MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
PAPA….., AKU INGIN KAWIN…!!!


__ADS_3

Tangan Melia gemetar.


“Jadi selama ini orang yang sering mengirim pesan cinta padaku dan menggangguku adalah Evan?” Gumam Melia.


“TTIIIIDDDAAAKKKKKKKK!” Teriak Melia di dalam kamarnya.


Melani yang hendak tidur menjadi kesal dan melempar wajah Melia dengan bantal.


“Brisik!” Teriak Melani kesal pada Melia.


Dengan tangan yang masih gemetar, Melia membalas pesan dari Evan.


“Membayarnya?’ Balas Melia.


Tring…..


“Iya dong! Jika kau mau kau boleh membayarnya dengan tubuhmu, hehehehe.” Balas Evan.


Melia sangat kesal saat membaca balasan pesan dari Evan.


“Dasar setan!” Teriak Melia kesal.


Melani kaget dan langsung melompat dari ranjang.


“Mana setannya? Mana?” Tanya Melani gemetar ketakutan.


“Apaan sih?” Ujar Melia menatap Melani dengan kesal.


“Kau bilang tadi ada setan kan?” Kata Melani.


“Kau setannya!” Sahut Melia.


Melani bengong sambil menatap Melia yang sedang kesal.


Keesokan paginya Azlan melihat Reyn sedang mengepak pakaiannya masuk ke dalam koper.


“Hei, kau mau kemana?” Tanya Azlan.


“Aku mau ke sumatera barat, ke kota padang cari gadis minang, aku nikahi dan aku akan makan daging rendang setiap hari hahahahahaha.” Jawab Reyn yang membuat Azlan tepok jidat.


“Astaga, tante Isabel ngidam apa sih saat mengandung dia?” Gumam Azlan.


“Simpan semua pakaianmu di dalam lemari kembali.” Kata Azlan.


“Kenapa?” Tanya Reyn bingung.


“Ikuti saja perintahku, dan aku tunggu kau di depan.” Kata Azlan.


Reyn yang masih terlihat bingung hanya menuruti kakak sepupunya itu. Tak lama Reyn masuk ke dalam mobil Azlan dan ikut kemana Azlan pergi. Reyn masih tampak bingung saat menunggu Azlan yang masih bekerja di kantornya. Reyn terlihat sangat bosan hingga ia memutuskan untuk menggoda sekretaris baru Azlan dengan gombalan mautnya itu.


Siang hari saat jam makan siang, Azlan mengajak Reyn dan juga dandi untuk pergi makan siang di salah satu rumah makan yang menyajikan makanan khas minang. Reyn mengalirkan air liurnya saat melihat rendang dan berbagai macam makanan yang ada di sana. Mereka pun makan dengan lahap tak terkecuali Reyn yang sedang mengunyah makanan kesukaannya itu dengan sangat lahap.


“Wah, kenyang!” Seru ketiganya.


Azlan, Reyn dan Dandi memang sangat hobi makan. Tak lama mata Azlan tertuju pada seorang gadis yang masih memakai seragam SMA masuk kedalam rumah makan itu.


“Reyn, ada cewek.” Kata Azlan.


Reyn pun menoleh ke gadis SMA itu yang baru saja pulang dari sekolahnya.


“Wah, cakep bener tuh cewek!” Seru Dandi menatap gadis keturunan minang itu.


“Hei, kau ingat Delina, *******!” Ujar Azlan pada Dandi.


Lalu Azlan melihat Reyn yang matanya telah di penuhi oleh gambar hati. Terngiang di telinga Reyn saat itu lirik lagu Melly Goeslaw.


Dan ku tlah jatuh cinta..


Kau wanita dan aku lelaki..


Perasaanku berkata…


I’m falling in love…..


Sang cinta mendekatlah…


Malam menyanggupi jadi saksi..


Hati kecilku berkata…


I’m falling in love…


I’m falling in love….


“Sadar Reyn, sadar!” Kata Azlan pada adik sepupunya itu.


“Ingat, tuan reyn, ingat! Nyebut……but…but…but.” Kata Dandi.


Reyn masih menatap gadis berpakaian SMA itu.


Pppplllaaaaakkkkkk………….


Azlan menjitak kepala Reyn agar ia tersadar.


“Kak, apa dia gadis minang?” Tanya Reyn pada Azlan.


Azlan mengangguk.


Tiba-tiba Reyn bangkit dan mendekati gadis itu.


“Hai, gadis cantik! Apa kau suku minang?” Tanya Reyn gugup.


“Iya, uda ini siapa?” Tanya gadis itu.


“Uda?” Reyn bingung sesaat, yang ada di pikiran Reyn adalah udang.


“Namaku bukan udang, tapi Reyn!” Sahut Reyn.


“Pppfftttt, buuaahahahahahaha.” Azlan dan Dandi meledak tertawa.


“Hahaha, maksudku, kakak ini siapa? Uda dalam bahasa minang artinya kakak laki-laki.” Kata gadis itu tersenyum.


Melihat senyuman manis gadis itu, Reyn semakin kehilangan akal.


“Apa kau mau menikah denganku?” Tanya Reyn yang membuat gadis itu kaget.


“Apa?” Kata gadis itu kaget.

__ADS_1


“Oohh, bukan…bukan, maksudku siapa namamu?” Tanya Reyn.


“Fatya.” Sahut gadis itu.


“Rendangnya enak!” Kata Reyn masih menatap Fatya.


Kemudian Azlan melihat jam di tanganya dan bangkit dari tempat duduknya menghampiri Reyn.


“Reyn, ayo kembali! Aku ada meeting penting jam 3 sore nanti.” Kata Azlan menarik kerah baju Reyn.


“Bye.” Reyn melambaikan tangannya pada Fatya.


Fatya hanya tersenyum saat Reyn melambaikan tangan padanya. Saat di perjalana menuju kantor Azlan melihat Reyn yang senyum-senyum sendiri.


“Apa kau sudah gila?” Tanya Azlan pada Reyn.


“Tidak sia-sia aku ke Indonesia, aku sudah bertemu dengan jodohku, kak.” Sahut Reyn.


“Dasar idiot!” Gumam Azlan.


Dandi hanya tersenyum saat melihat tingkah Reyn dari kaca spion.


“Kak, kakak sudah lama tau tentang gadis itu?” Tanya Reyn.


“Aku pernah melihatnya beberapa kali saat aku makan di sana, dia itu anak dari pemiliki rumah makan khas minang itu.” Jawab Azlan.


“Cantik kak! Sumpah.” Kata Reyn.


“Kemarin kau bilang yasmin juga cantik! Dasar tidak punya pendirian.” Ujar Azlan.


“Hei, kak Yasmin sudah jadi milikmu, lagian kak yasmin bukan gadis minang.” Sahut Reyn.


“Dasar.” Ujar Azlan.


 


 


 


*****


Disisi lain Melia mengendarai mobilnya menuju ke perusahaan Evan. Ia berniat untuk mengembalikan kartu kredit milik Evan. Setelah menunggu agak lama di ruang resepsionis, akhirnya ia di perbolehkan masuk ke dalam ruang kerja Evan. Ternyata di sana Melia juga melihat Rasti yang sedang duduk bersama Evan.


“Ternyata dia sedang bersama wanita ini.” Gumam Melia dalam hatinya.


Evan dan Rasti melihat Melia masuk dengan ragu-ragu.


“Masuklah Melia!” Kata Evan.


Meliapun masuk dan menghampiri Evan yang sedang duduk bersama Rasti.


“Aku kesini mau mengembalikan ini padamu.” Kata Melia.


“Kau sudah selesai menggunakannya? Jika kau mau kau pakai saja.” Kata Evan.


“Tidak! Nanti kau minta bayaran dariku, aku tak mau.” Sahut Melia.


Melia melirik Rasti saat itu dan Evan melihatnya. Evan tau melia salah paham dengan hubungan antara Rasti dan dirinya. Setelah memberikan kartu itu melia akan beranjak pergi dari ruangan itu, namun Evan menarik lengannya.


“Kau mau kemana?” Tanya Evan.


“Begini caramu setelah merampokku hingga ratusan juta?” Tanya Evan.


“Kau tidak ikhlas?” Melia balik bertanya.


“Tentu saja tidak, kau harus membayarnya!” Bisik Evan pada Melia.


Rasti tersenyum saat melihat Evan mengganggu Melia.


“Apa…apa maksudmu?” Tanya Melia panik.


“Aku ingin kau menjadi kekasihku!” Bisik Evan lagi.


“Hei, apa kau gila? Di depan kekasihmu kau malah memintaku untuk menjadi kekasihmu! Dasar pria murahan.” Ujar Melia kesal pada Evan.


“Siapa kekasihku?” Tanya Evan bingung.


“Wanita ini!” Jawab Melia sambil menunjuk Rasti.


“Pppffttt, hahahahahaha.” Evan dan Rasti tertawa.


“Apa? Apanya yang lucu?” Tanya Melia kebingungan.


“Rasti, jelaskan pada wanita unik ini!” Kata Evan.


Lalu Rasti mendekati Melia.


“Hai, aku rasti! Aku bukan kekasih Evan, tapi aku saudara tiri Evan, ibuku menikah dengan ayahnya Evan.” Kata Rasti pada Melia.


Melia terkejut saat mendengar kalau Evan memiliki saudara tiri yaitu Rasti, wanita cantik yang selama ini selalu berada di samping Evan.


“Apa kau sudah tau yang sebenarnya?” Tanya Evan pada Melia.


“Terus, apa hubungannya denganku!” Gumam Melia.


Evan memberi kode kepada Rasti untuk meninggalkan mereka berdua diruangan itu. Setelah Rasti keluar dari ruangan itu Evan kembali mendekati Melia.


“Jangan dekat-dekat!” Ujar Melia pada Evan.


“Hei, kau jomblo dan aku juga jomblo! Tidak ada masalah kan kalau aku mendekati wanita jomblo sepertimu?” Kata Evan.


Evan menarik lengan Melia lagi untuk mendekat padanya sehingga Melia menyentuh dada bidang Evan.


“Aku ingin kau membayarku dengan menjadi kekasihku! Jadi mulai sekarang kau adalah kekasihku! Aku tak mau melihatmu dengan pria lain kecuali itu keluargamu atau aku akan membunuh pria itu di depan matamu, apa kau mengerti Melia?” Kata Evan seenak jidatnya saja.


“Huh, dasar psikopat!” Ujar Melia.


"Terserah! Yang penting kau milikku sekarang.” Sahut Evan.


Kemudian Melia menengadahkan telapak tanganya pada Evan.


“Apa?” Tanya Evan.


“Kartu kreditmu!” Kata Melia.


“Kenapa?” Tanya Evan bingung.

__ADS_1


“Apa kau pelit dengan kekasih barumu, hah?” Teriak Melia.


“Hahaha, ambil semua yang kau mau!” Kata Evan memberikan semua isi dompetnya pada Melia.


Melia mengambil beberapa kartu yang ada di dompet Evan, setelah itu memberikan dompet Evan kembali.


“Bekerjalah lebih giat lagi, agar aku bisa puas berbelanja!” Bisik Melia setelah mencium pipi Evan dengan mesra.


“Baiklah sayang!” Sahut Evan bersemangat.


 


Melia pun pergi ke mall untuk berbelanja dengan menggunakan kartu kredit yang di berikan oleh Evan padanya.


Sementara itu Evan duduk diruang kerjanya sambil dengan hati yang berbunga-bunga sambil menatap foto Melia yang ia ambil dari medsos Melia.


“Wah, dia sangat cantik!” Gumam Evan sangat menggilai Melia.


 


 


*****


Lagi-lagi Abrar dan Balqis melihat melia pulang dengan barang belanjaan yang banyak.


“Apa kau baru saja merampok bank?” Tanya Abrar pada Melia.


“Bukan bank, tapi aku merampok Evan!” Sahut Melia.


“Evan yang mana?” Tanya Balqis.


“Evan si pengusaha mainan yang bekerja sama dengan papi.” Jawab Melia santai.


“Apaaaaaaa?” Teriak Abrar dan Balqis kaget.


“Kenapa?” Tanya Melia bingung.


“Apa kau tau dia orang terkaya kedua di Negara ini?” Tanya Abrar.


“Apaaaaaa?” Teriak Melia kaget.


“Kau tak tau?” Tanya Abrar lagi.


Melia menggeleng.


“Anak bodoh!” Ujar Balqis.


“Bagaimana mungkin dia terpikat padamu, secara evan itu terkaya nomor dua disini?” Tanya Abrar pada anaknya itu.


“Papi, aku ini cantik, pi!” Teriak Melia kesal.


“Evan pasti buta saat melirikmu!” Sahut Balqis.


“Mami, aku ini cantik! Dia suka padaku karena aku cantik!” Teriak Melia kesal pada kedua orang tuanya.


Melia menaiki anak tangga dengan perasaan yang kesal karena di remehkan oleh Abrar dan Balqis. Melia


juga membanting pintu saat masuk ke dalam kamar. Melia mendudukan dirinya di sisi ranjang.


“Pantas saja dia rela memberikan semua kartu kreditnya padaku, ternyata dia anak orang kaya! Heheheh, sudah kaya tampan lagi, beruntungnya diriku, hahaha.” Seru Melia kegirangan.


 


 


Setelah beberapa hari mengintai dan mencari tau tentang Fatya, Reyn menghubungi papanya yaitu Zidan di Itali.


“Papa, aku ingin kawin!” Seru Reyn dari teleponnya.


“Reyn, coba bicara yang baik dan benar.” Kata Zidan berusaha tenang.


“Papa, aku ingin kawin.” Ucap Reyn bicara dengan perlahan.


“APA KAU INGIN KUBUNUH, HAH?” Teriak Zidan mati kesal pada putranya.


“Kau bahkan belum menyelesaikan pendidikanmu disini, seenaknya saja kau bilang ingin kawin! Nikah dulu, bodoh! Baru kawin!” Ujar Zidan.


“Huh, aku tidak suka belajar!” Sahut Reyn sewot.


“Dia persis seperti belbel!” Gumam Zidan puyeng menghadapi putranya yang memiliki paras seperti dirinya namun sifatnya seperti istrinya.


“Cepat kau kembali ke Itali, atau aku akan menghapus namamu dari kartu keluarga!” Ancam Zidan.


“Huh, aku ingin kawin pa…


“CEEEEPPAAAATTT!” Teriak Zidan.


“Iya! Bawel amat sih.” Gerutu Reyn kesal.


Reyn ngedumel sendiri setelah menghubungi Zidan. Abrar dan Balqis yang melihat tingkah Reyn hanya bisa menghela nafas panjang. Malam harinya Reyn memutuskan untuk kembali ke Itali. Dengan derai air matanya yang lebay itu, Reyn mengucapkan salam perpisahan dengan semua sepupunya dan juga Abrar serta Balqis.


“Huhuhuhuhuhu, jangan rindukan aku ya, guys!” Ucap Reyn nangis bombai.


“Hei, kau ini seperti akan pergi ke dunia lain saja, lebay banget!” Ujar Delina.


“Kak Azlan, aku titip fatya ya kak!” Kata Reyn.


“Tidak mau!” Sahut Azlan.


“Hhhuuuwwaaa, kejamnya dirimu padaku!” Ujar Reyn tambah lebay.


“Reyn, saat pesta pernikahan Azlan, kau harus datang kesini lagi ya.” Kata Balqis.


“Tentu saja, tante!” Sahut Reyn.


“Om, aku pamit ya om!” Kata Reyn pada Abrar.


“Mau kemana, Reyn?” Tanya Abrar dengan tingkah konyolnya.


“Ke planet mars!” Sahut Reyn.


“Ngapain?” Tanya Abrar.


“Dugem!” Sahut Reyn.


“Hehehehehe.” Abrar terkekeh mendengar jawaban dari keponakannya itu.

__ADS_1


“Kalian berdua memang konyol sekali!” Gumam Balqis.


Reyn pun akhirnya kembali ke Itali untuk melanjutkan pendidikannya disana. Itupun karena di ancam oleh Zidan, kalau tidak Reyn akan terus menetap di Indonesia tanpa mau memikirkan pendidikannya.


__ADS_2