
Yasmin kembali menjalankan perusahaan peninggalan dari mendiang ayahnya dengan meninggalkan ketiga anaknya dalam asuhan Balqis dan Abrar tentunya juga bantuan dari para pengasuh yang mereka gaji. Begitu pula dengan Azlan yang juga terlihat sangat sibuk mengurusi pekerjaannya di bantu oleh Dandi sang asisten kepercayaannya. Dandi duduk di ruangan Azlan sambil mengerjakan sesuatu berkas yang harus di tanda tangani oleh Azlan.
"Kapan kau akan menikahi adikku?" Tanya Azlan pada Dandi.
"Hah, aku juga tak tau kapan?" Sahut Dandi.
"Apa maksudmu? Apa kau hanya ingin main-main saja dengan adikku?" Tanya Azlan lagi.
"Bos, kau kan tau kalau aku sudah melamar Delina pada tuan Abrar, tapi kata tuan Abrar tunggu si Delina lulus kuliah dulu baru aku bisa menikah denganya." Sahut Dandi.
"Wah, berat dong kalau begitu! Aku lihat nilai semester si Delina semuanya jelek. Gimana dia mau cepat lulus." Ujar Azlan menahan tawanya.
"Aku juga pusing saat mengetahui nilai-nilai delina yang hampir rata jelek semua." Kata Dandi.
"Hei, adikku itu istimewa, bersabarlah." Kata Azlan.
"Kenapa istimewa?" Tanya Dandi.
"Karena dia bodoh, makanya dia istimewa." Sahut Azlan.
Dandi hanya menghela nafas memiliki CEO yang konyolnya tiada tara di tambah lagi memiliki kekasih yang begoknya juga tidak ketulungan.
"Untung si Delina cantik dan centil, jadi kebodohannya sedikit tertutupi." Gumam Dandi dalam hatinya.
Dandi mengingat wajah Delina yang berlaku centil padanya setiap bertemu.
"Hah, aku kangen padanya." Gumam Dandi lagi.
Disela-sela kesibukannya, Yasmin dan Azlan makan siang berdua di salah satu resto yang biasa mereka kunjungi.
Mereka makan siang sambil berbincang mesra membicarakan masalah ketiga buah hati mereka yang baru berusia 4 bulan. Tak lama kemudian ponsel Azlan berdering dan terlihat itu adalah panggilan dari Balqis.
"Ya mi." Ucap Azlan.
"Azlan, si Melani mau melahirkan, cepat kau datang ke rumah sakit." Kata Balqis yang sudah berada di rumah sakit.
"Iya baiklah." Sahut Azlan.
Azlan menyimpan ponselnya dalam saku celananya dan Yasmin menatap penuh keheranan.
"Ada apa?" Tanya Yasmin.
"Melani akan segera melahirkan dan aku akan pergi kerumah sakit." Kata Azlan.
"Aku ikut!" Sahut Yasmin mengikuti langkah Azlan.
Mereka pun bergegas pergi kerumah sakit tempat Melani yang akan segera melahirkan. Disana sudah menanti Balqis, Abrar dan juga Melia yang sedang mengandung buah cintanya bersama Evan. Di dalam ruang bersalin, Angga tampak panik bercampur dengan khawatir pada istrinya yang akan melahirkan bayinya tersebut.
"Bagaimana dengan Melani?" Tanya Azlan pada Balqis.
"Masih berjuang untuk melahirkan bayinya." Sahut Balqis.
Yasmin melihat Melia yang sedang tegang sambil memegang perutnya. Yasmin duduk di sebelah Melia untuk menenangkannya.
"Tenanglah, semoga Melani melahirkan bayinya dengan selamat." Ucap Yasmin merangkul bahu Melia.
Lalu terdengar suara teriakan Melani yang berusaha untuk mengeluarkan bayinya secara normal dari dalam ruangan bersalin. Tubuh Melia bergetar mendengar teriakan Melani. Melia menggenggam tangan Yasmin dengan kencang.
"Aaakkhhh!" teriak Melia merasakan kesakitan pada perutnya.
"Ada apa? Kau kenapa?" Semua panik melihat Melia berteriak.
Melia mengatur nafasnya sambil terus menggenggam erat tangan Yasmin. Kemudian terdengar lagi teriakan Melani dari dalam ruang bersalin.
"Aku sangat tegang! Perutku sakit." Teriak Melia.
__ADS_1
"Apa kau akan melahirkan juga?" Tanya Abrar pada Melia.
"Mana mungkin, usia kandungannya masih 6 bulan." Sahut Balqis.
"Jadi kenapa dia berteriak kesakitan?" Tanya Azlan.
"Ini pasti kontraksi kecil karena ia tegang mendengar Melani melahirkan." Jawab Balqis.
"Yasmin, tolong kau bawa Melia pergi jauh dari ruangan ini, agar dia tidak merasakan kontraksi kecil lagi." Kata Balqis.
"Iya, mi." Sahut Yasmin.
Yamin pun membawa Melia pergi jauh dari ruang bersalin itu. sedangkan yang lain masih menunggu Melani yang masih berjuang di dalam ruang bersalin. Selang beberapa menit suara tangisan bayi terdengar dari dalam ruang bersalin itu. Abrar, Balqis dan juga Azlan mengucap syukur saat tau kalau Melani sudah melahirkan bayi pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Angga sangat bahagia menatap bayi laki-laki yang akan ia beri nama Ega. Setelah melahirkan putra pertamanya, Melani di bawa keruang rawat, disana ada Balqis dan Abrar yang menemaninya.
"Dimana Melia?" Tanya Melani yag tak bisa jauh dari kembarannya itu.
"Tadi dia disini menunggu proses kelahiranmu, saat dia mendengar teriakanmu dia mengalami kontraksi kecil pada kandungannya, makanya Yasmin sedang membawanya menjauh dari sini." Jawab Balqis.
"Oh begitu! Melahirkan memang sangat sakit, aku tak mau melahirkan lagi." Sahut Melani.
"Hei, kau tidak boleh seperti itu, keturunanku harus banyak!" Kata Abrar.
"Huh, papi ini selalu saja memaksa orang." Gumam Melani.
Tak lama Angga masuk dengan membawa bayi mungil di dalam gendongannya yang di ikuti oleh seorang perawat rumah sakit. Perawat itu mengatakan kalau Melani harus menyusui bayinya. Melani pun menyusui bayinya dengan di bantu oleh Balqis, Melani tak memiliki pengalaman dalam hal itu karena ini kali pertamanya ia menjadi seorang ibu.
"Wah, sepertinya dia sangat lapar!" Seru Angga melihat bayinya sedang menyusu pada Melani.
"Apa kau juga mau, sayang?" Tanya Melani dengan tingkah konyolnya.
Angga mengangguk cepat dan Abrar bangkit dari tempat duduknya menghampiri Angga dan juga Melani.
"Sana...sana! Jangan dekati putriku dulu! Dia baru saja melahirkan, kau tak boleh mengganggunya." Kata Abrar pada menantunya itu.
"Pi, tapi aku ingin memeluk cintaku." Sahut Angga.
Melani dan Balqis hanya tersenyum sambil menahan tawanya melihat Abrar yang berusaha melindungi anaknya dari perdator yang lapar. Melia yang sudah merasa tenang masuk kedalam ruang rawat Melani untuk menjenguknya bersama dengan Yasmin dan juga Azlan. Disana Melia juga melihat bayi mungil yang baru saja dilahirkan oleh saudari kembarnya tersebut.
"Melani, syukurlah kau selamat! Huhuhuhuhuhuh." ucap Melia memeluk Melani sambil menangis.
Melani dan Melia pun berpelukan sambil menangis haru. Si kembar itu tak bisa terpisah dalam waktu yang lama, mereka selalu saja berdua dan jika ada salah satu dari mereka yang sedang sakit atau merasa kesusahan pasti yang satunya lagi akan merasakan penderitaannya juga. Yamin menggendong Ega dalam dekapannya sambil sesekali mencium tangan mungil yang menggenggam jari telunjuknya.
"Lucu banget, gemes!" Ucap Yasmin.
"Aku jadi merindukan ketiga bayiku." Sahut Azlan.
"Iya." Sambung Yasmin.
Hari menjelang sore, Yasmin dan Azlan kembali kerumah dan membersihkan dirinya. Setelah itu mereka menemui ketiga bayinya yang berada di dalam kamar. Ketiga anak mereka sedang meminum Asi dari botol susu yang sudah di sterilkan oleh para pengasuhnya. Saat makan malam, Abrar dan Balqis tiba dirumah dengan rasa lelah pada tubuh mereka.
"Eh, mami sama papi tidak jadi nginap dirumah sakit?" Tanya Yasmin.
"Tidak, sudah ada mertuanya yang menjaga Melani di sana." Sahut Abrar.
"Kami mau istirahat dulu." Sambung Balqis.
"Iya." Sahut Yasmin.
Azlan dan Yasmin makan malam bersama dengan adik-adik mereka di ruang makan. Seperti biasanya jika Abrar dan Balqis tidak berada di ruang makan, para adik-adiknya tersebut akan membuat kericuhan yang memekakkan telinga siapa saja yang ada di ruang makan tersebut. Yasmin yang sudah lama tinggal di kediaman kampung hawa, merasa kebal pada telinganya saat mendengar riuh ricuh oleh para jamaah yang sedang menikmati makan malam sambil membuat kebisingan.
Setelah selesai makan malam, yasmin dan Abrar duduk diruang tengah bersama dengan adik-adiknya.
Azlan melirik jo yang senyum-senyum sambil menatap layar ponselnya.
"Jo, kau kenapa? Gila kah?" Tanya Azlan.
__ADS_1
"Iya, dia sedang tergila-gila si konyol Adrian." Sahut Tantia.
"Eh, kau sudah jadian dengan si konyol itu?" Tanya Azlan.
"Konyol teriak konyol!" Gumam Yasmin menatap Azlan.
"Oh, kau bilang aku konyol ya? Awas saja kau yasmin, kau akan menerima kekonyolanku malam ini, hehehe." Sahut Azlan membuat Yasmin berdegik ngeri.
Adik-adik Azlan tersenyum saat melihat ekspresi wajah kakaknya yang siap akan menindas Yasmin.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Herdinan?" Tanya Azlan pada Tantia.
"Biasa saja, hanya teman." Sahut Tantia.
"Benarkah cuma teman? Bukankah kau sedang mengejarnya?" Tanya Azlan.
"Iya itu dulu, sekarang aku sudah berhenti mengejarnya, karena dia tak suka padaku." Sahut Tantia.
"Dia bukan tak suka padamu, Herdinan itu pria kaku, dia hanya sedikit risih dengan wanita agresif sepertimu. Jadi menurut ilmu percintaan yang aku miliki kau seharusnya lebih santai dalam mengejar cintanya Herdinan." Kata Azlan.
"Tapi aku sudah tidak tertarik lagi padanya." Ucap Tantia.
"Secepat itu kau berubah? Padahal sejak kecil kau selalu saja mengejarnya." Kata Azlan.
"Iya, aku sudah tak ingin mengingatnya lagi." Ujar Tantia.
Saat itu Yasmin melihat raut wajah sedih tantia yang sengaja ia sembunyikan dari mereka semua. Namun Yasmin tau kalau Tantia masih memiliki perasaan pada Herdinan. Sebelum masuk kedalam kamarnya, Yasmin mengetuk pintu kamar Tantia. Tantia yang belum tidur mempersilahkan Yasmin masuk kedalam kamarnya.
"Kau sedang apa?" Tanya Yasmin.
"Mengerjakan tugas kuliahku, tapi ini sudah selesai kok, kak." Sahut Tantia.
"Eemmm, Tantia, aku hanya ingin tau apa benar kau sudah melupakan Herdinan?" Tanya Yasmin.
"Sebenarnya belum sih kak, tapi aku sedang berusaha." Jawab Tantia.
"Apa kau yakin tidak ingin mencoba untuk mendekati dia lagi?" Tanya Yasmin.
"Sudah jelas kak saat di taman itu, dia tidak suka padaku, jadi untuk apa aku mencobanya lagi? Sejak kecil aku sudah menyukai dirinya, namun dia tetap saja menghindariku." Sahut Tantia.
Yasmin memeluk tantia yang sedih saat itu. Pelukan hangat seorang kakak pengganti si kembar, Tantia dapatkan dari Yasmin yang menjadi kakak iparnya. Setelah Tantia merasa tenang, Yasmin pun masuk kedalam kamarnya.
Disana ia melihat Azlan yang sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan kancing piyama yang terbuka semua dan tercium bau parfum yang menyengat di dalam kamar itu.
"Come here, baby!" Ucap Azlan melekukkan jari telunjuknya pada Yasmin.
"Hahahahahaha, aku sangat geli melihatmu seperti itu, Azlan." Sahut Yasmin tertawa terbahak-bahak.
Azlan ngambek saat melihat Yasmin menertawai aksinya yang mencoba untuk romantis.
"Ya sudah kalau tidak mau! Huh, dasar menyebalkan!" Gumam Azlan sambil meletakkan kembali bungkusan pengaman ke dalam laci di samping ranjang.
Yasmin masih menahan tawanya dan mendekati sang suami yang sedang ngambek.
"Duh, imut banget sih ngambeknya!" Ucap Yasmin naik ke atas pangkuan Azlan.
"Padahal aku sudah berusaha untuk romantis, tapi kau malah menertawaiku." Sahut Azlan masih dengan wajah ngambeknya.
"Hihihihihihi, sini..sini...cium aku!" Kata Yasmin membujuk suaminya.
Yasmin pun memberikan ciuman panasnya dan Azlan pun menyambutnya dengan kalah panasnya. Bibir mereka saling bertaut dan saling mengecap menikmati kehangatan yang telah lama mereka pendam selama Yasmin baru saja melahirkan bayi-bayinya.
"Sayang, jangan lupa pakai pengamannya." Bisik Yasmin pada Azlan.
"Oh iya, aku jadi lupa." Sahut Azlan membuka laci dan mengambil bungkusan kecil dan menggunakannya.
__ADS_1
Malam itu terjadi kehangatan yang nikmat di atas ranjang milik sepasang suami istri yang bahagia menjadi orang tua baru.