
Yasmin meletakkan barang belanjaanya di lantai kamarnya. Azlan yang baru selesai mandi setelah pulang dari kantor, melihat barang belanjaan Yasmin yang begitu banyak.
"Banyak banget." Ucap Azlan.
"Iya, mami belanja seperti kerasukan setan, hehehe." Sahut Yasmin.
Azlan melihat semuanya barang belanjaan berwarna pink.
"Kau beli perlengkapan bayi kita semuanya hanya berwarna pink?" Tanya Azlan.
"Iya, kan bayinya perempuan." Kata Yasmin.
"Yasmin, bayi kita tiga, dua perempuan dan yang satunya lagi...." Azlan berpikir keras.
"Kata mami bayi kita semuanya pasti perempuan." Sahut Yasmin.
"Huh, mami berkata seperti itu karena dia memang menginginkan cucu perempuan, seharusnya kau juga beli perlengkapan bayi yang berwarna biru." Kata Azlan.
Yasmin mengernyitkan dahinya menatap Azlan.
"Yasmin, aku yakin bayi nakal yang ada di dalam rahimmu ini pasti laki-laki." Kata Azlan mengelus perut Yasmin.
"Dari mana kau tau?" Tanya Yasmin.
"Kata papi, saat aku dalam kandungan aku seperti itu, selalu berbalik saat di USG dan lahirlah aku si pria tampan nan imut yang gantengnya tak tau bilang, hehehe." Sahut Azlan penuh dengan wajah konyolnya.
"Huh, terlalu tinggi." Gumam Yasmin.
"Apanya yang tinggi?" Tanya Azlan bingung.
"Percaya dirimu yang terlalu tinggi! Sudah ah, aku mau mandi!" Kata Yasmin berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat akan membuka pintu kamar mandi, Yasmin berbalik menghadap Azlan yang masih duduk di tepi ranjang.
"Azlan, tolong suruh pelayan bereskan barang belanjaan ini ya." Kata Yasmin.
"Iya, baiklah cintaku." Sahut Azlan.
Yasmin tersenyum melihat tingkah sang suami yang setiap harinya selalu konyol padanya. Yasmin berlalu masuk ke dalam kamar mandi sementara Azlan memanggil para pelayan untuk membereskan barang-barang perlengkapan bayinya untuk di letakkan di kamar yang sudah di siapkan untuk bayi-bayi mereka.
Setelah selesai mandi, Yasmin dan Azlan menuruni anak tangga menuju keruang makan. Disana tampak sudah ada Abrar dan Balqis serta yang lainnya. Mereka makan bersama seperti biasanya. Saat sedang makan Balqis membuka perbincangan dengan berbicara pada Yasmin.
"Yasmin, kakak kelasmu yang kita jumpa di mall itu sangat tampan ya." Kata Balqis.
Seketika Abrar dan Azlan menatap tajam pada Balqis dan juga Yasmin. Suasana menjadi sangat angker saat itu. Balqis dan Yasmin tau ada dua pasang mata yang menatap tajam pada mereka.
"Aaahh, mampuslah! Aku lupa kalau aku punya suami yang cemburuan." Gumam Balqis dalam hatinya.
Balqis tak berani membalas tatapan tajam dari Abrar. Abrar meletakkan sendoknya di piring.
"Siapa kakak kelas yang tampan itu?" Tanya Abrar terus menatap Balqis.
Balqis dan Yasmin hanya diam saja.
"Yasmin, jawab!" Kata Azlan tak kalah dongkolnya seperti Abrar.
"Apa?" Tanya Yasmin berpura-pura bingung.
"Pertanyaan yang papi lontarkan, aku juga menanyakan hal yang sama padamu." Kata Azlan.
"Dduuhh, si mami ngapain di bahas sih? Sudah tau dua pria ini cemburunya kelewatan." Gumam Yasmin dalam hatinya.
Abrar dan Azlan menggebrak meja secara bersamaan membuat para jamaah yang sedang makan kaget. Syifa menangis saat ayam goreng yang ada di piringnya lompat dan jantuh ke lantai akibat gebrakan meja yang di lakukan oleh Abrar dan Azlan. Mendengar Syifa nangis, Delina langsung mengambil ayam goreng yang baru dan memberikannya pada Syifa agar berhenti menangis.
"Siapa pria yang tampan itu, Balqis?" Tanya Abrar lagi.
"Te..te..temannya Yasmin." Sahut Balqis gemetaran.
"Siapa temanmu itu, Yasmin?" Tanya Azlan.
"Kak...kak....kak Fatur." Jawab Yasmin.
"Aku kenyang! Kalian lanjutkan saja." Kata Azlan dengan raut wajah yang kesal.
Mendengar nama Fatur, Azlan langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan. Begitu juga hal yang di lakukan oleh Abrar, ia beranjak pergi meninggalkan ruang makan itu.
"Dasar, memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya." Ujar Balqis melihat kedua pria yang terbakar api cemburu itu.
Yasmin dan Balqis saling tatap.
"Mami, ngapain di omongin sih." Kata Yasmin.
"Kenapa? Apa Azlan cemburu pada pria itu?' Tanya Balqis.
"Iya mi, Azlan gak suka pada kak Fatur, karena kak Fatur dulu pernah dekat denganku sebelum bertemu dengan Azlan." Jawab Yasmin.
"Eeyyaalah dalah, kenapa tidak ngomong dari awal sih, Yasmin? Kalau azlan cemburu pada pria itu!" Kata Mami.
__ADS_1
"Iihhh, mami kok malah nyalahin yasmin sih." Kata Yasmin.
"Perang ketiga nihhhh!" Ujar Delina tiba-tiba nyantel.
Balqis dan Yasmin menatap Delina kesal. Delina hanya tersenyum ala-ala centilnya.
"Jaga adik-adikmu yang lain, mami dan yasmin ada urusan penting." Kata Balqis pada Delina.
Balqis dan Yasmin mengejar suami mereka masing-masing yang sedang ngambek. Sedangkan Delina menatap semua adik-adiknya yang duduk di meja makan.
"Setelah mami pergi dari ruang makan ini, aku lihat kepala kalian semua memiliki tanduk seperti setan." Ujar Delina pada semua adik-adiknya.
Semua adik-adiknya hanya tersenyum jahat menatap Delina. Kekacauan pun terjadi di ruang makan itu. Mereka saling ribut hanya karena masalah yang sepele. Delina tepok jidat saat melihat kekacauan yang di sebabkan oleh semua adik-adiknya.
"Kak Dandi, tolong cepat nikahi aku dan bawa aku keluar dari kekacauan ini." Gumam Delina frustasi menghadapi tingkah adik-adiknya yang selalu membuat keributan.
Di dalam kamanya, Balqis melihat Abrar yang sedang merokok di balkon luar. Balqis mendekati sang suami yang sedang ngambek karena cemburu.
"Sayang, maaf ya!" Ucap Balqis memeluk Abrar dari belakang dan mencium punggung suaminya itu.
"Apa kau sudah bosan denganku, sehingga kau bilang pria lain tampan." Kata Abrar dingin.
"Hhadduuhh, apa dia tidak ingat dengan umurnya? Sudah hampir 60 tahun pun dia masih saja ingin di bilang tampan dan cemburuan." Ucap Balqis dalam hatinya.
Dengan senyuman manis dan membalikkan tubuh suaminya agar berhadapan dengannya, Balqis menatap Abrar.
"Dimataku kau lah satu-satunya pria tertampan di dunia ini." Ucap Balqis mencoba untuk membujuk Abrar.
"Huh, tadi kau bilang pria lain tampan di depanku." Sahut Abrar kesal.
"Tapi dia tidak setampan dirimu, sayang." Kata Balqis merayu Abrar.
Abrar masih tampak kesal pada Balqis.
"Sayang, maaf ya! Sini cium aku." Kata Balqis menarik leher Abrar mendekatkan wajahnya.
Balqis pun memberikan ciuman hangatnya pada sang suami untuk membujuknya. Abrar membalas ciuman Balqis dengan tak kalah panasnya. Puas saling *******, Abrar berbisik pada Balqis.
"Malam ini aku ingin kau lebih aktif dari biasanya." Bisik Abrar pada wanita yang usianya tidak muda lagi namun masih terlihat cantik dan menarik.
"Huh, sudah tua masih saja mesum!" Gumam Balqis menatap Abrar.
Abrar hanya tertawa licik membalas tatapan Balqis padanya.
Di dalam kamarnya Yasmin ketakutan melihat Azlan yang duduk kesal di tepi ranjang. Dengan tubuh yang gemetar, yasmin duduk di samping Azlan.
"Untung kau sedang hamil yasmin, kalau tidak sudah ku cabik-cabik kau!" Ucap Azlan dalam hatinya sangat kesal.
Azlan menghela nafas dan menatap Yasmin.
"Tidak!" Sahut Azlan.
"Benar nih kau tidak marah?" Tanya Yasmin lagi.
"Apa kau ingin aku marah dan mencabik-cabik habis dirimu yang baru saja bertemu dengan Fatur di mall?' Ujar Azlan kesal.
"Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi, saat sedang berbelanja dia datang menghampiriku." Sahut Yasmin.
Azlan melihat mata yasmin berkaca-kaca, ia tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada istrinya yang sedang mengandung buah cintanya itu. Azlan memeluk yasmin dan mencium keningnya.
"Lain kali jika bertemu dengannya lagi, kau harus menghindarinya! Aku tak suka dia mendekatimu." Kata Azlan.
Yasmin mengangguk mengiyakan apa yang diinginkan oleh suaminya yang sangat cemburuan.
kkkrriiiuuukkkkkk............
Cacing di perut Azlan meronta kelaparan.
"Hehehehe, aku masih lapar." Ucap Azlan cengengesan.
"Tunggu disini, biar aku ambil makanan untukmu." Kata Yasmin.
"Sayang, tidak usah, nanti kau capek naik turun tangga, biar aku saja yang ambil, kau istirahatlah disini." Kata Azlan.
Azlan melangkah menuju keruang makan. Saat itu ia melintasi kamar kedua orang tuanya dan samar-samar terdengar suara desahan Balqis yang sedang di tindas Abrar.
"Diihhh, si papi bisa saja modusnya, pura-pura cemburu padahal memang mau menindas mami! Semoga saja cebongnya tidak jadi adik baru untukku, kalau itu sampai terjadi bisa berabe nanti, masa iya anakku sebaya dengan adikku." Ujar Azlan terus melangkah menuju ruang makan.
Setibanya Azlan di ruang makan, ia melihat kericuhan yang di sebabkan oleh adik-adiknya, sementara Delina hanya duduk sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Kala itu wajah Delina sangat frustasi.
"Berhenti!" Teriak Azlan pada jamaah yang riuh ricuh itu.
Semua adik-adiknya berhenti dan menatap Azlan. Azlan tersenyum dan duduk di meja makan yang sama dengan mereka.
"Mari kita makan dengan tenang, atau uang jajan kalian tidak aku transfer nanti." Ancam Azlan pada adik-adiknya.
__ADS_1
Ancaman Azlan berhasil dan membuat ruang makan itu seketika menjadi senyam dan sunyi bagaikan di kuburan. Semua pelayan yang ada di ruangan itu menghela nafas dengan lega.
Keesokan harinya, Abrar datang ke kantor untuk bertemu dengan Azlan. Abrar masih tak tenang dengan pria tampan yang di ucapkan oleh Balqis saat sedang makan malam.
"Azlan, apa kau tau tentang Fatur itu?" Tanya Abrar.
"Dia itu kakak kelasnya Yasmin, dan dia kelihatannya masih mengejar cintanya Yasmin, pi." Jawab Azlan.
"Oh, dia ngejar Yasmin." Ucap Abrar.
"Papi masih cemburu?" Tanya Azlan.
"Iyalah! Kalau mamimu suka dengan pria itu bagaimana nasibku, bodoh?" Ujar Abrar.
"Papi mengaku tua kah? Hehehehe." Kata Azlan memancing amukan Abrar.
Pppllleeetttaakkkk..........
"Aku ini bukan tua, tapi paruh baya!" Sahut Abrar.
"Sama saja, pi." Ujar Azlan memegang kepalanya yang benjol di hajar Abrar.
Hening karena kedua pria itu sedang berpikir keras.
Bbbbrrraaaakkkkk.................
Tiba-tiba Azlan menggebrak meja yang membuat Abrar kaget.
"Sialan kau! Mengagetkan aku saja." Teriak Abrar kesal pada Azlan.
"Hehehe, tuh kan papi sudah tua! Begitu saja kaget." Sahut Azlan dengan wajah konyolnya.
"Dasar anak kurang ajar! Beraninya mempermainkanku." Umpat Abrar pada putra sematawayangnya itu.
"Pi, aku sudah cari tau kenapa si Fatur itu balik ke indonesia." Kata Azlan.
"Memangnya selama ini dia dimana?" Tanya Abrar.
"Di Itali, dia melanjutkan pendidikan kedokteran disana, dan info yang aku dapat barusan dia kembali ke indonesia karena di terima bekerja sebagai dokter di rumah sakit om Devan." Jawab Azlan.
"Pi, bukannya papi juga punya andil dengan rumah sakit yang om Devan miliki?" Tanya Azlan.
Abrar melebarkan senyumnya dan begitu pula dengan Azlan yang tersenyum licik.
"Hehehehe, kau memang hasil dari cebongku!" Ucap Abrar pada Azlan.
Azlan hanya cengengesan menatap Abrar. Abrar segera mengambil ponselnya, dan menghubungi Devan.
Saat itu tampak Abrar lama berbincang di telepon dengan Devan dan Azlan duduk manis di hadapan Abrar menantinya dengan sabar. Kemudian Abrar menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celananya.
"Bagaimana pi?" Tanya Azlan.
"Beres!" Sahut Abrar.
Lalu kedua pria yang memiliki hubungan ayah dan anak melakukan tos pada tangan mereka lalu tertawa dengan keras.
*****
Di rumah sakit Fatur yang baru dua hari menjalankan pekerjaannya sebagai dokter, di panggil keruangan Devan.
Dengan segera ia datang dan masuk menemui sang pemiliki rumah sakit tempat ia bekerja.
"Anda panggil saya, Prof?" Tanya Fatur pada Devan.
"Iya, dokter Fatur, silahkan duduk." Sahut Devan.
Lalu Devan menyerahkan amplop pada Fatur. Dengan wajah yang bingung Fatur menatap Devan.
"Bukalah." Kata Devan.
Fatur pun membuka amplop itu dan membaca surat yang ada di dalamnya. Fatur membaca surat itu secara seksama.
"Saya di pindahkan?" Tanya Fatur bingung.
"Iya, dokter Fatur! Ada beberapa rumah sakit di kota terpencil yang memerlukan jasa dokter seperti anda disana." Jawab Devan.
"Tapi prof, saya baru dua hari di terima bekerja di rumah sakit ini." Kata Fatur.
"Iya, saya tau! Tapi ini sudah menjadi keputusan saya dan beberapa pihak lain untuk menugaskan anda di rumah sakit di kota terpencil, dokter Fatur jika tidak menginginkan pekerjaan ini anda boleh segera mengundurkan diri." Kata Devan.
"Baiklah Prof, saya terima dengan tugas ini." Kata Fatur.
Fatur keluar dari ruangan Devan dengan sangat kesal. Wajahnya sangat marah saat memegang surat tugas itu.
"Ini pasti ulahmu, Azlan! Aku tak menyangka kau begitu cepat menyadari keinginanku untuk mendekati Yasmin lagi makanya aku kembali ke indonesia. Baiklah, Azlan, suatu saat nanti jika aku memiliki kesempatan, aku akan melakukannya dengan berhati-hati agar kau tak sadar bahwa kau sudah kehilangan Yasmin selama-lamanya." Ujar Fatur dalam kekesalannya pada Azlan.
__ADS_1