MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
BULAN MADU KE BULAN


__ADS_3

Film di yang mereka tonton telah usai. Boy melirik kesamping dan melihat Gaby sudah tertidur pulas dengan posisi kepala di lengannya.


"Gaby." Ucap Boy sambil mengelus pipi Gaby dengan lembut untuk membangunkannya.


Gaby mengernyitkan alisnya.


"Gaby, bangun, filmnya sudah selesai." Kata Boy.


Gaby membuka matanya dan menegakkan tubuhnya.


"Maaf kak, aku malah tertidur!" Sahut Gaby.


"Kau masih ngantuk?" Tanya Boy lembut dengan mengelus pipi Gaby lagi.


Gaby menggeleng sambil tersenyum. Boy melihat jam di tangannya.


"Sudah jam 7 malam, kita lanjut makan malam saja ya." Kata Boy.


"Iya." Sahut Gaby.


Mereka berdua memutuskan untuk makan di salah satu resto di mall tersebut. Saat sedang menyantap makanannya, Boy kembali menawarkan pada Gaby untuk berbelanja di mall itu.


"Gaby, apa kau tidak ingin membeli sesuatu? Tas, sepatu, atau perhiasan?" Tanya Boy.


"Eemm, aku tak suka belanja di mall, hehehe." Sahut Gaby.


Boy menjadi bingung pada Gaby.


"Biasanya cewek kan suka belanja barang bermerk di mall." Pikir Boy.


"Jadi biasanya kau belanja dimana?" Tanya Boy.


"Di tempat wisata atau di pasar tradisional, aku suka budaya Indonesia! Menurutku budaya Indonesia unik dan lebih menarik daripada barang-barang mewah! Barang mewah dan mahal di mall itu sudah biasa di mataku." Jawab Gaby.


Boy terkesan dengan jawaban Gaby. Gaby lahir di Itali dan darah Itali juga mengalir di tubuhnya. Ayahnya seorang pengusaha ternama di Itali, siapa sangka kalau Gaby malah mencintai budaya Indonesia dan lebih menikmati belanja di pasar tradisional.


"Tempat wisata mana yang kau sukai di sini?" Tanya boy.


"Labuan Bajo!" Jawab Gaby.


"Kau pernah ke sana?" Tanya Boy.


"Iya, kak Azlan pernah mengajakku ke sana, aku sangat suka tempat yang indah itu!" Kata Gaby


"Aku sangat ingin pergi ke sana lagi." Sambung Gaby.


"Jika kau mau, aku akan senang hati membawamu kesana." Kata Boy.


"Kak Boy serius?" Tanya Gaby sangat antusias.


Boy mengangguk cepat.


"Aaahhh, sayangnya aku sedang sibuk akhir kelulusanku tahun ini, dan dua hari setelah kita bertunangan aku akan kembali ke Itali. " Kata Gaby sedih.


"Hei, masih ada waktu lain! Kita akan pergi kesana bersama." Kata Boy menggenggam tangan Gaby.


Mengobrol sambil makan, mata Boy tak sengaja melihat Reyn di mall itu. Tampak Reyn sedang berusaha mengejar seorang gadis cantik saat itu.


"Eehh, Itu si Reyn kan?" Kata Boy pada Gaby.


Gaby menoleh melihat si rendang.


"Sedang ap dia?" Gumam Gaby melirik pada adiknya itu.


"Hehehe, sepertinya dia suka dengan gadis itu." Kata Boy.


Gaby melihat kelakuan adiknya sedang ngebet mengejar gadis yang tak lain adalah data gadis Minang yang memiliki rumah makan khas Minang.


"Astaga, apakah aku benar-benar kakaknya? Dia mempermalukan aku dengan tingkah konyolnya." Gumam Gaby melihat Reyn.


Disisi Reyn dan fatya.


"Fatya, aku menyukaimu! Ayo menikahlah denganku." Kata Reyn tembak langsung.


"Yang benar saja, aku masih kelas 1 SMA! Umurku masih 15 tahun." Sahut Fatya bingung.


"Oh, begitu ya? Ternyata kau masih bocah." Kata Reyn sedih.


Fatya mengangguk.


"Aku pikir kau sudah berusia 18 tahun." Kata Reyn.


Fatya menggeleng.


"Kakak, mau cari istri ya?" Tanya Fatya.


"Iya! Tapi aku ini pria yang suka pilih-pilih untuk mencari pendamping." Kata Reyn dengan songongnya.


"Aku punya kakak perempuan cantik, namanya seruni." Kata Fatya.


"Kalau kau mau, aku bisa mengenalkanmu padanya." Sambung Fatya.


"Kalau dia secantik yang kau bilang, aku setuju untuk bertemu dengannya." Kata Reyn.


"Oke." Sahut Fatya.


Fatya pun beranjak pergi ke lantai atas, dia pergi ke mall hanya untuk bermain game di arena permainan. Setelah itu Reyn bukannya pergi malah terus mengikuti Fatya.


"Kakak, kenapa malah mengikuti aku terus? " Tanya Fatya.


"Hahahaha, aku juga ingin main game, tau!" Sahut Reyn beralasan.


"Haaddeeh, masa iya aku bilang aku mengikutinya karena aku suka lihat wajahnya yang cantik itu!" Gumam Reyn dalam hatinya.

__ADS_1


Fatya melanjutkan main game nya dan begitu pula dengan Reyn, namun Reyn sesekali curi pandang dan melirik kepada Fatya. Gaby dan Boy mengikuti kemana Reyn pergi dan melihat semua kelakuan Reyn pada gadis itu.n Gaby menghampiri adiknya itu.


"Sedang apa kau disini, hah? Kau mengganggu gadis itu?" Tanya Gaby sambil menarik telinga adiknya.


"Aduh! Kak, sakit kak! Sakit." Pekik Reyn kesakitan.


"Kak, gadis itu yang aku ceritakan padamu! Ggadis Minang itu!" Kata Reyn.


"Eehhh, dia orangnya!" Kata Gaby melirik pada Fatya.


"Kelihatannya dia masih sangat muda." Kata Boy juga melirik Fatya.


"Iya, ternyata dia masih berusia 15 tahun! Aku langsung patah hati." Kata Reyn.


"Ppffttt, hahahaha." Pasangan Geboy ngakak.


"Ayo pulang!" Ajak Gaby pada Reyn.


"Kalian duluan saja deh, aku masih ingin pergi main." Sahut Reyn.


"Ya sudah, kami duluan." Kata Boy.


Boy mengantar Gaby kembali ke apartemen. Sedangkan Reyn memutuskan untuk pergi bersenang-senang dengan Kenzo di salah satu club malam.


Boy yang kembali hanya berdua bersama Gaby, memarkirkan mobilnya di tempat parkiran dekat apartemen yang di tinggali Gaby selama ia berada di Indonesia.


"Kita sudah sampai, ayo aku antar sampai di depan pintu." Kata Boy.


"Gak usah kak, disini juga tak apa-apa." Kata Gaby.


Boy dan Gaby saling tatap di dalam mobil. Boy menarik lengan Gaby agar mendekat padanya.


"Gaby, kau tidak terpaksa kan di jodohkan denganku?" Tanya Boy.


"Nggak kak!" Sahut Gaby.


"Kenapa kakak tanya seperti itu?" Tanya Gaby.


"Eemm, aku hanya ingin memastikannya saja." Sahut Boy.


Boy mendekatkan wajahnya pada Gaby. Gaby tau apa yang diinginkan oleh Boy padanya. Jantung Gaby berdebar dengan kencang, dan Gaby memejamkan matanya. Benar saja, Boy mencium bibir Gaby dengan lembut. Gaby membalas ciuman Boy dan mereka saling ******* bibir mereka masing-masing. Puas mencium bibir Gaby, untuk bagian akhir boy memberikan kecupan manis di bibir Gaby.


"Ayo, aku antar sampai depan pintu, sekalian pamit sama orang tuamu!" Kata Boy.


Gaby pun menurut dan ikut bersama Boy.


 


*****


Di dalam club itu, Reyn dan Kenzo duduk sambil menikmati hiburan malam di club itu. Tak lama mata Reyn melihat aksi Geof yang duduk di sebrang mejanya dengan beberapa wanita mengelilingi nya. Reyn memandang jijik pada Geof saat itu.


"Kau lihat siapa?" Tanya Kenzo pada Reyn.


"Oh, Geof! Dia sudah terbiasa begitu, gaya hidupnya terlalu bebas." Kata Kenzo.


"Kasihan om Luky, bekerja keras hanya untuk membesarkan anak seperti dia yang tak berguna." Kata Reyn.


"Ya, sangat disayangkan memang." Sahut Kenzo.


"Oh iya, kapan kalian akan kembali ke Itali?" Tanya Kenzo.


"Setelah pesta pertunangan kak Gaby." Jawab Reyn.


"Dengan siapa dia bertunangan?" Tanya Kenzo.


"Kak Boy!" Jawab Reyn.


"Appppaaaa?" Teriak Kenzo terkejut.


Karena malas menjawab untuk ke dua kalinya jadi Reyn hanya mengangguk saja.


 


 


 


*****


Azlan dan Yasmin masih berada di kediaman kampung hawa. Mereka sedang berbincang di ruang tengah bersama adik-adiknya. Mereka sedang bergosip tentang pesta pertunangan Gaby dan Boy.


"Tak sangka si geboy akan mendahului kita." Kata Melani.


"Iya, aku di langkahinya." Sahut Melia.


"Makanya suruh pacar kalian menikahi kalian dengan cepat." Kata Azlan.


"Kak, kemarin kak Dandi melamar aku." Sahut Delina girang.


"Tidak bisa! Kau tak boleh melangkahi kami berdua." Seru si kembar melotot pada Delina.


"Huh, apaan sih!" Gumam Delina sewot.


"Delina, kau harus lulus kuliah dulu, baru menikah." Kata Azlan


"Tidak! Pokoknya aku mau menikah dengan kak Dandi secepatnya." Sahut Delina.


"Tidak boleh!" Teriak si kembar kesal.


"Kalau Chika duluan nikah boleh tidak, kak?" Tanya Chika cengengesan.


Si kembar melotot pada Chika sambil mencubit kedua pipinya.

__ADS_1


"Apa kau berani pada kami, Chika?" Seru si kembar.


Chika ketakutan dan berlari menuju ke kamar Abrar dan Balqis sambil menangis.


"Mami...papi, kak kembar nakal!" Teriak Chika menangis.


"Dasar manja!" Gumam si kembar untuk Chika.


Si kembar dan delina kembali bersitegang pasal siapa yang akan menikah duluan. Azlan kembali frustasi melihat tingkah adik-adiknya itu.


"Ini selalu terjadi setiap harinya." Gumam Azlan tepok jidat.


Kemudian Azlan melihat Yasmin ngakak saat menyaksikan pertarungan antara si kembar dan Delina.


"Ddiihh, ngakak mbak? Girang amat!" Kata Azlan pada Yasmin.


"Lucu!" Kata Yasmin.


"Setelah pulang dari bulan madu nanti, kita tinggal disini saja ya." Pinta yasmin


"Apa?" Teriak Azlan kaget.


"Eehh, kenapa?" Tanya Yasmin bingung.


"Apa kau yakin mau tinggal disini? Mereka selalu berisik setiap harinya." Kata Azlan.


"Menurutku itu hal yang biasa, banyak saudara itu asik loh!" Sahut Yasmin.


"Yasmin, kalau kita tinggal disini kapan kita akan buat anak?" Tanya Azlan.


"Kapan saja bisa kan! Setiap malam kau juga bisa melakukannya." Kata Yasmin.


"Huh, aku ingin melakukannya dengan keadaan yang tenang dan nyaman tidak berisik seperti ini." Kata Azlan.


"Terserah kau, tapi aku yakin suatu saat kau pasti merindukan hal yang berisik ini nanti!" Kata Yasmin.


Azlan sedikit bingung mencerna ucapan Yasmin padanya tadi, yang ada di pikiran Azlan saat ini adalah menikmati hari-hari terindah menjadi pengantin baru bersama Yasmin.


 


 


Undangan pesta pertunangan telah tersebar kepada kerabat, sahabat dan juga rekan bisnis dari kedua belah pihak keluarga. Undangan pertunangan itu pun juga tiba di kediaman Luky. Saat itu Geof sedang duduk santai di tepi kolam renang seusai berenang. Ia mendengar orang tuanya yang sedang heboh dengan pesta pertunangan Gaby dan Boy.


"Wah, Boy sangat beruntung ya!" Kata Lita pada Luky.


"Iya, Gaby adalah gadis terpelajar dan baik, begitu juga dengan Boy, dia juga pria yang baik." Sahut Luky.


"Tidak seperti anak kita, yang selalu bermalas-malasan dan berfoya-foya." Ujar Luky.


"Iya, aku menyesal karena telah salah mendidiknya!" Ucap Lita sedih.


Geof mendengar perbincangan orang tuanya saat itu. Dia sangat kesal karena orang tuanya selalu perhitungan padanya, itu menurutnya, padahal memang tabiat Geof lah yang tidak baik.


Geof mengambil dan membaca surat undangan pertunangan Gaby dan Boy Ia sangat kesal sehingga tanpa sadar dia meremas undangan itu hingga remuk dan kusut.


"Kau bukan sahabatku lagi, Boy!" Gumam Geof kesal.


Pesta pertunangan di selenggarakan secara mewah namun tertutup untuk umum dan media. Zidan tak ingin media mengekspos keluarganya. Gaby tampak cantik dengan gaun yang ia pakai di tubuhnya membuat Boy tak berkedip menatapnya. Inti acara di mulai dan mereka berdiri berhadapan dan saling bertukar cincin. Sorak Sorai para tamu undangan saling bertepuk tangan dan mengucapkan selamat atas pertunangan Gaby dan Boy.


Azlan dan Yasmin menghampiri Gaby dan Boy.


"Selamat ya Geboy!" Ucap Azlan.


"Thanks, sobat." sahut Boy.


"Aku tak melihat si Geof!" Kata Azlan.


"Entahlah, aku juga begitu." Kata Boy.


"Apa dia lebih memilih tidur bersama dengan para wanita penghibur itu dari pada menghadiri pesta pertunangan sahabatnya?" Ujar Azlan sedikit kecewa pada Geof.


"Sudahlah, mungkin dia sedang ada urusan penting." Kata Boy.


Gaby kaget saat Azlan mengatakan sifat Geof yang tidak baik saat itu.


"Aku beruntung! Hampir saja aku jatuh dalam lubang buaya saat aku menyukai kak Geof! Ternyata Reyn dan papa benar, dia bukan pria yang baik." Gumam Gaby dalam hatinya.


Gaby terus menatap pada pria yang berdiri disebelahnya yang kini sudah menjadi tunangannya itu. Azlan melihat Gaby yang sedang menatap Boy.


"Cinta banget, sampai menatap melulu!" Sindir Azlan pada Gaby.


"Apaan sih kak Azlan." Sahut Gaby sewot.


Boy hanya cengengesan saat tau Gaby menatapnya.


"Kemana tujuan kalian berbulan madu? Ke bulan kah?" Tanya Boy pada Azlan dan juga Yasmin.


"Yasmin maunya ke Roma, kalau aku sih maunya ke Paris!" Kata Azlan.


"Sama-sama benua Eropa! Sekalian saja keliling Eropa." Kata Boy.


"Ide bagus tuh!" Seru Azlan.


Kemudian Azlan berbisik pada Yasmin.


"Aku pasti menindasmu, Yasmin! Aku pastikan kau segera hamil setelah kita berbulan madu." Bisik Azlan.


Wajah Yasmin langsung memerah saat itu juga.


"Kau menyebalkan! Hhheemmmppp!" Sahut Yasmin yang tak bisa berkata apapun lagi menyikapi keinginan Azlan yang ingin cepat memiliki anak.


Gaby dan boy hanya tersenyum saat Azlan membuat kesal Yasmin di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2