
Pesta perniakah Kenzo dan Syeril belum usai, Reyn yang mengajak Fatya untuk menjadi pasangannya di pesta itu melirik jam tangan miliknya. Waktu menunjukkan pukul 9 malam.
"Tya, ayo kita pergi dari sini." Bisik Reyn.
"Eh, pestanya belum selesai." Sahut Fatya.
"Huh, kenapa dia tidak peka sih?" Gumam Reyn dalam hatinya.
"Pesta pernikahan masih lama, kemungkinan jam 11 malam baru selesai." Kata Reyn.
"Tidak masalah! Ayah dan ibu mengizinkan aku untuk pulang terlambat." Kata Fatya.
"Huh, bukan itu maksudku, Tya!" Ujar Reyn kesal.
"Jadi kenapa?" Tanya Fatya lugu.
"Ayo iku saja denganku!" Kata Reyn menarik tangan Fatya untuk ikut pergi bersamanya.
Saat akan keluar dari gedung pernikahan, mereka berselisih jalan dengan Boy dan Gaby.
"Mau kemana kalian? Pesta belum berakhir." Tanya Boy.
"Mau buat bayi!" Aahut Reyn asal bicara dan langsung pergi begitu saja sambil menyeret Fatya.
"Hei, Rendang! Jangan mendahului aku!" Teriak Gaby yang belum kunjung hamil.
"Pppfffftt, si Rendang ada-ada saja." Ujar Boy menahan tawa melihat adik iparnya yang konyol.
"Aku saja belum hamil, dia yang malah ingin buat bayi." Gumam Gaby sewot.
"Sayang, makanya kita harus sering-sering melakukannya! Dalam seminggu, kita harus melakukannya 21 kali." Kata Boy.
Gaby mulaih berhitung dengan jari-jarinya yang lentik, sementara Boy terkekeh geli disampingnya.
"Seminggu ada 7 hari, kalau di 21 di bagi 7 sama dengan 3." Gumam Gaby menghitung.
"Apa? Maksudmu dalam sehari 3 kali?" Teriak Gaby melotot pada Boy.
"Hehehe, asik kan?" Ujar Boy cengengesan.
"Haaihh, seperti minum obat saja sehari 3 kali!" Sahut Gaby.
"Biar kita punya bayi sayang." Bisik Boy.
"Hehehehe, kedengarannya menyenangkan." Sahut Gaby menyetujui keinginan konyol dari suaminya.
*****
Reyn mengendarai mobilnya membawa Fatya ke sebuah tempat yang sangat indah. Dari sana mereka bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota yang tampak indah bagaikan bintang.
"Wah, indah banget!" Seru Fatya.
"Apa kau suka?" Tanya Reyn.
"Tentu saja." Sahut Fatya.
Reyn mendekat dan memeluk Fatya dari belakang. Fatya kaget dengan yang di lakukan Reyn padanya. Sontak Fatya berbalik dan menatap Reyn yang sedang mendekapnya.
"Kak, jangan begini, nanti di lihat orang." Kata Fatya malu-malu.
"Aku tak perduli! Kau itu kekasihku." Sahut Reyn.
"Eh, sejak kapan?" Tanya Fatya.
"Huh, sejak pertama kali aku mengejarmu!" Kata Reyn sewot.
"Kapan dia menembakku? Seenak jidatnya saja dia!" Gumam Fatya dalam hatinya.
Reyn menaikkan dagu Fatya yang kala itu sedang menundukkan wajahnya. Fatya mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Reyn. Fatya tau apa yang akan di lakukan oleh Reyn terhadapnya. Fatya memejamkan matanya saat Reyn secara perlahan akan segera mencium bibirnya untuk pertama kalinya. Reyn yang sedikit lagi akan merasakan bibir manis Fatya, tiba-tiba menghentikan gerakanya saat ia mendengar suara cekikikan dari seseorang yang sangat familiar di telinganya.
"Ada apa?" Tanya Fatya.
"Ssstt! Jangan berisik." Bisik Reyn.
Reyn menarik tangan Fatya untuk mencari sumber suara yang ia dengar saat itu. Perlahan ia berjengkat melangkah mencari suara yang terdengar sangat familiar di telinganya. Reyn berhasil menemukan sumber suara yang menjadi pengganggu malam romantisnya dengan Fatya. Terkejutnya ia melihat Jovanka dan Adrian yang sedang mojok berdua di tempat yang lumayan sunyi itu.
"Sial! Ternyata mereka berdua." Ujar Reyn dalam hatinya.
"Siapa mereka?" Tanya Fatya.
"Mereka sepupu dari kedua belah pihak orang tuaku." Sahut Reyn berbicara dengan berbisik.
Reyn menyaksikan bagaimana cara Adrian membujuk Jovanka untuk mau dicium olehnya.
Di posisi Jovanka dan Adrian.
"Kak, jangan peluk terus dong! Aku jadi sesak nafas, nih!" Kata Jovanka berkali-kali mendorong dekapan Adrian padanya.
__ADS_1
"Sayang, aku ini kekasihmu, kau pelit banget sih!" Sahut Adrian.
"Setiap bertemu kau selalu saja begini." Kata Jovanka yang menahan diri untuk menonjok wajah kekasihnya itu.
"Aku rindu padamu, sayang!" Ucap Adrian.
"Huh, setiap hari bertemu denganku di kampus." Sahut Jovanka.
"Aku tergila-gila padamu." Ucap Adrian lagi hendak mencium Jovanka.
"Jangan cium lagi!" Kata Jovanka menolak.
"Kenapa sih?" Tanya Adrian.
"Hari ini kau sudah 99 kali menciumku! Bibirku nanti dower!" Teriak Jovanka kesal.
"Hehehe, ternyata kau menghitungnya." Kata Adrian cengengesan.
"Sekali lagi, biar genap seratus, hehehe." Sambung Adrian yang bagaikan tak puas mencium kekasihnya.
Reyn yang sedang menonton pertunjukan tak senonoh dari kedua sepupunya, memiliki ide yang luar biasa di kepalanya.
"Hehehehe, biar mampus aku kerjai mereka berdua!" Ucap Reyn yang siap dengan tingkah konyolnya.
Reyn yang bersembunyi di balik semak-semak, menirukan suara hantu yang sangan menyeramkan membuat Adrian dan Jovanka ketakutan.
"Hihihihihhi, pasangan mesum! sedang apa kalian disini?" Ucap Reyn dengan suara yang menyeramkan.
"Kak, suara apa itu?" Tanya Jovanka ketakutan pada Adrian.
"Se...se...setan!" Teriak Adrian langsung kabur sambil menyeret Jovanka yang juga ikut berteriak ketakutan.
Adrian dan Jovanka berlari masuk ke dalam mobil dan langsung pergi dari tempat itu, sedangkan Reyn terkekeh geli melihat kedua sepupunya yang berlari ketakutan karena ulahnya. Fatya menatap dingin melihat Reyn yang tertawa terbahak-bahak.
"Girang amat, mas!" Ujar Fatya pada Reyn.
"Mereka sangat bodoh! Begitu saja takut." Sahut Reyn masih terkekeh geli.
Reyn menghentikan tawanya dan menarik tubuh Fatya mendekat denganya.
"Sekarang kita hanya berdua saja, mari kita lanjutkan aktifitas kita yang tertunda tadi, hehehe" Bisik Reyn membuat pipi Fatya memerah.
Reyn kembali mendekatkan wajahnya hendak mencium Fatya, namun hal itu harus musnah saat mereka mendengar suara tangisan wanita yang sangat menyedihkan.
"Apa kau mendengar sesuatu, Tya?" Tanya Reyn.
"Kak, siapa yang menangis di tempat seperti ini?" Fatya ketakutan mendengar suara itu.
"Kun...kun....kuntilanak!" Teriak Fatya.
"Apa itu kuntilanak?" Tanya Reyn bingung karena ia besar di negara asing yang tak mengetahui jenis hantu dari Indonseia.
"Setan wanita!" Jawab Fatya.
"Setan ya! Apa? Setan?" Teriak Reyn kaget.
Fatya belum menyahut, Reyn sudah menyeretnya sambil berlari masuk kedalam mobil. Reyn langsung tancap gas untuk pergi dari tempat itu. Dari balik batang pohon yang rindang, Tantia dan Herdinan terkekeh melihat Reyn dan Fatya kabur sambil ketakutan karena ulah mereka berdua.
"Mereka kena batunya!" Kata Tantia.
"Iya, hehehe." Sahut Herdinan.
"Sekarang, hanya ada kau dan aku." Kata Tantia bergelayut mesra pada leher Herdinan.
Herdinan membalas pelukan hangat yang diberikan oleh Tantia padanya. Dengan segera Herdinan mendaratkan ciuman mesranya pada Tantia sambil menikmati suana malam yang indah itu. Saat sedang menikmati ciuman mesranya, Tantia membuka matanya dan melihat sosok yang menyeramkan di belakang tubuh Herdinan. Sontak Tantia kaget melihat wajah jelek dan bergelambir sedang menatap dirinya.
"Aarrggghhh! Hantu!" teriak Tantia langsung berlari ketakutan.
Herdinan bingung melihat Tantia yang lari meninggalkan dirinya begitu saja. Herdinan menoleh kebelakang dan melihat sosok yang sedang menatap dirinya. Tubuh Herdinan terpental sangking kagetnya hingga ia jatuh terduduk di tanah.
"Setan!" Teriak Herdinan berlari ketakutan mengejar Tantia yang sudah lari duluan.
Herdinan berlari menjauh dari tempat itu, sementara sosok yang wajahnya bergelambir itu tertawa geli melihat pria yang ketakutan karena dirinya.
"Anak muda zaman now, melihat begitu saja langsung lari. Dasar!" Ucap sang kakek tua yang tanpa sengaja melintas di area taman tersebut sambil membawa senter kecil di tanganya.
Ketiga pasangan kekasih itu gagal menikmati malam romantis mereka. Mereka kembali kerumah mereka masing-masing dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan.
*****
Zidan dan keluarganya masih berada di Indonesia setelah menghadiri pernikahan Kenzo dan Syeril. Reyn duduk di depan komputer sambil berdecak kesal karena game yang ia mainkan selalu kalah. Zidan memperhatikan putranya yang sebentar lagi akan lulus kuliah dan menjadi sarjana.
"Reyn, apa kau sudah memikirkan untuk melanjutkan S-II?" Tanya Zidan.
"Pa, aku ingin menikah!" Sahut Reyn.
"Sama Fatya?" Tanya Zidan.
__ADS_1
Reyn mengangguk.
"Memangnya Fatya bisa masak rendang?" Tanya Isabel.
"Aku berubah pikiran mengenai prinsipku mencari wanita yang jago masak rendang." Sahut Reyn.
"Kenapa?" Tanya Zidan.
"Aku cinta pada Tya apa adanya." Jawab Reyn.
"Hehehehe, kau sangat terus terang." Kata Isabel memeluk putranya.
"Kapan kau akan menikahinya?" Tanya Zidan.
"Besok!" Seru Reyn.
Pllleetttaakkk............
Zidan mendaratkan kepalan tanganya pada kepala Reyn.
"Anak bodoh! Kau pikir menikah itu cukup dengan sehari saja, hah?" Teriak Zidan kesal pada putranya.
"Huh, mana aku tau." Gumam Reyn sambil mengusap kepalanya.
"Menikah itu ada aturannya dan harus di rencanakan dengan matang." Kata Isabel.
"Tapi aku sudah tidak sabar ingin membawa Fatya ke Itali." Kata Reyn.
"Bulan depan saja kau menikah dengan Fatya." Kata Zidan.
"Pa, minggu depan dong!" Pinta Reyn.
"Apa kau ingin ku pukul lagi, hah?" Teriak Zidan yang siap dengan kepalan tanganya.
"Hei, jangan pukul anakku lagi, om!" Teriak Isabel marah pada Zidan.
Zidan menghentikan aksinya dan cengengesan di hadapan Isabel.
"Ppfftt, papa takut di taekwondo sama mama." Gumam Reyn melihat Zidan berusaha untuk menenangkan Isabel.
Tak lama kemudian Gaby dan Boy datang mengunjungi mereka dan melihat Zidan yang sedang membujuk Isabel.
"Mereka kenapa?" Tanya Gaby pada Reyn.
"Biasa lah, hubungan antara suami dan istri, Hehehe." Sahut Reyn.
"Huh, pasti gara-gara kau!" Ujar Gaby.
"Tentu saja." Sahut Reyn.
"Kak, bantu aku mempersiapkan pernikahanku sama Fatya ya." Pinta Reyn pada Gaby.
"Apa kau akan menikah?" Teriak Geboy.
"Iya! Apa salahnya?" Tanya Reyn.
"Kau bahkan belum lulus kuliah, dan Fatya baru saja lulus SMA! Gimana ceritanya kalian akan menikah?" Ujar Gaby.
"Hei, aku dengar si Tya dapat beasiswa di fakultas kedokteran." Kata Boy.
"Memang iya!" Sahut Reyn.
"Lalu bagaimana dengan kuliahnya?" Tanya Boy.
"Kak Boy, apa kakak lupa kalau papa mertuamu itu orang kaya? Papa akan menanggung biaya pendidikan Tya setelah menikah denganku dan tinggal di Itali." Sahut Reyn.
"Huh, seenak jidatmu saja kalau bicara!" Ujar Gaby.
"Pokoknya, aku akan segera menikahi Fatya dan membawanya ke Itali! masalah cita-citanya yang ingin menjadi dokter, akan aku serahkan pada papa." Kata Reyn.
Gaby dan Boy hanya menghela nafas panjang melihat sikap konyol Reyn yang berkeinginan untuk menikahi Fatya secepat mungkin.
Keesokan harinya, Zidan dan Isabel datang kerumah Fatya untuk melamarnya. Zidan dan Isabel di sambut baik oleh ayah dan ibunya Fatya. Fatya kebingungan saat Zidan membicarakan soal pernikahan Reyn dengannya, sedangkan Reyn tidak pernah mengatakan apapun padanya. Fatya yang kebingungan mengirim pesan singkat pada Reyn melalui ponselnya.
"Kak, orang tuamu membicarakan pernikahan dengan orang tuaku. maksudnya apa?" Fatya.
"Kita akan segera menikah." Rendang.
"Tapi aku baru saja memulai pendidikanku di universitas kedokteran." Fatya.
"Setelah menikah kau akan melanjutkannya di Itali." Rendang.
"Tidak ada bantahan!" Rendang.
Fatya menjadi kesal saat membaca pesan dari Reyn padanya.
"Seenaknya saja dia! dasar pemaksa." Gumam Fatya dalam hatinya.
__ADS_1
Kedua keluarga itu sudah sepakan akan melangsungkan pernikahan Reyn dan Fatya bulan depan dengan adat minang pastinya. Zidan dan Isabel mengikuti semua keinginan dari keluarga Fatya yang sangat menjunjung nilai kebudayaan suku mereka.