MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
AKHIRNYA AKU KEMBALI


__ADS_3

Azlan membantu Yasmin untuk membereskan barang-barang milik ibunya dan di bawa kerumahnya. Yasmin juga sudah membereskan barang-barang miliknya yang ada di apartemen Abrar dan pindah kembali kerumahnya. Yasmin membongkar isi lemari milik mendiang ibunya, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah kota dan membukanya.


Di dalam kotak itu terdapat sebuah buku kecil dan banyak coretan tentang isi hati ibunya terhadap ayahnya. Yasmin kembali menjatuhkan air matanya saat membaca buku kecil itu yang bertuliskan mengenai dirinya.


Yasmin.., putri kecilku..


Aku tau kau sangat kesal dengan sikap ayahmu, tapi dia melakukan ini hanya untuk yang terbaik bagiku dan kau. Dia tak bersungguh-sungguh mengusir ibu waktu itu. Dia melakukannya karena ia tak mau aku dan juga dirimu mati di tangan keluarga istri barunya. Hampir setiap hari hatinya tersiksa karena melihatmu tumbuh tampa pelukan darinya.


Toko bunga milikku itu adalah pemberiannya. Dia tau aku sangat suka bunga, maka dia membelinya untukku tanpa sepengetahuan dari keluarganya dan juga keluarga istrinya. Waktu kau kecil, ayahmu tak tega mengusirmu makanya ayahmu mencari cara agar kau yang pergi keluar dari rumah itu agar kau tak dibunuh oleh mereka yang ingin merebut ayahmu.


Aku ingin mengatakan betapa cintanya ayahmu kepada kita, namun kau sering marah saat ibu mulai ingin membicarakannya. Saat kau tak dirumah, ayahmu dan aku sering bertemu. Kami saling melepaskan rindu kami berdua. Saat aku menderita penyakit yang sukar disembuhkan, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan aku, namun sepertinya aku memang tak bisa bertahan hidup.


*Aku mohon buang jauh-jauh pikiran untuk membenci ayahmu terlalu dalam. Dia sangat mencintai kita. Aku harap kau membaca ini setelah kepergianku nanti. Aku sangat mencintaimu dan juga ayahmu. Aku* berharap kau bisa mengerti keadaan ayahmu, Yasmin…


Semoga kau bahagia, nak…


Aku akan selalu merindukan kalian berdua.


Tangis Yasmin pecah saat membaca buku yang kini dalam dekapannya. Tangisnya terdengar keluar saat Azlan sedang menunggu mobil pengangkut barang di halaman depan. Seketika Azlan berlari ke dalam dan melihat Yasmin yang sudah terduduk lemas sambil menangis di lantai.


“Ada apa? Kenapa kau menangis, Yasmin?” Tanya Azlan panik.


“Ayahku sangat mencintai aku, Azlan! Dia sangat menyayangi aku.” Sahut Yasmin dalam isak tangisnya.


Kemudian Azlan mengambil buku itu dan ikut membacanya. Ia kembali menatap Yasmin yang masih menangis sejadi-jadinya di kamar itu. Azlan memeluk Yasmin dengan erat.


“Sayang, sudahlah! Semuanya sudah berakhir! Yang penting kau tau betapa besar ayah dan ibumu menyayangimu.” Ucap Azlan mencoba untuk menenangkan Yasmin.


“Aku selalu menyakiti hati ayahku, aku membencinya dan aku mengumpatnya! Aku tak pernah menyadari betapa besar cintanya kepadaku selama ini.” Kata Yasmin menyesali dirinya sendiri.


“Aku anak yang durhaka, Azlan!” Sambung Yasmin lagi.


“Tidak, kau hanya salah paham kepadanya! Jika kau tau sejak awal tentang apa yang di lakukan oleh ayahmu, pasti kau tak akan membencinya!” Sahut Azlan.


“Sudahlah, kedua orang tuamu sudah tenang disana! Jadilah putri yang baik untuk membanggakan nama mereka, tak ada yang perlu kau sesali lagi.” Sambung Azlan lagi.


Setelah merasa tenang Yasmin kembali membereskan barang-barang milik ibunya untuk di pindahkan kerumah Teo yang kini menjadi rumah Yasmin. Tiba di rumahnya, Yasmin menyuruh beberapa pelayan untuk membuang barang-barang milik Elita dan juga Naura. Ia tak mau ada kenangan buruk yang tinggal dirumahnya saat ini.


Setelah semuanya selesai Yasmin duduk dan melihat seisi ruangan yang di penuhi kenangan indah saat ia masih bersama dengan kedua orang tuanya. Betapa bahagianya dirinya saat itu. Ia terus mengenang masa kecilnya yang sangat manja kepada ayahnya, hingga lamunannya buyar saat Azlan menepuk pundaknya.


“Kau melamunkan apa?” Tanya Azlan.


“Aku sedang mengenang masa kecilku bersama kedua orang tuaku! Saat itu aku sangat bahagia, aku sangat manja dengan ayahku! Kemanapun dia pergi dia selalu membawa aku dan juga ibuku.” Sahut Yasmin.


“Kemanapun?” Tanya Azlan.


“Iya! Dia membawa kami ikut saat dia sedang melakukan perjalanan bisnis dan juga menghadiri setiap pesta aku selalu ikut dengan ayahku, makanya aku mengenal tante Luisa saat aku kecil, karena aku pernah hadir dalam pesta pernikahannya.” Sambung Yasmin.


“Oh iya, aku sudah lama ingin menanyakan hal ini padamu. Kau bilang kau dulu pernah menghadiri pesta pernikahan tante Luisa dan om Ferry,  aku juga menghadirinya! Apa kau pernah melihat anak laki-laki yang paling tampan disana?” Tanya Azlan penuh percaya diri..


“Hah? Anak laki-laki paling tampan? Siapa maksudmu?” Tanya Yasmin bingung.


“Ayo coba ingat-ingat lagi!" Kata Azlan dengan songongnya.


Yasmin mengingat masa itu.


One hour later…………………


Two hour later………………...


“Yasmin, kenapa kau jadi lupa ingatan?” Ujar Azlan mulai dongkol.


“Oh iya aku ingat! Saat itu aku pernah melihat ada seorang anak laki-laki yang sangat frustasi karena orang tuanya akan memberikan adik padanya!” Kata Yasmin.


“Lalu apa kau tau itu siapa?” Tanya Azlan.


"Tidak! Untuk apa aku tau siapa dia? Menurutku anak laki-laki itu memiliki sifat yang tak pantas dengan usianya, masih kecil sudah punya kekasih, terus saat itu aku melihat dia mencium kekasihnya saat di pesta itu! Hah, dia  memang tak pantas untuk dijadikan panutan.” Ujar Yasmin kepada Azlan.


Azlan menjadi kesal dan beranjak pergi.


“Eh, kau mau kemana?” Tanya Yasmin bingung.


“Pulang!" Sahut Azlan kesal.


“Ddiih, kenapa tiba-tiba jadi kesal sih?” Gumam Yasmin.


Lalu Yasmin melihat Azlan salah jalan, Azlan berjalan menuju ke kamar Yasmin bukannya kearah pintu utama.


“Heeii, pintu keluarnya di sana woi! Itu kamarku!” Teriak Yasmin.


Lalu Azlan berjalan menuju pintu utama dan bergegas pergi.


“Dasar modus.” Gumam Yasmin menatap Azlan pergi dengan mobil mewahnya.


Kemudian Yasmin berniat untuk beristirahat di dalam kamarnya. Saat itu hatinya tak tenang karena sikap Azlan yang tiba-tiba kesal padanya tadi.


“Kenapa dia? Apa aku salah bicara? Tapi aku tadi bicara apa ya?” Gumam Yasmin bingung.


Di perjalanan pulang Azlan terus berdecak kesal karena Yasmin mengatakan dirinya tak bisa menjadi panutan.


“Apa salahnya jika aku mencium Desi waktu itu? Lagian dia kan memang kekasihku saat itu, wajar saja sepasang kekasih melakukan hal itu, ya walaupun saat itu usiaku masih 8 tahun.” Gumam Azlan.


“Dasar kau Yasmin, pelupa! Pikun! Aku mengingatmu waktu itu, tapi kenapa kau tak ingat aku.” Teriak Azlan kesal sendiri di dalam mobilnya.


A few moment later….


“Tapi kalau di ingat-ingat wajah yasmin memang cantik saat masih kecil, hehehehe! Saat aku melihatnya pertama kali, aku berniat untuk memutuskan Desi dan mengejarnya, namun Desi sangat galak, jadi aku tak bisa untuk mengejar Yasmin. Hehehe.” Gumam Azlan dengan pikiran konyolnya saat kecil.

__ADS_1


 


*****


Tiba dirumahnya Azlan melihat Delina yang asik dengan ponselnya dan senyum-senyum sendiri. Azlan pun duduk di samping Delina dan sesekali mengintip ke ponsel Delina.


“Hei, lama-lama kau bisa gila jika kau senyum-senyum sendiri seperti itu!” Kata Azlan pada Delina.


“Kak Dandi memang yang terbaik!” Sahut Delina membuat Azlan sedikit cemburu.


“Kau sudah baikan dengannya?” Tanya Azlan.


“Tentu saja! Sebenarnya aku tak tahan jika berjauhan dengan kak Dandi, hehehehe." Sahut Delina dengan wajah centilnya.


“Huh, dasar murahan!” Umpat Azlan untuk adiknya.


Tak lama ia melihat Melia yang turun dari tangga sambil berdecak kesal menatap ponselnya.


“Hei, kau kenapa?” Tanya Azlan pada Melia.


“Ada orang iseng yang setiap saat mengirimkan pesan padaku, menyebalkan!” Sahut Melia duduk di samping Azlan.


“Coba aku lihat.” Kata Azlan.


Azlan pun membaca semua isi pesan yang ada di ponsel Melia.


“Pppffftt, hahahahahahahahha.” Azlan meledak tertawa.


“Iihh, apaan sih?” Ujar Melia sewot.


“Semua yang dikatakan olehnya tentang dirimu memang benar! Kau memang pantas di juluki ratu jahil. Hahahaha.” Ucap Azlan tertawa terpingkal-pingkal.


“Hhheemmmmpp!" Melia kesal pada Azlan.


Saat Azlan sedang tertawa terbahak-bahak, matanya tertuju pada kedua orang tuanya yang sedang menuruni anak tangga dan diikuti beberapa pelayan yang membawa koper mereka.


“Mami sama papi mau kemana?” Tanya Azlan mendadak berhenti tertawa.


“Kami akan pergi honeymoon!” Seru Abrar dan Balqis dengan wajah yang ceria.


“TIIIIDDDAAAKKKKKK!” Teriak Azlan frustasi.


Kedua orang tuanya serta adik-adiknya hanya tertawa saat melihat wajah Azlan yang frustasi. Ia tau benar apa yang akan terjadi pada dirinya setiap hari untuk menjaga 11 adiknya yang memiliki sifat supernya.


“Jangan tinggalkan aku, wahai orang tua yang tak berperasaan! hhhuuuhhuuuhhuuuhhuuu.” Ucap Azlan nangis bombai.


Si Abrar dan Balqis tak perduli dengan derita Azlan dan malah berlari kencang menuju mobil untuk berangkat menuju bandara.


“Hehehehe, Azlan terlihat sangat gembira ya kalau kita pergi liburan!" Ujar Abrar yang tak berperasaan.


“Azlan bukannya sedang gembira, tapi frustasi! Ini semua karena kau yang ingin berkeliling dunia denganku.” Sahut Balqis.


Abrar.


“Tentu saja, hehehehe.” Sahut Balqis.


“Oohh, kau memang pria idaman!” Sambung Balqis bermesraan di dalam mobil bersama Abrar.


Sang supir.


“Majikanku sangat mesra walaupun mereka sudah tak muda lagi! Tidak seperti aku dan istriku yang selalu bertengkar hanya karena masalah yang sepele. Nasib oh nasib!" Gumam sang supir dalam hatinya.


*****


Saat makan malam di kediaman kampung hawa, Azlan hanya diam duduk melihat pemandangannya adik-adiknya yang tak bisa akur di meja makan.


“Aku merindukanmu, Yasmin! Huuuuhhhuuuhhhuuu.” Ucap Azlan nangis bombai.


Saat sedang menikmati makan malamnya dengan penuh kericuhan dari 10 para gadis-gadis di sampingnya, mata Azlan tertuju pada sebuah bangku kosong milik Melani.


“Eeehhh, dimana Melani?” Tanya Azlan pada Melia.


“Katanya sih lembur!” Jawab Melia.


“Lembur? Memangnya dia bekerja dimana?” Tanya Azlan yang tak tau apa-apa.


“Di kantor cabang milik papi!” Sahut Melia.


“Sejak kapan?” Tanya Azlan.


“Sejak hari ini!” Jawab Melia.


“Pppffftt, aku yakin dia pasti sedang frustasi mempelajari semua berkas yang ada di kantor itu! Hahaha." Seketika Azlan ngakak membayangkan Melani duduk di ruang kerjanya.


Dan perkataan Azlan benar adanya. Melani sedang nangis bombai mempelajari semua berkas yang ada di kantor itu. Abrar menjadikan Melani pimpinan di perusahaan cabang miliknya. Melani yang belum berpengalaman hanya bisa menangis saat mempelajari semuanya di ruangan itu.


“Papi, kau sangat kejam padaku! Aku bingung. Hhhuuwwwaaaa.” Teriak Melani di meja kerjanya.


Angga yang masih sibuk dengan pekerjaannya, mendengar teriakan Melani dari ruang kerjanya.


“Itu suara Melani kan? Kenapa dia, frustasi kah? Hehehe.” Gumam Angga yang tau sifat pimpinan barunya itu.


Angga datang menghampiri ruangan Melani dan mengetuk pintu ruangan itu.


“Siapa?” Tanya Melani.


“Ini saya, asisten anda!” Sahut Angga.

__ADS_1


Tau kalau akan bertatap muka dengan pria pujaan hatinya, Melani merubah dandananya dan menjadi anggun seketika.


“Masuklah!” Ucap Melani lemah lembut.


Senyuman manis nan lebar terpancar dari bibir Melani kepada Angga.


“Maaf, tadi saya mendengar teriakan anda, apa ada masalah?” Tanya Angga.


“Oohh, tidak…tidak, kau salah dengar! Mungkin itu suara kecoa terjepit!” Jawab Melani asal bicara.


“Pppfftt, kecoa terjepit katanya! Sejak kapan kecoa memiliki suara?” Gumam Angga dalam hatinya.


“Eemmm, nona, jika anda butuh bantuan katakan saja padaku karena tugasku membantu nona disini.” Kata Angga.


Tak ada jawaban dari Melani yang ada Melani terus menatap Angga dan terpana pada ketampanannya.


“Nona? Nona?” Panggil Angga.


“Hheemm?” Sahut Melani masih menatap Angga.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Angga sambil menahan senyumnya.


“Tentu saja, aku akan baik-baik saja jika menjadi kekasihmu!” Sahut Melani keceplosan bicara.


“Apa?” Tanya Angga kaget.


“Hah, apa yang aku katakan barusan? Aku sangat menyukai pria ini!” Ucap Melani dalam hatinya.


“Aku tak bisa menahannya lagi.” Gumam Melani.


Melani bangun dari kursinya dan mendekati Angga yang sedang berada di hadapannya.


“Aa…aku…..aku suka padamu.” Ucap Melani pada Angga.


Mendengar perkataan Melani, si Angga malah tersenyum.


“Kenapa?” Tanya Melani melihat Angga tersenyum.


“Apa papimu tak mengatakan apapun padamu?” Tanya Angga.


“Apa?” Tanya Melani bingung.


“Aku dan kau memang di jodohkan.” Sahut Angga.


“Be…be…benarkah?” Melani kaget.


Angga hanya tersenyum dan mengangguk.


“Aaarrrgghh! Aku sangat senang.” Teriak Melani kegirangan sembari memeluk Angga dan Angga pun membalas pelukan itu.


“Sejak kapan papi ingin menjodohkan kita?” Tanya Melani.


“Setelah pesta pertunangan tuan muda Azlan, aku memberanikan diri untuk meminangmu kepada tuan Abrar dan dia menyetujuinya."  Jawab Angga.


“Wah, kau sangat keren! Aku tak yakin kau melakukan hal itu untukku.” Kata Melani.


“Aku sudah lama menyukaimu dan aku berusaha menjadi yang terbaik di hadapan papimu hanya untuk mendapatkanmu.” Sahut Angga yang memang sangat mencintai Melani sejak lama.


“Benarkah? Aku sangat terharu! Hhhuuuwwwaaaaa.” Melani menangis haru.


"Melani! Apa aku boleh menciummu?” Pinta Angga malu-malu.


Melani yang sudah ngebet malah nyosor Angga duluan tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu. Ruangan kantor menjadi hangat karena lumatan mereka berdua.


*****


Azlan duduk di ruang tengah sambil membaca pesan Yasmin yang tak mau ia balas. Ceritanya si Azlan masih ngambek kepada Yasmin karena di bilang tidak bisa menjadi panutan. Tak lama ia melihat Melani yang pulang kerumah dengan wajah yang memerah.


“Hei, wajahmu merah sekali! Kau kenapa?” Tanya Azlan melihat Melani senyum-senyum.


“Aku pengen kawin, kak!” Sahut Melani dengan wajah memerah.


“Nikah dulu woi, baru kawin!” Sahut Melia yang juga melihat Melani saat itu.


Melani langsung ngacir masuk kedalam kamarnya.


“Kenapa dia?” Tanya Azlan pada Melia.


“Paling juga habis di cium sama Angga!” Jawab Melia.


“Apa?” Teriak Azlan kaget.


“Angga yang bekerja di cabang perusahaan papi?” Tanya Azlan.


Melia mengangguk.


“Hhhaaaiiihh, jadi karena itu dia bekerja disana! Astaga, adik-adikku memang hebat!” Ujar Azlan tepok jidat.


Tring…, ponsel Azlan berbunyi mendapatkan pesan.


“Sayang, kenapa tidak balas pesanku sih? Teleponku juga tak di angkat? Kenapa? Apa kau sedang sibuk?” Pesan Yasmin.


“Aku ngambek, tau!” Teriak Azlan setelah membaca pesan dari Yasmin.


Melia kaget melihat sang kakak tiba-tiba teriak setelah membaca pesan dari ponselnya.


"Ternyata banyak orang yang menjadi gila karena ponsel!" Gumam Melia.

__ADS_1


"Termasuk kau!" Balas Azlan pada Melia.


"Huh, dasar!" Sahut Melia sewot.


__ADS_2