MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
GAGAL KELILING DUNIA


__ADS_3

Dua tahun kemudian setelah pernikahan Delina dan Dandi di selenggarakan dengan sangat meriah, tangisan bayi laki-laki terdengar di salah satu ruang bersalin rumah sakit. Tepat pukul 2 pagi, Delina melahirkan putra pertamanya yang di beri nama Dedi. Dandi sangat bahagia melihat bayi kecilnya yang tampak tenang di dalam dekapannya.


Setelah keluar dari rumah  sakit, Delina berdiri di depan cermin melihat banyak lemak-lemak hewani yang menumpuk di sekitar pinggang dan juga perutnya. Dandi menciumi bayinya sesekali melirik sang istri yang cemberut di depan cermin.


"Huh, menyebalkan! Melar sana sini." Gumam Delina.


"Kau tetap cantik, sayang!" Sahut Dandi.


"Bohong!" Ujar Delina.


"Jawab yang jujur, aku gendutan kan setelah melahirkan?" Tanya Delina sambil melotot pada Dandi.


"Tapi tetap cantik, sayang." Sahut Dandi.


"Bohong! Jawab yang jujur!" Kata Delina lagi.


"Iya sih, kau memang memiliki sedikit lemak di area tertentu." Sahut Dandi jujur.


"Tuh kan, dasar kau menyebalkan! Kau bilang aku gendut!" Teriak Delina kesal.


"Oke, kau tidak gendut, kau cantik!" Kata Dandi.


"Tuh kan, bohong lagi!" Teriak Delina semakin kesal.


"Ya Tuhan! Apa salahku? Jawab jujur salah bohong apalagi! Pengen bunuh diri rasanya!" Teriak Dandi kehabisan kesabaran menghadapi Delina.


Delina yang sedang kesal berbaring sambil membelakangi Dandi. Tak lama kemudian Bayi mereka menangis. Dandi menggendong bayinya untuk mendiamkannya, namun bukannya diam tangisannya semakin kencang.


Dandi panik saat tangisan bayinya semakin kencang.


"Sayang, Dedi nangis nih! Mungkin dia haus." Kata Dandi.


"Ya sudah, kakak saja yang menyusuinya." Sahut Delina.


"Hei, aku mana punya!" Teriak Dandi.


"Ppffftt, aku lupa kalau dia manusia berdada rata!" Gumam Delina.


"Delina, ayo cepat berikan ASI padanya!" Kata Dandi.


"Iya, baiklah!" Sahut Delina.


Dandi memberikan bayinya pada Delina yang sudah membuka setengah pakaiannya untuk menyusui bayinya yang sedang kehausan. Saat sedang menyusui air mata Delina mengalir dan hal itu di lihat oleh Dandi yang sedang duduk di sebelah Delina.


"Apa kau sangat terharu karena menyusui bayi kita yang tampan ini?" Tanya Dandi.


Delina menggeleng.


"Lantas kenapa?" Tanya Dandi lagi.


"Dedi menyedotnya dengan sangat kuat, jadinya lecet! Huhuhhuhhuhuhuhu." Jawab Delina merasakan perih pada dadanya.


"Bersabarlah! Ini adalah moment yang sangat bahagia bagi seorang ibu kan?" Kata Dandi.


"Iya, kakak benar." Sahut Delina.


Setelah bayinya kenyang, Delina meletakkan kembali bayinya yang sudah terlelap. Delina memberingkan tubuhnya di samping Dandi yang masih terjaga. Dandi memeluk Delina dari belakang.


"Sayang, setelah ini kita akan punya anak kedua, ketiga, keempat, kelima.....


"Diamlah! Kakak pikir melahirkan anak itu seperti membuang ludah, hah?" Teriak Delina kesal.


"Hehehehehe, tapi kata papi kita harus punya 10 anak." Kata Dandi.


"Kalau begitu kakak saja yang melahirkan!" Ujar Delina.


"Mana mungkin!" Kata Dandi.


"Kalau tidak mungkin, ya sudah kita punya satu anak saja!" Kata Delina.


Mendengar jawaban Delina yang hanya ingin memiliki satu orang anak, membuat Dandi merasa sedikit kecewa. Namun ia berniat untuk tak putus asa dalam membujuk Delina untuk memiliki anak yang banyak.


Keesokan harinya Azlan sibuk di kantor selama Dandi mengambil cuti untuk menjaga istrinya yang baru saja melahirkan. Azlan sangat kewalahan menangani pekerjaan tanpa ada sang asisten di sampingnya. Saat Azlan sedang berada di ruang kerjanya, Boy dan Geof menghampirinya untuk membahas masalah bisnis yang sedang mereka jalankan bersama. Setelah selesai membahas masalah bisnisnya, Azlan dan Boy meledek Geof habis-habisan karena masih betah melajang.


"Dunia hampir kiamat, kapan kau akan berumah tangga? Usiamu hampir 30 tahun kan?" Tanya Azlan.


"Aku belum menemukan wanita yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku!" Jawab Geof.


"Hei, si pelayan itu kan cocok untukmu." Kata Boy.


"Hah, dia punya nama! namanya Merta." Kata Geof.


"Tapi dia pelayanmu, kan?" Tanya Azlan.


"Iya, dia menjadi pelayanku hanya untuk 2 tahun saja! Sebentar lagi masa kontraknya habis." Kata Geof.


"Lalu?" Tanya Boy.


"Lalu dia tidak bekerja denganku lagi." Jawab Geof.

__ADS_1


"Hanya sebatas itu saja kah hubunganmu dengannya?" Tanya Azlan.


"Hei, apa maksudmu?" Tanya Geof pada Azlan.


"Akui saja perasaanmu! Jangan sampai kau menyesal setelah dia pergi jauh." Kata Azlan.


"Huh, sotoy lu!" Ujar Geof.


Azlan dan Boy tau watak Geof yang sedikit keras kepala untuk mengakui perasaannya pada Merta. Mereka sangat tau kalau sahabatnya itu merasa sedih saat kontrak kerja Merta akan selesai dalam dua pekan ini. Tak ingin membuat Geof semakin galau, Azlan pun mengganti topik pembicaraannya  saat itu.


"Lalu bagaimana denganmu, Boy? Kapan kau akan berencana punya anak?" Tanya Azlan.


"Aku dan Gaby baru saja mulai untuk menjalani program hamil. Doakan saja mudah-mudahan aku bisa membuat Gaby hamil secepatnya." Jawab Boy.


"Azlan, apa hubunganmu dengan Syeril sudah membaik?" Tanya Geof.


"Tidak usah membahas dia!" Kata Azlan.


"Tapi sebentar lagi dia akan menjadi istrinya sepupumu." Kata Boy.


"Ya, itu urusan si Kenzo." Sahut Azlan.


"Kasihan si Syeril! Dia benar-benar sudah menyadari kesalahannya. Maafkan saja dia." Kata Geof.


"Sudahlah, jangan di bahas!" Sahut Azlan.


 


Malam harinya, Azlan melirik Yasmin yang sedang menggunakan pelembab sebelum tidur. Azlan menatap ponselnya untuk mencari-cari destinasi wisata yang ia inginkan. Azlan memiliki rencana untuk pergi membawa Yasmin liburan dengan modus ingin punya anak lagi setelah ketiga anaknya berusia 3 tahun. Yasmin yang telah selesai memakai pelembab di seluruh tubuhnya, berbaring di samping Azlan.


"Yasmin." Panggil Azlan.


"Hhemm?" Sahutnya.


"Lihatlah! Tempat ini sangat cocok untuk pergi honeymoon kan?" Kata Azlan seraya memperlihatkan beberapa gambar di ponselnya.


"Kau sedang modusin aku kan?" Ujar Yasmin yang tau tabiat suaminya.


"Hehehehe, peka banget sih jadi istri!" Kata Azlan cengengesan.


"Aku masih banyak pekerjaan di perusahaanku, jadi jangan buat aku hamil sekarang." Kata Yasmin.


"Hei, Yasmin! Aku ingin kau segera hamil lagi." Kata Azlan.


"Tunggu anak-anak berusia 10 tahun deh!" Kata Yasmin.


"Ya sudah kalau begitu 5 tahun!" Kata Yasmin.


"Tidak! Aku bilang bulan depan kau harus hamil!" Teriak Azlan si tukang paksa.


"Huh, dasar tukang paksa!" Gumam Yasmin.


Malam itu Yasmin hanya memilih diam dan mengalah agar mereka tak bertengkar. Yasmin memiliki segudang pekerjaan di kantornya makanya ia masih menunda keinginan sang suami yang menginginkan anak lagi.


Azlan meresa dirinya menang setelah memaksa Yasmin untuk segera hamil lagi. Azlan keluar kamar dan masuk kedalam ruang kerjanya. Di depan laptopnya ia memesan dua tiket pesawat dan juga kamar hotel untuk menginap selama ia dan Yasmin pergi liburan.


Malam itu, saat Yasmin tertidur lelap, Azlan membawa beberapa pelayan masuk untuk memasukkan baju-baju Yasmin ke dalam koper. Para pelayan mengerjakan semuanya dengan sangat hati-hati agar Yasmin tak terbangun malam itu. Selang beberapa saat, Pelayan telah selesai mengepak pakaian Yasmin dan membawanya masuk ke dalam bagasi mobil. Azlan terkekeh licik sambil ikut berbaring untuk tidur sembari memeluk tubuh Yasmin yang sudah nyenyak sedari tadi.


 


Keesokan paginya, Yasmin yang baru saja selesai mandi membuka lemari pakaianya. Ia terkejut saat melihat lemarinya yang tampak menganga. Banyak pakaiannya yang tidak ada di dalam lemari itu.


"Eh, pakaianku pada kemana sih? Kenapa cuma sedikit disini? Semalam kan masih banyak!" Gumam Yasmin bingung.


Yasmin melirik Azlan yang masih tidur sambil mendengkur.


"Kenapa Azlan masih tidur sih jam segini? Apa dia tidak pergi ke kantor?" Gumam Yasmin lagi.


Yasmin pun membangunkan Azlan yang tidur bagaikan kerbau.


"Azlan, sudah hampir jam 8 pagi, kenapa kau masih saja tidur? Nanti kau terlambat masuk ke kantor." Kata Yasmin.


"Hari ini sampai dua minggu ke depan, aku libur!" Sahut Azlan yang enggan membuka matanya.


"Apa maksudmu, Azlan?" Tanya Yasmin bingung.


"Nanti kau juga akan tau." Sahut Azlan.


"Huh, terserah kau saja!" Ujar Yasmin.


Yasmin kembali menatap lemarinya yang tampak kosong.


"Azlan, apa kau tau dimana pakaianku? Sepertinya lemariku sangat lapang." Kata Yasmin.


"Entahlah!" Sahut Azlan sambil tersenyum licik.


Lalu Azlan bangun dan duduk di atas ranjang melihat Yasmin yang baru saja selesai mandi. Wangi sabun yang di pakai Yasmin tercium oleh Azlan. Ia pun menarik Yasmin hingga jatuh bersamanya di atas ranjang.


"Azlan, ada meeting pagi ini! Jadi aku harus segera berangkat ke kantor." Kata Yasmin berusaha terlepas dari dekapan Azlan.

__ADS_1


"Meetingnya sudah aku batalkan!" Sahut Azlan yang juga memiliki saham di perusahaan Yasmin.


"Apa? Apa maksudmu, Azlan?" Tanya Yasmin.


"Semalam aku sudah membatalkan meeting dan mengajukan surat cuti untukmu selama dua pekan." Kata Azlan.


"Hah? Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Yasmin.


"Apa kau tidak ingat semalam yang aku katakan? Aku ingin kau segera hamil! makanya aku sudah menyiapkan keberangkatan kita untuk liburan ke swiss." Kata Azlan.


"Hei, seenak jidatmu saja membuat keputusan!" Teriak Yasmin.


"Tentu saja! Aku kepala rumah tangganya." Balas Azlan.


Yasmin hanya diam dan pasrah memiliki suami yang sifatnya sangat pemaksa seperti Azlan.


"Hehehe, di swiss kan udaranya dingin, pasti enak kalau setiap waktu melakukan itu. iya kan Yasmin?" Kata Azlan menatap Yasmin dengan tatapan mesumnya.


"Terserah kau! Aku bisa apa kalau memiliki suami tukang paksa sepertimu!" Sahut Yasmin.


"Hehehe, kau memang istri yang penurut." Ucap Azlan mencium pipi Yasmin dengan gemas.


"Dia bilang setiap waktu akan melakukan itu!  Aku baru saja selesai menstruasi kemarin, ini masa suburku. Aku pasti hamil di buatnya." Ucap Yasmin dalam hatinya.


 


Di ruang makan, Abrar dan Balqis sedang merencanakan keinginan mereka untuk melanjutkan hobi mereka berkeliling dunia. Kali ini pasangan kakek dan nenek yang sudah memiliki 6 orang cucu itu, ingin pergi ke Maroko.


Saat sedang membicarakan rencana mereka, tiba-tiba Melia dan Evan datang dengan membawa putra pertamanya.


"Kenapa pagi-pagi kalian sudah kemari? Ada apa?" Tanya Abrar.


"Hari ini, kami akan berangkat untuk honeymoon yang ke dua! kami akan pergi ke jepang." Kata Melia.


"Apa?" Seru Abrar dan Balqis.


"Iya! Kami berencana untuk memiliki anak lagi, jadi agar happy melakukannya, kami ingin pergi ke jepang." Sahut Evan.


"Pi, mi, titip putra kami ya! Bye!" Kata Melia dan juga Evan yang segera memberikan anaknya pada Abrar dan Balqis, lalu mereka melarikan diri ke jepang.


Tak lama kemudian, Melani dan Angga juga datang, menghampiri Abrar dan Balqis. Mereka juga membawa putranya saat itu.


"Mi, pi, kami titip putra kami ya!" Seru Melani dan Angga.


"Kalian mau kemana, hah?" Teriak Abrar kesal


"Kami mau honeymoon ke korea!" Seru Melani dan juga Angga.


Pasangan suami istri itu langsung melarikan diri setelah memberikan putra pertamanya pada Abrar dan juga Balqis.


Selang beberapa menit turunlah Azlan dan juga Yasmin yang menggunakan pakaian santai. Abrar dan Balqis melirik pasangan suami istri itu yang di hari kerja tak memakai kemeja lengan panjang ataupun jas. Yasmin dan Azlan duduk untuk sarapan bersama.


"Kalian tidak ke kantor?" Tanya Balqis.


"Tidak!" Sahut Azlan.


"Kenapa?" Tanya Abrar.


"Cuti!" Sahut Azlan.


"Cuti untuk apa?" Tanya Balqis.


"Cuti untuk pergi honeymoon!" Seru Azlan antusias.


"Apa?" Teriak Abrar dan Balqis membuat Yasmin dan Azlan kaget.


"Ke..kenapa?" Tanya Azlan.


"Tadi adikmu si kembar menitipkan anaknya di sini untuk pergi honeymoon bersama suami mereka, dan kau juga akan pergi?" Teriak Abrar.


"Tentu saja! Kan papi sendiri yang menginginkan keturunan yang banyak." Kata Azlan dengan santai.


"Hehehe, pi, mi, titip si kembar tiga ya!" Ujar Azlan langsung berlari menyeret Yasmin yang sedang mengunyah roti di tangannya.


"Aaarrggghh! Dasar kalian anak-anak yang menyebalkan!" Teriak Abrar dan Balqis.


Azlan langsung kabur melarikan diri membawa istrinya untuk pergi honeymoon ke swiss. Sementara Abrar dan Balqis hanya bisa gigit jari sambil menjaga ke lima cucunya yang di titipkan pada mereka dengan di bantu oleh tiga orang pengasuh yang di gaji Azlan. Balqis melirik Abrar yang membawa sekaleng cat dan juga kuas di tangannya.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Balqis pada Abrar.


"Aku akan mengganti nama di depan pagar!" Sahut Abrar.


"Apa maksudmu?" Tanya Balqis bingung.


"Aku mau ganti KAMPUNG HAWA menjadi TEMPAT PENITIPAN CUCU!" Jawab Abrar.


"Haaaiiihh, terserah kau saja!" Ucap Balqis yang hanya bisa menghela nafas panjang melihat ke konyolan Abrar karena kecewa tak bisa pergi keliling dunia.


Abrar berlalu dengan sekaleng cat dan juga kuas di tangannya. Ia keluar rumah dan berdiri di depan pamflet rumahnya. Abrar pun mulai mencoret tulisan di pamflet itu dan menggantinya. Kini Plamfet yang awalnya menjadi KEDIAMAN ABRAR, berganti menjadi KAMPUNG HAWA, lalu sekarang menjadi TEMPAT PENITIPAN CUCU.

__ADS_1


__ADS_2