
Pagi hari itu Yasmin sedang sibuk menyiapkan pakaian yang akan Azlan pakai untuk pergi ke kantor. Tak lama Azlan pun keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Azlan memakai pakaiannya di bantu oleh Yasmin yang akan memakaikan dasi di lehernya. Saat fokus memakai dasinya, Azlan melihat Yasmin meringis kegelian.
"Kau kenapa, Yasmin?" Tanya Azlan.
"Perutku geli." Sahut Yasmin.
"Kenapa?" Tanya Azlan memegang perut yasmin.
Lalu Azlan merasakan gerakan bayi-bayinya itu yang masih di dalam perut Yasmin.
"Wah, mereka bergerak!" Seru Azlan.
"Apa mereka sering seperti ini?' Tanya Azlan.
"Iya, setiap harinya mereka selalu bergerak dan menendang-nendang, membuatku merasa geli." Jawab Yasmin.
Lalu Azlan berjongkong di hadapan perut Yasmin. Azlan mencium perut Yasmin yang tampak besar itu.
"Anak ayah jangan nakal ya sayang, bunda kegelian tuh!" Ucap Azlan beicara para calon bayi-bayinya.
Seakan merespon perkataan Azlan, bayinya kembali menendang perut Yasmin membuat yasmin tertawa dan begitu juga dengan Azlan. Azlan begitu sangat tak sabar ingin melihat bayi-bayinya itu segera lahir.
Setelah sarapan pagi bersama dengan keluarga besarnya, Azlan pun pergi berangkat ke kantor. Saat sedang fokus dengan layar monitor laptopnya, Dandi masuk keruanganya menyerahkan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani oleh Azlan. Azlan pun melirik dandi yang tampak murung pagi itu.
"Kau kenapa?" Tanya Azlan pada asistennya.
"Hah, Delina ngambek lagi." Sahut Dandi lesu.
"Kenapa?" Tanya Azlan.
"Biasalah, pertengkaran kecil." Jawab Dandi.
"Yah, begitulah delina! Dia masih sangat muda, emosinya masih labil, kalau kau cinta padanya kau harus banyak bersabar." Kata Azlan.
"Sabar juga ada batasnya, bos." Kata Dandi sewot.
"Terserah kalian lah, kalian yang jalani." Kata Azlan.
Setelah urusannya keluar Dandi kembali keruangannya. Ia membuka laci meja kerjanya dan mengambil bingkai foto Delina disana. Ia meletakkanya di meja dan menatapnya.
"Kapan kau akan belajar dewasa Delina? Masalah kecil selalu jadi besar untukmu." Dandi menghela nafas berat saat menatap foto wanita yang ia cintai.
Azlan masih di ruang kantornya, ia memeriksa berkas-berkas penting yang terletak di mejanya. Tak lama kemudian, Boy masuk kedalam ruangannya.
"Hei, apa kabar bro? Lama tak gabung sama kita setelah menikah." Sapa Boy pada Azlan.
"Istriku sedang hamil, jadi aku harus siaga, siap antar jaga." Sahut Azlan.
"Hehehe, menjadi suami menyenangkan, kah?" Tanya Boy.
"Tentu saja! Apalagi saat-saat seperti ini, menanti kelahiran bayi-bayi dari kecebongku, hehehe." Jawab Azlan cengengesan.
"Eh, apa kau sering bertemu dengan Geof?" Tanya Boy.
"Wah, kalau dia aku gak pernah ketemu lagi, si Geof seperti di telan bumi." Sahut Azlan.
"Kemarin aku datang ke apartemennya, ada cewek cantik yang jadi pelayannya." Kata Boy mulai bergosip.
"Huh, si Geof kan memang biasa membawa wanita ke apartemennya." Kata Azlan.
"Tapi kali ini beda, bro! Wanita itu sepertinya wanita baik-baik." Kata Boy.
"Benarkah?" Ujar Azlan.
"Kayaknya si Geof mulai insyaf deh, aku sudah lama tidak melihatnya di bar dan waktu aku tanya sama Kenzo, dia juga sudah lama tak ketemu Geof." Kata Boy.
"Syukur deh kalau dia beneran insyaf." Kata Azlan.
"Bagaimana hubunganmu dan Gaby?" Tanya Azlan.
"Wah, si bule itu sangat menggemaskan, hehehe. Wajah centilnya itu membuat hatiku cenat cenut." Kata Boy girang.
"Hatimu yang cenat cenut atau burung pipitmu yang cenat cenut?" Ujar Azlan.
"Hehehehe, sesama pria kan kau sudah mengerti, lagian setelah jatuh cinta pada Gaby aku tidak pernah menjamah wanita lagi." Kata Boy.
"Pantesan cenat cenut." Sahut Azlan.
Boy hanya cengengesan saat berbicara tentang tunangannya itu pada Azlan. Karena sudah lama tak bertemu dengan Geof, Azlan dan Boy mendatangi Geof ke perusahaan Luky. Tiba disana, ternyata Geof sedang pergi keluar, jadi Azlan dan Boy hanya bertemu dengan Luky saja.
"Hei, apa kalian tau kenapa belakangan ini Geof tidak mau pulang kerumah?" Tanya Luky pada kedua sahabat anaknya itu.
Azlan dan Boy saling pandang.
"Sudah berapa lama dia tidak pulang, om?" Tanya Boy.
"Kurang lebih sebulan, padahal Geof tidak memiliki masalah apapun dengan kami, saat di hubungi oleh mamanya, dia cuma bilang sedang sibuk dan tak bisa pulang." Kata Luky.
"Hehehe, om, sepertinya dia betah di apartemennya." Kata Azlan.
"Maksudnya?' Tanya Luky bingung.
"Begini om, di apartemen Geof ada wanita cantik, sepertinya dia wanita baik-baik." Kata Boy.
"Siapa?" Tanya Luky.
"Aku juga tak tau om, saat aku tanya katanya dia hanya pelayan disana, dan Geof juga tak mau cerita tentang wanita itu saat ku tanya." Kata Boy lagi.
"Kalau begitu nanti om akan cari tau." Kata Luky.
Tak lama Geof kembali ke kantor dan menghampiri kedua sahabatnya itu. Mereka pun makan siang bersama sambil berbincang-bincang. Saat itu Kenzo tak ketinggalan untuk berkumpul makan siang dengan mereka.
"Nanti malam kita ngumpul lagi dong, di tempat biasa." Kata Boy pada sahabat-sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku tak bisa." Sahut Kenzo.
"Kenapa?' Tanya Geof.
"Aku mau ke Paris, ketemu Syeril, hehehe." Jawab Kenzo.
"Kau ngejar si Syeril?" Tanya Azlan.
"Iya!" Sahut Kenzo.
"Memangnya si Syeril mau?" Tanya Boy.
"Mau tak mau, bakalan aku kejar sampai dapat." Kata Kenzo.
"Semangatmu memang luar biadap, nak! Lanjutkan." Ujar Geof pada Kenzo.
"Siipp!" Sahut Kenzo.
Sore hari Azlan kembali kerumah. Ia bergegas mandi dan bersantai di ruang tengah menunggu makan malam. Saat itu hanya Delina yang tak ada di ruangan itu.
"Si Delina mana?" Tanya Abrar pada Tantia.
"Di kamarnya, pi!" Jawab Tantia.
"Betah sekali, tumben." Kata Abrar.
Azlan dan Yasmin saling pandang seakan memberikan kode Yasmin mengatakan pada Azlan kalau Delina sedang menangis di kamarnya. Azlan bangkit dari sofanya dan melangkah menuju kamar Delina. Azlan memutar batang kunci pintu dan masuk kedalam kamar Delina. Tampak disana Delina sedang duduk di atas ranjang dengan kotak tissu di tangannya.
"Hei, kau kenapa?" Tanya Azlan pada adiknya.
"Kak Dandi mutusin aku, kak! Hiks..hiks...hiks." Ucap Delina memeluk Azlan.
"Bertengkar lagi?" Tanya Azlan.
"Kak Dandi tidak pernah ada waktu untukku, aku kan ingin seperti orang pacaran lainnya, jalan-jalan, nonton, ketemuan setiap akhir pekan, tapi kak Dandi hanya sibuk dengan laptopnya saja." Ujar Delina.
Azlan menghela nafas melihat sifat Delina yang masih kekanak-kanakan.
"Delina, Dandi itu pria yang gigih dalam pekerjaannya, papi dan aku sangat percaya padanya karena dia cekatan dalam bekerja dan kemampuannya memang tidak bisa di bandingkan dengan yang lain. Dia sudah banyak beban dengan pekerjaannya, jika kau mencintainya, kau jangan menambah beban pikirannya lagi." Kata Azlan.
"Tapi kak, aku hanya ingin sekedar ketemuan denganya, itupun sulit." Kata Delina.
"Itu karena dia memang sibuk bekerja, kakak yakin, si Dandi gigih bekerja hanya untuk menabung uang yang banyak agar dia bisa membahagiakanmu suatu hari nanti jika kalian sudah menikah, dia ingin menjadi pria yang mapan, dia tak ingin kau hidup menderita setelah menikah denganya, apa lagi dia tau kau di besarkan dari keluarga yang serba kecukupan." Kata Azlan membuat adiknya mengerti keadaan Dandi.
"Aku yang salah ya kak?" Ucap Delina terus menangis.
"Tentu saja! Kau sebagai wanitanya harus mendukung segala yang sedang di lakukan oleh Dandi selama itu positif, bukan malah menjadi beban untuknya." Kata Azlan.
Delina mengerti apa yang di katakan oleh kakaknya. Ia sadar kalau apa yang dia inginkan dari dandi itu terlalu kekanak-kanakan. Azlan menghapus air mata adiknya.
"Pergilah temui dia, minta maaflah padanya, tadi saat di kantor wajahnya sangat murung." Kata Azlan.
"Kakak mengizinkan aku menemui kak dandi di apartemennya?" Tanya Delina.
Delina bergegas pergi menemui Dandi di apartemennya malam itu tanpa sepengetahuan Abrar dan Balqis. Dengan izin sang kakak, Delina menyetir mobilnya dan menuju ke apartemen Dandi.
Tiba disana, Delina langsung membuka pintu apartemen dandi dengan nomor sandi yang dandi berikan padanya. Delina masuk dan melihat Dandi sedang duduk di lantai sambil memegang foto Delina. Tampak disana minuman kaleng beralkohol berserakan di ruangan itu.
"Kak." Ucap Delina mendekati Dandi.
Dandi menoleh pada Delina.
"Delina, kau datang!" Sahut Dandi.
Delina langsung memeluk Dandi yang sedang berantakan itu. Ini kali pertama Delina melihat tampang Dandi yang sangat kusut selama mereka menjalin hubungan.
"Kak, maafin aku! Aku yang salah, seharusnya aku mengerti keadaan kakak, bukannya menjadi beban kakak." Ucap Delina menangis dalam pelukan Dandi.
"Maafkan aku Delina, aku tak bisa memberikan apa yang kau mau." Ucap Dandi.
"Sekarang aku tak menginginkannya lagi kak, sekarang aku janji akan menjadi wanita yang selalu mendukungmu." Kata Delina.
"Terima kasih Delina, kau mau mengerti keadaanku, aku juga janji akan meluangkan waktuku jika aku tidak sibuk dengan pekerjaanku." Kata Dandi.
Delina pun mengiyakan kemudian memeluk Dandi kembali. Di lantai itu sepasang kekasih itu akhirnya berbaikan setelah beberapa hari berselisih paham. Tak lama kemudian, Delina mendorong tubuh dandi yang memeluknya.
"Kenapa?" Tanya Dandi bingung.
"Beberapa hari yang lalu kakak mutusin aku, jadi untuk apa peluk-peluk aku lagi." Kata Delina ngambek.
"Maaf deh, waktu itu aku cuma emosi, sekarang kan kita udah baikan, jadi kita tidak putus, sayang." Kata Dandi mencoba membujuk Delina.
Delina masih cemberut.
"Jangan ngambek lagi dong, plisss!" Ucap Dandi memohon pada Delina.
Delina tersenyum pada Dandi. Melihat Delina tersenyum centil padanya, Dandi langsung mendaratkan ciumannya pada bibir wanita yang sangat ia cintai itu. Setelah berbaikan, Delina membersihkan ruangan yang berantakan itu sedangkan Dandi pergi mandi setelah memesan makanan untuk mereka makan malam bersama.
*****
Di kediaman kampung hawa, Abrar dan anak-anaknya serta sang menantu makan malam bersama. Abrar melirik kursi kosong yang biasa Delina duduki.
"Jo, panggil Delina suruh makan dengan kita." Kata Abrar pada Jovanka.
Jovanka tau Delina tadi pergi mengendarai mobil sendirian.
"Pi, lebih baik kak Delina makan di kamar saja deh, nanti Jo yang antar makanannya." Kata Jovanka.
"Iya pi, sepertinya Delina sedang tidak enak badan tuh." Sahut Azlan.
"Delina sakit?' kata Abrar panik.
__ADS_1
"Papi gak usah khawatir, dia cuma lelah saja, lebih baik kita tidak usah ganggu dia di kamarnya." Kata Azlan.
Abrar pun menyambung makannya saat itu, sedangkan Azlan dan Jovanka tersenyum karena berhasil mengelabui Abrar. Namun saat itu Balqis yang tau tabiat semua anak-anaknya, tak bisa di kelabui oleh Azlan dan Jovanka. Setelah makan malam dan melihat Abrar sudah tertidur pulas, Balqis mendatangi Azlan dan juga Jovanka.
"Jujur sama mami, kemana Delina pergi?" Tanya Balqis pada kedua anaknya itu.
Azlan dan Jovanka ketakutan melihat wajah angker Balqis.
"Cepat bilang!" Bentak Balqis.
"Delina menemui Dandi, mi! Azlan yang suruh." Sahut Azlan menundukkan wajahnya pada Balqis.
"Astaga, Azlan! Apa kau tidak berfikir jernih dengan apa yang kau katakan barusan?" Ujar Balqis kesal.
"Mi, mereka sedang ada masalah, jadi aku hanya ingin membantu hubungan mereka saja." Sahut Azlan.
"Jo, masuk ke dalam kamarmu." Perintah Balqis.
"Mi, jangan marahin kak Azlan dan kak Delina dong." Pinta Jovanka pada Balqis.
"Masuk!" Teriak Balqis.
Jovanka masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang cemberut karena di marahi Balqis.
"Azlan, sekarang jemput delina ini sudah tengah malam, mami tidak suka anak gadisku keluyuran di luar tengah malam begini." Kata Balqis.
"Mi, tapi mami jangan marahi Delina ya, aku mohon mi, aku yang salah." Kata Azlan.
"Cepat kau jemput dia, atau mami akan bilang pada papimu." Ancam Balqis.
Azlan takut Abrar ngamuk dengan kejadian malam itu. Ia pun bergegas pergi menjemput Delina di apartemen Dandi. Saat itu Delina dan Dandi sedang duduk di sofa sambil menonton film romantis. Azlan memencet bel berulang kali dan dandi membuka pintunya dengan ekspresi kaget setengah mati melihatAazlan datang.
"Bos." Gumam Dandi.
"Tidak usah kaget, aku yang nyuruh Delina ke sini tadi untuk baikan denganmu." Kata Azlan.
Azlan masuk dan melihat Delina sedang nangis bombai karena film romantis yang di tontonnya.
"Del, mami ngamuk!" Kata Azlan.
Dengan jantung yang berdebar kencang, Delina pulang bersama Azlan dan meninggalkan mobilnya di apartemen Dandi. Tiba dirumah Delina ketakutan melihat Balqis yang menunggunya di dalam kamar.
"Mami." Ucap Delina.
"Darimana kau?" Tanya Balqis.
"Mi, jangan marahi Delina, aku yang salah!" Ucap Azlan.
"Pergi ke kamarmu sana, Yasmin membutuhkanmu." Kata Balqis.
Sambil berdecak kesal, azlan keluar dari kamar Delina. Kini hanya ada Delina dan Balqis saja berdua di kamar itu.
"Maaf mi." Ucap Delina ketakutan dan menangis.
Melihat Delina menangis, hati Balqis terenyuh seketika. Ia memeluk putrinya yang centil itu. Delina menangis di pelukan Balqis.
"Delina, mami bukan tak setuju kau menjalin hubungan dengan Dandi, tapi aku tidak mau Dandi di bunuh oleh papimu hanya karena tau kalau kau menginap di apartemennya." Kata Balqis.
"Iya, mi, aku tau aku salah." Sahut Delina.
"Kau sudah berbaikan dengannya?' Tanya Balqis.
Delina mengangguk.
"Bersikaplah dewasa, jika kau mencintainya." Kata Balqis.
"Iya." Sahut Delina.
"Sekarang pergilah tidur, jangan sampai papi tau kejadian malam ini." Kata Balqis.
Delina pun menginyakan perkataan maminya. Malam itu balqis hanya ingin melindungi anak-anaknya dari amukan sang suami. Abrar yang memiliki banyak anak perempuan, berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga anak-anaknya dari pergaulan bebas.
*****
Beberapa minggu kemudian, Yasmin dan Azlan pergi memeriksakan kesehatan janin yang ada di perut Yasmin.
Yasmin kembali menjalani pemeriksaan USG.
"Dokter, bayi yang satunya lagi laki-laki atau perempuan?" Tanya Azlan.
"Sepertinya bayi yang satunya lagi ini bayi yang pemalu, ia kembali membalikkan tubuhnya jadi hanya punggunya yang terlihat." Sahut Dokter.
"Aaarrrggghhhh, kenapa dia sangat nakal?" Teriak Azlan frustasi.
Yasmin tertawa melihat kegalauan suaminya karena ulah bayi yang ada di dalam rahimnya. Azlan kembali pulang kerumah dengan perasaan dongkol setelah pulang dari tempat praktek dokter kandungan.
"Kenapa kau?" Tanya Abrar pada Azlan.
"Dia sangat nakal!" Sahut Azlan kesal.
"Siapa?" Tanya Abrar bingung.
"Bayiku yang satunya lagi, dia selalu membalikkan tubuhnya saat di USG." Jawab Azlan.
"Kau juga nakal saat di dalam perut mamimu." Kata Abrar.
"Apanya?" Tanya Azlan bingung.
"Dulu saat kau masih di dalam perut mamimu, kau selalu saja membalikkan tubuhmu setiap kali di USG, membuatku sangat frustasi." Kata Abrar.
"Sekarang kau rasakan pembalasan dari bayimu, karena kau dulu juga membuatku kesal saat itu." Sambung Abrar.
__ADS_1
"Hehehehe, ternyata dia nakal menurun dariku ya pi." Kata Azlan cengengesan.