
Azlan dan Yasmin sangat menikmati hari-harinya menjadi pengantin baru yang sedang berbulan madu, sedangkan para asisten mereka di kantor sangat frustasi mengerjakan semua pekerjaan yang mereka limpahkan padanya.
Dua minggu lamanya Azlan dan Yasmin menimkati masa bulan madu berkeliling Eropa. Sabtu pagi mereka tiba di indonesia dan beristirahat di apartemen mereka.
Yasmin menyiapkan makan malam untuk Azlan, karena saat itu mereka belum memiliki pembantu di apartemen tersebut. Azlan sedang duduk di meja makan menunggu Yasmin membuat makanan untuknya. Tak lama menunggu makanan pun terhidang di meja, Azlan yang memang hobi makan sangat lahap menyantap makanan yang di masak oleh Yasmin. Setelah selesai makan malam, Yasmin dan Azlan duduk sambil menonton televisi sambil berbincang.
"Sayang, Apa kau yakin kita tinggal disini?" Tanya yasmin pada Azlan.
"Kenapa?" Azlan balik bertanya.
"Kau tidak rindu pada adik-adikmu?" Tanya yasmin.
"Kalau aku rindu aku bisa singgah ke rumah papi dan mami." Sahut Azlan.
"Kenapa kau selalu bertanya tentang hal itu, Yasmin? Apa kau tak suka kita tinggal di apartemen ini? Apa apartemennya kurang bagus?" Tanya Azlan.
"Bukan begitu sayang, bukan itu maksudku! Aku hanya ingin tinggal dirumah mami dan papi, aku suka kehangatan keluargamu." Sahut Yasmin.
Azlan menatap Yasmin sejenak.
"Aku tak pernah merasakan punya adik! Pernah sih punya adik tiri itu pun hubunganku tak baik saat itu." Kata Yasmin.
"Jadi maksudmu kau ingin tinggal bersama dengan adik-adikku?" Tanya Azlan.
Yasmin mengangguk.
"Mereka sangat berisik loh, yasmin." Kata Azlan.
"Aku tau!" Sahut Yasmin.
"Apa kau nanti tidak merasa terganggu?" Tanya Azlan.
"Nggak lah! Aku menyayangi adik-adikmu." Kata Yasmin.
Senyuman melebar di bibir Azlan. Ia begitu senang karena Yasmin menyayangi semua adik-adiknya.
"Iya, kita tinggal dirumah mami dan papi saja. Asalkan kau senang." Kata Azlan.
"Benar nih?" Tanya Yasmin antusias.
"Iya! Tapi ingat jangan lupa tugasmu padaku, kau selalu melupakan aku jika mengobrol dengan si kembar dan yang lainnya." Gumam Azlan.
"Iya, aku janji akan jadi istri yang bertanggung jawab, hehehe." Sahut Yasmin.
"Cepat cium aku disini!" Perintah Azlan menunjuk ke bibirnya.
Yasmin pun mencium bibir Azlan dengan lembut.
"Show time ronde pertama!" Bisik Azlan pada Yasmin.
"Adek pasrah, bang!" Sahut Yasmin nyengir pada Azlan.
Setelah beberapa hari tinggal di apartemennya, Azlan dan Yasmin membawa barang-barangnya untuk tinggal bersama di kediaman kampung hawa. Tentu saja Balqis dan Abrar sangat senang menyambut menantunya untuk tinggal bersama mereka disana. Yang paling bahagia saat Yasmin tinggal disana adalah Chika. Ia sudah memilki banyak rencana untuk tidur bersama Yasmin.
Yasmin sangat bahagia berkumpul dengan riuh ricuh keluarga yang besar itu. Mereka sangat ramai dan sering melakukan hal konyol bersama. Sesekali mereka bertengkar dan yang sangat rajin menangis adalah Syifa. Ia sangat cengen dan Yasmin sering menenangkannya agar tak menangis lagi.
Malam hari setelah selesai makan malam, Yasmin sedang memijat kepala Azlan di atas ranjang mereka. Banyak pekerjaan yang harus Azlan kerjaan sehingga membuatnya sedikit lelah.
"Yasmin, kita sudah sebula menikah! Apa kau sudah hamil?" Tanya Azlan tak sabaran.
"Belum!" Sahut Yasmin.
"Periksa dulu dong yasmin, siapa tau aja kau sedang hamil!" Kata Azlan.
"Aku ini sedang menstruasi, sayang!" Kata Yasmin.
"Hehehe, belum berhasil ya." Kata Azlan cengengesan.
"Sabar dong." Kata Yasmin.
"Iya! Kalau kita punya anak pasti akan tampan sepertiku." Kata Azlan percaya diri.
"Diihh, narsis!" Umpat Yasmin sewot.
"Iya lah, itu kan kecebongku, yasmin! Sudah pasti mirip denganku." Kata Azlan.
"Terserah kau!" Sahut Yasmin.
Di balik pintu Abrar dan Balqis sedang menguping pembicaraan Azlan dan Yasmin yang sedang berada di dalam kamar.
"Apa kau ingat dialog kita dulu, Balqis? Persis seperti yang sedang di katakan oleh Azlan dan Yasmin." Tanya Abrar.
"Iya! Ucapan Azlan persis seperti dirimu ketika aku sedang mengandung Azlan!" Sahut Balqis.
Abrar mengangguk seraya tersenyum. Mereka kembali menguping pembicaraan dari balik pintu. Saat sedang asik menguping, tiba-tiba mereka kaget karena kehadiran Chika yang membawa bantal guling.
"Mami sama papi ngapain sih?" Tanya Chika.
Abrar dan Balqis berpikir keras melihat Chika bawa guling.
"Kau mau pindahan? Bawa guling segala!" Tanya Abrar pada putri bungsunya itu.
"Hehehehe, aku ingin bobo sama kak Yasmin dan kak Azlan." Jawab Chika.
Abrar dan Balqis saling tatap.
"Tidak bisa di biarkan!" Kata Abrar.
"Chika akan menghalangi kita yang sudah tak sabar ingin memiliki cucu." Sahut Balqis.
"Chika!" Seru mami dan papinya.
"Iya." Sahut Chika.
Abrar dan Balqis menarik kerah baju Chika dan menyeretnya masuk kedalam kamar mereka.
"Mami, papi, lepas! Aku mau bobo sama kak Yasmin dan kak Azlan! Hhuuuwwwaaaa." Teriak Chika menangis histeris.
"Tidak boleh! Dasar pengganggu!" Seru kedua orang tuanya.
"Menyebalkan!" Teriak Chika lagi.
"Kau yang menyebalkan!" Seru kedua orang tuanya.
Chika di kurung di dalam kamar orang tuanya. Chika duduk di atas ranjang milik Abrar dan Balqis. Chika melipat tangannya di atas perut dan pasang wajah cemberut pada papi dan maminya. Chika gondok setengah mati karena tak bisa tidur bersama Yasmin dan Azlan.
*****
Di Itali Gaby sedang merindukan tunanganya yaitu Boy. Mereka saling melepaskan rindu hanya dengan video call yang hampir setiap hari mereka lakukan di sela-sela kesibukannya. Sementara Reyn sedang bermanja-manja di pangkuan Isabel sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kuliahmu, nak?" Tanya Isabel pada Reyn.
"Tidak asik!" Jawab Reyn.
Isabel menghela nafas panjang mendengar jawaban Reyn yang tak suka belajar sama seperti dirinya. Zidan melirik Reyn yang merebahkan kepalanya di pangkuan Isabel.
"Reyn, kau itu putra satu-satunya yang papa punya! Kau akan menggantikan papa jika papa tiada nanti." Kata Zidan menasehati putranya itu.
"Pa, aku tak suka papa ngomong begitu! Papa itu harus sehat terus, pa." Sahut Reyn.
"Bagaimana aku bisa sehat kalau harus memikirkanmu terus?" Ujar Zidan kesal.
"Hah, iya iya! Nanti aku akan rajin kuliah." Sahut Reyn.
"Hei, papa dengar dari Azlan katanya kau sedang tergila-gila dengan gadis minang?" Tanya Zidan membuat Reyn langsung bersemangat dan duduk.
"Iya pa, cantik banget! Wajahnya natural dan lugu. Reyn suka sama dia, namanya Fatya." Kata Reyn semangat berapi-api.
"Mahasiswa kah atau sudah bekerja?" Tanya Isabel.
Reyn langsung lemas dan tak berdaya dengan seketika.
"Masih anak sekolahan ma, masih 15 tahun!" Sahut Reyn lunglai.
Zidan dan Isabel tertawa geli melihat Reyn tiba-tiba lemas tak berdaya.
"Om, sepertinya reyn bukan hanya kembaranmu tapi juga menuruni bakatmu, menjadi pedofil! Hehehehe." Bisik Isabel pada Zidan.
"Hehehehe, iya ya!" Sahut Zidan cengengesan.
"Reyn, apa kau sangat menyukainya ya?" Tanya Zidan.
"Iya, pa! Fatya masuk kategori pencarian istriku!" Sahut Reyn.
"Jadi kau ingin menikah dengannya?" Tanya Zidan memancing anaknya.
"Iya pa! Apa boleh?" Tanya Reyn kembali bersemangat.
"Papa sih setuju saja asalkan dia dari keluarga baik-baik! Papa tidak memikirkan status keluarganya harus terpandang atau terhormat seperti bangsawan, yang penting dia gadis yang baik itu sudah cukup untuk jadi menantu papa!" Kata Zidan.
"Asalkan kau harus berjanji akan merubah kebiasaan burukmu itu dan giatlah belajar agar kau sukses seperti papa." Sambung Zidan lagi.
"Jadi papa sama mama setuju nih?" Tanya Reyn.
"Tergantung dengan sikapmu!" Kata Isabel.
"Apa kau harus sukses seperti papa?" Tanya Reyn lagi.
"Iya lah! Kalau tidak bagaimana kau akan membahagiakannya? Apa setelah menikah kau akan memberinya oki jelly drink dan obat promag setiap hari?" Ujar Zidan.
"Hehehe, papa kan kaya! Masa papa perhitungan sih?" Sahut Reyn.
"Berarti kau sama saja seperti Geof!" Kata Zidan.
Tiba-tiba ekspresi wajah Reyn berubah saat dia disamakan oleh Geof.
"Papa, mulai detik ini dan hari ini, aku Reyn akan bersumpah menjadi lebih baik dan giat belajar agar aku menjadi sukses dan kembali ke indonesia menculik Fatya!" Kata Reyn berapi-api semangat.
"Melamar, bodoh! Bukan menculik." Sahut Zidan.
"Kalau lamarannya di tolak, aku akan menculiknya, hehehehe." Kata Reyn dengan ide konyolnya itu.
"Kalian memang sangat mirip! Suka memaksa wanita." Gumam Isabel menghela nafas panjang.
Zidan dan Reyn hanya cengengesan.
Di dalam kamrnya Gaby sedang video call dengan tunanganya itu. Mereka mengobrol dengan mesra untuk menumpahkan rasa rindu mereka yang terpisah oleh samudra yang luas. Di depan pintu kamar Gaby, Reyn sedang menguping obrolan Gaby dan Boy sambil cekikian geli.
"Iya sayang, aku juga rindu! Dua bulan lagi kita akan bertemu." Sahut Boy membalas ucapan Gaby.
"Benarkah?" Tanya Gaby senang.
"Iya! Aku akan ke Itali untuk urusan bisnisku, jadi sekalian ingin bertemu denganmu." Kata Boy.
"Baiklah, aku jadi tak sabaran, habisnya kangen banget." Kata Gaby.
Reyn yang sedang menguping berdecak kesal.
"Dasar Gaby murahan!" Umpat Reyn terus saja betah menguping dari balik pintu kamar Gaby.
Setelah puas menguping kakaknya bermesraan di telepon, Reyn masuk ke dalam kamarnya dan berbaring mengingat wajah Fatya sang gadis minang yang ia sukai. Reyn mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Fatya, namun ia menjadi kesal saat ponsel Fatya tidak bisa di hubungi.
"Kenapa tak bisa di hubungi sih?" Teriak Reyn kesal setengah mati dan membanting ponselnya.
Reyn bangun dari ranjangnya dan mondar mandir memikirkan Fatya yang jauh tak terjangkau. Padahal ketika itu Fatya sedang tekun belajar di sekolahnya untuk menjadi juara kelas agar dia mendapatkan beasiswa kedokteran seperti yang ia cita-citakan dari kecil.
Tak lama mondar mandir Reyn teringat kalau di indonesia dalam keadaan siang hari dan berbeda waktu dengan mereka di Itali. Reyn memungut kembali ponsel mahal yang ia banting ke lantai dengan kesal. Ia melihat ponsel itu sudah pecah berantakan tak karuan namun masih bergetar saat ia sentuh.
"Masih bisa tidak sih nih ponsel? Aaaarrrggghhh, menyebalkan!" Teriak Reyn lagi.
Kemudian Reyn mengambil kartu di ponselnya dan membuang ponselnya ke luar jendela.
"Besok beli yang baru! Papa kan kaya, hehehehe." Gumam Reyn seenak jidatnya.
*****
Di dalam kantor milik orang tuanya, Geof duduk santai menunggu orang suruhannya membawa berkas yang ia inginkan. Tak lama kemudian orang suruhannya itu datang masuk keruanganya dengan membawa map yang berisi berkas info tentang wanita yang selalu bertengkar dengannya.
"Tuan muda, ini berkas office girl yang anda inginkan!" Kata anak buahnya.
Geof membaca semua berkas yang dia inginkan itu.
"Namanya Mertarya, lulusan SMA, alamat ini daerah mana?" Tanya Geof.
"Di pinggiran kota, tuan!" Sahut anak buahnya itu.
"Oh, jadi kau hanya wanita kampung yang beradu nasib ke kota." Gumam Geof.
"Pecat dia sekarang juga!" Perintah Geof.
"Baik tuan!" Sahut anak buahnya lagi.
Dengan perintah Geof sebagai anak dari pemiliki perusahaan itu, mereka pun mencari-cari merta di ruangan office girl untuk memberinya surat pemecatan. Namun saat mencari keberadaan Merta, mereka tak menemuinya di sana, salah satu office girl di sana mengatakan kalau Merta tak ingin bekerja lagi dan tak masuk bekerja hari itu. Geof semakin kesal saat tau kalau Merta yang menginginkan dirinya tak bekerja di perusahaan itu sebelum Geof memecatnya.
"Sial! Hingga kini aku belum sempat membalas semua penghinaannya padaku!" Teriak Geof kesal di ruangan kerjanya.
Di kos-kosan pinggir kota, Merta sedang terduduk lemas meratapi nasibnya yang kini menjadi pengangguran.
Tak lama terdengar suara gedoran pintu dari luar dan berteriak memanggil namanya. Merta pun membuka pintunya.
"Ibu kos." Kata Merta.
"Hei, bayar tagihan kosnya, kau sudah menunggak 3 bulan!" Teriak ibu kos yang judes itu.
__ADS_1
"Iya bu, kasih saya waktu sedikit lagi, saya pasti akan membayarnya kok." Sahut Merta.
"Janji melulu! Aku beri waktu dua hari, jika kau tidak bisa melunasinya, angkat kaki dari sini!" Kata ibu kos itu.
"Iya, iya." Sahut Merta.
Ibu kos pun berlalu dan Merta menutup kembali pintunya. Merta kembali duduk dan berpikir untuk mencari uang agar bisa membayar uang kos yang sudah menunggak 3 bulan.
"Dimana aku harus cari uang, uang kos nunggak, ibuku membutuhkan uang untuk biaya berobat dirumah sakit! Aaaarrrggg, aku sangat pusing!" Teriak Merta frustasi.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
"Iya tante!" Ucap Merta.
"Merta, ibu kamu masuk rumah sakit, kata dokter harus segera di operasi untuk membuang ginjanya yang rusak! Kalau tidak ibumu bisa meninggal." Kata tantenya yang mengurusi ibunya di kampung.
"Astaga, berapa biayanya tante?" Tanya Merta panik.
"50 juta!" Sahut tante.
"Aku tak punya uang, gimana ini tante?" Merta kebingungan.
"Tante juga tak punya uang! Apa kita jual rumah kalian saja?" Sahut tante.
"Tante, jangan! Kalau rumah itu di jual nanti ibu dan tante tinggal dimana?" Kata Merta.
"Jadi kita harus apa? Tante juga bingung." Ujar sang tante.
"Kapan akan di operasi?' Tanya merta.
"Besok pagi, itupun kalau urusan administrasinya sudah lunas." Sahut tante.
Merta sangat galau dengan kondisi ibunya yang memiliki penyakit gagal ginjal sejak lama. Karena untuk mengobati penyakit ibunya lah ia harus merantau ke kota dan bekerja apa saja demin mendapatkan uang. Seketika Merta teringat dengan temanya sesama office girl di perusahaan milik Luky, namun sudah lama tidak bekerja lagi setelah bekerja di salah satu tempat perjudian di kota itu. Merta pun menghubungi temannya itu untuk meminjam uang.
temannya pun berjanji akan meminjamkan uang pada Merta sebesar 50 juta namun bukan melaluinya tapi melalui bosnya di tempat kerja dengan jaminan kalau merta akan bekerja tanpa gaji selama dua tahun penuh disana.
Tidak ada cara lain, Merta terpaksa menyetujuinya agar bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya. Malam hari Merta datang ke tempat bekerjanya yang baru. Dengan pakaian minim ia melihat beberapa wanita melayani para tamu yang menginginkan wanita di sampingnya. Setelah lama di telusuri oleh Merta ternyata tempat perjudian itu bukanlah untuk berjudi saja, melainkan untuk menjajakan wanita cantik sebagai wanita penghibur.
Merta ketakutan saat tau ternyata ia akan di jual kepada pria hidung belang oleh bos barunya. Disaat yang bersamaan Geof berada di tempat itu dan sedari tadi menatap Merta yang ketakutan disana. Teman Merta mencari-cari dririnya, namun Merta berusaha untuk bersembunyi di balik keramaian. Sampai akhirnya lengan Merta di tarik oleh bos barunya yang kesal mencarinya sejak tadi.
"Apa kau mau kabur?" Teriak bosnya itu.
"Bos, aku tak ingin menjadi *******! Aku mohon lepaskan aku." Pinta Merta dengan linangan air matanya.
"Kau sudah mengambil uang 50 juta dariku, maka kau harus menuruti perkataanku!" Kata bos itu.
"Aku janji akan melunasi uang 50 juta itu, tapi aku mohon jangan jual aku." Kata Merta.
Geof memperhatikan merta yang tampak menangis saat itu. Ia tak bisa melihat wanita yang menangis dan memohon seperti itu. Geof pun mendekat dan berbisik pada bos itu. Merta kaget saat melihat Geof seperti sedang melakukan negosiasi pada bos di tempat perjudian itu. Lalu tangannya di lepas oleh bos itu, dan di cengkram oleh Geof.
"Merta, aku sudah menjualmu padanya tuan Geof!" Kata bos itu membuat Merta sangat terkejut.
"Tuan, wanita ini milikmu sekarang!" Kata bos itu pada Geof.
Geof melebarkan senyumanya pada Merta.
"Kau milikku!" Bisik Geof pada Merta.
Geof langsung membawa merta masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan untuk mereka. Geof melemparkan tubuh Merta ke atas ranjang, dan ia segera membuka kancing bajunya dan tali pinggang di celananya. Merta sangat ketakutan saat melihat Geof yang akan menyerangnya. Merta duduk dan berusaha untuk memohon pada Geof.
"Tuan, tolong jangan lakukan ini padaku. Aku mohon!" Ucap Merta.
"Kau milikku! Apa kau tau berapa uang yang aku keluarkan malam ini untukmu?" Tanya Geof kesal.
Merta menggeleng.
"100 juta! Aku membayar 2 kali lipat dari uang yang kau ambil dari bos sialan mu itu." Kata Geof.
"Aku akan membalas semua penghinaanmu padaku waktu itu, Mertarya!" Sambung Geof.
Geof menyerang dan menimpa tubuh Merta memaksanya untuk melayani dirinya. Geof mencium paksa setiap inci tubuh merta yang sudah polos tanpa pakaian karena pakaian Merta di robek paksa olehnya. Merta mencoba berontak setengah mati untuk menghindar perbuatan Geof padanya, namun tenaga Geof lebih kuta darinya. Merta hanya bisa menangis sedih saat Geof berusaha untuk menggagahinya.
Isak tangis Merta terdengar di telinga geof yang membuatnya berhenti memaksa Merta. Geof berdecak kesal dan menjauh dari tubuh Merta. Geof melemparkan selimut kepada Merta agar menutupi tubuhnya yang sudah telanjang. Cepat-cepat Merta menutupi tubuhnya dan kembali menangis di atas ranjang.
"Diam!" Teriak Geof pada Merta.
Merta kaget saat mendengar teriakan Geof yang sedang kesal padanya. Masih terdengar isak tangis merta saat itu, Geof berjalan mendekati Merta dan mencengkram wajahnya dengan kasar.
"Aku bilang diam, jangan menangis lagi!" Ujar Geof menatap Merta dengan sinisnya.
"Kau datang kesini untuk wanita penghibur, kan? Lalu kenapa kau menangis, hah? Kau bahkan sudah terima uangnya." Kata Geof pada Merta.
"Mereka menjebakku! Mereka bilang aku hanya bekerja sebagai pengantar minuman di tempat ini, makanya aku mau menerima tawaran itu." Sahut Merta.
"Makanya jadi cewek jangan begok!" Teriak Geof.
"Aku butuh uang untuk biaya operasi ibuku." Ucap Merta kembali menangis.
Hati Geof bergetar saat mendengar perkataan Merta.
"Jadi karena itu dia datang kesini, aku pikir dia menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya." Gumam Geof dalam hatinya.
"Kau memiliki hutang 100 juta padaku, kau harus membayarnya!" Kata Geof.
"Aku hanya mengambil uang 50 juta, bukan 100 juta!" Sahut Merta.
"Apa kau mau aku mengembalikanmu pada bos itu dan menjualmu pada pria tua yang akan memperkosamu, hah?" Teriak Geof.
Merta kembali ketakutan saat Geof mengancam dirinya.
"Aku tak mau jadi *******!" Ucap Merta kembali menangis.
"Diamlah! Aku tak tahan mendengar tangisanmu." Kata Geof.
Kemudian Geof mengambil ponselnya dan berbicara lama disana. Merta hanya duduk diam disudut ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Selang beberapa jam, seorang pria datang dan memberikan selembar kertas pada Geof. Geof mendekati merta dan menyodorkan kertas itu.
"Tanda tangani kontrak kerja ini! Kau harus melunasi hutangmu menjadi pelayanku selama dua tahun." Kata Geof.
Geof melihat Merta ragu-ragu menanda tangani kontrak kerja itu.
"Kau ingin bekerja disini sebagai ******* selama dua tahun atau menjadi pelayanku selama dua tahun?" Tanya Geof lagi pada Merta.
"Maksudmu pelayan rumah tangga kan?" Merta balik bertanya.
"Ya iya lah!" Sahut Geof.
"Ya sudah! Dari pada jadi *******!" Kata Merta langsung menandatangani kontrak kerja itu.
Geof tersenyum licik saat melihat Merta menandatangani kontrak kerja dengannya.
"Aku akan membuatmu menderita, Mertarya! Hehehehe." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof memberikan baju ganti untuk Merta dan membawanya ke apartemen miliknya yang di berikan oleh Luky saat ulang tahunnya yang ke 17 tahun silam. Geof jarang menempati apartemen itu. sesekali ia datang hanya untuk membawa wanita untuk melayaninya atau jika ia sedang bertengkar dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1