
Di kediaman kampung hawa terlihat aktifitas yang sangat sibuk. Ada sebuah ruangan yang di dekorasi indah untuk perjamuan makan malam. Ada dua keluarga yang akan datang kerumah Abrar untuk melamar kedua putrinya yang kembar itu. Semuanya bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tamu yang istimewa. Si kembar terlihat anggun dengan gaun yang indah menyambut kedatangan calon mertua mereka.
Di meja makan.
"Maaf tuan Abrar, yang mana calon mantu kami? Mereka terlihat sangat mirip, jadi aku bingung! Hehehe." Kata ayahnya Angga.
"Yang ini! Yang ada tahi lalat di sudut matanya." Jawab Abrar menunjuk Melani.
"Berarti ini calon mantu kami dong!" Sahut ibu tirinya Evan menunjuk Melia.
"Iya, anda benar!" Sahut Abrar lagi.
Melia dan Melani sangat canggung saat berhadapan dengan calon mertua mereka. Abrar hanya tersenyum saat melihat kedua putrinya itu tampak canggung dan gugup. Sementara Evan dan Angga tak berkedip melihat pasangan mereka saat sedang makan malam.
Tanggal pernikahan sudah di tentukan. Karena mereka kembar maka pernikahan mereka akan di laksanakan secara bersamaan. Semua keluarga sudah setuju dengan konsep pernikahan yang akan di selenggarakan di salah satu hotel berbintang.
Balqis dan Abrar sangat sibuk mengurus segala sesuatu yang di perlukan untuk pernikahan si kembar. Yasmin dan Azlan yang sibuk dengan urusan perusahaan, tetap membantu mereka di sela-sela kesibukannya. Si kembar dan pasangannya juga sibuk membeli gaun pengantin dan cincin pernikahan mereka.
Seminggu sebelum hari pernikahan si kembar tampak sangat cemas dan semakin gugup. Delina masuk ke dalam kamar si kembar yang sedang galau menanti hari pernikahan mereka.
"Lagi galau kah?" Ucap Delina pada si kembar.
"Iya lah! Nanti kalau kau menikah kau akan merasakan seperti ini juga." Sahut Melia.
"Huh, kalian menyebalkan! Kak Dandi duluan yang melamarku pada papi, tapi kalian duluan yang menikah, sungguh tak adil." Ujar Delina sewot.
"Hehehehe, nasib jadi adik kami! Karena kami duluan yang lahir maka kami yang menikah duluan!" Seru si kembar sambil menjulurkan lidahnya pada Delina.
"Huh, dasar!" Umpat Delina kesal.
Hari yang membuat galau si kembar pun tiba. Pagi itu si kembar sedang bersiap-siap di salah satu ruangan untuk berdandan dan menggunakan gaun pengantinnya. Acara pernikahan si kembar di hadiri banyak sekali tamu-tamu penting dari ketiga keluarga itu. Abrar menemui si kembar di dalam ruang rias. Tampak air mata bahagia menetes di pelupuk matanya.
"Papi!" Seru si kembar yang telah cantik menggunakan gaun pengantin.
"Si kembarnya papi." Sahut Abrar memeluk anak-anaknya.
Abrar sangat terharu melihat si kembar yang akan menikah dan menjalani kehidupan barunya.
"Semoga kalian bahagia dengan pasangan kalian." Ucap Abrar pada kedua putrinya itu.
"Terima kasih papi." Ucap si kembar dengan linangan air matanya.
"Jangan menangis, nanti make-up kalian luntur, hehehehe." Kata Abrar.
"Ayo, papi akan mengantar kalian keluar dan menjadi wali pernikahan kalian." Kata Abrar lagi.
Si kembar pun menggandengan tangan abrar di kiri dan di kanan. Mereka melangkah ke ruang acara pernikahannya. Angga dan Evan terlihat sangat tampan dengan jas pengantin yang sudah di pesan khusus untuk mereka. Mata kedua pria itu berbinar saat melihat pasangan mereka masing-masing.
Acara pernikahan itu di mulai. Masing-masing pasangan pengantin itu mengucapkan ikrar janji suci pernikahan.
tampak Balqis, Abrar dan Azlan menangis bombai saat melihat si kembar menikah. Mereka sangat terharu saat melihat si kembar yang akhirnya akan menjalani kehidupan yang baru dengan suaminya.
Setelah mengucapkan janji suci pernikahan, dua pasang pengantin itu menghampiri beberapa tamu yang hadir di pesta pernikahan yang sangat meriah itu. Abrar dan Azlan tak henti-hentinya menangis haru di saat pesta itu.
"Hei...hei, sudahlah! Si kembar itu menikah, seharusnya kalian bahagia, bukannya menangis bombai seperti ini." Kata Romi pada Abrar dan Azlan.
"Hehehehe, mereka sangat terharu." Sahut Devan.
"Rumahku pasti akan sunyi jika si kembar pergi tinggal dengan suaminya, hhuuuwwaaa." Kata Abrar nangis makin kencang,
"Aku sedih tidak ada lagi yang akan mencoret wajahku, hhuhuhuhuuhuh." Kata Azlan.
"Iya, kami mengerti penderitaan kalian tanpa si kembar." Sahut Luky.
Di tengah pesta pernikahan yang sangat meriah itu, Yasmin merasakan pusing yang luar biasa pada kepalanya.
Ia memutuskan untuk duduk sejenak di salah satu kursi yang ada di situ. Tangannya memegang erat meja yang ada di hadapannya.
"Kak, kenapa?" Tanya Gaby pada Yasmin.
"Entahlah! Aku sangat pusing, mungkin aku sedikit lelah." Jawab Yasmin.
Tak lama kemudian, Clara menghampiri mereka.
"Kau kenapa yasmin?' Tanya Clara.
"Aku pusing, tante." Jawab Yasmin.
"Kalau begitu istirahatlah sebentar." Kata Clara.
"Gaby, tolong antar Yasmin ke ruangan lain untuk dia beristirahat." Sambung Clara lagi.
"Iya tante!" Sahut Gaby.
Gaby membantu Yasmin untuk berjalan menuju ke ruangan lain agar Yasmin bisa beristirahat. Namun saat Gaby membantunya untuk berdiri dan baru beberapa kali melangkah tubuh Yasmin langsung ambruk jatuh kelantai. Gaby menjerit sangat panik saat melihat Yasmin pingsan.
Azlan langsung membawa Yasmin ke salah satu kamar yang ada di hotel itu dan Devan memeriksa keadaan Yasmin yang terlihat sedikit pucat.
"Bagaimana keadaan Yasmin, om?" Tanya Azlan khawatir.
"Denyut nadinya sedikit lemah, matanya juga agak pucat, bisa jadi gejala anemia! Tapi kita tunggu dia sadar dulu." Jawab Devan.
Tak lama kemudian, Yasmin pun sadar dan melihat Azlan duduk di sampingnya.
"Kau sudah sadar?' Ucap Azlan pada Yasmin.
"Kepalaku sangat pusing." Sahut Yasmin sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Yasmin, apa belakangan ini kau ada terasa mual-mual atau mudah lelah?" Tanya Devan.
"Iya om, beberapa hari ini aku sangat mudah lelah dan tadi pagi aku sangat mual." Jawab Yasmin.
"Apa siklus menstruasimu lancar?" Tanya Devan lagi.
Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Bulan kemarin hingga sekarang aku belum menstruasi." Kata Yasmin.
"Mungkin kau sedang hamil, aku sarankan besok pagi tes urinmu!" Kata Devan pada Yasmin.
Senyum mengambang terlihat jelas pada wajah Azlan saat menatap Yasmin.
"Azlan, bawa yasmin pulang dan istirahat, jangan banyak melakukan aktifitas yang membuatnya lelah." Kata Devan pada Azlan.
"Iya om." Sahut Azlan.
Azlan pun membawa yasmin kembali kerumah. Setibanya disana Yasmin berbaring di atas ranjang.
"Azlan, aku tak apa! Kau pergilah ke pesta pernikahan si kembar." Kata Yasmin.
"Tidak, aku akan menemanimu disini!" Kata Azlan.
'Tapi....
"Jangan membantahku, Yasmin." Kata Azlan.
Azlan pun mendekap istrinya agar Yasmin merasa nyaman saat beristirahat. Azlan merasakan perasaan yang luar biasa saat itu. Ia merasa senang namun sedikit deg-degan menanti esok pagi untuk mengetahui apakah Yasmin hamil atau tidak.
*****
Acara pesta selesai banyak tamu udangan yang sudah pulang. Si kembar sudah masuk ke dalam kamar pengantin mereka masing-masing. Namun Evan dan Angga masih duduk dan merayakan hari pernikahan mereka di ruang pesta itu. Sangking senangnya, Evan dan Angga minum terlalu banyak sehingga mereka berdua sedikit mabuk.
"Hei Angga, ayo kita meluncur ke kamar pengantin! Istri kita pasti sedang menunggu, hehehehe." Kata Evan meracau karena mabuk.
"Baiklah." Sahut Angga.
Mereka berdua pun jalan sedikit sempoyongan. Saling merangkul mereka berjalan menuju kamar pengantin yang letaknya memang bersebelahan. Di dalam kamarnya, Melia telah mengganti pakaian tidur yang sexy, begitu pula dengan Melani yang menggunakan pakaian tidur sexy namun masih duduk di meja riasnya. Dengan berjalan sempoyongan Evan dan Angga pun tiba di depan pintu kamar pengantin mereka.
"Selamat menikmati, Evan!" Kata Angga dengan keadaan mabuk.
"Oke." Sahut Evan yang juga mabuk.
Mereka pun masuk ke dalam kamar dan menuju ke wanita yang telah menanti mereka. Saat melangkah Evan dan Angga kaget mendengar teriakan si kembar.
"Aaarrrggggghhhh!" Si kembar teriak dari kamar masing-masing.
"Sayang, kenapa berteriak?" Tanya Evan pada Melani.
"Aku ini melani, bodoh! Bukan Melia." Teriak Melani.
"Hehehehe, kau bercanda." Kata Evan langsung tumbang karena sangking mabuknya.
Di dalam kamar Melia.
"Sayang kenapa kau berteriak? Aku belum mulai apapun padamu! Sini cium aku." Kata Angga pada Melia.
"Aku Melia, bukan Melani!" Teriak Melia.
"Hehehe, kau pasti sedang mengerjai aku kan?" Kata Angga lalu tumbang karena sangat mabuk.
Melia dan Melani pun keluar kamar mereka.
"Sepertinya mereka salah masuk kamar!" Seru si kembar bersamaan.
Dengan bersusah payah akhirnya si kembar bisa membawa suami mereka ke dalam kamar. Si kembar membaringkan tubuh suami mereka di satu ranjang yang sama.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan pada mereka berdua?" Tanya Melia.
"Kita buat mereka menjadi semakin tampan, hehehehe!" Sahut Melani.
Melani dan Melia pun naik ke atas tubuh suami masing-masing dan siap dengan spidol di tangan mereka. Si kembar pun mencoret wajah suami mereka dengan spidol itu sambil terkekeh jahat. Setelah puas mencoret wajah suami mereka, si kembar pun keluar kamar itu dan memutuskan untuk tidur di kamar satunya lagi. Malam pengantin yang biasanya menjadi malam yang paling bahagia bagi pasangan pengantin, malah menjadi hal yang menyenangkan bagi si kembar dengan hobinya yaitu mencoret-coret wajah suaminya.
Keesokan paginya di kediaman kampun hawa, Azlan sedang menunggu Yasmin yang berada di dalam kamar mandi. Ia menunggu dengan perasaan yang deg-degan. Tak lama Yasmin keluar dan memeluk Azlan.
"Bagaimana?" Tanya Azlan.
Yasmin menunjukkan hasil tes yang terdapat dua garis merah itu pada Azlan.
"Aku hamil!" Seru Yasmin bahagia.
"Be...benarkah?" Tanya Azlan seakan tak percaya.
Yasmin mengangguk dengan cepat. Azlan melompat-lompat kegirangan sambil mengucapkan kata "yes" berkali-kali. Azlan sangat senang saat tau yasmin sedang mengandung buah cinta mereka. Azlan memeluk Yasmin dan mencium keningnya.
"Sayang, aku akan jadi ayah!" Kata Azlan.
"Iya, aku juga akan jadi ibu." Sahut Yasmin.
Mereka kembali berpelukan sangking bahagianya. Kabar kehamilan Yasmin pun terdengar di telinga seisi rumah yang ikut berbahagia. Balqis dan Abrar sangat senang akan memiliki cucu.
__ADS_1
"Balqis, aku tak percaya sebentar lagi kita akan jadi kakek dan nenek." Kata Abrar terharu.
"Iya, sayang! Tak terasa aku sudah tua dan akan menjadi nenek." Sahut Balqis.
"Mami...papi, berarti aku akan punya adik ya?" Kata Chika.
"Bukan adik, tapi keponakan!" Seru keduanya.
"Hehehehe, lupa." Sahut Chika cengengesan.
Saat sedang ngobrol di teras rumah, Abrar melihat si kembar pulang kerumah. Sontak Abrar dan Balqis terkejut melihat si kembar yang kembali kerumah dengan wajah yang cemberut.
"Kenapa pulang?" Tanya Abrar.
"Dimana suami kalian?" Tanya Balqis.
"Mati!" Ujar si kembar langsung masuk ke kamarnya.
Abrar dan Balqis saling menatap dengan bingung. Mereka bingung si kembar mengatakan suaminya mati.
si kembar berbaring di ranjangnya.
"Para suami kita sangat menyebalkan!" Seru si kembar kesal.
Siang harinya Angga dan Evan terbangun dan melihat ke sisi ranjangnya. Evan dan Angga sangat terkejut melihat mengetahui mereka semalaman tidur seranjang berdua.
"Aaaarrggghhh, setan!" Teriak Evan dan Angga kaget.
Mereka kaget saling melihat wajah mereka yang penuh dengan coretan spidol.
"Siapa kau?" Seru Evan dan Angga serentak.
"Aku Angga!" Sahut Angga.
"Aku Evan!" Sahut Evan.
"Kenapa kita bisa tidur seranjang?" Tanya Evan bingung.
Evan dan Angga pun berpikir keras mengingat kejadian yang semalam. Mereka teringat kalau mereka terlalu banyak minum dan menjadi mabuk.
"Mampus lah kita, si kembar pasti ngamuk!" Kata Angga.
"Aaadduuhh, mati lah aku! Melia itu sangat galak kalau sedang ngambek!" Kata Evan.
"Melani juga." Sahut Angga.
"Cepat kita pergi cari mereka." Kata Evan.
"Oke!" Sahut Angga.
Mereka berdua pun bergegas turun dari ranjang dan melihat ke kamar pengantin yang satunya lagi. Saat mereka membuka pintu kamar itu, si kembar sudah tidak ada di dalam kamar. Evan dan Angga semakin panik saat tau si kembar sudah pergi dari hotel itu.
"Mereka pasti pulang kerumah orang tuanya." Kata Angga pada Evan.
'Iya kau benar." Sahut Evan.
Setelah membersihkan dirinya, Evan dan Angga pun bergegas kerumah Abrar untuk menjemput si kembar. Dengan wajah yang masih berbekas tinta spidol, Evan dan Angga pun tiba di kediaman kampung hawa. Abrar dan Balqis menyambut menantu barunya itu dengan ramah sekaligus bingung melihat wajah kedua menantunya itu di penuhi oleh bekas spidol.
"Korban si kembar nih!" Bisik Abrar pada Balqis saat melihat wajah Evan dan Angga penuh coretan spidol.
"Dasar si kembar, masih gak berubah juga!" Sahut Balqis.
"Mau jemput istri kalian ya?" Tanya Abrar pada kedua menantunya itu.
Evan dan Angga pun mengangguk cepat.
"Mereka ada di kamarnya, pergilah naik dan bujuk mereka." Kata Balqis.
Evan dan Angga pun berlari menaiki anak tangga dan menuju ke kamar si kembar. Mereka pun mengetuk pintu kamar istri mereka.
Tok....tok....
Si kembar mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
"Sayang, ini aku suamimu, Evan!" Kata Evan pada Melia.
"Sayang, ini aku suamimu, Angga." Kata Angga pada Melani.
"Maafkan kami!" Ucap keduanya.
Di dalam kamar si kembar tertawa geli sambil menutup mulutnya agar tak terdengar oleh para suami yang mengetuk pintu di luar. Si kembarpun membuka pintu kamarnya dan menatap tajam pada suami mereka.
"Sayang, ampun! Semalam aku mabuk." Ucap Evan pada Melia.
"Sayang, maaf! Aku mengacaukan malam pengantin kita." Ucap Angga pada Melani.
"Mau di maafin?" Tanya si kembar.
Evan dan Angga mengangguk cepat. Saat itu si kembar memiliki rencana untuk mengerjai suami-suami mereka, namun hal itu musnah saat abrar dan balqi menghampiri mereka. Abrar dan Balqis tau ulah si kembar yang memang sangat jahil pada orang lain. Tentu saja mereka tak mau kedua menantunya itu di jahili oleh si kembar. Dengan cepat Abrar menarik tangan kedua putrinya itu dan memberikannya pada kedua menantunya.
"Ini, ambil istri kalian dan bawa pergi sana! Buatkan aku cucu yang banyak!" Kata Abrar pada kedua menatunya itu.
"Baiklah, papi!" Seru kedua menantunya itu kegirangan sambil menyeret istri mereka masing-masing.
Si kembar menoleh ke arah Abrar dan Balqis yang melambaikan tanganya sambil tersenyum.
"Mengapa papi dan mami malah berpihak pada menantu bukan anaknya?Hhhhuhuhuhuhu." Seru si kembar yang sudah di seret keluar dari rumah oleh kedua suami mereka.
__ADS_1
Evan dan Angga pun membawa istrinya ke rumah mereka.