MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
DIJODOHKAN..???


__ADS_3

Azlan dan Yasmin telah mantap mempersiapkan pesta perniakahannya yang akan di selenggarakan 2 minggu lagi. Azlan dan Yasmin juga merasakan perasaan deg-degan sama halnya seperti pasangan lainnya yang akan segera menikah. Yasmin bahkan hampir stress menjelang pernikahannya. Sakura sang sahabat selalu menenangkan dirinya saat Yasmin  khawatir pada pelaksanaan pestam pernikahannya agar berjalan dengn lancar. Begitu juga dengan Azlan yang sering panik saat mempersiapkan dirinya untuk melepas masa lajangnya.


Tinggal beberapa hari lagi pernikahan akan di laksanakan. Undangan sudah tersebar luar kepada keluarga, sahabat dan juga rekan bisnis mereka. Sebelum hari pernikahan semua keluarga sudah datang ke tempat yang disediakan oleh abrar tentunya. Zidan dan Isabel datang dengan membawa kedua anaknya yaitu Gaby dan juga Reyn.


Zidan yang tinggal di apartemen miliknya sedang duduk santai bersama Isabel sambil minum teh. Tak lama Zidan menyuruh Reyn untuk memanggil Gaby yang berada di dalam kamarnya.


“Ada apa pa?” Tanya Gaby.


“Eeemm, Gaby, sebentar lagi kau akan lulus kuliah! Jadi papa berniat untuk menikahkanmu.” Kata Zidan.


“Apa? nikah?” Tanya Gaby kaget.


“Iya!” Sahut Zidan.


“Pa, tapi aku ingin melanjutkan S-II menjadi dokter spesialis!” Kata Gaby.


“Tak masalah, setelah menikah kau kan masih bisa melanjutkannya.” Kata Zidan.


“Papa, tapi aku gak mau pendidikan ku terganggu dengan hal rumah tangga.” Kata Gaby.


“Mamamu menikah dengan papa saat dia masih SMA, semuanya tak ada masalah!” Sahut Zidan.


“Siapa pria itu?” Tanya Gaby.


“Anaknya om Romi! Kau kenal kan denganya?” Sahut Zidan.


“Apa? Pa, papa yang benar saja!” Ujar Gaby sedikit kesal.


“Kenapa? Boy pria yang baik, dia menjalankan perusahaan orang tuanya dengan sangat cekatan!” Kata Zidan.


Saat Gaby sedang kesal tiba-tiba Reyn ikut angkat bicara.


“Pa, kakak suka sama si Geof, tuh!” Kata Reyn.


“Diam kau, rendang!” Bentak Gaby kesal.


“Aku tak setuju!” Sahut Zidan.


“Aku memang bersahabat lama dengan Luky, tapi aku tak suka dengan perangai Geof yang hanya bermalas-malasan dan berfoya-foyaa menghabiskan uang orang tuanya! Pria seperti itu yang kau suka?” Tanya Zidan pada Gaby.


Gaby berdecak kesal dan masuk kembali kedalam kamarnya. Isabel tau Gaby hanya butuh sedikit nasehat darinya. Isabel mengikuti anaknya dan masuk ke dalam kamar. Tampak Gaby dengan wajah yang cemberut duduk di sisi ranjangnya.


“Gaby, kau sudah dewasa! Apa yang papamu katakan hanya demi kebahagiaanmu, sayang.” Ucap Isabel mengelus rambut panjang Gaby yang pirang itu.


“Tapi ma, aku tak suka dengan kak Boy!” Sahut Gaby.


“Kau belum lama mengenalnya, dia pria yang lembut, dan pria yang baik adalah pria yang baik pada istrinya! Apa kau tidak ingin memiliki suami yang lembut padamu?” Kata Isabel.


“Tapi ma….


“Gaby, pikirkan dulu apa yang mama katakan, demi masa depanmu.” Ucap Isabel.


Gaby memeluk Isabel sambil mengalirkan air matanya.


“Dulu mama menentang kakekmu saat akan menikahkan aku dengan papamu, saat itu aku masih menjadi seorang pelajar, aku masih SMA! Aku menjalani pernikahan dengan papamu dengan sangat unik, aku mencoba untuk menjauhkannya dari mantan kekasihnya, aku berusaha untuk merebut perhatiannya, dan hingga akhirnya aku tak menyangka aku sangat bahagia menikah dengannya, kau lihat sendiri kan, sampai usianya yang tak muda lagi, papamu masih ingin tetap membahagiakan aku.” Kata Isabel.


Gaby selama ini kagum pada sosok Zidan yang selalu berusaha keras untuk membahagiakan Isabel dan juga kedua anaknya. Dan Gaby juga sering melihat Zidan masih bersikap romantis pada Isabel walaupun di usia mereka yang sudah tak muda lagi.


“Ma, apa kak Boy memang pria yang baik?” Tanya Gaby.


“Papamu tak akan menjerumuskanmu untuk pria yang tidak baik.” Sahut Isabel.


“Jangan buat papamu sedih, dia hanya ingin yang terbaik untukmu.” Sambung Isabel lagi.


Gaby keluar dari kamarnya dan menemui Zidan yang masih duduk di sofa. Ia melihat raut wajah Zidan tampak sedih saat itu. Gaby berlari memeluk Zidan sambil menangis.


“Pa, maafin Gaby ya! Karena Gaby buat papa kecewa.” Ucap Gaby.


“Kenapa kau minta maaf, kau tidak buat kesalahan apapun.” Sahut Zidan.


Gaby mengusap air matanya.


“Pa, Gaby setuju di jodohkan dengan kak Boy.” Kata Gaby.


“Serius?” Tanya Zidan.


Gaby mengangguk.


“Ya sudah, setelah pernikahan Azlan, papa akan membuat acara pertunangan kalian berdua.” Kata Zidan.


“Secepat itu, pa?” Tanya Gaby.


“Iya lah, mumpung kita sedang di sini.” Sahut Zidan.


“Terserah papa saja, Gaby nurut!” Kata Gaby.


Zidan kembali memeluk putrinya itu dengan perasaan yang sangat senang. Setelah Gaby setuju Zidan dan Isabel membuat pertemuan dengan Romi dan juga Melda tanpa sepengetahuan anak-anak mereka.


 


 


*****


Pesta pernikahan Azlan dan Yasmin pun diselenggarakan secara besar-besaran. Yasmin terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahan yang indah. Begitu pula dengan Azlan yang terlihat sangat menawan dengan jas yang di padu padankan dengan gaun yang di pakai Yasmin.


11 anak perempuan Abrar dan Balqis tak kalah cantiknya dengan gaun-gaun yang indah saat di pesta pernikahan kakaknya itu. Si kembar dengan gaun yang sama duduk menikmati acara dengan kekasih mereka masing-masing. Evan tak berkedip saat melihat Melia yang semakin cantik dengan riasan make-up.


“Matamu nanti jadi jereng, sayang!” Ucap melia lembut pada Evan.


“Aku rela punya mata jereng asalkan aku tetap bisa melihatmu.” Sahut Evan.


“Dasar gombal!” Sahut Melia.


Saat Evan terus menatapnya, mata Melia tertuju pada Jovanka yang di uber-uber oleh Adrian. Seketika Melia sangat ingin berbuat jahil pada Adrian dan juga Jovanka. Saat Melia akan bangun dari tempat duduknya, Evan langsung menariknya untuk duduk kembali.


“Apaan sih?” Ucap Melia.


“Jangan berbuat jahil saat aku sedang menikmati wajah cantikmu! Atau akau akan mengambil semua kartu kredit milikku yang ada padamu.” Kata Evan yang tau tabiat kekasihnya.


“Psikopat!” Gerutu Melia kesal tak bisa berkutik di depan Evan.


Disisi Angga dan juga Melani.


“Sayang, kenapa kau sedih?” Tanya Angga lembut pada Melani.

__ADS_1


“Aku sangat lelah bekerja menjadi pemimpin di perusahan papi! Banyak waktu yang tersisa hanya untuk bekerja dan aku tidak bisa pergi berbelanja maupun ke salon.” Jawab Melani.


“Kenapa tidak bilang padaku? Aku kan asistenmu, sayang!” Kata Angga.


“Apa kau mau mengerjakan semua pekerjaanku di kantor?” Tanya Melani.


Angga yang sudah menjadi budak cinta pun mengangguk.


“Baiklah, kalau begitu dari hari senin hingga jumat kau akan mengerjakan semua pekerjaanku, dan saat hari sabtu minggu aku yang akan mengerjaimu, sayang!” Bisik Melani menggoda iman Angga.


“Apa kau bersedia?” Bisik Melani lagi.


“Baiklah, aku akan mengerjakan semuanya!” Seru Angga bersemangat.


Melia dan Evan kaget saat mendengar suara semangat dari Angga.


“Pasti Angga sedang dibodohi lagi oleh Melani!” Kata Melia.


“Kalian berdua sama saja, suka membodohi kami!” Sahut Evan.


“Aku tak membodohimu, aku kan sayang padamu! Jadi kapan kau akan menikahi aku?” Tanya Melia menarik kerah baju Evan mendekat padanya.


“Bulan depan!” Sahut Evan.


“Dasar bodoh, kau ingin membuat keluargaku repot mengurus semuanya secepat itu?” Ujar Melia.


“Hehehehe, yang penting kita kawin!” Sahut Evan.


“Nikah dulu, woi!” Sambung Melani yang menguping pembicaraan mereka.


“Hei, orang sebelah tidak boleh menyahut.” Ujar Melia kesal pada Melani.


Di pesta pernikahan itu Boy melihat Geof sedang berbincang akrab dengan Gaby. Gaby un tau kalau Boy sedang memperhatikan dirinya dan juga Geof. Gaby memang tertarik pada Geof dan Geof melancarkan aksinya untuk membuat Gaby jatuh cinta padanya. Dengan segala rayuan dan kata-kata manis yang di lontarkan oleh Geof pada Gaby, membuat Gaby seketika terhanyut padanya.


Sesekali Gaby membalas lirikan Boy padanya, namun ia melihat Boy duduk tenang di pesta itu. Boy hanya duduk tenang karena ia merasa Gaby sama sekali tak tertarik padanya. Boy tau Gaby menyukai Geof. Boy memutuskan untuk menjauh dari suasana pesta itu, ia duduk sendiri di bangku taman untuk menghirup udara segar.


Lama berbincang dengan Geof, Gaby melirik kearah Boy lagi, namun ia tak melihat Boy disana.


“Kak Boy kemana?” Tanya Gaby dalam hatinya.


Matanya mulai mencari-cari keberadaan Boy saat itu dan Geof memperhatikan Gaby.


“Ada apa?” Tanya Geof.


“Eemmm, kak, aku permisi ke toilet sebentar ya.” Ucap Gaby mencari alasan.


“Apa perlu aku temani?” Tanya Geof.


“Hahaha, tidak perlu, aku sendiri saja.” Sahut Gaby.


Gaby pun melangkah pergi menjauh dari Geof. Matanya masih di sibukkan dengan mencari-cari keberadaan Boy. Lama Gaby berkeliling sambil mengangkat sedikit gaun panjangnya. Dengan sepatu hak tinggi Gaby berjalan mengitari tempat pesta itu, namun tiba-tiba ia bertabrakan oleh orang yang ada di hadapanya yaitu Boy.


Boy menangkap tubuh Gaby yang oleng saat bertabrakan dengannya. Gaby menatap Boy sambil memegang kuat lengan Boy.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Boy pada Gaby.


“Ma..maaf kak, aku tak sengaja!” Ucap Gaby.


Gaby berusaha untuk berdiri namun kakinya terasa sangat sakit.


“Aduh…kakiku!” Pekik Gaby kesakitan.


“Sepertinya kakimu terkilir, ayo duduk disini sebentar!” Kata Boy mengajak Gaby duduk di bangku yang ia duduki tadi.


Setelah membantu Gaby untuk duduk, Boy berjongkok di hadapan Gaby.


“Maaf ya, aku pegang kakimu sebentar.” Kata Boy meminta izin pada Gaby.


Gaby hanya mengangguk.


“Aaaahh, sakit kak!" Jerit Gaby saat Boy menyentuh kakinya.


Boy sedikit memijat pergelangan kaki Gaby.


“Apa sudah merasa baikan?” Tanya Boy.


“Sudah agak mendingan! Terima kasih kak.” Ucap Gaby.


Lalu Geof menghampiri mereka berdua.


“Apa yang terjadi dengan kakimu, Gaby?” Tanya Geof.


“Aku hanya terkilit saja, tapi sudah agak mendingan setelah kak Boy memijatnya.” Jawab Gaby.


Geof dan Boy saling tatap.


“Aku akan mengantarmu masuk ke dalam.” Kata Geof pada Gaby.


Boy memilih untuk pergi menjauh dari Gaby dan juga Geof, namun Gaby menarik tangannya.


“Kak, apa kau mau menolongku untuk mengantar aku pulang?” Tanya Gaby pada Boy.


“Tapi pestanya belum berakhir, Gaby.” Sahut Geof.


“Tapi aku ingin beristirahat saja.” Kata Gaby.


“Kak Boy mau kan?” Tanya Gaby.


“Iya!” Sahut Boy.


Boy memapah Gaby yang berjalan sedikit pincang untuk masuk kedalam mobilnya. Geof sangat kesal seraya mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.


“Huh, jadi kau berusaha menikungku, Boy! Kita lihat saja nanti!" Mata Geof menatap kesal pada sahabatnya itu.


Boy mengantarkan Gaby kembali keapartemennya. Disana ia juga mengantar Gaby hingga di depan pintu apartemennya.


“Kak, masuklah sebentar!” Ajak Gaby pada Boy.


“Hehehe, tapi tidak baik jika kita hanya berdua di dalam.” Sahut Boy menolak.


Boy bukan pria yang tak pernah menikmati tubuh wanita namun saat bersama Gaby, Boy tak ingin merusaknya. Dimata Boy, Gaby adalah gadis yang baik.


“Ada beberapa pelayan, jangan khawatir.” Kata Gaby.


Boy pun akhirnya masuk kedalam dan duduk di sofa ruang tengah. Pelayan menyuguhkan air minum untuk Boy. Tak lama Gaby keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian. Boy melihat Gaby dengan pakaian santainya. Baju kaos putih ketat dan juga celana pendek. Gaby duduk di sebelah Boy yang tampak gugup saat di dekati oleh Gaby.

__ADS_1


“Kak, kenapa?” Tanya Gaby pada Boy.


“Sebaikanya aku kembali ke pesta, aku tak enak dengan Azlan dan Yasmin.” Sahut Boy.


Boy berdiri dan hendak beranjak dari sofa itu, namun lagi-lagi Gaby menarik lengannya.


“Kak tunggu!” Ucap Gaby menahan Boy.


Gaby mendekati Boy dan berjinjit mengarahkan wajahnya pada wajah Boy. Gaby memberanikan dirinya untuk mengecup bibir Boy yang membuat Boy sangat terkejut. Setelah mengecupnya, Gaby tertunduk malu dan hendak lari masuk kedalam kamarnya, namun Boy menarik tangan Gaby dan mendekapnya.


“Apa kau tau yang baru saja kau lakukan?” Tanya Boy pada Gaby yang sudah menahan rasa malunya.


“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku pulang.” Jawab Gaby asal bicara.


“Hanya itu?” Tanya Boy lagi.


Gaby masih menundukkan pandanganya.


“Tatap aku, Gaby!” Kata Boy membuat Gaby seketika menatapnya.


“Selama ini kau tak pernah melirikku, lalu kenapa kau menciumku tadi?” Tanya Boy lagi.


“Kak Boy, yang tak pernah melirikku!” Sahut Gaby kesal.


“Aku masih ingat saat aku belum masuk kuliah, malam itu di kediaman om Abrar ada jamuan makan, dan kak Boy memainkan piano untuk kami setelah makan malam, aku sangat menyukai permainan pianomu, namun saat aku ingin mendekatimu kau malah tak acuh padaku, semenjak itu aku benci padamu!” Sambung Gaby membuat Boy terkejut kalau Gaby lebih dahulu tertarik padanya.


“Aku tak mengingatnya!” Sahut Boy berpikir keras.


“Tentu saja kak Boy tak mengingatnya, kau terlalu sibuk dengan wanita-wanita yang ada di sampingmu.” Ujar Gaby semakin kesal.


“Kau memperhatikan aku dari dulu?” Tanya Boy.


“Huh, aku benci padamu, dasar bodoh!” Gerutu Gaby.


“Hahahahaha, kau gadis yang lembut namun sangat galak saat sedang marah.” Ujar Boy.


“Bagaimana dengan Geof?” Tanya Boy ingin tau isi hati Gaby.


“Dia tampan, dan sedikit nakal!” Sahut Gaby.


“Huh, aku tak suka kau menatapnya!” Ujar Boy kesal.


Hening.


“Gaby.” panggil Boy mengangkat dagu Gaby.


Gaby tau kalau Boy akan menciumnya, dengan sedikit berjinjit dan memejamkan matanya, Gaby siap untuk di cium Boy. Namun saat itu tiba-tiba si rendang nyelonong masuk dan memisahkan mereka berdua.


“Hei, hei, kalian sedang apa? Mau berbuat mesum ya?” Teriak Reyn.


Boy bengong dan Gaby cemberut.


“Kak Boy, jangan menciumnya! Kak Gaby belum pernah berciuman.” Kata Reyn.


Plaaaaaakkkk…………..


“Dasar rendang basi! Beraninya kau membuka kartuku.” Ujar Gaby kesal pada adiknya itu.


Boy hanya tersenyum saat Gaby marah kepada adiknya.


“Sebaiknya aku kembali ke pesta.” Kata Boy.


Boy pun pergi dari apartemen itu sambil senyum-senyum. Sementara Gaby masih dongkol pada Reyn.


“Aku akan bilang pada papa kalau kakak berniat memperkosa kak Boy!” Kata Reyn.


“Eeehh, gara-gara kau aku tidak jadi bermesraan dengan kak Boy! Padahal sedikit lagi dia akan menciumku.” Teriak Gaby kesal.


“Dddiihh, dasar murahan!” Ujar Reyn.


"Terserah! Dasar rendang!” Sahut Gaby masuk kedalam kamarnya.


“Hhhaaaiihhh, kenapa wanita yang ada di keluarga besarku semuanya agresif? Dasar!” Gumam Reyn.


Kemudian Reyn menghubungi Isabel dan mengatakan kalau Gaby sudah kembali ke apartemen di antar oleh Boy. Reyn memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen agar dapat menemani sang kakak, sedangkan Boy sudah dalam perjalanan menuju ke tempat pesta pernikahan Azlan dan Yasmin.


“Hehehehe, aku jadi bersemangat untuk segera menikah dengan calon dokter bule itu.” Gumam Boy senang.


Sampai di tempat pesta, Boy mencari keberadaan Melda. Setelah menemukannya ia duduk di sebelah Melda.


“Ma!” Panggil Boy bersandar manja pada Melda.


“Hhheemm, darimana kau?” Tanya Melda.


“Dari antar Gaby pulang.” Sahut Boy.


“Jadi ceritanya sudah dekat nih sama Gaby?” Tanya Melda.


“Ma, cepat nikahin aku sama Gaby, dong!” Pinta Boy.


“Dddiihh, kemarin nolak sekarang ngebet, dasar aneh!” Sahut Melda.


“Bulan depan deh ma!” Rengek Boy.


“Hei, kau pikir mempersiapkan pernikahan itu tidak memerlukan banyak waktu apa?” Kata Melda.


“Terserah mama deh, yang penting secepatnya!” Sahut Boy.


“Iya, nanti mama diskusi dulu sama papa.” Kata Melda.


“Terima kasih ya ma, hehehehe.” Ucap Boy kegirangan.


Boy bangkit dari kursinya dan pergi menemui teman-teman yang lain. Saat itu Boy tak menyadari kalau Zidan duduk di sebelahnya dan mendengar semua ucapan Boy. Kemudian Melda menoleh kepada Zidan.


“Anakku ngebet!” Kata Melda.


“Ssiiippp! Kita besanan.” Sahut Zidan.


Di dalam pesta itu Geof tetap menatap tajan pada Boy. Geof menganggap Boy merebut Gaby dari tangannya, padahal ia sudah hampir saja akan mendapatkan Gaby dengan begitu mudahnya.


Pesta usai semua tamu sudah pulang dari acara pernikahan Azlan dan juga Yasmin. Azlan dan Yasmin memilih untuk menetap di salah satu apartemen milik Abrar. Disana kamar sudah tertata indah dan rapi khusus untuk malam pengantin mereka berdua.


Azlan memboyong Yasmin masuk kedalam apartemen itu yang memang sengaja tidak di pekerjakan seorang pelayan pun. Azlan hanya ingin berdua saja bersama istrinya di dalam apartemen itu.


Azlan melihat Yasmin berdiri di depan cermin untuk membuka gaun pengantinya. Azlan jalan mendekat dan memeluk Yasmin dari belakang. Azlan juga mencium pundak Yasmin membuat bulu kuduk Yasmin seketika berdiri.

__ADS_1


“Azlan, pergilah mandi duluan!” Kata Yasmin.


Azlan tak menghiraukan perkataan Yasmin, ia hanya terus menciumi tubuh Yasmin dari belakang dan mulai membuka resleting gaun yang di pakai oleh Yasmin


__ADS_2