
Tak terasa pernikahan Gaby dan Boy akan terlaksana sebentar lagi. Hanya dengan hitungan hari Gaby dan Boy akan menjadi sepasang suami dan istri. Keluarga zidan sudah lama tiba di Indonesia untuk mempersiapkan pernikahan putrinya. Gaby dan Boy juga telah siap dengan gaun pengantin yang mereka pesan dan juga dengan cincin pernikahan yang akan mereka pakai setelah ikrar janji suci pernikahan.
Besok pagi adalah hari yang di dambakan oleh Gaby dan Boy selama ini. Malam harinya, di tempat yang terpisah Gaby dan Boy sangat gelisah dengan perasaan mereka yang akan menjadi pengantin. Isabel masuk ke dalam kamar putrinya dan melihat Gaby sedang duduk di depan meja riasnya. Saat itu wajah Gaby terlihat sangat gelisah.
Isabel membelai rambut pirang anaknya yang menurun darinya.
"Apa kau gugup?" Tanya Isabel pada Gaby.
"Iya, ma!" Sahut Gaby.
"Itu hal yang biasa terjadi pada saat akan menikah, aku juga merasakan hal yang sama dulu saat akan menikah dengan papamu." Kata Isabel.
Isabel melihat cemas di raut wajah Gaby.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kau tidur saja, semoga semuanya berjalan dengan lancar." Kata Isabel.
Gaby mengiyakan apa yang di katakan oleh mamanya itu.Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan Isabel duduk sambil mengelus kepala putrinya itu hingga terlelap. Melihat Gaby sudah tertidur, Isabel keluar dari kamar Gaby dan menemui Zidan yang masih duduk di sofa ruang tengah. Isabel melihat banyak puntung rokok pada asbak di atas meja. Isabel mengambil batang rokok yang menyala dari selipan jari Zidan.
"Om, kau sudah terlalu banyak merokok,hentikan ini." Kata Isabel pada suaminya itu.
"Aku sangat gelisah." Sahut Zidan.
"Kenapa?' Tanya Isabel.
"Putriku akan menikah esok, dan seterusnya dia akan tinggal jauh dari kita." Kata Zidan.
"Walaupun dia tinggal jauh dari kita, tapi kasih sayangnya akan tetap ada untuk kita." Kata Isabel memeluk suaminya itu.
"Iya, kau benar, terima kasih belbel, kau sudah menenangkan aku." Ucap Zidan.
Isabel hanya tersenyum menatap suaminya yang kini tak muda lagi.
Hari pernikahan pun terjadi. Pagi itu Gaby sudah terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahan yang sangat indah membaluti tubuhnya. Begitu pula dengan Boy yang sangat gagah dengan jas yang sepadan dengan gaun yang dipakai oleh Gaby. Pesta pernikahan sangat meriah dengan tamu yang berjubel berdatangan di ruangan itu.
Tak lama kemudian, mobil mewah berhenti di area parkir mobil. Turunlah Geof dan juga wanita yang menemaninya hadir di acara pernikahan sahabatnya. Wanita itu tak lain adalah merta yang menjadi pelayannya di apartemen.
tampak merta menggandeng tangan Geof, itupun karena di paksa olehnya.
Geof masuk dan melihat suasana pesta yang sangat meriah. Ia juga melihat nama kedua mempelai pengantin yang terpampang jelas, Gabriella dan Boy. Geof melirik ke arah wanita yang kini menggandeng tangannya.
"Karena wanita ini aku jadi lupa dengan misiku untuk mendekati Gaby." Ucap Geof dalam hatinya.
Geof dan merta menghampiri si empunya pesta tersebut. Gaby dan Boy melirik merta yang terlihat cantik dan anggun dengan gaun yang di belikan oleh Geof.
"Bro, ini pelayan yang di apartemenmu kan?" Bisik Boy pada Geof.
"Iya!" Sahut Geof singkat.
"Cantik banget, kawini saja." Kata Boy.
"Iya, entar aku kawini, hehehehe." Jawab Geof dengan pikiran kotornya.
"Eeehh, aku salah bicara, maksudnya nikahi saja dia, baik untuk memperbaiki keturunan." Kata Boy.
"Kau pikir aku sejelek apa, hah?" Ujar Geof kesal pada Boy.
"Hehehehe, lumayan lah!" Kata Boy.
"Apanya yang lumayan?" Tanya Geof.
"Jeleknya." Jawab Boy cengengesan.
"******* lu!" Umpat Geof.
Tak ingin berlama-lama mendengar celotehan Boy, Geof menarik tangan Merta untuk mengikutinya mengambil makanan. Merta melihat makanan enak itu dengan sangat antusias. Geof melirik Merta yang sudah ngiler dengan makanan mewah itu.
"Hei, biasa saja dong! Apa kau tidak pernah melihat makanan ini?' Ujar Geof pada Merta.
"Ya enggak lah, mana mungkin rakyat jelata sepertiku makan makanan mewah ini, dasar aneh!" Balas Merta sewot.
"Dasar udik!" Ujar Geof pada Merta.
"Bodo!" Balas Merta.
"Cepat bawakan makanan untukku, aku sudah sangat lapar, aku tunggu di meja yang itu." Kata Geof.
__ADS_1
"Iya, bawel!" Sahut Merta masih dengan tampang sewotnya pada Geof.
Merta mengambil makanan untuk Geof sambil berdecak kesal dan ngedumel sendirian.
"Setiap hari selalu saja merepotkan aku, suruh ini lah suruh itu lah, belum lagi bawelnya tuh yang tidak ketulungan, ampun deh aku jadi pelayannya selama dua tahun." Ucap Merta ngedumel kesal pada Geof.
Merta siap dengan membawa makanan di piring untuk Geof walaupun sedikit kerepotan harus bolak-balik mengambil apa yang Geof inginkan. Sepasang mata melihat Merta dan Geof makan bersama satu meja di pesta itu.
Yasmin yang tak bisa banyak bergerak dengan perutnya yang kian hari kian membesar, hanya bisa duduk di salah satu meja tamu undangan. Sedangkan Azlan sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnis yang menjadi tamu undangan di pesta itu. Kemudian Syeril mendekati yasmin yang duduk seorang diri.
"Hai kak!" Sapa Syeril canggung.
"Oh, hai! Kau Syeril kan?" Balas yasmin ramah pada Syeril.
"I..iya kak!" Sahut Syeril.
"Duduklah." Kata Yasmin mempersilahkannya duduk.
"Kapan kau kembali ke sini?"Tanya Yasmin.
"Beberapa bulan yang lalu." Sahut Syeril.
"Eemmm, kak Yasmin, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Kata Syeril.
"Apa itu?" Tanya Yasmin.
"Kak maaf, sebenarnya aku orang yang merusak toko bunga milik kakak." Kata Syeril sedikit takut pada Yasmin.
Yasmin sangat terkejut mendengar pengakuan Syeril padanya.
"Apa?" Ujar Yasmin terkejut.
"Maafin aku kak, aku memang jahat, saat itu aku cemburu melihatmu dekat dengan kak Azlan." Kata Syeril.
Yasmin menatap Syeril dengan mata yang berkaca-kaca. Ada tampak penyesalan di mata Syeril saat itu.
"Apa kau yang menabrakku saat di kantor Azlan?" Tanya Yasmin mengingat wajah Syeril.
"Iya kak, aku juga melakukannya dengan sengaja karena kesal padamu." Jawab Syeril menangis.
Yasmin menghela nafas panjang sambil menatap Syeril yang menangis.
"Aku mencintainya, tapi kak Azlan tidak pernah melirikku." Jawab Syeril dalam isak tangisnya.
"Maaf kak." Ucap Syeril lagi pada Yasmin.
Tiba-tiba Azlan datang dan menarik tangan Syeril dengan kasar.
"Untuk apa kau mendekati istriku, hah?" Tanya Azlan pada Syeril dengan tatapan mata yang tajam.
Yasmin kaget melihat Azlan begitu sangat marah pada Syeril. Yasmin menghentikan sikap kasar Azlan pada Syeril di pesta itu.
"Yasmin, jangan dengarkan omongan dia." Kata Azlan.
"Azlan, dia sudah mengakui kesalahannya dan minta maaf padaku." Kata Yasmin.
"Apa? Jadi kau sudah tau apa yang dilakukannya pada toko bungamu?" Tanya Azlan.
"Kau juga tau?' Yasmin balik bertanya.
"Iya." Sahut Azlan.
"Kenapa kau tak bilang padaku?" Tanya Yasmin.
"Yasmin, saat itu aku tak ingin kau terus bersedih karena diriku, bagaimanapun hal ini terjadi karena aku." Kata azlan.
Azlan menatap Syeril yang masih menangis dihadapan Yasmin.
"Pergi dan jangan dekati keluargaku." Kata Azlan pada Syeril.
"Azlan, dia sudah menyesali perbuatannya." Kata Yasmin.
"Terserah kau Yasmin, di mataku dia tidak lebih dari seorang pengganggu." Ujar Azlan kemudian pergi menjauh dari Syeril dan juga Yasmin.
Syeril menangis sejadi-jadinya karena tau kalau Azlan tak akan pernah memaafkan kesalahannya. Yasmin dengan kebaikan hatinya, merangkul orang yang telah menghancurkan toko bunga milik mendiang ibunya itu.
"Jangan menangis lagi, aku sudah memaafkanmu." Kata Yasmin pada Syeril.
__ADS_1
Syeril terus menangis dalam pelukan yasmin yang sudah memaafkan perbuatannya itu. Yasmin terus berusaha untuk menenangkan syeril yang menangis. Tak lama kemudian, Kenzo datang menghampiri Syeril dan melihat mata syeril sedikit membengkak. Dengan lembut Kenzo membelai wajah Syeril dan ikut untuk menenangkannya.
Yasmin melihat betapa Kenzo sangat menyayangi dan penuh perhatian pada Syeril. Yasmin meninggalkan mereka berdua dan pergi mencari Azlan.
"Apa kau sudah bicara pada kak Yasmin?" Tanya Kenzo pada Syeril.
"Sudah, dia memaafkan aku, kak yasmin berhati mulia." Jawab Syeril menghapus sisa air matanya.
"Aku sangat menyesal telah berbuat hal buruk untuknya dulu." Kata Syeril lagi.
"Sudahlah, yang penting kau sudah menyesalinya dan mendapatkanmaaf darinya." Kata Kenzo.
"Tapi kak, kak Azlan masih membenciku." Kata Syeril.
"Tak mudah membuat kak Azlan menyukai orang yang telah menyakiti hatinya, tidak apa suatu saat dia pasti akan memaafkanmu juga." Kata Kenzo.
Kenzo kembali memeluk Syeril, wanita yang kini telah menjadi kekasihnya. Syeril pun membalas pelukan hangat yang di berikan oleh Kenzo padanya.
Pesta belum usai, Yasmin berjalan mencari keberadaan Azlan di ruangan itu. Saat sedang mencari Azlan, lengan Yasmin di tarik oleh seseorang yang wajahnya ia kenali dengan jelas.
"Kak Fatur." Ucap Yasmin menatap pria yang mencoba untuk mendekati dirinya lagi.
"Yasmin, kita bertemu lagi." Kata Fatur dengan senyuman lebarnya.
Seketika Yasmin mengingat apa yang di katakan oleh Azlan waktu itu, ia harus menjauhi Fatur karena Azlan tak menyukai Fatur dekat dengan dirinya.
"Maaf kak, aku harus segera pergi." Kata Yasmin beranjak pergi menjauh dari Fatur.
Lagi-lagi Fatur menarik lengan Yasmin untuk menahanya.
"Yasmin, ku mohon jangan jauhi aku, aku hanya ingin berteman denganmu." Kata Fatur.
"Tapi kak, suamiku tidak ingin melihat kita sedekat ini." Kata Yasmin menepis tangan Fatur pada lengannya.
"Yasmin, suamimu itu terlalu berlebihan, aku tak mungkin merebut istri orang kan." Kata Fatur.
Tiba-tiba Azlan datang dan langsung menyerang Fatur dengan memberikan kepalan tangannya yang mendarat di wajahnya.
"Berengsek! Kenapa kau masih terlihat di kota ini, hah?" Teriak Azlan kesal pada Fatur.
Yasmin sangat terkejut melihat Azlan memukul wajah Fatur.
"Aku sedang memenuhi undangan yang Gaby berikan padaku, itu saja." Sahut Fatur tersenyum licik pada Azlan.
Saat Azlan akan memukul Fatur lagi, Yasmin menjerit kesakitan. Yasmin merasakan sakit pada perutnya yang belum waktunya untuk melahirkan. Azlan dan Fatur sangat panik melihat Yasmin berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Yasmin?" Tanya Azlan.
"Entahlah, perutku sangat sakit." Sahut Yasmin.
Saat itu Fatur ingin menolong Yasmin, namun Azlan mendorong Fatur dengan kuat.
"Menjauh dari istriku, brengsek!" Teriak Azlan pada Fatur.
Suasana pesta menjadi ricuh karena perkelahian antara Fatur dan Azlan, di tambah lagi jeritan Yasmin yang mengalami sakit pada perutnya menambah kepanikan setiap keluarga. Azlan membawa Yasmin kerumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatan pada kehamilanya.
"Bagaimana kondisi kandungan istriku, dokter?" Tanya Azlan sangat khawatir pada Yasmin.
"Tidak ada masalah yang serius, ini hanya kontraksi kecil yang di rasakan oleh istri anda akibat syok yang berlebihan atau mungkin ia kelelahan." Kata Dokter.
Azlan pun bernafas dengan lega saat tau kondisi Yasmin dan kandunganya baik-baik saja.
"Ini semua gara-gara kau Fatur! Kau lihat saja nanti, aku akan melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari Yasmin, aku akan melemparmu jauh kalau bisa aku akan melemparmu ke neraka sekalian." Ucap Azlan dalam hatinya sangat marah pada Fatur sambil menatap wajah Yasmin yang sedang tertidur di ruang rawat rumah sakit.
Pesta pernikahan usai, banyak tamu undangan sudah pergi dari ruang pesta itu. Begitu pula dengan pasangan kekasih yang kini menjadi suami istri. Mereka sudah berada di dalam kamar pengantin yang di hiasi dengan sangat indah. Gaby dan Boy sudah selesai mandi dan kini mereka sedang berbaring di atas ranjang kamar pengantinnya.
"Sayang, ini malam pengantin kita." Bisik Boy pada Gaby.
"Hehehehe, iya." Sahut Gaby canggung.
"Kenapa sayang? Apa kau gugup?" Tanya Boy.
"Tidak, buka begitu." Kata Gaby.
"Aaahh, lama!" Kata Boy yang sudah tak sabar ingin menjamah tubuh istrinya itu.
Boy menimpa dan juga mencium bibir wanita yang berambut pirang itu. Gaby yang hanya pasrah membalas semua yang Boy lakukan padanya. Namun saat Boy akan membuka semua pakaian Gaby, Gaby menahannya.
__ADS_1
"Tung...tunggu dulu kak." Ucap Gaby.
Boy bingung melihat raut wajah Gaby yang sedikit mencurigakan saat menatapnya.