
Geof terus mendekatkan wajahnya pada Merta. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Merta yang sedang tertidur pulas itu. Saat mengecup bibirnya, tiba-tiba tangan Merta merangkul leher Geof yang membuatnya sedikit kaget.
"Pangeran, kau sangat tampan." Racau Merta dalam tidurnya.
Geof berhenti mencium Merta dan menatapnya.
"Pangeran, cium aku lagi." Racau Merta lagi dalam igaunya.
"Hehehehe, kau yang minta, Merta!" Gumam Geof sambil terkekeh licik.
Geof mencium bibir Merta lagi namun kali ini bukan hanya ciuman saja yang ia lakukan, tapi ia juga meraba-raba tubuh Merta yang masih tertidur lelap saat itu. Ciuman Geof semakin panas dan tangannya juga semakin liar yang sudah masuk kedalam baju Merta. Geof menyentuh tubuh Merta dengan gemas. Merasakan tubuhnya seperti sedang di gerayangi, Merta tersentak bangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Geof menghentikan ciumannya dan saling tatap dengan Merta.
"Pangeran, kau sangat tampan." Ucap Merta belum menyadari apapun.
Geof tersenyum licik pada Merta.
"Pangeran, kenapa wajahmu berubah menjadi pria yang menyebalkan itu?" Tanya Merta lagi masih belum menyadari.
"Siapa pria yang menyebalkan itu?" Tanya Geof seraya menaikkan sebelah alis matanya.
"Geof." Jawab Merta.
Lalu Merta melebarkan matanya dan kaget lalu mendorong tubuh Geof yang mendekapnya dengan erat. Akibat dorongan Merta yang terlalu kuat, Geof jatuh dari sofa dan terduduk di lantai. Merta semakin kaget karena geof jatuh ke lantai.
"Kenapa kau mendorongku, hah?" Teriak Geof kesal.
Merta bangkit dari sofa dan berdiri menghadap Geof. Merta berusaha mengingat kembali apa yang terjadi barusan antara dirinya dan Geof.
"Kau menciumku saat aku tertidur kan?" Teriak Merta kesal.
"Kau sendiri yang memintanya! Apa kau tidak ingat?" Balas Geof.
"Aku....aku yang minta?" Gumam Merta bingung.
"Tadi saat kau sedang tidur kau bilang begini, Geof ciumlah aku lagi!" Kata Geof mencoba mengelabui Merta.
"Tidak mungkin! Tadi aku memimpikan seorang pangeran yang sedang menciumku, bukan kau!" Teriak Merta kesal.
"Pengeran dari hongkong! Di apartemen ini aku lah pangerannya, jadi kau memang minta aku menciummu tadi." Sahut Geof.
"Pangeran apa kau? Pangeran katak?" Ujar Merta.
"Iya, aku pangeran katak yang telah berubah menjadi pria tampan setelah mencium bibir seorang putri cantik hehehe." Sahut Geof cengengesan.
"Dasar pria gila!" Umpat Merta beranjak pergi masuk kedalam kamarnya.
"Mau kemana, woi? Aku belum selesai nonton, temani aku!" Teriak Geof pada Merta.
"Aku tidak perduli! Aku mau tidur." Sahut Merta tak perduli dan langsung masuk kedalam kamar.
Geof terkekeh melihat merta kesal padanya. Ia kembali duduk di sofa sambil senyum-senyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Merta.
Di dalam kamarnya, merta berbaring dengan wajah yang sangat merah. Ia mengingat apa yang di lakukan Geof padanya. Ia mengingat kalau Geof mencium dan meraba tubuhnya tadi. Pipinya merah merona mengingat kejadian saat di ruang tengah tadi.
__ADS_1
"Huh, dasar pria yang menyebalkan! Aku bisa gila jika tinggal seatap dengannya selama 2 tahun." Gumam Merta menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Keesokan harinya, merta bangun dan membersihkan seluruh ruangan dan menyiapkan sarapan untuk Geof yang akan menjadi majikannya selama dua tahun. Geof masih tidur di dalam kamarnya, padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Tak lama kemudian, Merta mendengar bel pintu berbunyi. Ia pun segera membuka pintu apartemen miliki Geof itu.
"Anda cari siapa tuan?" Tanya Merta pada Boy yang datang mencari Geof.
"Kau siapa?" Tanya Boy pada Merta.
"Aku pelayan tuan Geof." Jawab Merta.
"Pelayan secantik ini, yang benar saja!" Gumam Boy dalam hatinya menatap Merta.
"Apa Geof ada di sini?" Tanya Boy.
"Ada, dia masih tidur!" Jawab Merta.
"Aku ada perlu penting denganya, tolong bangunkan majikanmu!" Kata Boy.
"Baiklah tuan, silahkan masuk." Merta mempersilahkan Boy masuk kedalam.
Merta menuju kamar geof untuk membangunkannya. Merta mengetuk pintu kamar Geof perlahan sambil memanggilnya.
"Tuan." Panggil Merta pada Geof.
"Berisik!" Teriak Geof.
"Tuan, ada tamu yang ingin bertemu denganmu! Katanya ada urusan penting." Kata Merta berusaha untuk membangunkan Geof.
Sambil berdecak kesal Geof bangun dan membuka pintu kamarnya. Pipi Merta memerah melihat Geof telanjang dada saat itu. Merta menundukkan pandangannya. Geof tersenyum nakal.
"Huh, dasar gila!" Ujar Merta.
"Hahahahaha." Geof tertawa lebar melihat Merta kesal dan pergi menuju dapur.
Dengan rambut yang masih acak-acakan, Geof pergi menuju ruang tamu dan kaget melihat Boy menunggunya duduk di sofa.
"Ternyata kau! Mau apa kau menemui aku?" Kata Geof ketus pada Boy.
"Hei, kau masih marah padaku karena aku bertunangan dengan Gaby?" Tanya Boy pada Geof.
"Hei, kau tau aku sedang mengejar Gaby saat itu, tapi kau malah main belakang denganku." Ujar Geof kesal.
"Geof, kita bersahabat dari kecil, hanya gara-gara satu wanita kau mau bermusuhan denganku? Lagian keluarga kami yang ikut andil dalam pertunangan kami." Kata Boy.
"Cepat katakan! Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Geof pada Boy.
"Aku ingin menjalin bisnis dengan perusahaan keluargamu, kata om Luky itu urusanmu, makanya aku datang mencarimu." Sahut Boy.
"Aku sedang malas!" Ujar Geof.
'Ayo lah kawan! Mau sampai kapan kau akan begini terus? Kasihan orang tuamu." Kata Boy.
Geof terdiam sejenak mencerna perkataan Boy.
__ADS_1
"Pergilah! Aku akan menemuimu di kantor papaku." Kata Geof yang akhirnya menyetujui untuk menjalis urusan bisnis dengan Boy.
Boy tersenyum pada Geof.
"Hei, siapa pelayan barumu itu? Apa dia memang benar-benar seorang pelayan? Atau dia pelayan hanya untuk di ranjanmu saja? Hehehe." Tanya Boy.
"Mau tau saja urusanku! Pergi sana, tunggu aku di kantor." Ujar Geof kesal pada Boy.
Boy berlalu sambil cengengesan. Geof masuk ke kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya lagi. Ia menatap langit-langit kamarnya.
"Tak terasa usiaku sudah 27 tahun sekarang! Sudah cukup main-mainnya, sekarang waktunya aku membalas kebaikan orang tuaku." Gumam Geof dalam hatinya.
"Hah, tapi aku sangat malas, aku lebih suka bermalas-malasan dirumah saja! Itu lebih menyenangkan dari pada menatap layar laptop di ruang kantor." Gumam Geof lagi.
Di dapur Merta melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 10. Tadi saat Geof dan Boy sedang berbincang di ruang tamu, tanpa sengaja Merta mendengar perbincangan mereka.
"Si pria itu jadi tidak sih pergi ke kantornya? Apa jangan-jangan dia kembali tidur?' Gumam Merta dalam hatinya.
Merta pun berjalan menuju kamar Geof, ia kembali mengetuk pintu kamar Geof.
"Tuan! Tuan Geof." Panggil Merta.
"Hheemmmmm?" Sahut Geof masih memejamkan matanya.
Ternyata Geof tidur lagi di kamarnya setelah Boy pergi dari apartemennya.
"Tuan, tadi aku dengar katanya kau ingin pergi ke kantor, ada janji dengan temanmu yang tadi." Kata Merta mengingatkan Geof.
Geof membuka matanya lebar-lebar dan melompat turun dari ranjang. Ia langsung berlari ke kamar madi.
"Kenapa tidak bangunkan aku dari tadi sih?" Teriak Geof pada Merta yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Dasar pria gila, dibangunkan salah, tak di bangunkan juga salah, menyebalkan!" Merta ngedumel sendiri melihat sikap Geof padanya.
Setelah selesai mandi, Geof buru-buru memakai pakaiannya. Sangking terburu-burunya, ia ke ruang makan untuk sarapan dengan kemeja yang belum di kancing dengan benar. Merta melihat kemeja Geof yang tampak aneh saat itu. Ia mendekat pada Geof yang makan roti isi sambil berdiri.
"Kancingnya salah!" Kata Merta mencoba untuk membenarkan kancing kemeja Geof.
Geof menatap Merta yang sibuk membuka kancing kemejanya dan membenarkannya lagi. Wajah Geof merona merah saat Merta mengancingkan kemejanya.
"Sudah selesai!" Seru Merta dengan senyuman ceria pada Geof.
"Eeeehh, maaf tuan! Aku hanya membantu memperbaiki kancing kemejamu." Kata Merta sedikit menjauh dari Geof.
Geof meletakkan roti isi di atas piring dan meraih tubuh Merta dengan cepat.
"Kau sangat menggemaskan, Merta!" Ucap Geof.
Geof kembali mencium Merta saat itu. Merta mencoba mendorongnya, namun Geof terus memaksa untuk mencium Merta. Ciuman panas itu berlangsung lumayan lama antara Geof dan Merta. Setelah puas mencium Merta dengan paksa, Geof mengelus pipi Merta yang sudah sangat merah saat itu.
"Makanya, jadi wanita jangan terlalu cantik! Aku kan jadi khilaf, hehehe." Kata Geof cengengesan dan kemudian melepaskan dekapannya pada Merta.
Sambil terus cengengesan, Geof mengambil jasnya dan pergi dari apartemennya. Sementara Merta berdecak kesal karena Geof terus-terusan menciumnya dengan paksa. Hari itu Merta terus saja kesal sambil mengerjakan pekerjaannya sebagai pelayan di apartemen Geof. Saat sedang masak untuk makan siang, Merta membayangkan wajah Geof yang tersenyum mesum padanya. Kala itu Merta sedang memotong sayuran. Merta kesal memotong sayuran dengan pisau dan menganggap sayuran itu adalah tubuh Geof.
__ADS_1