambat! Gue dan doi sudah berciuman." Sahut Rindi.
"Huh, dasar murahan lo!" Ujar Azlan ikutan gaul.
"Bodo!" Sahut Rindi.
Azlan yang dalam sekejap menjadi super hero pun masuk ke dalam kamar untuk menemui Yasmin yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan spiderman. Azlan masuk dengan bergaya ala-ala spiderman di hadapan Yasmin.
"Taaddaaa...!" Seru Azlan di hadapan Yasmin.
"Wah, spiderman!" Seru Yasmin memeluk Azlan yang ia kira adalah spiderman sesungguhnya.
"Akhirnya spiderman datang!" Seru Yasmin lagi.
"Tentu saja aku datang untuk menemui wanita yang cantik sepertimu. Hahaha." Ucap Azlan si spiderman.
"Apa kau sudah puas, wanitaku?" Tanya Azlan pada Yasmin.
"Iya." Kata Yasmin.
"Kalau begitu sekarang kita tidur saja. Oke?" Kata Azlan lagi.
"Oke." Sahut Yasmin.
Malam itu akhirnya Azlan bisa kembali tidur nyenyak setelah memberikan apa yang Yasmin inginkan walaupun ia tertidur masih dengan kostum spiderman yang melekat di tubuhnya. Yasmin sangat senang mendapatkan perhatian dari Azlan yang selalu memberikan apa yang dia inginkan.
Keesokan paginya penghuni di kediaman penitipan cucu sarapan bersama di ruang makan. Yasmin yang sedang hamil 5 bulan duduk di samping Azlan sambil melayaninya makan.
"Yasmin, apa kau sudah tau jenis kelamin cucuku?" Tanya Abrar.
"Iya, kata dokter bayinya laki-laki." Jawab Yasmin.
"Yes!" Seru Abrar senang.
"Girang banget bakal punya cucu laki-laki." Sindir Balqis pada Abrar.
"Iya lah, disini sudah banyak kaum hawa, jadi harus di seimbangkan dengan keberadaan laki-laki juga." Kata Abrar.
"Betul!" Seru azlan setuju dengan pendapat Abrar.
"Iya, terserah kalian saja." Sahut Balqis.
"Yasmin, nanti pergi ikut mami kerumah Delina ya." Ajak Balqis.
"Iya mi." Sahut Yasmin.
"Untuk apa kesana?" Tanya Azlan.
"Semalam Delina telepon mami, katanya anaknya sakit." Jawab Balqis.
"Saki apa cucuku?" Tanya sang kakek khawatir tingkat dewa.
"Mana aku tau. Maka dari itu aku akan kesana untuk melihatnya." Sahut Balqis.
"Aku akan menghubungi 3 orang dokter untuk memeriksa kondisi cucuku." Kata Abrar yang siap dengan ponselnya untuk menghubungi dokter keluarga.
"Lebay banget sih, pi! Kenapa tidak sekalian saja papi hubungi menteri kesehatan untuk memeriksa kondisi anaknya Delina." Ujar Azlan.
Ppppllleeetttaaakkk......
Azlan di lempar sendok oleh Abrar.
"Aduh! Kalau jidatku terluka aku akan berubah menjadi sangkuriang." Kata Azlan.
Ppplllleeetttaaaaakkkk.........
Balqis menjitak kepala Azlan.
"Kau sama saja lebainya seperti papimu!" Ujar Balqis kesal melihat tingkah konyol putra sulungnya.
Para jamaah lainnya tertawa saat melihat Azlan di pukul dan di lempar sendok oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1