
Yasmin yang sedang hamil 5 bulan, sedang duduk di ruang tengah sambil menemani Chika bermain disana.
Saat itu tampak Yasmin sedang memegang sebuah buku parenting untuk mencari pengalaman mengurus bayi-bayi nya kelak. Tak lama Balqis dan Abrar menghampirinya. Balqis tersenyum mengelus perut menantunya itu
"Sudah tau jenis kelaminnya?" Tanya Balqis pada Yasmin.
"Belum mi, nanti sore saat Azlan sudah pulang dari kantor kami akan pergi ke praktek dokter kandungan, hari ini mau USG untuk tau jenis kelaminnya." Jawab Yasmin.
"Kalau papi tebak, cucuku pasti kembar laki-laki!" Kata Abrar.
"Tidak mungkin, masa semuanya laki-laki?" Ujar Balqis.
"Hei, aku kakeknya! Aku lebih tau dong." Sahut Abrar nyolot.
"Eehh, aku neneknya! Aku juga tau, ini bayi yang ada di rahim Yasmin pasti perempuan." Kata Balqis tak mau kalah.
Yasmin tepok jidat lihat mertuanya gaduh.
"Kak, jangan di ambil pusing! Mami dan papi biasa begitu, nanti mereka akan mesra lagi." Kata Chika.
"Hehehehe" Yasmin hanya tersenyum canggung.
Tak lama kemudian Azlan kembali dari kantornya. Ia langsung keruang tengah mendengar suara Yasmin yang sedang berbincang disana.
"Eehhh, sudah pulang ya." Ucap Yasmin pada Azlan.
"Iya, nanti jadi kan ke dokter kandungan?" Tanya Azlan sambil mengelus perut Yasmin.
"Iya, aku siap-siap dulu ya." Kata Yasmin pergi ke kamarnya.
Azlan duduk bersama dengan orang tuanya di ruang tengah.
"Eehh Azlan, menurutmu cucu mami nanti kembar laki atau perempuan?" Tanya Balqis.
"Kembar laki." Sahut Azlan.
Abrar tertawa menang si Balqis cemberut. Balqis menginginkan cucu perempuan, sedangkan Abrar menginginkan cucu laki-laki.
"Mi, dirumah ini sudah banyak wanita, jadi aku harus gempur si Yasmin cetak bayi laki-laki, hehehe." Kata Azlan.
"Tidak bisa! Aku tetap ingin cucu perempuan!" Kata Balqis.
"Bandel banget sih, si Azlan bener tuh, cucu laki-laki harus hadir di rumah ini." Sambung Abrar.
"Hhheemmmppp!" Balqis memalingkan wajahnya dengan kesal.
Yasmin pun telah siap dan kemudian pergi ke praktek dokter kandungan bersama dengan Azlan. Sampai di tempat praktek, Azlan dan Yasmin menunggu sejenak dan berbincang dengan pasien yang lain saat itu. Tak lama kemudian, giliran nama Yasmin yang di panggil masuk keruang dokter. Yasmin di periksa oleh dokter terlebih dahulu kemudian ia berbaring dan dokter memeriksa perut Yasmin dengan alat canggih USG itu. Mata Azlan tak berkedip melihat ketiga calon bayinya di layar monitor.
"Bagaimana bayiku dokter?" Tanya Azlan.
"Sehat! Untuk saat ini mereka baik-baik saja." Jawab Dokter membuat Yasmin bernafas lega.
"Dok, bagaimana dengan jenis kelaminnya?" Tanya Azlan antusias.
__ADS_1
"Kedua bayimu perempuan, tapi yang satu lagi sedang membalikkan tubuhnya, jadi yang kelihatan hanya punggungnya saja." Kata Dokter.
"Jadi yang satu lagi gak tau nih jenis kelaminnya?" Tanya Azlan.
"Iya, mungkin pertemuan selanjutnya kita bisa mengetahuinya." Kata Dokter.
Azlan menghela nafas berat. Ia ingin sekali tau jenis kelamin bayinya yang satu lagi. Saat itu Yasmin melihat raut wajah Azlan yang tampak agak kusut. Yasmin tau keinginan Azlan yang menginginkan bayi laki-laki. Azlan dan Yasmin sudah tiba dirumah, Azlan masuk tanpa menyapa kedua orang tuanya yang duduk di ruang tengah dengan adik-adiknya yang lain.
"Kenapa dia?" Tanya Abrar pada Yasmin.
"Mungkin dia kecewa karena dua bayinya perempuan." Kata Yasmin.
"Yes!" Ujar Balqis girang.
"Terus yang satunya lagi?" Tanya Abrar.
"Saat di periksa hanya terlihat punggungnya saja, jadi belum tau laki-laki atau perempuan." Jawab Yasmin.
"Oh." Ucap Abrar.
Yasmin pamit untuk masuk kedalam kamarnya. Abrar melihat raut wajah Balqis yang tampak sangat bahagia itu.
"Bakalan rame nih cewek dirumah ini." Ucap Abrar.
"Biarin! Biar kaum hawa yang berkuasa dirumah ini." Kata Balqis.
Hening.
"Balqis, apa kau ingat saat kau sedang mengandung Azlan? Dia terus membelakangi saat USG." Kata Abrar.
"Apa mungkin bayi yang satunya lagi laki-laki?" Tanya Abrar.
"Entahlah, yang penting aku akan memiliki cucu perempuan." Ucap Yasmin.
"Huh, dasar kau!" Ujar Abrar sewot.
Di dalam kamarnya, yasmin melihat Azlan yang baru saja selesai mandi. Yasmin melihat wajah Azlan yang sedikit sedih saat itu. Ia pun mendekati Azlan yang duduk di tepi ranjang dengan pakaian piyamanya.
"Sayang, maaf ya." Ucap Yasmin pada Azlan.
"Kenapa kau minta maaf?" Tanya Azlan bingung.
"Karena bayinya perempuan, aku tau kau menginginkan bayi laki-laki." Kata Yasmin.
"Yasmin, aku tidak sedih karena bayi kita perempuan, sayang!" Kata Azlan memeluk Yasmin yang ikut bersedih
"Tapi aku melihat wajahmu sedih." Kata Yasmin.
"Yasmin, dengarkan aku! Aku memang menginginkan bayi laki-laki, tapi bukan berarti aku tak menyayangi bayi-bayi kita nantinya kalau seandainya bayi kita semuanya perempuan." Kata Azlan.
"Setelah bayi kita lahir, kau kan masih bisa hamil lagi, hehehe." Sambung Azlan.
Yasmin tersenyum melihat Azlan kembali ceria. Yasmin dan Azlan pun berbaring di atas ranjang mereka. Perbincangan sebelum tidur sering mereka lakukan setiap malamnya.
"Yasmin, apa kau masih ingat pohon besar yang ada di pinggir jalan dekat rumahmu?" Tanya Azlan.
__ADS_1
"Oh, yang pohon besar itu! Iya aku ingat, dulu aku pernah pulang malam dan saat itu sangat menyeramkan terus aku melihat kepala buntung dan sosok hantu tampan." Kata Yasmin menceritakan pengalamannya waktu itu.
"Oh, hantunya tampan ya!" Kata Azlan menahan tawanya.
"Iya." Jawab Yasmin.
"Hahahaha!" Azlan ngakak sampai sakit perut.
"Kenapa sih?" Ujar Yasmin bingung.
"Hantu tampan itu adalah aku! Aku dan Dandi mengerjaimu saat itu!" Kata Azlan mengakui semuanya pada Yasmin.
Yasmin murka menatap Azlan.
"Hehehhe, saat itu aku lihat kau berlari ketakutan. " Kata Azlan terus tertawa.
"Oh, lucu banget ya? Dasar kurang ajar! Aku sampai demam sangking ketakutannya!" Teriak Yasmin kesal pada Azlan.
Yasmin menjambak rambut Azlan yang berbaring di sampingnya. Azlan berteriak kesakitan saat Yasmin menjambak rambutnya.
"Hei, Yasmin itu juga salahmu! Kau duluan yang mengirimku bunga duka! Apa kau ingat, hah?" Teriak Azlan
Yasmin diam sejenak ia berpikir untuk mengingat kembali.
"Hheeemmpp, salahmu sendiri kau datang ke toko bunga untuk menggangguku, dengan songongnya kau memberikan uang yang banyak saat kau membayar bungar mawar merah itu." Kata Yasmin.
"Jadi kita impas dong! Hahahaha." Kata Azlan tertawa.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Yasmin.
Azlan mendekati Yasmin yang memalingkan wajahnya.
"Hehehe, tapi menurutku itu kenangan yang paling terindah Yasmin." Kata Azlan memeluk istrinya.
"Iya, setelah itu kau selalu saja menggangguku, kau menjebakku dengan perjanjian konyolmu itu." Kata Yasmin.
"Eeiittsss, kalau itu aku tak mau disalahkan, kau sendiri yang datang menemui ku di kantor." Sahut Azlan.
"Aku ingin minta maaf padamu, kau saja yang mengambil kesempatan saat itu, dasar licik!" Ujar Yasmin sewot.
"Bukan licik, tapi aku ini pintar, hehehehe." Sahut Azlan.
"Huh, terserah kau saja." Kata Yasmin.
Yasmin dan Azlan kembali berbaring untuk segera tidur karena malam telah larut. Azlan kembali mengelus perut yasmin.
"Aku harap, bayi yang satunya lagi laki-laki.." Ucap Azlan
"Kalau ternyata perempuan?" Tanya Yasmin
"Ya sudah, tidak masalah! Yang penting mereka semua sehat dan kau juga sehat." Sahut Azlan.
"Oh, kau suami yang baik, aku yakin kau akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita." Kata Yasmin.
"Tentu dong!" Sahut Azlan.
__ADS_1
Yasmin dan Azlan pun tertidur saling mendekap. Yasmin berusaha mencari posisi nyaman saat ia tidur dengan perut yang besar.