
Setelah hari pertunangan mereka di langsungkan, Azlan semakin lengket dengan Yasmin. Azlan yang tak perduli apapun terus lengket kepada Yasmin dimanapun mereka berada bahkan di lingkungan kantor juga demikian sehingga membuat Yasmin sedikit risih terhadapnya.
Azlan memenuhi janjinya kepada Abrar dan Balqis tak akan pernah menginap dirumah Yasmin lagi. Ia hanya berkunjung dan mengantar Yasmin pulang setelah pulang dari kantor.
Malam minggu Chika merengek kepada Azlan untuk ikut kerumah Yasmin. Azlan yang tak tahan dengan tangisan Chika hanya bisa pasrah dan menyeret adik bungsunya itu.
Tiba dirumah Yasmin.
“Halo kakak ipar!" Sapa Chika.
Yasmin tersenyum melihat Chika yang datang bersama Azlan. Azlan hanya bisa memutarkan bola matanya saat Yasmin menatapnya. Yasmin pun mempersilahkan mereka berdua masuk dan langsung membuatkan minuman untuk mereka berdua yang duduk di ruang tamu.
“Chika apa kau ingin makan sesuatu?” Tanya Yasmin.
“Apa ya?” Chika berpikir keras.
“Kau mau coklat? Ice cream? Atau permen?” Tanya Yasmin.
“Eeemmm, aku mau buah apel!” Sahut Chika.
“Hanya itu saja?” Tanya Yasmin.
“Iya, aku sedang diet, kata pacarku aku terlihat gendut.” Sahut Chika dengan polosnya.
“Apa?” Teriak Azlan dan Yasmin kaget mendengar Chika punya kekasih.
“Kau….kau….kau punya pacar?” Tanya Azlan sangat terkejut dengan adik bungsunya itu.
“Tentu saja! Aku berpacaran dengannya hampir 2 tahun, hehehe.” Sahut Chika.
Azlan langsung memijat kepalanya saat mendengar Chika berpacaran dengan tempo yang lama.
“Hahaha, kau sangat menggemaskan! Kau itu sedang masa pertumbuhan jadi kau harus banyak makan agar sehat.” Kata Yasmin pada Chika.
“Aku mau cemilan apel saja!” Ujar Chika yang penuh dengan pendirian.
“Baiklah! Tunggu sebentar ya.” Ucap Yasmin membuka kulkasnya.
Tak lama kemudian Yasmin membawa sepiring buah apel yang telah ia potong-potong. Yasmin mengajak Chika dan Azlan berbaring di ranjang sambil menonton televisi di dalam kamar. Posisinya si Chika sedang berada di tengah tengah Azlan dan Yasmin. Yasmin dan Chika serius nonton sementara Azlan terus saja berdecak kesal tak bisa mendekap dan mencium Yasmin.
Yasmin yang tau Azlan sedang kesal hanya tersenyum saat meliriknya. Selang beberapa jam kemudian Yasmin melihat Chika sudah tertidur pulas.
“Eeehh, dia tidur!” Kata Yasmin.
“Tentu saja ini sudah jam 10 malam!” Sahut Azlan.
Azlan menggendong adiknya dan membawanya masuk kedalam mobil. Kemudian Azlan kembali mendekati Yasmin yang masih berdiri di depan pintu. Azlan mendorong tubuh Yasmin sedikit masuk ke dalam rumahnya dan langsung memeluknya.
“Aku rindu padamu, Yasmin.” Ucap Azlan.
“Modus! Setiap hari kita bertemu.” Kata Yasmin mengalungkan tanganya ke leher Azlan.
“Huh, dasar tidak peka.” Umpat Azlan kesal.
“Iya, aku tau kau mau ciuman dariku kan?” Kata Yasmin.
Azlan mengangguk cepat dan Yasmin berjinjit mencium bibir Azlan. Azlan sama Yasmin mah doyan ciuman.
Apalagi si Azlan maunya nyosor mulu. Setelah puas Azlan pulang kerumahnya membawa Chika yang sudah tertidur lelap di dalam mobil. Yasmin mengunci pintunya dan masuk kedalam kamarnya.
Yasmin masih menatap layar televisinya malam itu, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tak lama kemudian ia mendengar suara ketukan pintu dari luar rumahnya.
“Siapa yang datang? Apa Azlan kembali lagi?” Gumam Yasmin melangkah kearah pintu.
Yasmin pun mengintip dari jendela rumahnya dan melihat seorang pria yang berbalik dengan pakaian kemeja berwarna abu-abu persis seperti yang Azlan pakai malam itu saat kerumahnya.
“Eeehh, Azlan kembali lagi?" Gumam Yasmin.
Yasmin pun membuka pintunya dan saat itu ia langsung didorong hingga terjatuh ke lantai. Ia mendongak ke atas dan melihat pria itu bukanlah Azlan melainkan sosok pria yang tak pernah ia kenal.
“Siapa kau? Mau apa kau?” Teriak Yasmin sambil ketakutan.
Pria itu langsung mengunci pintu rumah dan menyeret tubuh Yasmin masuk kedalam ruang tamu. Pria bertopi itu membekap mulut Yasmin dengan sehelai kain. Yasmin mencoba untuk menjerit namun suaranya tak keluar dengan keras. Yasmin terus meronta saat pria itu mendekapnya.
“Eeemmm….eeemm!” Pekik Yasmin.
“Diam!” Bentak pria itu.
Air mata Yasmin terus berlinang saat ia terus berusaha untuk berontak. Pria itu tak tahan dengan sikap Yasmin yang terus memberontak. Akhirnya pria itu memukul wajah Yasmin hingga sudut bibir Yasmin berdarah. Yasmin terus di pukuli hingga dia nyaris pingsan. Yasmin tergolek lemas di lantai. Pria itu duduk di sofa dan tampak menghubungi seseorang.
“Nyonya, aku sudah berada di dalam rumahnya." Kata pria itu menghubungi seseorang wanita.
Yasmin melihat pria itu membelakanginya.
“Bagaimana dengan bayaranku?” Kata pria itu lagi.
Yasmin terus melihat pria itu sedang sibuk dengan ponselnya.
“Aku harus kabur dari sini!” Ucap Yasmin dalam hatinya.
Kondisi Yasmin yang penuh dengan memar, hanya mulutnya saja yang tertutup oleh kain sedangkan tangan dan kakinya masih bisa ia gunakan untuk kabur secepatnya. Yasmin yang biasanya mengantungi kunci-kunci pintu rumahnya, langsung merogoh ke saku bajunya untuk memastikan kunci pintu belakang rumahnya.
Diam-diam ia bergerak dan berjalan mundur menuju dapur rumahnya. Pria itu masih tak menyadari kalau Yasmin kini sudah berada di pintu belakang rumahnya. Dengan sedikit gemetaran Yasmin membuka pintu belakang rumahnya. Pria itu mendengar suara pintu yang terbuka, ia langsung berlari menghampiri Yasmin yang hendak kabur saat itu.
“Wanita sialan!” Umpat pria itu sambil menarik rambut Yasmin dengan kuat.
Yasmin menjerit kesakitan saat rambutnya di tarik. Ia berbalik dan memegang tangan pria itu lalu menggigitnya dengan sangat kuat. Pria itu melepaskan tangannya dari rambut Yasmin dan meraung kesakitan tangannya berdarah saat di gigit oleh Yasmin. Yasmin berlari dengan kencang ke halaman belakang rumahnya. Pria itu sempat mengejarnya dari belakang. Kondisi yang sangat gelap membuat kaki Yasmin tersangkut akar pohon dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
Pria itu kembali menangkap lengan Yasmin, namun Yasmin dengan sekuat tenaganya berontak dan menendang ************ pria itu. Pria itu kembali berteriak kesakita memegangi selangkangannya. Yasmin terus berlari dalam gelap hingga akhirnya ia tiba di salah satu rumah warga yang tak jauh dari rumahnya. Yasmin cepat-cepat mengetuk pintu rumah itu guna meminta bantuan.
“Tuan, tolong aku!” Ucap Yasmin pada seorang tetangganya.
“Ada apa?” Tanya tetangganya panik.
“Ada pria jahat yang masuk ke rumahku!" Kata Yasmin.
“Astaga! Ayo cepat masuk kedalam.” Kata tetangganya itu.
Yasmin pun di bawa masuk kedalam rumah itu. Disana ia di suguhkan air hangat untuk menenangkan dirinya. Istri pemilik rumah itu membersihkan luka Yasmin. Yasmin menangis ketakutan mengingat apa yang telah di lakukan oleh pria jahat itu padanya. Setelah tenang Yasmin tertidur di kamar yang disediakan untuknya oleh tetangganya itu.
Keesokan paginya Azlan ingin mengajak Yasmin untuk sarapan bersama dirumahnya. Saat mengetuk pintu rumahnya tak ada sahutan dari dalam. Azlan bingung tak mendengar sahutan dari Yasmin. Tak lama seorang tetangga Yasmin menghampiri Azlan.
“Nak, apa kau mencari Yasmin?” Tanya seorang pria tua.
“Iya kek!” Sahut Azlan.
“Dia sedang berada dirumah pak Toni! Semalam ada pria jahat yang ingin membunuhnya.” Kata kakek itu.
Azlan langsung kaget saat mendengar kabar buruk dari Yasmin. Semua tetangga Yasmin sudah gempar dengan kejadian yang menimpa gadis yang tinggal sendirian itu. Azlan menuju ke rumah pak Toni dari arahan kakek tua tadi.
Setibanya disana ia melihat Yasmin yang sudah di penuh luka lebam di area wajah bahu dan lengannya. Azlan bertanya tentang kejadian yang menimpa tunangannya itu. Yasmin bercerita semuanya tentang yag ia alami semalam.
Azlan langsung membawa Yasmin pergi kerumah sakit untuk di obati. Dengan luka di lengannya yang lumayan parah, dokter menyarankan agar Yasmin menginap dirumah sakit untuk beberapa hari. Azlan menghubungi kedua orang tuanya dan juga calon mertuanya itu tentang kondisi Yasmin yang berada dirumah sakit. mereka segera datang untuk melihat kondisi Yasmin.
__ADS_1
“Ya tuhan, aku sangat kasihan padamu, Yasmin!” Ucap Balqis memeluk calon menantunya itu.
“Malam itu aku sangat ketakutan, mi!” Sahut Yasmin.
“Iya, tentu saja kau ketakutan! Apa kau melihat wajahnya?” Tanya Balqis.
“Aku hanya melihat bekas luka di dahinya, karena pria itu menggunakan kain untuk menutupi wajahnya.” Kata Yasmin.
Abrar dan Azlan berjalan menjauh dari Yasmin dan Balqis.
“Kau sudah menyelidikinya?” Tanya Abrar pada Azlan.
“Aku sudah menyuruh Dandi untuk menyelidikinya!” Sahut Azlan.
“Bagus, semoga kita menemukan orang yang ingin berbuat jahat kepada Yasmin.” Kata Abrar.
“Pi, bagaimana dengan Yasmin selanjutnya? Apa mungkin dia akan tetap tinggal disana sendirian?” Tanya Azlan.
“Bawa dia pindah ke apartemen kita! Disana jauh lebih aman untuknya, karena banyak penjaga disana.” Kata Abrar.
“Baiklah, aku akan coba bicara padanya nanti.” Kata Azlan.
“Biar papi saja yang bicara padanya nanti.” Sahut Abrar.
Tak lama Teo datang dengan istrinya melihat kondisi Yasmin yang di penuhi dengan luka lebam.
“Ya tuhan, apa yang terjadi padamu nak?” Tanya Teo sangat khawatir pada Yasmin.
“Aku tak apa-apa, ayah.” Sahut Yasmin.
“Nak, aku mohon tinggalah dirumah ayah!” Kata Teo.
“Tidak ayah! Ayah tidak perlu repot-repot untuk mengurusi aku.” Ujar Yasmin.
Teo terus membujuk putrinya itu sementara Balqis dan Abrar melihat wajah Elita yang cemberut menatap Yasmin.
“Hei, lihatlah! Wajah Elita itu sangat menyebalkan!” Bisik Abrar pada Balqis.
“Iya, aku sangat ingin mencakar wajahnya!” Sahut Balqis.
“Masih mending di cakar, aku ingin sekali mengelupaskan kulit wajahnya yang keriput itu.” Sambung Abrar.
Terjadi perdebatan antara Yasmin dan ayahnya tersebut. Yasmin terus menolak untuk tinggal satu atap dengan ibu dan saudara tirinya itu.
“Tuan Teo, maaf ikut campur dalam urusan keluargamu! Tapi aku rasa kau tak perlu memaksa Yasmin untuk tinggal bersamamu kalau ia tak mau! Aku akan membawanya tinggal di apartemen milikku, disana sangat banyak penjaga, jadi kau tak perlu khawatir." Kata Abrar.
“Apa kau mau Yasmin? Ini untuk keselamatanmu." Kata Balqis.
“Iya, mi!" Sahut Yasmin setuju.
Teo tak menyangka putrinya lebih senang tinggal di tempat orang lain dari pada tinggal dekat dengannya. Namun apa yang mau di kata, Yasmin yang menginginkannya. Dengan berat hati Teo mengucapkan banyak terima kasih kepada Abrar yang ingin melindungi putri tunggalnya itu.
Dandi terus menyelidiki pria jahat yang menyakiti Yasmin. Dandi yang banyak mengenal dengan pembunuh bayaran tau persis siapa yang memiliki bekas luka di kening. Namun Dandi tak mau terburu-buru untuk menangkap pria tersebut. Hampir dua hari ia terus mengikuti pria jahat itu. Hingga suatu hari ia melihat pria jahat itu sedang menunggu seseorang di sebuah café dekat sudut jalan.
Lama Dandi memperhatikan pria jahat itu dari kejauhan. Tak lama ia membelalakkan matanya dan melihat Elita duduk berhadapan dengan pria jahat itu. Dandi mengambil ponselnya dan terus mengambil gambar mereka berdua.
Di dalam café.
“Dasar bodoh! Katanya kau pembunuh professional, tapi nyatanya kau amatiran.” Kata Elita pada pria jahat itu.
“Aku tak perlu ocehanmu! Mana bayaranku?” Kata pria jahat itu.
“Kau gagal membunuhnya dan sekarang kau minta uang?” Teriak Elita.
“Jika kau tak mau membayarku, maka aku akan bilang kepada suamimu kalau kau berniat untuk membunuh anaknya!” Ancam pria jahat itu.
“Pergilah yang jauh! Kalau perlu tinggalkan kota ini.” Kata Elita.
“Tentu saja, nyonya!" Kata pria jahat itu.
Elita bergegas pergi keluar dari café itu dan masuk kedalam mobilnya. Dandi menghubungi beberapa anak buahnya untuk menculik pria jahat itu di rumahnya. Saat malam pria jahat itu terlihat sedang mengemasi barang-barangnya, ia berniat untuk pergi melarikan diri dari kota tersebut. Namun anak buah dandi bergerak cepat dan meringkus pria jahat itu lalu mambawanya kehadapan Azlan yang sudah menantinya.
Pria jahat itu melihat Azlan duduk sembari memegang sebuah pistol sambil menatapnya.
“Jadi kau yang ingin membunuh tunanganku?” Kata Azlan geram.
“Bu…bukan aku! Aku hanya di bayar oleh seseorang.” Kata pria jahat itu.
“Elita yang menyuruhmu?” Tanya Azlan yang sudah melihat semua foto yang diambil Dandi.
“Iya, dia yang menyuruhku untuk membunuh anak tirinya.” Jawab pria jahat itu.
“Beraninya kau menyentuh wanitaku!” Teriak Azlan sambil menembakkan pistolnya ke atas langit.
Pria jahat itu gemetar ketakutan.
“Ampuni aku tuan, jangan bunuh aku!” Ucap pria jahat itu memohon pada Azlan.
“Huh, sayangnya aku bukan seorang pembunuh sepertimu! Kalau aku seorang pembunuh kau sudah mati dari tadi.” Kata Azlan.
“Dandi, bawa dia ke kantor polisi!" Perintah Azlan.
“Baik bos!" Sahut Dandi.
Tak lama pria jahat itu di kurung dalam penjara, polisi pun bergegas datang kerumah Teo untuk menangkap Elita. Teo sangat bingung melihat polisi datang kerumahnya.
“Ada apa pak?” Tanya Teo pada polisi.
“Kami dapat perintah untuk menangkap nyonya Elita!” Kata polisi.
“Kenapa?” Tanya Teo bingung.
“Nyonya Elita menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh nona Yasmin.” Kata polisi itu.
Teo menatap penuh amarah kepada Elita yang sudah gemetar dari tadi. Dengan perasaan marah yang tak tertahankan lagi, Teo pun hendak mengimbaskan semua kekesalannya pada Elita. Namun polisi berusaha untuk mencegahnya. Naura menangis ketakutan saat melihat ibunya di pukuli oleh ayah tirinya.
“Tuan Teo, hentikan! Kalau kau terus berbuat kasar padanya maka kami akan menahanmu!” Teriak polisi itu.
Teo menghentikan aksinya yang hendak berbuat kasar kepada Elita. Polisi segera membawa Elita ke kantor polisi untuk di periksa. Naura masih menangis ketakutan melihat ibunya yang sudah di tahan oleh polisi.
“Ayah, tolonglah ibu! Aku tak ingin ibuku masuk penjara.” Teriak Naura pada Teo.
“Pergi dari hadapanku! Kau sama saja seperti ibumu yang selalu menindas Yasmin." Teriak Teo mengusir Naura.
“Kau tidak bisa mengusirku begitu saja!” Teriak Naura.
Kesal dengan sikap Naura yang selalu tak sopan padanya, Teo menyeret Naura dan melemparnya ke jalan.
“Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi disini, mulai saat ini aku tak punya hubungan apapun lagi denganmu! Aku akan segera menceraikan ibumu!” Kata Teo pada Naura.
Naura yang sudah diusir oleh Teo pergi kerumah keluarga dari ibunya itu. Sedangkan Teo pergi mengurus berkas-berkas untuk menceraikan Elita yang kini mendekam dalam penjara.
__ADS_1
*****
Yasmin kini tinggal di salah satu apartemen mewah milik Abrar. Disana Azlan sering mengunjunginya. Bahkan sesekali si kembar menginap dan tidur bersama Yasmin di apartemen itu di setiap hari libur bekerja.
Malam minggu saat Azlan sudah rapi untuk kencan dengan Yasmin, dihadang oleh si kembar, Delina dan juga Tantia.
“Hei, ada apa ini?” Tanya Azlan.
“Malam ini Yasmin milik kami! Kami akan bersenang-senang dengan Yasmin di apartemen.” Kata Delina.
“Huh, minggir!” Bentak Azlan.
“Tidak!” Seru mereka.
Kemudian si kembar mendorong tubuh Azlan dan mengikat tangan serta kaki Azlan yang terbaring di atas ranjang.
“Bye!" Seru semuanya setelah mengikat Azlan di atas ranjang.
“Woi, bukain woi!” Teriak Azlan.
Adik-adiknya yang resek itu pun bergegas pergi setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk menginap di tempat Yasmin. Saat hendak masuk kedalam mobilnya Jovanka melihat mereka.
“Kak mau kemana?” Tanya Jovanka.
“Menginap di tempat Yasmin.” Jawab si kembar.
“Ikut dong!” Pinta Jovanka.
“Cepat naik!” Sahut si kembar.
Akhirnya mereka pun tiba di apartemen yang di tempati Yasmin dengan membawa banyak makanan ringan dan minuman soda. Disana Yasmin juga sudah menyiapkan beberapa cemilan yang ia masak untuk mereka semua.
Kini mereka sudah berkumpul di dalam kamar sambil mengunyah cemilan dan menonton film horror yang mereka
download dari ponselnya. Terdengar teriakan yang keluar dari mulut mereka saat melihat adegan yang menyeramkan dari film itu.
Setelah puas menonton film, mereka berbincang masalah wanita. Si kembar sangat antusias saat menceritakan tentang Azlan yang mereka ikat di atas ranjang. Bukannya sedih sang kekasih di tindas, Yasmin malah ngakak parah saat melihat foto Azlan yang sempat di ambil oleh si kembar melalui ponselnya.
“Astaga, lucu sekali dia! Hahahahahaha.” Kata Yasmin tak henti-hentinya tertawa melihat foto Azlan yang sedang terikat di atas ranjangnya.
“Hehehehe, ini belum seberapa! Coba lihat foto yang ini.” Kata Melia menggeser layar ponselnya.
Terlihat foto-foto Azlan yang sedang di jahili oleh si kembar dengan wajah yang penuh coretan spidol. Yasmin semakin terbahak-bahak melihat foto-foto Azlan yang sering di tindas si kembar.
Yasmin meminta foto Azlan dikirim ke ponselnya. Setelah itu Yasmin mengirimkan foto tersebut kepada Azlan dengan emoticon tertawa.
Tring….
Ponsel Azlan berbunyi dan Azlan masih terikat di atas ranjang.
“Mami…..papi…….. Chika! Siapa saja tolong aku woi!" Teriak Azlan.
Si Chika yang mendengar langsung datang ke kamar Azlan dan tertawa melihat Azlan terikat.
“Kenapa kau malah tertawa, cepat panggil mami atau papi!" Teriak Azlan.
Chika pun berlari keluar.
“mami…papi, kak Azlan sudah gila! Dia main penculikan sendirian di kamar.” Kata Chika.
“Maksudnya?” Tanya Abrar bingung.
“Tangan sama kaki kak Azlan terikat seperti sedang diculik.” Kata Chika.
Abrar dan Balqis langsung berlari menuju kamar Azlan dan melihat Azlan yang terikat disana.
“Pppffttt..buahahahahahahahaha.” Pasutri konyol itu malah ngakak melihat Azlan.
“Huh, bantuin dong! Malah tertawa.” Ujar Azlan sewot.
Abrar dan Balqis pun membuka ikatan yang ada di tangan dan kaki Azlan. Azlan segera mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk dari Yasmin. Setelah melihatnya Azlan tiba-tiba berteriak kesal yang mengagetkan Abrar dan juga Balqis.
“Sialan kau Yasmin! Kau sama saja somplaknya seperti mereka!” Teriak Azlan kesal melihat foto dirinya saat terikat di atas ranjang yang dikirim oleh Yasmin.
“Hei, kau kenapa?” Tanya Abrar.
“Mami sama papi sih suka memanjakan mereka!” Celetuk Azlan.
“Azlan, mereka ingin dekat dengan Yasmin!” Kata Balqis.
“Lagipula kau sudah sering bertemu dengannya, berikan sedikit waktu untuk Yasmin menghabiskan waktunya bersama teman atau adik-adikmu! Mereka sebaya dengan Yasmin kan." Kata Abrar.
“Si kembar sebaya dengan yasmin tapi yang lain tidak!” Sahut Azlan.
“Tapi mereka umurnya tak jauh beda.” Sahut Balqis.
“Huh, ini kan waktu kencanku!" Gerutu Azlan.
“Sebentar lagi kau akan menikah dengannya, kau akan sering kencan denganya nanti.” Kata Abrar.
“Ya sudahlah.” Ucap Azlan mengalah dengan adik-adiknya.
Malam minggu yang kelabu itu hanya bisa di nikmati Azlan yang duduk bersantai di atas balkon kamarnya. Ia tampak memandangi foto-foto Yasmin yang ia abadikan saat mereka sedang bersama.
“Sebentar lagi dia akan menjadi milikku selamanya.” Gumam Azlan bahagia sambil menatap foto Yasmin.
*****
Di kamar apartemen suara para gadis itu saling melontarkan ledekannya. Mereka saling curhat tentang pria-pria yang sedang mendekati mereka. Saat itu mereka sedang membicarakan tentang Adrian yang sangat getol mengejar Jovanka.
“Jo, kau itu sudah berusia 17 tahun, kenapa kau tidak mencoba untuk berpacaran?” Kata Delina.
“Malas.” Sahutnya singkat.
“Hei, Adrian itu tampan loh! Wajahnya bule.” Kata si Melani.
“Iya sih, tapi dia terlalu berlebihan, aku jadi geli!” Kata Jovanka.
“Berarti kau juga suka padanya kan? Cie-cie.” Sahut Tantia.
Jovanka hanya tersenyum sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
“Kalau kau bagaimana dengan si kaku Herdinan?” tanya Melia pada Tantia.
“Dia seperti batang pohon, saat aku menciumnya dia malah pingsan! Menyebalkan!" Sahut Tantia.
“Apa dia pernah menolak tindakanmu padanya?” Tanya yasmin.
“Tidak, dia nurut saja!” Sahut Tantia.
“Berarti dia juga suka padamu, hanya saja dia masih malu-malu.” Kata Yasmin.
__ADS_1
“Benarkah?” Ucap Tantia dengan wajah sumringah.
Semuanya mengangguk membenarkan ucapan Yasmin.