
Yasmin masih disibukkan dengan aktifitasnya menyusun skripsinya yang hampir selesai. Dengan motor kesayangannya dia bolak balik antara kampus, kantor Azlan dan juga toko bunga. Yasmin gadis yang polos namun kuat. Seolah tak terasa lelah dengan aktifitasnya yang seabrek, ia masih menyempatkan diri untuk membantu orang lain.
Dalam beberapa bulan terakhir ia memiliki keuntungan lebih. Dengan uang yang ia kumpulkan, Yasmin pergi membeli nasi bungkus yang akan di sumbangkannya kepada anak-anak jalanan. Ia berbuat seperti itu karena di biasakan oleh mendiang ibunya untuk selalu berbagi jika memiliki kemudahan.
Malam hari Yasmin mendatangi tempat anak-anak jalanan sedang duduk di tepi jalan raya. Ia memberikan satu persatu nasi bungkus itu untuk mereka makan malam. Dengan bahagia ia melakukan apa yang sering ia lakukan.
Di jalan raya tersebut tanpa sengaja Azlan dan Balqis melihat Yasmin yang sedang membagikan nasi bungkus kepada anak-anak jalanan itu. Hati Azlan dan Balqis terenyuh saat melihat gadis muda yang penuh semangat membagikan kebahagiaannya kepada orang lain.
“Lihatlah dia, walaupun dia sendiri kekurangan namun dia tetap mau berbagi kepada orang lain!” Kata Balqis terharu menatap Yasmin dari kejauhan.
Azlan terus menatap Yasmin dari jendela kaca mobilnya.
“Azlan, kau benar-benar menyukai Yasmin, kan?” Tanya Balqis.
“Mami apaan sih!” Sahut Azlan dengan wajah yang merona merah karena malu.
“Jawab aku, anak bodoh!” Teriak Balqis.
“Iya! Ingin tau saja!” Gumam Azlan masih dengan wajah merah merona.
“Sejak kapan?’ Tanya Balqis senyum-senyum.
“Mana aku tau!” Sahut Azlan.
Ppplleeetttaaakkk………
“Kau sama saja seperti papimu!” Ujar Balqis kesal pada Azlan.
“Mami, apa mami dan papi tidak merasa bersalah telah menjebak Yasmin?” Tanya Azlan.
“Tidak! Yang penting aku punya menantu.” Sahut Balqis seenak jidadnya saja.
“Huh, dasar!.” Gumam Azlan.
“Apanya yang dasar, hah?” Teriak Balqis marah sambil melotot pada Azlan.
“Maksudku, dasar Negara kita pancasila! Aku benar kan mi? Hehehehe…” Sahut Azlan terpaksa berdalih karena takut Balqis ngamuk.
Beberapa hari kemudian, Yasmin datang ke kantor Azlan dengan membawa bekal makan siang untuknya. Yasmin berjalan santai menuju ke ruang kantornya Azlan. Tak lama ia melihat Syeril yang sedang baru saja keluar dari ruang kantornya Azlan sambil menangis. Yasmin yang tak mengenal Syeril hanya diam saja melihat Syeril yang menatapnya penuh kesal. Syeril pergi sembari menabrakan lengannya pada lengan Yasmin.
“Ada apa dengannya? Dasar aneh!” Gumam Yasmin menatap Syeril pergi menjauh.
Tok…tok…tok….
“Masuk!” Kata Azlan.
Masuk lah wanita pujaan hati Azlan membawa makan siangnya seperti biasa. Azlan duduk menyantap makanannya dan Yasmin duduk sambil memainkan ponselnya. Sesekali Azlan melirik ke ponsel Yasmin. Ia melihat Yasmin sedang chat dengan pria yang bernama Fatur. Tak terlalu jelas ia melihat karena takut Yasmin tau kalau dia sedang melirik pada ponsel Yasmin.
“Siapa Fatur?” Tanya Azlan dalam hatinya.
Tak mau ambil pusing, Azlan langsung menghabiskan makan siangnya. Setelah selesai, Yasmin hendak pulang, namun Azlan menahannya dan melemparkan sebuah undangan ke hadapan Yasmin.
“Apa ini?” Tanya Yasmin.
“Undangan!” Jawab Azlan.
“Oh!” Sahut Yasmin tak peduli.
“Cuma oh saja?” Tanya Azlan kesal.
“Jadi aku harus apa bapak CEO yang tertampan sejagat raya?” Ujar Yasmin ikut kesal.
“Kau harus ikut denganku ke pesta itu!” Kata Azlan.
“Aku tidak mau!” Sahut Yasmin menolak.
“Aku bilang ikut ya ikut!” Kata Azlan memaksa.
“Apaan sih?” Ujar Yasmin kesal.
“Lupa perjanjian kita?” Tanya Azlan.
“Iya, aku ikut! Puas kau?” Teriak Yasmin kesal.
“Hehehehehe, gitu dong.” Sahut Azlan menang.
“Ya Tuhan, kenapa 6 bulan itu bagaikan 6 tahun lamanya!” Gumam Yasmin sudah tidak tahan dengan sikap Azlan yang selalu memaksakan kehendaknya.
“Hehehehe.” Azlan terkekeh jahat menindas Yasmin.
Di kediaman kampung hawa riuh ricuh para gadis yang akan berdandan menghadiri pesta ulang tahun Herdinan anak dari Ferry dan juga Luisa. Chika si bungsupun tak mau ketinggalan memakai gaun indah dan berdandan ala princess. Di dalam kamarnya, Balqis sedang memaksa Jovanka untuk memakai gaun pesta. Sementara Abrar sedang sibuk memilik dasi yang akan di pakainya. Azlan masih duduk di ranjang sambil melihat kearah lemari setelan apa yang akan dia pakai ke pesta itu.
“Malam ini aku harus ganteng maksimal! Agar Yasmin suka padaku, hehehehe.” Gumam Azlan senyum-senyum.
“Setelah dari pesta aku akan menciumnya! Kalau dia menolak aku paksa saja dia, hahahahahaha.” Katanya lagi tertawa sendirian di dalam kamarnya.
Saat sedang tertawa tiba-tiba pintu kamarnya di gedor dari luar.
“Kakak, sudah gila ya, tertawa sendirian di kamar!” Seru si kembar meledek Azlan.
“Kalian yang gila.” Balas Azlan kesal.
Si kembar tertawa sambil berlalu dari depan pintu kamar Azlan.
Pasukan Abrar dan Balqis pun berangkat dengan memboyong semua anak-anaknya kecuali Azlan yang pergi sendiri sekalian menjemput Yasmin dirumahnya. Azlan sudah tiba di depan rumah Yasmin.
Tok..tok..tok….
Ceklek..
“Kau belum siap?” Teriak Azlan pada Yasmin.
“Hehehehe, aku ketiduran tadi!” Sahut Yasmin.
Azlan menerobos masuk dan menyeret Yasmin masuk kemar. Azlan membuka lemari pakaian Yasmin dan memilih satu gaun yang menurutnya bagus dipakai Yasmin. Yasmin hanya diam melihat Azlan mengacak-acak lemarinya.
“Cepat buka bajumu!” Teriak Azlan.
“Apa?” Kata yasmin kaget.
“Ganti pakai gaun ini!” Kata Azlan.
Yasmin merampas gaun yang ada ditangan Azlan. Mereka saling tatap.
“Apa lagi yang kau tunggu?” Tanya Azlan tak sabaran.
“Dihadapanmu?” Yasmin balik bertanya.
“Oh iya, aku lupa!” Ucap Azlan berlalu keluar kamar.
Yasmin pun mengganti pakaiannya dengan gaun pesta milik mendiang ibunya.
Two hour later…
“Yasmin, cepatlah!” Teriak Azlan tak sabar menunggu.
__ADS_1
“Sebentar!” Sahut Yasmin.
Tak sabar dengan Yasmin yang begitu lama berdandan, Azlan masuk lagi kedalam kamarnya dan melihat Yasmin sedang bingung menata rambutnya agar cocok dengan gaun yang ia pakai.
“Sedang apa kau?” Tanya Azlan.
“Aku bingung menata rambutku dengan gaya apa!” Sahut Yasmin melihat Azlan di cermin.
“Sini, biar aku yang kerjakan!” Kata Azlan memegang rambut Yasmin.
Beberapa menit kemudian.
“Wah, kau bisa menata rambut!” Seru Yasmin takjub melihat gaya rambutnya yang ditata oleh Azlan.
“Hei, apa kau lupa aku punya 11 adik perempuan! Tentu saja aku bisa menata rambut perempuan.” Sahut Azlan lagi-lagi menyombongkan dirinya.
“Cepatlah!” Sambung Azlan lagi menyeret Yasmin masuk kedalam mobilnya.
Mereka pun pergi kepesta ulang tahun Herdinan. Setibanya disana Azlan menyuruh Yasmin untuk menggandeng tanganya.
“Cepat gandeng tanganku!” Perintah Azlan pada Yasmin.
“Memangnya kita mau menyebrang?” Sahut Yasmin.
“Gandeng tanganku atau kucium kau!” Ancam Azlan membuat Yasmin takut.
“Iya bawel!” Sahut Yasmin cepat-cepat menggandeng tangan Azlan.
Yasmin tak menyangka kalau dia akan menghadiri pesta ulang tahun anak dari wanita bule yang di idolakannya yaitu Luisa. Dengan antusias ia mendekati Luisa yang sedang berbincang dengan tamu lain.
“Tante, apa kau masih ingat aku?” Tanya Yasmin pada Luisa.
“bukannya kau yang sering berbelanja di supermarketku?” Sahut Luisa ingat pada Yasmin.
“Iya!” Sahut Yasmin.
“Wah, kau cantik sekali!” Kata Luisa.
“Eh, dengan siapa kau datang ke pesta ini?” Tanya Luisa.
“Dia datang bersamaku, tante!” Sahut Azlan tiba-tiba muncul dan menghampiri mereka.
“Apa dia kekasihmu?” Tanya Luisa pada Azlan.
“Dia calon istriku!” Sahut Azlan dengan tingkah konyolnya.
Yasmin kesal dan langsung menginjak kaki Azlan. Azlan pun meraung kesakitan. Mereka saling ngobrol dan tanpa terasa obrolan mereka tentang pesta pernikahan Luisa dan Ferry beberapa tahun silam. Azlan kaget saat tau kalau Yasmin pernah menghadiri pesta pernikahan Luisa dan Ferry.
Dari kejauhan tampak si kaku Herdinan sedang di paksa Tantia untuk makan kue. Tantia yang super pemaksa itu selalu memaksa Herdinan untuk menjadi pacarnya. Herdinan hanya ketakutan melihat Tantia yang terkadang menciumnya dengan tiba-tiba. Herdinan bukan tidak menyukai Tantia, namun sifat kakunya itu lah yang membuat dia merasa takut pada Tantia.
Disisi lain Jovanka sedang diuber-uber oleh Adrian kesana kemari. Adrian semakin menggilai si cantik Jovanka yang menggunakan gaun pesta malam itu. Dan disisi lainnya Delina sedang berlaku centil dengan tamu pria lain yang menurutnya tampan. Si kembar sedang berbuat jahil pada salah seorang pria yang tak tau kalau mereka berdua kembar. Secara bergantian Melia dan Melani membuat pria itu pusing. Syifa sedang menangis dan safiya sedang ngomel-ngomel pada Valeri yang sering memancing emosinya dengan sifat malas yang ia miliki. Ferry duduk bersama Abrar dan Balqis.
Yasmin menikmati hidangan yang disajikan, tak lama ia melihat kedatangan ayahnya dan ibu tiri serta adik tirinya itu. Ternyata mereka juga diundang dalam ulang tahun Herdinan karena Teo termasuk rekan bisnis Ferry.
Yasmin memalingkan pandangannya. Ia enggan melihat pria yang telah mencampakkan ibunya tersebut hanya demi wanita lain. Azlan menatap mata Yasmin yang kala itu berkaca-kaca.
“Kenapa?” Tanya Azlan pada Yasmin.
“Aku bosan!” Sahut Yasmin.
“Ayo ikut aku!” Kata Azlan menarik tangan Yasmin pergi dari pesta itu.
Saat hendak keluar ternyata Teo melihat Yasmin bersama Azlan. Ia pun menghentikan mereka berdua.
Yasmin hanya diam saja.
“Kenapa kau tidak datang dan tinggal dirumah ayah?” Tanya Teo pada putri kandungnya itu.
“Aku punya rumah sendiri, disana aku lebih nyaman.” Sahut Yasmin ketus.
“Nak, rumah ibumu itu kecil! Ayo tinggal dirumah ayah saja, kau bisa menemani Naura disana.” Kata Teo yang sebenarnya menyayangi putri kandungnya.
“Tidak! Ayah temani saja putri tiri kesayangan ayah itu.” Kata Yasmin langsung bergegas menarik tangan Azlan untuk pergi bersamanya.
Wajah Teo sangat sedih melihat putri kandungnya membenci dirinya karena kesalahan yang ia buat beberapa tahun silam.
“Suatu saat kau pasti akan mengerti, Yasmin!” Gumam Teo melihat Yasmin sudah keluar dari rumah Ferry.
Alzan melajukan mobilnya pergi kesuatu tempat yang terbilang lumayan indah untuk pemandangan malam. Di atas puncak bukit mereka bisa melihat lampu-lampu kota yang indah tampak dari kejauhan. Yasmin turun dari mobil dan berdiri di pinggir bukit.
“Aku benci padamu, ayah!” Teriak Yasmin membuang segala kekesalannya.
Azlan mendekatinya.
“Kau benci padanya?” Tanya Azlan.
“Sangat!” Sahut Yasmin.
“Hei, aku mengajakmu kesini bukan untuk menangis, Yasmin!” Kata Azlan.
“Aku tidak menangis.” Sahut Yasmin mengusap air matanya.
“Lantas air apa yang keluar dari matamu itu, hah? Air terjun?” Ujar Azlan.
“Huh, dasar gila!” Gumam Yasmin.
“Aku memang gila, Yasmin!” Kata Azlan langsung mencium bibir Yasmin secara tiba-tiba.
Yasmin membulatkan matanya saat Azlan menciumnya dengan tiba-tiba. Yasmin mencoba untuk mendorong tubuh Azlan yang mendekap dirinya, namun tenaga Azlan lebih besar darinya. Setelah puas mencium Yasmin, Azlan terkekeh jahat menatap Yasmin yang kesal padanya.
“Kau selalu saja mencurinya!” Teriak Yasmin kesal pada Azlan.
“Kalau tidak, apa kau akan memberinya dengan suka rela, hah?” Sahut Azlan.
“Tentu saja tidak!” Sahut Yasmin.
“Maka dari itu aku mencurinya, hehehehehe!” Ujar Azlan terkekeh licik.
“Huh, dasar! Kedokmu sudah terbongkar! Kau sengaja membawaku kesini hanya untuk menciumku, kan?” Kata Yasmin lagi sambil menatap Azlan dengan kesal.
“Hahahaha! Baguslah kalau kau menyadarinya.” Sahut Azlan tertawa jahat.
“Aku sangat menyesal bertemu denganmu!” Kata Yasmin.
“Aku sangat beruntung bertemu denganmu, Yasmin, hehehehe.” Sahut Azlan membuat Yasmin semakin jengkel padanya.
“hhheemmmpppp!” Yasmin kesal dan memalingkan wajahnya dari Azlan.
Azlan dengan sifat konyolnya hanya cengengesan melihat wajah kesal Yasmin.
Pesta usai. Abrar dan Balqis membawa pulang kesebelasan gadis-gadisnya. Sebelum pulang, Tantia menarik Herdinan dan menciumnya saat ruangan sudah sunyi. Lagi-lagi Herdinan pingsan karena di cium Tantia.
“Hah, dia pingsan lagi.” Ucap Tantia menatap Herdinan tergeletak di lantai.
“Terserahlah! Yang penting aku mencintaimu Herdinan.” Ucap Tantia seraya melangkah pergi ke luar rumah.
__ADS_1
Ferry saat itu sedang mengambil minuman dan melihat apa yang di lakukan oleh Tantia terhadap anaknya. Ferry pun mendekati anaknya yang pingsan.
“Hah, dasar pria bodoh! Di cium wanita malah pingsan.” Gumam ferry menatap anaknya yang masih tergolek di lantai.
Abrar beserta rombongan jamaah pun tiba dirumah hampir tengah malam. Saat masuk kedalam rumah, mereka melihat Azlan tersenyum-senyum sendiri di ruang tengah sambil menatap ponselnya. Chika menghampiri Azlan, dan melihat foto Yasmin yang ada di ponsel Azlan.
“Wah, foto kak Yasmin!” Seru Chika membuat semua adik-adik yang lain menyerbu Azlan untuk melihat ponselnya.
Mereka saling berebut ingin melihat foto Yasmin yang ada di ponsel Azlan. Azlan hanya pasrah melihat tingkah 11 adiknya itu. Abrar dan Balqis tentu saja sangat ingin melihatnya. Abrar merampas ponsel Azlan dari tangan anaknya dan melihat foto Yasmin.
“Eeemmmm, sepertinya dia ketakutan saat kau foto.” Kata Abrar pada Azlan.
Azlan hanya tersenyum. Balqis melihat foto Yasmin secara bergantian dengan Abrar.
“Dia bukan ketakutan, tapi di paksa sama Azlan! Benar kan, Azlan?” Tanya Balqis pada putra sulungnya itu.
“Hehehehe, mami pintar banget kalau nebak!” Sahut Azlan cengengesan.
“Hah!” Semua adiknya menghela nafas sambil menatap Azlan.
“Eh, kenapa? Apa yang salah?” Tanya Azlan bingung menatap 11 adiknya.
“Dasar payah! Untuk membuatnya jatuh cinta bukan dengan memaksanya, kak.” Kata Melani.
“Lalu?” Tanya Azlan.
“Buat dia nyaman denganmu!” Sahut Melia.
“Caranya?” Tanya Azlan.
“Dia sangat bodoh! Hehehehe.” Sahut Chika menertawai Azlan.
“Diam!” Bentak Azlan kesal pada Chika.
“Kak, besok kan hari sabtu, kita ajak dia pergi berkemah! Gimana ideku bagus kan?” Kata Delina.
“Tumben pintar!” Sahut Abrar.
“Huh, papi!” Ujar Delina dongkol pada Abrar.
“Chika ikut!” Seru Chika.
“Hehehehe, baiklah!” Kata Azlan yang punya niatan untuk menindas Yasmin.
*****
Sabtu pagi ponsel Yasmin berdering. Yasmin yang baru bangun mengangkatnya.
“Halo.” Ucap Yasmin.
“Kakak princess, ayo kita pergi berkemah!” Suara Chika yang menghubunginya dengan menggunakan ponsel Azlan ketika Azlan berada di dalam kamar mandi.
Yasmin langsung membuka matanya lebar-lebar.
“Apa?” Ucap Yasmin terkejut.
“Hehehehe, apa kau baru bangun tidur?” Tanya Chika.
“Hehehehe, iya! Ini masih terlalu pagi.” Sahut Yasmin.
“Ayo kita pergi berkemah!” Kata Chika mengajak Yasmin.
“Aku tidak bisa! Aku harus membuka toko bungaku.” Sahut Yasmin.
“Hhuuuwwwwwaaaaaaaa!” Chika akting nangis lagi.
“Oke…oke, kita akan pergi berkemah!” Sahut Yasmin terpakas mengiyakan agar Chika tidak menangis.
“Baiklah! Hahahaha.” Chika mendadak tertawa.
“Aku meragukan Chika baik-baik saja! Tadi dia menangis dan sekarang tertawa.” Gumam yasmin.
Chika yang sedang berada di dalam kamar Azlan, langsung meletakkan kembali ponsel Azlan saat tau Azlan akan keluar dari kamar mandi. Azlan muncul dengan kepalanya yang masih tertutup busa shampo.
“Sepertinya aku mendengar suara Chika barusan!” Gumam Azlan celingak-celinguk melihat keseluruh ruang kamarnya.
“Eeeemmm, mungkin cuma khayalanku saja, efek kebanyakan adik.” Gumam Azlan lagi.
Azlan pun menyambung mandinya di dalam kamar mandi sambil nyanyi-nyanyi tak jelas. Setelah selesai mandi dia langsung ngacir pergi kerumah Yasmin dengan niat untuk memaksa Yasmin ikut bersamanya.
Azlan sudah di depan rumah Yasmin.
“Yasmin, oh Yasmin! Pangeranmu sudah datang!” Teriak Azlan dengan tingkah konyolnya.
Yasmin keluar dan sudah berpakaian untuk pergi berkemah. Azlan malah tercengang melihat Yasmin sudah siap.
“Kau mau kemana?” Tanya Azlan.
“Berkemah!” Sahut Yasmin.
Azlan tambah tercengang melihat Yasmin yang sudah tau semuanya.
“Kau tau dari mana kalau hari ini aku akan memaksamu untuk pergi berkemah?” Tanya Azlan.
“Si chika tadi telepon aku pakai ponselmu!” Sahut Yasmin.
“Chika!” Teriak Azlan kesal karena chika merusak niatnya untuk menindas Yasmin.
Azlan ingin membuat Yasmin kesal padanya karena akan memaksanya untuk ikut berkemah denganya, namun semuanya gagal karena ulah Chika yang selangkah lebih maju darinya.
Mobilpun melaju dengan santai, dengan maksud agar ia berlama-lama sampai di tempat mereka berkemah. Ia ingin berlama-lama bersama Yasmin di dalam mobil.
“Kita berkemah dimana?” Tanya Yasmin.
“Halaman depan!” Sahut Azlan.
“Halaman depan? Maksudnya?” Tanya Yasmin bingung.
“Halaman depan rumahku lah!” Jawab Azlan membuat Yasmin tercengang.
“Astaga, aku pikir di hutan mana gitu!” Sahut Yasmin.
“Hei, adikku ada 11 orang dan semuanya perempuan, mana mungkin aku akan membawa mereka ke hutan!” Kata Azlan.
“Tapi jika kau mau kita bisa berkemah di hutan berdua saja, hehehehe.” Sambung Azlan lagi cengengesan.
“Ide yang bagus! Aku harap kau dimakan singa saat berkemah di hutan.” Ujar Yasmin.
“Hahahaha, kau yang akan dimakan singa, Yasmin! Aku singanya.” Kata Azlan.
“hhheeemmmppppp!” Yasmin memalingkan wajahnya dengan kesal.
Azlan hanya cengar-cengir setelah membuat Yasmin kesal padanya. Azlan melajukan mobilnya semakin lambat agar lama sampainya.
__ADS_1