
Adrian sedang kasmaran dengan Jovanka melalui ponselnya. Herdinan melirik sang kakak yang sesekali mencium ponsel yang ada di genggamannya. Herdinan memandang Adrian dengan tampang jijik melihat tingkah konyolnya saat sedang menghubungi Jovanka. Herdinan menunggu kabar dari Tantia. Bolak-balik melihat ponselnya yang tampak sepi tak ada panggilan dari siapapun. Ia lantas membuka medsosnya dan mencari-cari nama Tantia disana.
"Eehh, sejak kapan dia unfollow aku?" Gumam Herdinan.
Tubuh Herdinan menjadi lemas saat tau kalau akunnya telah di unfollow oleh Tantia.
"Aku sangat yakin, dia kecewa karena aku mengacuhkannya saat di taman waktu itu." Gumam Herdinan lagi.
"Bukan hanya di taman, setiap kali kalian bertemu kau selalu saja mengacuhkannya." Sambung Adrian dengan tiba-tiba yang membuat Herdinan terkejut.
"Eeh, kampret! Bisa tidak kalau ngomong tuh jangan tiba-tiba? Aku kaget, tau!" Teriak Herdinan pada kakaknya.
"Hehehehe, begitu saja kaget." Sahut Adrian cengengesan.
Tak lama kemudian, Luisa menghampiri kedua putranya itu untuk mengajak mereka makan malam bersama di ruang tengah. Adrian merangkul pundak adiknya dan berjalan bersama menuju ruang makan. Herdinan masih dengan wajah yang cemberut karena kesal dengan ulah sang kakak yang konyolnya gak ketulungan.
"Kau kenapa lagi, Her? Belum bisa baikan sama Tantia?" Tanya Ferry.
"Papa dan kakak sama saja, selalu meledekku." Sahut Herdinan.
"Nanti mama yang bilang deh kalau kau sebenarnya juga suka sama dia." Kata Luisa.
"Jangan! Ini urusan pribadiku, biar aku saja yang tuntaskan." Kata Herdinan.
Adrian tak perduli dengan perbincangan di ruang makan itu. Ia terus makan makanannya yang tersaji di hadapannya. Adrian sangat hobi makan dan makan dengan porsi yang banyak, jauh berbeda dengan Herdinan yang tidak terlalu bernafsu untuk makan, ia hanya suka duduk di depan komputernya belajar dan belajar.
"Adrian, bagi dong tipsnya agar si Herdinan bisa mengejar Tantia." Kata Ferry.
"Maaf pa, aku lagi fokus makan jadi gak bisa di ganggu!" Sahut Adrian membuat Ferry kesal.
pppllleettaaakkk.........
Ferry memukul kepala Adrian dengan centong sayur.
"Her, hari sabtu nanti aku dan calon istri di masa depanku akan jalan-jalan ke mall, nanti kau ikut saja agar si Jovanka bawa Tantia." kata Adrian langsung dapat ide setelah di ketok pakai centong sayur.
"Beneran nih?" Tanya Herdinan antusias.
"Iya, tapi kau jangan cuekin dia lagi! Dan satu hal lagi, untuk segala sesuatunya saat kita ngedate bareng kau yang bayar, hahahaha." Sahut Adrian.
"Iya, gampang! Kau dan Jo mau beli motor tank juga bakal aku belikan." Kata Herdinan.
"Siapa yang bayar?" Tanya Ferry.
"Papa lah! Kan pakai kartu kredit dari papa." Sahut Herdinan.
Ferry tepok jidat pusing dengan tingkah kedua putranya, sementara kedua putranya itu cengengesan tertawa setelah menindas sang ayah.
"Hehehe, kalau mau punya menantu memang butuh biaya, sayang." Ucap Luisa pada suaminya.
Ferry hanya bisa menatap wajah istrinya yang ikut cengengesan di hadapannya.
Sabtu malam di kediaman kampung hawa, Jovanka sedang mengejar Tantia kemana pun dia pergi. Jovanka terus memohon agar Tantia mau ikut dengannya jalan-jalan ke mall bersama Adrian.
"Kak, ayo dong, ikut kita, plisss!" Pinta Jovanka pada Tantia.
"Maksudmu aku jadi obat nyamuk gitu? Enggak ah!" Sahut Tantia.
"Kak, temani aku dong! Sebentar lagi kak Adrian mau jemput." Pinta Jovanka lagi.
Terlintas di pikiran Tantia untuk berbuat iseng pada Jovanka yang memang berpenampilan tomboy.
"Hehehhe, aku mau kau pakai rok malam ini dan seterusnya sampai seminggu kedepan, kalau kau menuruti apa yang aku inginkan, maka aku akan ikut bersamamu ke mall" kata Tantia.
"Yah, jangan pakai rok deh, yang lain saja syaratnya." Pinta Jovanka.
"Deal or no deal?" Tanya Tantia.
"Deal!" Sahut Jovanka dengan wajah yang sangat terpaksa.
"Hehehehehe, aku menang!" Seru Tantia kegirangan.
Abrar dan Balqis melihat kedua putrinya hanya menghela nafas panjang sambil menggendong ketiga cucunya yang sangat aktif merangkak.
Tak lama kemudian, Adrian datang untuk menjemput Jo dan juga Tantia membawa mereka pergi jalan-jalan ke mall. Dengan persetujuan dari Abrar, Adrian pun memboyong kakak beradik itu masuk kedalam mobilnya. Mereka bertiga pun pergi menuju ke salah satu mall di kota mereka. Tiba disana Adrian mengajak kedua kakak beradik itu untuk makan malam di salah satu tempat restoran jepang, karena mereka tau kalau Tantia suka makan makanan khas jepang itu.
"Kak Adrian!" Panggil Herdinan yang ternyata sudah menunggu disana sedari tadi.
"Eeh, ada kak Herdinan juga?" Tanya Tantia pada Jovanka.
"Iya, hehehehe." Sahut Jovanka.
Mereka bertiga duduk di meja yang telah Herdinan pesan.
"Hai Tantia!" Sapa Herdinan pada Tantia.
"Hai kak." Sahut Tantia.
Malam itu sebenarnya Tantia sangat menyukai tampilan Herdinan yang terlihat lebih fashionable. Herdinan yang sekarang bukanlah Herdinan si kaku lagi. Tantia sangat terpesona melihat ketampanan Herdinan malam itu, namun Tantia berusaha untuk menutupi rasa terpesonanya.
__ADS_1
"Ehem." Suara Herdinan memberikan kode kepada Adrian dan Jovanka.
Sepasang kekasih itu tau kalau Herdinan memberi kode pada mereka.
"Hahahaha, tiba-tiba aku sangat ingin makan makanan timur tengah!" Kata Adrian.
"Eeh, memangnya di mall ini ada restoran timur tengah?" Tanya Tantia bingung.
"Hahahaha, ada kok!" Sahut Adrian asal bicara.
"Ayo calon istriku di masa depan, kita makan di restoran timur tengah saja." Kata Adrian langsung menyeret Jovanka untuk keluar dari restoran jepang tersebut.
"Hei, tunggu aku!" Kata Tantia hendak bangkit dari kursinya.
"Tantia, kita makan disini saja, kau suka makanan jepang kan?" Tanya Herdinan menahan Tantia pergi.
"Tapi bukannya kita makan barengan mereka." Ucap Tantia.
"Sudahlah, kita makan disini saja." Kata Herdinan sedikit memaksa Tantia.
Kepalang basah, Tantia tak melihat Adrian dan Jo lagi di restoran itu. Mau tak mau Tantia pun duduk kembali dan makan bersama Herdinan. Herdinan memesan banyak makanan jepang yang Tantia sukai. Ia memesan Udon, Ramen, Tokoyaki, Sushi, Tempura dan juga onigiri.
"Kak, ini terlalu banyak! Kakak kan tipe orang yang tidak hobi makan." Kata Tantia yang banyak mengetahui sifat Herdinan.
"Kalau makan bersamamu aku akan makan yang banyak." Sahut Herdinan.
Semburat merah terlihat jelas di pipi Tantia saat Herdinan mencoba untuk memberikan gombalan padanya.
Herdinan melihat garis senyuman di bibir Tantia.
"Yes! Aku berhasil membuatnya tersenyum." Ucap Herdinan dalam hatinya.
Mereka berdua pun menyantap hidangan khas jepang itu sambil berbincang mengenai aktiftas pendidikan mereka yang kebetulan satu universitas. Hingga akhirnya obrolan itu membicarakan wanita yang terlihat dekat dengan Herdinan di kampus. Herdinan tersedak saat Tantia mengatakan wanita itu adalah kekasihnya. Setelah minum, Herdinan pun menjelaskan siapa sebenarnya wanita itu.
"Dia itu bukan kekasihku! Dia adalah teman dekat sekaligus kekasihnya sahabatku di kampus. kebetulan aku memiliki mata kuliah yang sekesal dengannya, jadi kami terlihat sering bersama hanya untuk mengerjakan tugas dari dosen." Sahut Herdinan.
"Oh, begitu." Sahut Tantia.
Herdinan menatap Tantia yang sudah selesai makan.
"Apa aku harus ngomong disini saja ya?" Gumam Herdinan dalam hatinya ingin nembak Tantia.
"Tapi kalau ngomong disini sepertinya tidak cocok." Gumam Herdinan lagi sambil melihat sekeliling restoran.
Herdinan mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Tantia saat itu. Setelah selesai makan, Herdinan dan Tantia mencari keberadaan Adrian dan juga Jovanka. Herdinan pun menghubungi Adrian. Ternyata Adrian sudah keluar dari mall itu dan pergi ke tempat yang lain membawa Jovanka bersamanya. Tantia sedikit kesal dengan ulah Adrian dan Jovanka yang meninggalkannya bersama Herdinan, pria muda yang ingin ia jauhi agar perasaan cinta terhadapnya cepat memudar.
"Kak, kita pulang saja." Kata Tantia pada Herdinan.
Di area parkir Herdinan dan Tantia jalan berdampingan. Saat itu di area parkir tampak sunyi, mereka mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam mobil. Tantia hendak memakai safety belt, Herdinan menatap Tantia dan menghentikan aktifitasnya.
"Tantia, ada ingin aku bicarakan padamu." Kata Herdinan.
"Ada apa kak?" Tanya Tantia.
"Aku suka padamu, Tantia." Ucap Herdinan yang sejak lama ingin Tantia dengar dari mulutnya.
"Apa?" Tanya Tantia terkejut.
"Iya, aku suka padamu sejak kecil saat kita pertama kali bertemu." Ucap Herdinan lagi.
Tantia masih tak percaya apa yang ia dengar dari mulut Herdinan. Ia masih menatap pria yang baru saja menyatakan cinta pada dirinya.
"Maaf soal yang di taman waktu itu, aku mengacuhkanmu karena malu dengan tampilanku yang tidak pakai sendal." Kata Herdinan.
"Jadi, cuma gara-gara sendal!" Ucap Tantia.
Herdinan mengangguk.
"Hhuuwwwaaaaa!" Tantia nangis.
"Ada apa? Kenapa kau menangis??" Tanya Herdinan panik di dalam mobil.
"Aku pikir kakak tak suka padaku dan cintaku bertepuk sebelah tangan selama ini, hhuhuhuhuh." Jawab Tantia dalam isak tangisnya.
"Tidak Tantia, bukan seperti itu! Kau kan tau kalau aku ini pria kaku, jadi saat kau sangat agresif padaku, aku hanya kaget dan menghindar darimu, tapi sebenarnya aku juga ingin dekat denganmu dulu." Sahut Herdinan.
"Apakah aku seagresif yang kakak bilang?" Tanya Tantia seketika berhenti menangis.
"Iya lah! Setiap bertemu kau selalu saja memeluk dan menciumku tiba-tiba." Jawab Herdinan.
Tantia yang belum menggunakan safety belt langsung beranjak dan duduk di atas pangkuan Herdinan.
"Eeh, kenapa duduk diatas pangkuanku?" Tanya Herdinan kaget.
"Karena aku dan kau sudah resmi pacaran!" Seru Tantia ngomong seenak jidatnya.
Tantia dan Herdinan saling tatap.
"Tantia kau tidak menciumku? Biasanya kau selalu menciumku dengan tiba-tiba." Ucap Herdinan malu-malu.
__ADS_1
"Yakin nih cuma mau di cium saja? Tidak mau yang lain kah?" Tanya Tantia menggoda Herdinan.
"Hei, jangan menggodaku! Walaupun aku kaku, aku tetaplah pria normal, jangan sampai aku membuatmu hamil dengan segera." Ancam Herdinan.
Tantia langsung turun dari atas pangkuan Herdinan dan kembali duduk manis disamping dengan menggunakan safety bletnya.
"Kenapa tidak jadi cium sih?" Teriak Herdinan gondok.
"Tidak jadi deh, entar kakak buat aku hamil dengan segera, aku bisa mati di bunuh sama papi." Ucap Tantia takut sama amukan Abrar.
Herdinan tertawa mendengar jawaban dari Tantia yang ketakutan dengan amukan Abrar jika hal itu sampai terjadi padanya. Herdinan menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya untuk mengantar Tantia pulang kerumah. Sementara Adrian sedang mojok di salah satu taman tempat mereka jogging waktu itu bersama dengan Jovanka.
"Jo, cium dong!" Pinta Adrian.
"Tidak mau!" Sahut Jovanka.
"Huh, kita hampir setahun berpacaran tapi kau tetap saja tak mau dicium! Apes banget aku." Ujar Adrian.
Jovanka melihat tampang Adrian yang sedikit menyedihkan saat itu.
"Ya sudah deh boleh, tapi sedikit saja." Kata Jovanka.
"Hehehehe, gitu dong." Sahut Adrian senang.
Adrian merangkul pinggang Jovanka dan mendekatkan tubuhnya.
"Permisi ya mbak! Mau nyosor dulu." Ucap Adrian dengan tingkah konyolnya.
Adrian memberikan kecupan pada Jovanka. Pastinya ini bukan kali pertama buat Adrian mencium Jovanka, dari lahir si Adrian udah nyosor si Jovanka mulu. Si Adrian sudah jatuh cinta sama Jovanka saat Jovanka masih bayi. Alasan dia nyium-nyimu si Jovanka waktu masih bayi karena gemas padanya, padahal mah dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama sama Jovanka.
Jovanka berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Adrian, namun Jovanka merasa pelukan Adrian padanya semakin erat.
"Kak, lepas dong!" Kata Jovanka.
"Masih pengen cium, Jo!" Sahut Adrian.
"Aku bilang kan sedikit saja tadi." Kata Jovanka protes.
"Tapi aku maunya banyak! Hehehehe." Sahut Adrian ******* bibir Jovanka dengan paksa.
Jovanka yang awalnya berontak akhirnya luluh juga sama keinginan Adrian. Tidak bisa di pungkiri Jovanka juga suka pada tingkah-tingkah mesum Adrian padanya.
Malam minggu itu masih panjang apalagi bagi pasangan suami istri yang sedang berusaha untuk menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukannya. Azlan dan Yasmin pergi makan malam romantis di salah satu hotel mewah. Dengan lilin yang menyala di tengah-tengah meja, Azlan mengucapkan kata-kata cintanya pada Yasmin.
Yasmin semakin bahagia memiliki suami yang sangat mencintainya.
"Sayang, ayo kita dansa." Ajak Azlan.
"Baiklah." Sahut Yasmin.
Azlan dan Yasmin pun berdansa sambil berpelukan dan suasana malam itu sangat romantis bagi pasangan yang sudah memiliki tiga orang anak. Azlan dan Yasmin saling menatap dengan tatapan mesra. Azlan menundukkan wajahnya sedikit untuk mencium bibir istrinya. Namun tiba-tiba Yasmin menghalanginya.
"Tunggu!" Kata Yasmin.
"Kenapa, sayang?" Tanya Azlan menahan kesalnya.
"Aku kebelet pipis, hehehe." Jawab Yasmin.
"Tidak bisa di tahan, kah?" Ujar Azlan.
"Huh, dasar bodoh! Apa kau mau aku ngompol disini?" Sahut Yasmin.
Yasmin pun pergi ke toilet untuk buang air kecil. Tak sengaja Fatur berada di hotel itu juga. Ia pun melihat Yasmin yang terburu-buru pergi ke toilet. Senyuman licik tersungging dari bibirnya merencanakan sesuatu. Di dalam toilet Yasmin sekaligus memperbaiki riasannya sedikit agar terlihat cantik di depan suaminya. Yasmin keluar dari toilet dan terkejut melihat Fatur berdiri di hadapanya.
"Hai yasmin." Sapa Fatur ramah pada Yasmin.
Tak ingin membalas, Yasmin langsung pergi menghindar dari Fatur. Fatur mencoba mengejar dan menahan Yasmin di sana.
"Astaga, kalau Azlan tau ada Fatur disini, aku tak tau apa yang akan terjadi nanti." Gumam Yasmin terus berjalan cepat menghindari Fatur.
"Yasmin, tunggu!" kata Fatur menarik lengan Yasmin.
"Ada apa sih? Aku terburu-buru." Sahut Yasmin.
"Aku hanya ingin ngobrol sebentar denganmu, itu saja." Kata Fatur.
"Aku tak punya waktu!" Sahut Yasmin ketus.
Kemudian Fatur melirik kearah Azlan yang berjalan mendekati mereka berdua. Fatur tiba-tiba menarik leher Yasmin dan mencium bibirnya di hadapan Azlan. Yasmin terkejut dan meronta, ciuman terlepas lalu Yasmin melayangkan tanganya menampar wajah Fatur dengan keras.
Azlan tiba dengan kepalan tangan yang singgah di tulang pipi Fatur. Yasmin terkejut melihat Azlan memukul Fatur serta menghajarnya habis-habisan. Saat itu amukan Azlan tak terbendung lagi, karena melihat Fatur berani mencium istrinya. Fatur sempat melawan apa yang Azlan lakukan padanya, namun karena Azlan sudah sangat emosi ia menjadi brutal dan berhasil membuat Fatur terkapar tak berdaya di lantai. Kericuhan itu akhirnya di lerai oleh pihak keamanan hotel yang melihat Azlan dan Fatur sedang baku hantam. Tubuh Yasmin bergetar melihat batapa brutalnya Azlan memukuli Fatur di hadapannya. Ia tek pernah menyangka kalau Azlan yang sering bersikap konyol akan sebrutal itu bila ia marah.
"Beraninya kau mencium dan menyentuh istriku!" Teriak Azlan pada Fatur.
"Hehehe, teruslah dengan emosimu, memang itu yang aku inginkan." Sahut Fatur.
"Dasar brengsek kau!" Teriak Azlan lagi hendak menghabisi Fatur yang sudah dalam papahan para pengamanan hotel.
"Azlan, sudah! Aku mohon jangan berkelahi lagi." Ucap Yasmin yang tak ingin Azlan membunuh Fatur.
__ADS_1
Azlan tak sanggup melihat linangan air mata Yasmin yang akan menetes dari pelupuk matanya. Dengan mendengus kesal, Azlan menarik tangan Yasmin dan membawanya kembali pulang. Makan malam yang romantis sirna karena gangguan dari Fatur yang memang berniat untuk mengganggu biduk rumah tangga Azlan dan Yasmin.