
Pesta pernikahan usai, banyak tamu undangan telah pergi dari ruang pesta itu. Begitu pula dengan pasangan kekasih yang kini menjadi suami istri. Mereka sudah berada di dalam kamar pengantin yang di hiasi dengan sangat indah. Gaby dan Boy sudah selesai mandi dan kini mereka sedang berbaring di atas ranjang kamar pengantinnya.
"Sayang, ini malam pengantin kita!" Bisik Boy pada Gaby.
"Hehehehe, iya." Sahut Gaby canggung.
"Kenapa sayang? Apa kau gugup?" Tanya Boy.
"Tidak, bukan begitu." Sahut Gaby.
"Aahh, lama." Kata Boy yang sudah tak sabar untuk menjamah tubuh istrinya itu.
Boy mendekap mesra dan mencium bibir wanita yang berambut pirang itu. Gaby yang hanya pasrah serta membalas semua yang di lakukan oleh Boy. Namun saat Boy akan mulai membuka semua pakaian Gaby, Gaby menahannya dengan cepat.
"Tung..tung..tunggu dulu kak." Kata Gaby dengan ekspresi seperti menahan sesuatu.
Boy bingung melihat ekspresi wajah Gaby yang sedikit mencurigakan saat menatapanya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Boy.
"Eeemm..., anu..itu." Ucap Gaby yang membuat Boy semakin kebingungan.
Tttuuuttt.....bbbuusshhh........
Tiba-tiba suara angin keluar dan tercium aroma tak sedap di ruang kamar yang ber- AC itu.
"Apa kau baru saja buang angin, sayang?" Tanya Boy pada Gaby.
Dengan wajah yang merah padam Gaby hanya bisa memalingkan wajahnya dari Boy karena sangking malunya.
"Astaga, ini sangat memalukan!" Ucap Gaby dalam hatinya.
Boy masih menatap Gaby dan menghirup udara yang tak sedap itu dalam-dalam.
kkrruukkkk...kkrruukkkk....
Suara perut Gaby yang sedang mules-mules. Gaby spontan memegang perutnya. Gaby mendorong tubuh Boy yang masih mendekapnya, dan berlari masuk kedalam kamar mandi. Boy masih kebingungan dengan apa yang terjadi pada istrinya itu. Boy duduk di tepi ranjang menunggu Gaby keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian, Gaby keluar dari kamar mandi.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Boy pada Gaby.
"Eemm.., aahh perutku mules lagi!" Gumam Gaby langsung kembali berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Boy menghela nafas panjang dan sedikit frustasi.
"Malam pengantinku gagal total! Sepertinya dia terkena diare." Gumam Boy bergeleng kepala.
Malam itu Gaby bolak-balik ke kamar mandi karena diare yang di deritanya. Boy menghubungi Devan untuk memberikan resep obat pada Gaby. Devan mengirim orang suruhannya untuk membawa obat penghilang diare pada Gaby yang sedang menginap di hotel mewah bersama Boy.
Setelah meminum obatnya, Gaby tampak lelah berbaring di atas ranjang. Boy sangat tak tega melihat Gaby yang terkulai lemas.
"Sayang, tadi kau makan apa? Kenapa bisa diare?" Tanya Boy.
"Aku tadi makan cumi pedas terlalu banyak, mungkin karena itu aku diare." Jawab Gaby.
Gaby menatap wajah Boy yang berbaring di sampingnya.
"Kak, maaf ya, aku mengacaukan malam pengantin kita." Ucap Gaby dengan raut wajah yang merasa bersalah.
"Sudahlah, bukan salahmu, tapi cumi nakal itu yang salah, hehehe." Sahut Boy tersenyum.
Boy mendekap tubuh Gaby yang hendak terpejam.
__ADS_1
"Maaf ya kak." Ucap gaby lagi.
"Hei, kita ini sudah suami istri, kapanpun kita bisa melakukannya jadi jangan merasa bersalah." Kata Boy.
Gaby merasa tenang saat Boy mengatakan hal itu padanya. Gaby menenggelamkan wajahnya pada dada Boy.
"Gaby, setelah kau sembuh, aku tak akan membiarkanmu istirahat sedetikpun, aku akan menindasmu habis-habisan, hehehehe!" Bisik Boy pada telinga Gaby.
Dengan semburat wajah yang merah Gaby hanya tersenyum mengetahui keinginan sang suami yang akan menindasnya habis-habisan di ranjang. Sesuai dengan keinginan mereka berdua, Gaby dan Boy berbulan madu di labuan bajo. Disanalah mereka merasakan nikmatnya menjadi pengantin baru.
*****
Di kediaman kampung hawa, Azlan membuat Yasmin merasakan kenyamanan saat di masa-masa kehamilan. Azlan memberikan apa yang diminta oleh Yasmin padanya. Untung saja Yasmin tak mengidam yang macam-macam. Di usia kadunganya yang hampir 9 bulan, Azlan dan Yasmin juga belum mengetahui jenis kelamin salah satu bayi mereka.
Abrar yang akan segera menjadi seorang kakek, telah menyiapkan sebuah ruang kamar untuk cucunya tersebut. Ia mendekorasi kamar tersebut dengan sangat unik dan lucu. Kamar penuh warna itu terlihat seperti pelangi di dindingnya.
"Kenapa kau mengecatkan dengan penuh warna seperti ini? Cucu-cucu kita perempuan, seharusnya warna pink saja." Kata Balqis pada Abrar.
"Hei, bayi yang satunya lagi kan belum tau jenis kelaminya, mungkin saja bayinya laki-laki, jadi tidak mungkin bayi laki-laki tidur di kamar penuh warna pink." Sahut Abrar.
Balqis hanya diam tak ingin berdebat dengan suaminya yang telah berusaha keras menyiapkan kamar untuk calon cucu-cucunya.
"Oh iya Balqis, nanti kita pergi belanja ya, aku mau beli perlengkapan bayi untuk bayi laki-laki." Kata Abrar.
"Kalau bayinya perempuan semuanya, gimana? Kan sayang barangnya tidak terpakai." Sahut Balqis.
"Kalau begitu suruh Yasmin dan Azlan buat anak lagi, mereka harus memiliki anak laki-laki." Sahut Abrar.
Setelah selesai mendekorasi kamar untuk cucunya, Balqis dan Abrar pergi berbelanja untuk keperluan bayi laki-laki. Semuanya berwarna biru dan semua perlengkapan itu Abrar yang memilihnya sendiri. Sore hari Abrar dan Balqis pulang dengan barang-barang belanjaan yang seabrek. Yasmin dan Azlan melihat semua perlengkapan bayi yang berwarna biru itu.
"Pi, ini papi dan mami yang belikan?" Tanya Azlan.
"Iya, papi yakin yasmin mengandung bayi laki-laki, jadi papi belikan perlengkapan bayi laki-laki yang berwarna biru." Sahut Abrar.
"Wah, papi memang hebat!" Seru Azlan senang.
"Tentu dong!" Sahut Abrar.
"Pi, kalau bayinya semua perempuan, sayang dong yang ini tidak terpakai." Kata Yasmin.
"Kalau begitu, kau dan Azlan harus membuat program hamil anak yang selanjutnya, kalian harus punya anak laki-laki." Sahut Abrar.
"Be..begitu ya, pi? Hehehehe." Ucap Yasmin tertawa dengan paksa.
"Kau sudah dengar kan yasmin, kau harus mematuhi perintah mertuamu!" Bisik Azlan pada Yasmin.
Yasmin hanya menatap Azlan dengan wajah yang cemberut, sedangkan Azlan tertawa jahat melihat Yasmin.
"Jangan dipikirkan Yasmin, ayah dan anak itu memang senang menindas istrinya." Ujar Balqis pada Yasmin sambil menunjuk Azlan dan Abrar.
Azlan dan Abrar melakukan tos pada telapak tangan mereka berdua. Balqis dan Yasmin hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat kekompakan ayah dan anak itu. Saat sedang makan malam, dari ruang makan terdengar suara dua wanita yang sudah lama tidak berkunjung ke kampung hawa setelah menikah. Mereka adalah si kembar yang datang dengan membawa spidol di dalam tasnya.
"Hai, semuanya, rindukah pada kami?" Sapa si kembar pada jamaah yang sedang menyantap makan malam.
Semua yang ada di situ hanya diam tak menanggapi sapaan si kembar. Mereka tau si kembar datang hanya untuk membuat keonaran dirumah tersebut.
"Huh, sombong banget sih!" Gumam si kembar.
__ADS_1
"Papi, mami!" Sapa si kembar pada kedua orang tuanya.
Abrar dan Balqis tak bergeming saat si kembar menyapanya.
"Kenapa sih?" Tanya Melia kesal karena di cuekin oleh semua anggota keluarganya.
"Kalian mau buat onar disini? Mendingan cepat kabur, atau papi tendang bokong kalian berdua." Kata Abrar pada si kembar.
"Huh, tau saja niat kami!" Gumam keduanya.
Melia mendekati Abrar dan berbisik di telinga Abrar yang sedang makan.
"Pi, aku hamil loh!" Bisik Melia.
"Wah, Balqis kita akan punya banyak cucu dalam waktu dekat ini!" Seru Abrar girang.
"Iya lah, kan yasmin hamil bayi kembar 3 sudah pasti banyak lah." Sahut Balqis.
"Bukan hanya Yasmin, Melia juga sedang mengandung." Kata Abrar.
"Benarkah?" Ucap Balqis menatap Melia.
Melia mengangguk sambil tersenyum. Balqis bangun dan memeluk Melia yang sedang hamil 2 bulan. Azlan menatap Melani yang ikut makan di ruang itu.
"Kau belum hamil juga?" Tanya Azlan.
"Sudah! Aku hamil 5 bulan, kakak tidak lihat aku sekarang agak gendutan?" Sahut Melani.
Azlan memperhatikan tubuh adiknya yang memang tampak berisi dan perut yang sedikit membuncit.
"Wah, Melani sedang hamil juga!" Seru Azlan memeluk Melani.
Abrar dan Balqis kaget melihat Melani yang sedang makan dengan porsi yang banyak. Balqis bergantian memeluk kedua putrinya yang sedang mengandung cucunya itu.
"Mami, jangan peluk aku!" Kata Melani menolak.
"Ehh, kenapa?' Tanya Balqis heran.
"Eem, tidak suka di peluk!" Sahut Melani.
"Kok tumben?" Tanya Abrar.
"Entahlah, kak Angga saja aku larang untuk memelukku." Kata Melani.
"Kenapa?' Tanya Azlan.
"Eeemm, tak tau! Tiba-tiba benci saja kalau lihat dia." Sahut Melani.
"Bawaan orok tuh!" Sahut Yasmin.
"Iya, benar tuh, bawaan orok." Sambung Abrar menimpali perkataan Yasmin.
Kemudian Melia duduk di samping Balqis dan Abrar.
"Mi, pi, sini peluk aku saja, aku suka di peluk!" Pinta Melia manja pada kedua orang tuanya.
Keadaan yang berbanding terbalik di rasakan oleh Melia dan Melani saat hamil. Melani yang tak suka di manja-manja saat hamil, sedangkan Melia sangat manja dan selalu ingin di perhatikan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya, apalagi terhadap Evan yang akan menjadi ayah untuk calon bayinya.
__ADS_1