MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
SI KEMBAR MENCARI CINTA


__ADS_3

Acara pertunangan pun di selenggarakan di salah satu hotel mewah di kota itu. Sore hari Teo menjemput Yasmin untuk bersiap-siap di salah satu ruangan yang disana telah menunggu perias yang professional untuk membuatnya cantik.


Acara pertunangan di selenggarakan pada malam hari. Yasmin yang menggunakan gaun milik mendiang ibunya itu tampak cantik bak bidadari setelah perias memolesnya dengan make-up. Azlan yang sudah terlihat sangat tampan dengan setelan jas yang rapi tampak gelisah menanti kehadiran Yasmin saat itu. Mata si kembar lagi-lagi melihat


kakaknya yang tak sabaran ingin melihat Yasmin.


“Kak, gelisah banget sih!" Kata Melia.


“Huh, lama banget sih!” Sahut Azlan.


“Sabar dikit dong! Santai, entar juga nongol.” Kata Melani.


“Hah, aku sudah dua hari tidak melihatnya! Aku merindukannya.” Gumam Azlan.


“Haadeehh, dasar! Cuma dua hari tak jumpa sudah gelisah.” Ujar Melani.


“Diamlah!” Ujar Azlan sewot.


Si kembar tertawa melihat sang kakak kesal pada mereka berdua di tambah lagi melihat wajah Azlan yang sangat tek sabaran ingin bertemu dengan Yasmin.


Tak lama kemudian Yasmin keluar dengan balutan gaun miliki mendiang ibunya. Ia terlihat sangat cantik sehingga semua mata tertuju padanya tak terkecuali Azlan yang tiada hentinya menatap kekasih pujaannya itu. Jantung Teo berdebar kencang saat melihat putrinya menggunakan gaun indah milik istrinya. Ia masih ingat kalau gaun itu adalah hadiah darinya saat Nani berulang tahun. Ia tak menyangka gaun itu masih terlihat sangat bagus dan awet, seperti rasa cintanya kepada Nani.


Acara pertunangan pun dimulai. Azlan melingkarkan sebuah cincin yang indah ke jari manis Yasmin. Semua tamu bertepuk tangan saat itu. Mereka juga tak lupa memberikan ucapan selamat pada Azlan dan Yasmin yang sudah resmi bertunangan.


Saat semua tamu sedang menikmati hidangan, ada seorang pria yang terus memperhatikan Melani. Dia adalah Angga yang jatuh cinta kepada melani saat pertama kali bertemu dengan Melani di rumah Abrar. Kala itu Angga berhasil memberikan keuntungan untuk perusahaan cabang Abrar. Sebagai tamu istimewa, Abrar mengundang Angga makan malam dirumah mereka. Saat itulah Angga jatuh hati pada Melani.


“Melani! Kak Angga sedang menatapmu!" Bisik Melia.


“Biarkan saja, hehehehe." Ucap Melani senang.


“Sepertinya dia suka padamu.” Kata Melia.


“Hehehe, itu akan lebih bagus lagi!" Sahut Melani.


“Samperin dong!" Kata Delina pada Melani.


“Kau pikir aku secentil dirimu?” Ujar Melani pada Delina.


“Kalau tidak mau, aku saja yang samperin!” Kata Delina beranjak dari bangkunya.


“Satu langkah kau menuju ke Angga, satu tendangan untukmu saat kita dirumah nanti.” Ancam Melani pada Delina.


“Hhhmmppp!” Delina kesal sambil memalingkan wajahnya dari Melani.


Saat Delina kesal kepada si kembar, ia di hampiri oleh Dandi yang ingin membujuk dirinya yang sedang ngambek. Delina tau Dandi akan menghampirinya, ia langsung pergi ke ruangan lain yang agak sepi. Dandi mengikuti Delina saat itu. Saat sudah menjauh dari keramaian, Dandi menarik tangan Delina.


“Sayang, kau masih marah?” Tanya Dandi.


“Iya, kakak menyebalkan!” Sahut Delina sewot.


“Aku minta maaf membuatmu kesal saat itu, tapi aku bersumpah wanita itu hanya temanku, dan cuma ada kau di hidupku." Kata Dandi.


“Huh, gombal!” Ujar Delina.


“Aku bersumpah demi tuhan!” Ucap Dandi.


Hening sesaat karena Delina masih terlihat kesal dengan Dandi.


“Sayang, maafin aku ya!" Ucap Dandi sambil berjongkok di hadapan Delina.


Dandi sangat tulus mencintai Delina yang terpaut jauh dengannya. Begitu juga Delina, walaupun terkadang suka centil kepda pria lain, namun di hatinya tetap ada Dandi. Melihat ketulusan dari Dandi, akhirnya Delina mau berbaikan dengan Dandi.


“Ya sudahlah, aku maafin! Tapi aku tak suka kalau kakak senyum-senyum dengan wanita lain." Kata Delina.


“Aku juga pernah kesal saat melihatmu bertingkah centil dengan pria lain.” Ujar Dandi.


“Jadi kakak tak suka?” Tanya Delina.


“Iya lah, pria mana yang tahan melihat kekasihnya centil dengan pria lain?” Ujar Dandi.


“Iya deh, aku tidak centil-centil lagi!” Kata Delina.


“Centil sih boleh, tapi hanya padaku saja!” Kata Dandi.


“Oke!” Sahut Delina mengedipkan matanya kepada Dandi.


“Aku kangen, tau!” Ucap Dandi.


“Cium!" Rengek Delina.


Dengan segera Dandi memberikan ciuman hangat kepada kekasihnya itu. Tak lama mereka berdua sedang bermesraan, tiba-tiba ada suara pria mendehem yang membuat Dandi dan Delina kaget. Mereka melihat ke segala arah, namun tak ada satupun orang disana.


“Setan kah?” Ucap Delina.


“Entahlah!” Sahut Dandi.


Abrar yang bersembunyi di balik tembok hanya bisa kesal melihat putrinya bergelayut manja pada asisten kepercayaannya itu.


“Bisa-bisanya si Delina mengatakan aku setan!” Gumam Abrar sembari mengintip anaknya yang sedang bermesraan dengan Dandi.


“Tak apa lah, Dandi pria yang baik!” Sambung Abrar lagi.


Masih di ruang acara pertunangan, Abrar kembali melihat Melani yang saling mencuri pandang dengan Angga. Kemudian matanya tertuju pada Melia yang terkekeh melihat Abrar yang sedang kebingungan.


“Ada apa?” Bisik Abrar pada Melia.


“Sepertinya Melani akan menyusul kak Azlan, hehehehe.” Kata Melia.


“Sama Angga?” Tanya Abrar.


“Eeyalah, masa sama monyet!" Celetuk Melia.


“Hhaaaiiihhh, mempunyai banyak anak perempuan membuatku depresi saat melihat mereka di dekati oleh pria lain." Gumam Abrar sedikit cemburu.


Kemudian Abrar melihat Melia lagi.


“Kau kapan lagi?” Tanya Abrar.


“Hahaha, tenang! Aku bakal buat papi jantungan nanti.” Kata Melia.


Saat sedang berbincang dengan Abrar, mata Melia tertuju pada seorang pria yang menjadi incarannya. Namun saat itu pria yang diincarnya tampak menggandeng wanita lain yang bahkan lebih cantik darinya. Hati Melia langsung menciut saat itu.


“Belum saja dimulai, aku sudah patah hati." Gumam Melia dalam hatinya.


Melia pun berusaha untuk menguburkan perasaannya dalam-dalam dengan pria itu. Ia berpikir pria itu bukan jodohnya. Tanpa mau melihat pria itu lagi, Melia beranjak pergi ke toilet.


Setelah keluar dari kamar kecil, Melia merapikan riasan make-up di depan cermin toilet. Kini Melia terlihat cantik dengan riasan tipis di wajahnya. Ia pun berlalu menuju keruang acara tadi. Saat berjalan ia berpas-pasan dengan pria itu yang kebetulan ingin ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita.


Melia tau itu pria incarannya, namun ia tak mau menatapnya. Tapi pria itu menatapnya bahkan menghentikan langkahnya. Pria itu menghadang Melia di tengah jalan.

__ADS_1


“Hei, menyingkirlah!” Kata Melia masih tak mau menatap pria itu.


“Apa kau salah satu wanita kembar yang menggangguku di pesta ulang tahun Herdinan?” Tanya pria itu.


“Iya!” Jawab Melia singkat.


“Apa kau yang bernama Melia?” Tanyanya lagi.


“Tau dari mana kau kalau namaku Melia?” Melia sontak kaget menatap pria itu.


“Hei, kalian memang kembar tapi aku bisa menandai kalian berdua dengan tahi lalat yang ada di ekor mata kalian!” Kata pria itu.


“Kau tak punya tahi lalat di ekor matamu, berarti kau Melia.” Sambungnya lagi.


“Kau…" Ucap Melia lebih kaget lagi.


“Aku tau kalian sedang mengerjai aku waktu itu! Kalian pikir aku pria bodoh yang tak bisa membedakan wanita kembar seperti kalian!” Kata pria itu lagi.


“Huh, menyingkirlah! Kau pria yang menyebalkan!” Ujar Melia kesal pada pria itu.


Melia terus melangkah kembali ke ruangan acara, sedangkan pria itu melihat melia dengan senyuman di bibirnya.


“Aku yakin, kau lebih manis dari pada gulali kapas. Hehehe." Ucap pria itu menatap Melia pergi.


Melani melihat wajah Melia yang sedang kesal saat itu.


“Kau kenapa?” Tanya Melani.


“Pria yang bernama Evan itu ternyata sangat menyebalkan.” Sahut Melia.


“Eeehh, bukannya dia pria incaranmu?’ Tanya Melani bingung.


“Aku berubah pikiran! Aku tak akan pernah mengincar pria songong sepertinya!” Kata Melia.


“Ddiihh, kemarin semangat sekarang malah kesal! Dasar aneh." Ujar Melani.


“Diamlah!” Balas Melia.


Di acara itu Melia terus cemberut karena kesal dengan Evan, sedangkan Evan terus saja menatapnya dari kejauhan. Melia tau Evan terus menatapanya.


"Huh, dasar pria gila! Sudah ada pasangan malah melirikku.” Gumam Melia semakin kesal dengan Evan.


Acara pertunangan pun usai, banyak tamu undangan yang sudah pulang. Tinggal keluarga Teo yang sedang menunggu Yasmin untuk membawanya pulang kerumah. Yasmin tau kalau ayahnya sedang menunggunya. Ia tak mau satu mobil dengan ibu tiri dan adik tirinya itu. Tak ada cara lain, Yasmin meminta Azlan untuk mengantarnya pulang.


“Yasmin, ayo kita pulang! Ayah akan mengantarmu." Ajak Teo pada putrinya itu.


Yasmin melihat wajah ibu tiri dan adik tirinya itu sangat membenci dirinya.


“Om, aku akan mengantar Yasmin! Om kembali saja duluan.” Sahut Azlan.


“Oohh, kalau begitu baiklah! Kami permisi dulu.” Kata Teo pada Abrar dan Balqis.


Tak lama kemudian Yasmin pun berpamitan pada calon mertuanya itu.


“Om, tante, aku juga pamit pulang ya!” Ucap Yasmin.


“Jangan panggil om dan tante lagi, panggil papi dan mami! Kau mengerti?” Kata Abrar.


“Iya!" Sahut Yasmin.


“Aku antar Yasmin dulu ya pi, mi." Kata Azlan.


“Iya, kalian berdua hati-hati di jalan ya.” Kata Balqis.


“Tak terasa kita akan mempunyai seorang menantu." Kata Balqis.


“Bukan hanya seorang tapi 12 menantu!” Sahut Abrar.


“Aahh iya, kau benar! Keluarga kita sangat ramai.” Kata Balqis.


“Itu karena hasil kerja kersaku, Balqis.” Sahut Abrar dengan songongnya.


“Hei..hei, aku yang bekerja keras telah melahirkannya, sementara kau hanya merem melek saja di ranjang!” Kata Balqis.


“Tapi kau suka kan? Hehehehe." Ujar Abrar.


“Balqis apa kau punya rencana untuk hamil anak yang ke 13?” Tanya Abrar dengan konyolnya.


“Mimpi saja sana! Sudah bangkotan masih saja menyuruhku hamil lagi!” Ujar Balqis sewot.


Si Abrar malah tertawa melihat Balqis kesal.


“Astaga, aku semakin mencintai si judes itu!” Gumam Abrar menatap Balqis.


 


*****


Azlan dan Yasmin sudah sampai dirumah. Mereka masih berdiri di depan pintu dan malam semakin larut dan dingin.


“Terima kasih sudah mengantarku pulang." Ucap Yasmin mengelus pipi Azlan.


“Pergilah pulang!" Kata Yasmin lagi.


“Kau tidak ingin kau temani?” Tanya Azlan.


Yasmin menggeleng.


“Tapi aku ingin menemani tunanganku ini.” Ucap Azlan.


“Dasar modus, bilang saja kau ingin memelukku saat tidur.” Ujar Yasmin yang tau kebiasaan Azlan kalau menginap dirumahnya.


“Hehehehe, oke! Selamat datang dirumah Yasmin!” Ujar Azlan langsung nyelonong masuk.


“Hei, aku belum  mengizinkanmu menginap disini." Kata Yasmin kesal.


“Aku tak perduli!” Sahut Azlan langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang.


“Aaahhh, acara tadi sangat melelahkan!” Ucap Azlan memeluk guling.


“Bersihkan dirimu dulu Azlan!" Kata Yasmin.


“Kau saja duluan mandi, nanti gantian!” Sahut Azlan.


Yasmin pun pergi mandi dan setelah selesai mandi ia melihat Azlan sudah terlelap dengan suara dengkuran yang tipis. Yasmin mendekatinya dan mengelus wajah tunangannya itu.


“Kelihatannya dia memang sangat lelah." Gumam Yasmin.


“Selamat tidur sayang!" Ucap Yasmin mencium kening Azlan.

__ADS_1


Lalu Yasmin berbaring di samping Azlan dan tak lama ia pun terlelap. Di seberang jalan rumah Yasmin tampak seorang pria asing sedang menatap rumahnya itu. Dia mengepalkan tangannya saat tau kalau Azlan menginap dirumah Yasmin malam itu. Tak lama kemudian pria bertopi dan menutup wajahnya dengan kain itu pergi dari rumah Yasmin. Ia berniat akan kembali kerumah Yasmin saat Azlan tak menemaninya.


 


*****


Di dalam kamarnya melani melihat Melia yang masih sibuk dengan ponselnya. Melani yang sangat penasaran mencoba untuk mengintip ponsel Melia. Terlihat Melia sedang mencari tau tentang pria yang bernama Evan itu di medsos.


“Katanya kau tak tertarik lagi dengannya, tapi masih saja mengintainya di medsos.” Ujar Melani.


“Aku penasaran dengan wanita cantik yang dia bawa tadi, itu saja kok.” Sahut Melia.


“Menurutmu wanita itu siapanya?” Tanya Melani.


“Sudah pasti kekasihnya!" Sahut Melia.


“Belum tentu juga kaleee, bisa jadi itu adiknya atau temannya.” Kata Melani.


“Dia anak tunggal, mana mungkin punya adik.” Kata Melia.


“Mungkin temannya! Just friend.” Kata Melani lagi.


“Huh, berisik.” Ujar Melia kesal.


One hour later


“Kenapa foto wanita itu tidak ada di medsosnya?” Gumam Melia.


“Sudah aku bilang wanita itu mungkin hanya temannya saja!” Sahut Melani.


“Walaupun berteman tapi setidaknya dia punya fotonya dong di medsos, sekedar foto saat mereka sedang hangout mungkin?” Kata Melia.


“Tau ah!" Sahut Melani yang sudah mengantuk.


Melia melihat Melani yang sudah nyenyak tertidur. Ia pun berhenti dengan ponselnya dan ikut tertidur di samping Melani.


Keesokan paginya Balqis membuka kamar Azlan yang tampak kosong dan seprainya juga masih terlihat rapi.


“Hah, dia menginap lagi di sana! Semoga saja mereka bisa menahan diri saat berdua.” Gumam Balqis.


Balqis melihat Abrar duduk di sofanya sambil membaca koran dan Melani sedang gelendotan dengannya. Balqis duduk di samping Melia yang sedang memainkan ponselnya.


“Papi, aku kerja di kantor cabang papi ya!” Pinta Melani.


“Tumben, kemarin waktu papi tawari kau menolaknya!” Sahut Abrar.


“Hehehe, itu kan kemarin pi.” Ujar Melani terus membujuk Abrar.


Abrar tau tujuan Melani untuk bekerja disana hanya untuk berdekatan dengan Angga. Abrar hanya diam saat Melani terus membujuknya. Ia ingin tau seberapa kuat keinginan Melani untuk mendekati Angga karyawan yang sering di bangga-banggakannya itu. Melani pindah ke sisi Balqis.


“Mi, bujuk papi dong.” Pinta Melani.


“Katakan tujuanmu disana." Kata Balqis.


Melani pun berbisik pada Balqis.


“Dasar anak edan! Hanya karena ingin mengejar pria.” Gumam Balqis kesal pada Melani.


“Memangnya mami tidak pernah mengejar papi?” Tanya Melani.


“Dddihh, aku mah ogah! Papimu yang mengejar-ngejarku dulu!" Kata Balqis.


“Hei, sembarangan saja kalau ngomong! Kau pernah mengejarku saat aku dirumah sakit. Kau sendiri yang mengungkapkan perasaanmu padaku!” Sahut Abrar.


Si kembar tertawa saat melihat orang tuanya berbalas pantun. Setelah selesai bersitegang, Abrar dan Balqis kembali mesra dan duduk berduaan.


“Hhhhaaahh, mereka selalu begitu!" Seru si kembar melihat orang tuanya.


Saat jam makan siang Melani hanya menggunakan kaos ketat dan celana pendek dirumahnya. Ia turun untuk makan siang bersama dengan keluarganya. Ia duduk si samping Melia yang sudah menahan tawanya dari tadi.


“Apaan lu? Dasar gila!” Ujar Melani sewot pada Melia.


Melani mengambil piring serta nasi dan ayam goreng kesukaannya.


“Melani, kau ingin bekerja di perusahaan cabang kan?” Tanya Abrar.


“Iya.” Sahut Melani tanpa mau melihat papinya.


Kemudian saat memasukan suapan pertamanya matanya tertuju pada pria yang duduk di samping Abrar. Lalu Melani menunduk lagi. Tak lama ia melihat sosok pria itu lagi. Dan betapa kagetnya dia melihat pria itu bukan Azlan melainkan Angga.


“Aaarrrgghhhh!" Teriak Melani kaget melihat Angga yang tersenyum padanya.


Bukannya membalas senyuman dari Angga, Melani malah kabur naik ke atas dan masuk kedalam kamarnya. Ia sangat malu bertemu dengan Angga dengan menggunakan pakaian santainya waktu itu. Melia terkekeh saat Melani baru sadar kalau Angga menatapnya sedari tadi.


Abrar menahan senyumnya saat melihat Melani kocar kacir berlari masuk kedalam kamarnya.


“Kejutan untukmu Melani, hehehehe.” Ucap Abrar dalam hatinya.


Balqis tau ulah Abrar yang sengaja untuk mempertemukan Melani dengan Angga. Namun ia hanya diam saat suaminya itu melakukan hal konyol untuk anak-anaknya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Balqis melihat Abrar melakukan hal gila untuk anak-anaknya.


Setelah selesai makan siang, Abrar masih menahan Angga untuk tetap tinggal dirumahnya. Lalu Abrar naik ke atas memanggil Melani di dalam kamarnya.


“Mel, apa kau tidak ikut bergabung bersama kami di bawah? Kita kedatangan tamu loh!” Kata Abrar dari balik pintu.


“Eeemmm, pi! Aku mendadak sakit gigi.” Sahut Melani dusta padahal dia malu setengah mati jika bertemu dengan Angga lagi.


“Pppffttt, dia malu.” Gumam Abrar.


“Ya sudah deh, si Angga disuruh balik ke kantor saja!" Kata Abrar.


Melani tak menjawab dan Abrar langsung turun kebawah menemui Angga. Tak lama berbincang Angga pun kembali bekerja di kantor milik Abrar. Tak lama Angga pergi Azlan pulang kerumah dan Balqis menatapnya dengan kesal.


“Hehehe, selamat siang mi!” Ucap Azlan salah tingkah.


Balqis langsung menarik telinga Azlan dan Azlan menjerit kesakitan.


“Ampun mi, aku hanya ingin menemani Yasmin saja kok.” Ucap Azlan.


“Kau apakan dia semalam?” Teriak Balqis.


“Tidak ada kok, cuma peluk doang!” Sahut Azlan.


“Azlan, dengarkan mami! Apa kau mau Yasmin di tuduh sebagai wanita yang tidak baik?” Tanya Balqis.


Azlan menggeleng.


“Pesan mami, kau jangan pernah menginap disana lagi! Apa kata tetangganya saat melihatmu keluar dari rumah Yasmin yang masih berstatus seorang gadis?" Kata Balqis lagi.


“Mamimu benar Azlan! Kalau Yasmin sampai di cemoohkan orang lain gara-gara ulahmu, kasihan dia! Dia gadis yang baik.” Sambung Abrar.

__ADS_1


“Iya deh, janji tidak nginap disana lagi." Sahut Azlan menurut pada orang tuanya.


Balqis dan Abrar sangat yakin bukan keinginan Yasmin untuk menahan Azlan dirumahnya, karena mereka sangat memahami sifat Azlan yang terkadang suka memaksa orang lain untuk memenuhi keinginanya.


__ADS_2