MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
KEBAHAGIAAN AZLAN


__ADS_3

Yasmin dan Azlan sedang berada di rumah sakit untuk memeriksakan kondisi calon bayi yang ada di dalam rahim Yasmin. Dokter kandungan memeriksa kandungan yasmin yang baru berusia 6 minggu. Azlan menatap pada layar yang menampilkan gambar calon bayinya yang masih berupa gumpalan darah. Jantungnya berdebar saat menatap calon bayinya itu. Ia merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa.


"Sepertinya janinnya ada tiga." Kata Dokter.


"Apa?" Teriak Azlan kaget.


"Iya, janinnya ada tiga." Sahut Dokter.


"Apa maksudmu kembar tiga?" Tanya Azlan.


"Iya, aku sangat yakin karena di dalam rahim istri anda ada 3 kantung janin." Jawab Dokter.


"Wah, sekali lahir aku dapat 3 anak sekaligus!" Seru Azlan girang.


Yasmin tersenyum bahagia melihat Azlan yang sangat girang akan memiliki 3 bayi sekaligus. Setiap malam sebelum tidur Azlan selalu mengelus perut Yasmin dan bercanda membuat Yasmin tertawa saat Azlan mengelus perutnya.


"Sayang, kenapa perutmu belum membesar seperti ibu hamil lainnya?" Tanya Azlan.


"Usia kandunganku baru 6 minggu, ya belum besar lah!" Sahut Yasmin.


"Perutku akan membesar jika usia kandunganku sudah lebih dari 4 bulan." Sambung Yasmin.


"Oh, begitu! Gimana ya misalkan perutmu sangat besar? Kau pasti seperti badut! Hehehe." Kata Azlan membuat Yasmin auto mewek.


Yasmin langsung menangis dan Azlan panik.


"Sayang, kenapa nangis?" Tanya Azlan.


"Kau bilang aku seperti badut, kau pasti tidak akan mencintai aku lagi kalau aku seperti badut! Hhhuuwwaaaa." Yasmin nangis semakin kencang.


"Hehehe, aku bercanda sayang! Aku hanya bercanda." Kata Azlan.


"Aku benci kau!" Ujar Yasmin ngambek.


Azlan semakin panik saat Yasmin ngambek. Yasmin berbalik membelakangi Azlan. Azlan memutar otaknya untuk membujuk Yasmin. Saat itu yang ada di pikiran Azlan adalah coklat. Azlan keluar dari kamarnya dan mengambil coklat di dalam kulkas. Lalu ia kembali ke kamar dan memberikan coklat itu pada Yasmin.


"Sayang, ini coklat untukmu." Kata Azlan membujuk Yasmin.


"Wah, coklat!" Seru Yasmin dengan mata yang berbinar-binar.


Yasmin pun berhenti ngambek dan makan coklat itu dengan senang. Azlan menghela nafas dengan lega.


"Untung saja si Chika selalu menyimpan coklat di kulkas." Gumam Azlan dalam hatinya.


Chika keluar dari kamarnya sambil membawa boneka kesayanganya. Ia menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Chika kini berdiri tepat di depan kulkas. Ia membuka pintu kulkas itu dan celingak celinguk mencari simpananya.


"Dimana coklatku?" Tanya Chika dalam hatinya.


Lelah mencari coklatnya, Chika mewek karena tak dapat menemukan coklatnya. Lalu Abrar melihat Chika yang mewek di depan kulkas.


"Kenapa, nak?" Tanya Abrar.


"Coklatku hilang! Hhhhuuuwwwaaaa." Chika menangis.


Abrar mencoba mengingat saat ia melihat Azlan memegang sebatang coklat.


"Kerjaan si Azlan nih!" Gumam Abrar dalam hatinya.


Abrar pun mencoba menenangkan putri bungsungnya yang manja itu. Namun chika tak mau berhenti menangis.


Alhasil Abrar membawa Chika ke mini market yang ada di dekat rumahnya untuk membeli apa yang Chika mau agar Chika mau berhenti menangis.


 


 


*****


Di apartemennya, Geof hanya bermalas-malasan sambil menonton televisi. Kulit kacang dan kaleng minuman kosong berserakan dimana-mana. Merta sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk Geof. Geof bosan dengan acara tv yang tak menarik baginya. Geof melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Ia melirik Merta yang sedang memotong sayuran dengan keringat mengucur di dahi dan lehernya. Rambut Merta acak-acakan, namun saat itu Geof melihat wajah merta tampak sexy dengan keringat di wajahnya. Geof melihat tubuh Merta dari belakang. matanya naik turun memperhatikan tubuh Merta.


"Kaki jenjang yang indah, bokongnya juga bagus! Hehehe." Gumam Geof.


Geof mendekati Merta dan memeluknya dari belakang membuat Merta kaget.


"Tuan, apa yang kau lakukan?' Ujar Merta kaget di peluk oleh Geof.


"Aku sudah mengeluarkan uang untukmu sebanyak 100 juta, jadi aku bisa melakukan apapun yang aku mau." Bisik Geof pada Merta.


Merta sedikit berontak untuk terlepas dari pelukan Geof.


"Jangan berontak!" Ujar Geof.


Merta terus berontak. Lalu Geof membalikkan tubuh merta menghadapnya. Dengan cepat Geof langsung mendaratkan bibirnya mencium Merta dengan paksa. Merta kembali berontak, namun Geof mengancamnya lagi.


"Aku bilang, jangan berontak atau aku akan memperkosamu malam ini!" Teriak Geof kesal pada Merta.

__ADS_1


Geof menatapnya tajam dan Merta tak berani membalas tatapannya. Merta hanya diam dan menunduk wajahnya di hadapan Geof.


"Seandainya dulu kau mau menemaniku hanya semalam, mungkin kau tidak akan terjebak denganku selama dua tahun." Kata Geof mengangkat dagu Merta untuk menatapnya.


"Lebih baik aku menjadi pelayanmu selama dua tahun, dari pada aku harus menemani pria murahan sepertimu di atas ranjang." Ujar Merta membalas perkataan Geof yang menjengkelkan itu.


Geof kembali kesal saat merta mengatakan dirinya pria murahan. Geof mencekik leher Merta dengan kesal.


"Sekali lagi kau berani menghinaku, aku akan membunuhmu!" Teriak Geof.


Lalu Geof menghempaskan tubuh merta hingga terjatuh di lantai. Merta terbatuk-batuk setelah di cekik oleh Geof.


"Lanjutkan pekerjaanmu, cepat!" Teriak Geof lagi pada Merta.


Dengan tubuh yang gemetar Merta melanjutkan pekerjaannya di dapur itu. Geof kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi. Sedangkan Merta kembali mengambil pisau dan memotong sayuran lagi.


"Seandainya aku tidak memiliki ibu yang sedang sakit, mungkin aku sudah menusuk pria itu dengan pisau ini!" Gerutu Merta kesal pada Geof.


"Sayangnya aku masih memiliki ibu, jika aku membunuh orang maka ibuku pasti akan sangat sedih dan itu tak baik untuk kondisi kesehatannya." Gumam Merta lagi.


Merta menitikkan air matanya karena merindukan ibunya yang masih di rawat di rumah sakit setelah operasi pengangkatan ginjalnya. Makanan yang Merta masak pun telah di sajikan di meja makan. Merta melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk memanggil Geof. Merta melihat ruangan itu berserakan dengan kulit kacang dan kaleng minuman.


"Astaga, aku membersihkan apartemen ini hingga puluhan kali dalam sehari." Gumam Merta dalam hatinya.


Lalu Geof meliriknya.


"Ada apa?' Tanya Geof sinis.


"Makan malamnya sudah siap, tuan." Kata Merta.


Geof bangkit dari sofanya menuju ke ruang makan, sementara Merta mengambil sapu untuk membersihkan ruangan yang berserak itu. Geof duduk dan menunggu Merta untuk melayaninya, namun Merta tak kunjung datang ke ruang makan.


"Merta!" Teriak Geof kesal.


Merta datang dengan sapu di tangannya.


"Sedang apa kau?" Tanya Geof.


"Aku membersihkan ruangan tengah." Jawab Merta.


"Aku mau makan, cepat layani aku!" Perintah Geof.


Merta dongkol setengah mati saat Geof minta di layani saat makan. Namun tak ada yang bisa di perbuat oleh Merta saat itu selain menuruti apa yang di inginkan Geof darinya sebagai pelayan. Merta meletakkan sapu dan mencuci tangannya hingga bersih. Lalu Merta mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Geof.


"Duduk!" Kata Geof pada Merta.


"Aku bilang duduk!" Bentak Geof.


Merta meletakkan pantatnya di kursi di samping kanan Geof. Lalu Geof menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Merta.


"Makan!" Kata Geof.


Merta menatap Geof dengan bingung.


"Apa kau budek? Aku bilang makan! Buka mulutmu!" Kata Geof menaikkan nadanya satu oktaf.


Merta pun membuka mulutnya, dan masuk lah satu suapan dari sendok yang ada di tangan Geof. Lalu Geof makan dengan sendok yang sama dengan Merta.


"Eeehh, dia gila kah? Makan dengan sendok bekasku?" Gumam Merta dalam hatinya.


"Aku tau kau belum makan sejak tadi siang! Apa kau ingin mati?" Tanya Geof dengan nada sinisnya.


"Bagaimana aku mau makan siang, kau selalu menggangguku!" Gumam Merta berbicara pelan namun terdengar oleh Geof.


"Makanya kalau tidak mau di ganggu jangan jadi wanita yang cantik! Aku ini pria normal, gampang tergoda dengan wanita cantik." Ujar Geof.


"Huh, tadi kejamnya minta ampun, sekarang berubah jadi baik! Dasar pria aneh!" Ucap Merta dalam hatinya.


"Nih, makan lagi!" Kata Geof menyodorkan sendoknya lagi.


"Aku sudah kenyang." Sahut Merta Ketus.


"Kenyang apanya? Kau baru makan sesuap tadi!" Kata Geof.


Merta bangkit dari kursinya dan kembali mengambil sapu untuk membersihkan ruangan tengah.


"Awas saja kalau kau sampai mati kelaparan aku akan membuang mayatmu ke lubang buaya!" Teriak Geof kesal.


Merta yang berada di ruang tengah hanya ngedumel sendirian dengan kesal menanggapi perkataan Geof padanya. Setelah selesai membersihkan ruang tengah, merta membersihkan meja makan. Terlihat olehnya Geof sedang duduk di depan komputer bermain game.


Semua pekerjaan telah selesai di kerjakan oleh Merta, kini ia sedang membawa sekantung besar plastik hitam yang berisikan sampah rumah tangga. Ia keluar dari apartemen untuk membuang sampah itu. Saat itu Geof mencari Merta untuk menyuruhnya membuat kopi, namun ia tak menemukan Merta di ruang manapun. Saat mencari-cari, ia melihat ke arah jendela dan tampak Merta sedang berbicara dengan penghuni apartemen lainnya.


"Sedang apa wanita itu? Dia ngobrol dengan seorang pria." Gumam Geof memperhatikan dari jendela.


Geof melihat Merta tersenyum saat mengobrol dengan pria itu. Geof kesal dan menutup jendelanya dengan keras.

__ADS_1


Tak lama kemudian Merta masuk ke dalam apartemen, dan Geof langsung menarik lengannya dengan kasar.


"Kau bicara dengan siapa tad, hah?" Teriak Geof kesal pada Merta.


"Dengan penghuni di depan apartemenmu." Jawab Merta.


"Jangan bicara padanya lagi." Kata Geof sewot.


"Kenapa? Dia baik padaku! Dia selalu membantuku saat membuang sampah." Kata Merta.


"Jadi kau sudah sering bertemu dengannya?" Teriak Geof semakin kesal.


"Iya, dia kan tetangga depan." Sahut Merta.


"Aku bilang, jangan bicara padanya lagi! Apa kau dengar aku, hah?" Teriak Geof.


"Kalau aku melihatmu bicara padanya lagi, aku akan menghabisimu." Ancam Geof pada Merta.


"Tapi apa alasannya kenapa aku tidak boleh bicara padanya?' Tanya Merta.


"Kau pelayanku, jadi kau harus menuruti perkataanku, kalau aku bilang tidak boleh ya berarti tidak boleh." Kata Geof sambil menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Dasar pria aneh! Tanpa alasan yang jelas dia melarangku bergaul dengan orang lain." Gerutu Merta dongkol pada Geof.


Geof masuk kedalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tanganya.


"Hah, kenapa aku marah? Dia kan cuma pelayan, lagipula awalnya aku menjadikannya pelayanku untuk membalas semua penghinaannya, kenapa malah jadi begini sih?" Gumam Geof bingung dengan dirinya sendiri.


Setelah semuanya beres Merta masuk kedalam kamarnya dan mandi. Saat itu ia lupa mengunci pintu kamarnya.


Geof keluar kamar dan menuju kamar Merta untuk menyuruhnya membuatkan kopi.


"Merta!" Panggil Geof.


Tak ada sahutan dari dalam kamar Merta. Geof memutar batang pintu dan membuka pintu kamar Merta. Saat itu Merta baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya.


"Aaarrrgghhhh!" Teriak Merta kaget.


Karena Merta berteriak sangat kencang, Geof pun menjadi terkejut dan ikut berteriak.


"Aaaarrggghhh!" Teriak Geof kaget.


Geof berbalik badan membelakangi Merta.


"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa mengetuk dulu?' Teriak Merta.


"Aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kau tidak menyahut, aku pikir kau kabur!" Sahut Geof.


"Pergi sana!" Usir Merta.


"Cepatlah berpakaian, buatkan aku kopi!" Perintah Geof.


"Iya!" Teriak Merta kesal.


Geof keluar dari kamar Merta sambil menarikkan garis senyum di bibirnya. Ia pun kembali duduk di depan tv di ruang tengah. Tak lama Merta menghampiri Geof dengan secangkir kopi ditanganya.


"Ini kopinya!" Kata Merta meletakan kopi di atas meja.


Saat Merta akan beranjak pergi, Geof menarik tanganya sehingga membuat Merta jatuh terduduk di sebelahnya.


"Apaan sih!" Ujar Merta.


"Duduk, temani aku nonton!" Kata Geof.


'Aku mau tidur, aku ngantuk!" Sahut Merta hendak bangun.


Lagi-lagi Geof menahanya untuk tidak pergi dari ruangan itu.


"Duduk disini atau aku akan....


"Memperkosamu!" Sahut Merta memotong ucapan Geof.


"Baguslah kalau kau sudah tau." Kata Geof.


"Ancamanmu tidak ada yang lain selain itu." Kata Merta sewot.


Mau tak mau merta yang sudah sangat mengantuk pun terpaksa harus duduk menemani Geof menonton bola sambil minum kopi.


Hening......


"Gol!" Seru Geof.


Lalu Geof melihat merasakan sesuatu di pundaknya. Ia menoleh dan melihat kepala Merta yang bersandar di pundaknya. Merta sudah pulas tertidur saat menemaninya menonton. Geof menatap wajah Merta yang baru selesai mandi. Tampak polos tanpa riasan make-up sedikit pun.


"Cantiknya dia." Gumam Geof menatap wajah Merta.

__ADS_1


Geof mendekatkan wajahnya pada Merta, semakin lama semakin dekat.


__ADS_2