
Wwwwuuussshhhhh, suara pesawat mendarat di bandara. Turunlah pria tampan berkaca mata hitam dan pakaian yang keren. Dengan santai ia menapakkan kakinya di tanah Indonesia.
“Hhheemm, akhirnya aku mencium bau rendang disini! Hehehe.” Gumam Reyn sambil cengengesan.
Saat sedang mengamati pemandangan Indonesia untuk pertama kalinya, tiba-tiba Reyn jatuh tersungkur karena di tendang oleh Gaby yang tak sabaran melihat tingkah adiknya yang lebay itu.
“Kenapa kakak menendangku?” Teriak Reyn kesal pada Gaby.
“Cepatlah! Dasar sok ganteng!” Ujar Gaby melengos pergi begitu saja.
“Huh, menyebalkan!” Balas Reyn bangkit dari keterpurukannya akibat ulah sang kakak.
Lalu Reyn dan Gaby sedang menunggu supir pribadi Azlan yang akan menjemput mereka di bandara. Saat itu Gaby sedang melihat sang adik mendekati seorang gadis di bandara itu.
“Hai, apa kau suka makan rendang?” Tanya Reyn pada gadis itu.
“Eemmm, iya! Hehehe.” Jawab gadis itu canggung.
“Apa kau suku padang?” Tanya Reyn antusias.
Gadis itu menggeleng.
“Ah sayang sekali, kau tidak bisa masuk dalam daftar calon istriku! Karena aku berniat untuk mencari gadis dari suku padang, agar dia bisa setiap hari membuatkan daging rendang untukku! Hehehehe.” Kata Reyn.
Gadis yang sedang duduk di samping Reyn, hanya tercengang mendengar ucapanya. Dengan sigap Gaby menarik kerah baju Reyn mendekat padanya.
“Jangan buat aku malu, Reyn! Atau aku akan meninggalkanmu disini.” Ancam Gaby.
“Oke! Hehehehe.” sahut Reyn takut pada kakaknya.
Ini kali pertama Reyn menginjakkan kakinya di Indonesia, jadi mau tak mau ia harus menuruti kakaknya agar tak di tinggal oleh Gaby di jalanan. Tak lama kemudian supir menjemput mereka di bandara dan membawa mereka ke kediaman kampung hawa. Saat tiba di rumah Abrar, Reyn berdegik ngeri saat melangkah masuk kedalam.
“Kenapa?” Tanya Gaby pada adiknya itu.
"Begitu banyak wanita di dalam, aku jadi agak sedikit ngeri!” Sahut Reyn menatap rumah mewah itu.
“Kenapa?” Tanya Gaby semakin bingung.
“Aku takut di perkosa oleh wanita-wanita itu!” Sahut Reyn berpikir berlebihan.
Pplllaakkk…..
“Kau selalu menguji kesabaranku, dasar rendang basi!” Umpat Gaby setelah memukul adiknya.
“mereka itu sepupumu, bodoh!” Teriak Gaby kesal sambil menyeret Reyn masuk kedalam rumah.
Masuk kedalam rumah mereka langsung di sambut oleh 12 sepupunya yang terkekeh jahat pada Reyn.
“Hai Reyn! Selamat datang di rumah kami! Hehehe.” Seru warga kampung hawa menyambut kedatangan si rendang.
“Kenapa jadi horror sih? Aku sedikit takut!” Gumam Reyn.
“Tidak usah takut, kita akan bersenang-senang disini!Hhehehehe.” Sahut Azlan terkekeh jahat pada Reyn.
“Rasakan kehidupan penuh siksaan di kampung hawa ini, Reyn! Hehehehe.” Bisik Azlan pada Reyn.
“TTIIIIDDDAAKKK!” Teriak Reyn frustasi.
Semuanya tertawa saat melihat Reyn frustasi yang baru saja menginjakan kakinya di kediaman kampung hawa.
“Baiklah, kalian istirahatlah dulu, aku sudah menyiapkan kamar tamu untuk kalian berdua.” Kata si kembar pada Gaby dan Reyn.
“Aku tak mau menginap disini, aku mau ke hotel saja!” Kata Reyn hendak kabur.
“Reyn, jangan menghabiskan tingkat kesabaranku!” Ancam Gaby melotot pada adiknya.
“Hahahaha, aku bercanda kak!” Sahut Reyn takut pada Gaby.
Mereka berdua pun beristirahat di dalam kamar mereka masing-masing. Sementara Delina sedang menguping si kembar dan melihat spidol di tangan mereka.
“Hah, si kembar kumat lagi!” Gumam Delina berlalu pergi.
Di dalam kamar si kembar.
“Eeehh, kita ajak si Jo saja!” Kata Melia.
“Si Rindi ajak juga, sekalian Tantia juga!” Kata Melani.
“Bagus, semakin ramai akan semakin bagus! Hehehe.” Sahut Melia terkekeh jahat dengan spidol di tangannya.
Si kembar pun mengajak adik-adiknya untuk mengerjai Reyn yang sedang tertidur pulas di dalam kamarnya.
Mereka pun menyelinap masuk kedalam kamar Reyn. Jovanka mengikat kaki Reyn, sedangkan Tantia mengikat tangan Reyn. Si kembar terkekeh jahat hingga suara tawanya membangunkan Reyn.
“Apa…apa yang kalian lakukan?” Teriak Reyn.
"Kami akan mendandanimu menjadi tambah ganteng, Reyn! Hehehehe.” Seru si kembar yang siap dengan spidol di tangannya.
“Tolong aku!” Teriak Reyn yang sedang di siksa habis-habisan oleh para gadis di kampung hawa.
Di dalam kamarnya Gaby sedang menerima telepon dari Zidan.
“Kalian sudah sampai?” Tanya Zidan di Itali.
“Iya, pa!” Sahut Gaby.
“Mana si rendang?” Tanya Zidan.
“Di kamar sebelah!” Sahut Gaby.
“Cepat temui adikmu, perasaan papa tak tenang!” Kata Zidan yang memiliki kontak batin pada Reyn.
__ADS_1
Gaby pun menuju ke kamar Reyn dan melihat adiknya di siksa oleh para gadis resek itu.
“Reyn, papa telepon!” Kata Gaby meletakan ponselnya di telinga Reyn.
“Papa! Tolong aku, pa! Aku di siksa oleh gadis-gadis ini!” Teriak Reyn.
“Hhhaaaaiiihhh, sudah kuduga ini pasti terjadi pada kembaranku.” Gumam Zidan.
“Rendang, cobalah untuk bersabar ya nak! Bagaimanapun juga gadis-gadis itu adalah keponakan tersayangku, jadi kau tahan sedikit dengan siksaan mereka, oke! Setelah itu mereka pasti akan memberikanmu daging rendang yang enak.” Kata Zidan kepada putra bungsunya itu.
“Benarkah?” Teriak Reyn seketika bersemangat.
“Iya nak.” Sahut Zidan.
“Baiklah, aku akan menahannya demi rendang!” Kata Reyn bersemangat.
“Dddiiihh, anak lajangku memang ******!.” Gumam Zidan tepok jidat.
Setelah menerima telepon dari papanya, Gaby duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya sesekali ia melirik kepada Reyn yang sudah di coret-coret oleh si kembar.
“Reyn, kau persis ondel-ondel! Aku akan mengabadikannya.” kata Gaby memotret adiknya dengan ponselnya itu.
“Aku akan posting ke medsos.” Kata Gaby lagi.
“Jangan! Dasar bodoh!” Teriak Reyn.
“Demi rendang?” Ujar Gaby.
“Oke!” Sahut Reyn kembali bersemangat.
Azlan yang berdiri di depan pintu kamar dan melihat semua aksi adik-adiknya hanya bisa bergeleng kepala saat melihat Reyn yang pasrah hanya karena demi daging rendang.
“Tante Isabel dan om Zidan yang malang, memiliki anak laki-laki yang bodoh seperti Reyn.” Gumam Azlan beranjak pergi dari kamar itu.
Saat itu Kenzo dan adik perempuannya datang untuk menemui Reyn yang baru saja tiba dari Itali. Mereka bertemu dengan Azlan.
“Dimana Gaby dan Reyn?” Tanya Kenzo pada Azlan.
“Di kamarnya!” Sahut Azlan.
“Kak Azlan, dimana Delina?” Tanya Rara.
“Mungkin diruang tengah!” Sahut Azlan.
“Eeehh, aku pernah melihatmu jalan bergandengan tangan dengan seorang pria di mall, apa itu pacarmu?” Tanya Azlan pada Rara.
“Hehehe, dia selingkuhanku yang ke tujuh, kak!” Jawab Rara dengan gamblangnya.
“Eehhh bussseettt, selingkuh sampai 7 orang!” Ujar Azlan kaget.
“Hehehehe, sebenarnya semuanya ada 16 orang kak!” Sahut Rara.
“Aaahh eeellaahh, si Rara jangan di tanya, kak! Hampir tiap malam ayah selalu melempar pria yang datang ke rumah karena ulah genitnya.” Kata Kenzo geleng kepala karena tingkah Rara sebagai playgirl.
“Putuskan semuanya, pilih satu saja!” Kata Azlan pada Rara.
“Tidak janji ya!” Sahut Rara langsung berlari naik keatas menuju kamar Reyn.
Kenzo mengikuti Rara yang sudah mendahuluinya ke kamar Reyn. Saat tiba disana Kenzo kaget melihat wajah Reyn yang seperti ondel-ondel. Kenzo langsung tau pasti Reyn habis di kerjai oleh si kembar. Dengan cepat Kenzo hendak berlari turun kebawah, namun seketika kerah bajunya di tarik oleh Rindi.
“Mau kemana? Mau kabur dari kita? Tidak semudah itu, furgosho.” Ujar Rindi menyeret Kenzo masuk ke dalam kamar Reyn.
“TTIIIDDAAKKK!” Teriak Kenzo sambil meronta-ronta.
Mereka pun akhirnya menyiksa Kenzo yang sangat jarang datang mengunjungi mereka. Kenzo sangat jarang untuk berkunjung kerumah Abrar, karena ia takut akan di kerjai oleh si kembar dan yang lainnya.
*****
Malam itu Azlan menjemput Yasmin untuk makan malam dirumahnya. Disana Azlan telah menyiapkan ruangan khusus untuk makan malam bersama. Tak lupa Azlan mengundang sahabatnya yaitu Geof dan juga Boy. Mereka menyantap makan malam sambil berbincang saat itu. Azlan sesekali melirik Gaby yang terus menatap Geof.
“Diiihh, si geboy, asik sendiri!” Gumam Azlan dalam hatinya melirik Gaby.
Tak lama Reyn tersedak rendang yang membuat Gaby memalingkan pandangannya dari Geof.
“Pelan-pelan makannya, dasar bodoh!” Ujar Gaby pada adiknya.
“Kau sangat menyukai daging rendang ya?” Tanya Yasmin pada Reyn.
“Tentu saja, kakak cantik!” Sahut Reyn.
“Hati-hati kau bisa kolesterol!” Kata Azlan.
“Hehehehe.” Reyn hanya cengengesan sambil makan dengan lahap.
“Jadi kapan kalian akan menikah?” Tanya Boy pada Azlan dan Yasmin.
"Dua bulan lagi.” Sahut Azlan.
“Setelah itu kau milikku Yasmi!” Bisik Azlan pada telinga Yasmin yang duduk di sebelahnya.
Tiba-tiba Reyn nangis bombai membuat semua mata tertuju padanya.
“Kakak rendang kau kenapa?” Tanya Chika pada Reyn.
“Aku sedih karena kakak cantik akan menikah dengan kak Azlan, aku jadi tidak bisa mengejar cinta kakak cantik lagi! Hhhuuwwwaaa.” Teriak Reyn dengan sikap konyolnya itu.
Ppplleetttaaakkk…………
__ADS_1
Gaby menghantam kepala adiknya.
“Kau membuat kesabaranku habis, rendang!” Ujar Gaby pada Reyn.
Geof dan Boy tersenyum melihat Gaby menindas adiknya.
“Dasar bodoh!” Ujar Chika tertawa geli melihat Reyn.
Mereka pun makan malam dengan tingkah Reyn yang konyol sebagai hiburannya. Gaby masih terus menatap Geof saat di meja makan. Sadar Gaby terus menatapnya, Geof berencana untuk mendekati Gaby setelah makan malam.
Setelah makan malam Azlan mengantar Yasmin pulang kerumah, sementara Boy dan Geof masih duduk berbincang dengan si kembar di ruang tengah. Mata Geof mencari-cari keberadaan Gaby saat itu dan Boy pun tau apa yang ingin di lakukan oleh Geof. Akhirnya mata Geof melihat Gaby yang menuju kearah tangga, dengan cepat Geof mendekatinya. Namun saat akan mendekati Gaby, Reyn langsung menghadangnya.
“Jangan dekati kakakku, pria playboy!” Ujar Reyn dengan wajah sangar pada Geof.
“Hei, ada apa? Aku hanya ingin berbincang dengan kakakmu, itu saja.” Kata Geof.
“Apa kau pikir karena kami di besarkan di Negara barat kami terbiasa dengan budaya barat?” Kata Reyn.
“Tentu saja! Disana kalian bebas melakukan apa saja kan?” Ujar Geof.
“Huh, jangan mimpi! Selama aku hidup, kau tidak bisa mendekati kakakku! Pria sepertimu hanya bisa mempermainkan wanita saja.” Kata Reyn lalu pergi begitu saja.
“Sial! Dia menghinaku.” Ucap Geof kesal dalam hatinya.
Tampak oleh Boy kalau Geof sedang kesal sambil mengepalkan tanganya. Tak lama Boy menghampiri Geof.
“Tidak semua yang kau inginkan mudah kau dapatkan!” Kata Boy.
“Kau lihat saja nanti, aku pasti bisa mendapatkan Gaby dengan mudah!” Sahut Geof.
“Aku tau kau hanya kesal karena merasa di rendahkan oleh Reyn! Tapi Reyn ada benarnya, dia tidak akan mau melihat Gaby terluka karena pria sepertimu, kau selalu saja membuang wanita setelah kau bosan padanya.” Kata Boy yang tau sifat jelek yang dimiliki oleh Geof.
“Kita lihat saja nanti! Bagaimanapun caranya Gaby akan berada dalam genggamanku.” Kata Geof merasa tertantang.
“Pikirkan Azlan! Dia pasti akan kesal padamu.” Kata Boy.
“Aku tak peduli!” Sahut Geof.
Setelah pulang dari rumah Azlan, Boy berbaring di atas ranjang di dalam kamarnya. Ia teringat wajah Gaby yang saat itu terus menatap Geof.
“Huh, Gaby itu gadis yang baik! Aku yakin dia tidak mengikuti budaya barat walaupun dia di besarkan disana! Sayang sekali jika dia patah hati hanya karena pria seperti Geof.” Gumam Boy dalam hatinya.
Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
“Boy, apa kau sudah tidur?” Tanya Melda pada putra tunggalnya itu.
“Belum ma, masuklah!” Sahut Boy.
“Boy, mama mau bicara!” Kata Melda.
“Bicara apa?” Tanya Boy.
“Tadi papa bilang, dia berniat untuk menjodohkanmu dengan anaknya om Zidan.” Kata Melda membuat Boy kaget.
“Ma, mama serius?” Tanya Boy kaget.
“Iya! Menurut mama si Gaby itu gadis yang baik.” Sahut Melda.
“Ma, aku tak mau!” Kata Boy menolak.
“Kenapa?” Tanya Melda.
“Pokoknya aku tak ingin di jodohkan dengannya! Mama keluar deh, aku ngantuk mau tidur.” Kata Boy.
“Ya sudah, pikirkan dulu ya nak!” Kata Melda seraya keluar dari kamar Boy.
Setelah melihat mamanya keluar Boy pun menghela nafasnya dengan berat.
“Untuk apa aku pikirkan! Gaby bahkan tidak melirikku.” Gumam Boy.
Selama berlibur di Indonesia Gaby dan Reyn memanfaatkan waktunya untuk berjalan-jalan dan berwisata disana. Mereka juga melihat pasar tradisional dan juga mencicipi kuliner khas Indonesia. Reyn si penggila makan sangat senang saat Yasmin dan Azlan mengajaknya berwisata kuliner selama di Indonesia. Reyn meminta Azlan mengantarnya membeli oleh-oleh untuk teman-temannya di Itali. Saat mereka sedang berbelanja di salah satu pasar yang menjual pernak pernik khas Indonesia, mereka bertemu dengan Boy yang sedang menemani mamanya berbelanja.
“Halo tante!” Sapa Azlan pada Melda.
“Oh kalian sedang berbelanja ya.” Sahut Melda.
“Iya, mereka ingin membeli oleh-oleh untuk teman-teman di Itali!” Jawab Azlan.
“Halo tante Melda, apa kabar?” Sapa Gaby ramah.
“Aku baik! Kau manis sekaliU” ucap Melda mengusap dagu Gaby dengan lembut.
“Reyn, datanglah kerumah! Tante akan membuatkan daging rendang untukmu.” Kata Melda.
“Wah, rendang! Aku mau tante.” Sahut Reyn seketika bersemangat.
“Baiklah kalau begitu datanglah makan malam dirumahku ya! Aku mengundang kalian semua.” Kata Melda.
Boy menatap Gaby saat itu, namun Gaby sama sekali tidak membalas tatapan Boy padanya. Gaby lebih memilih menundukkan wajahnya saat tau Boy sedang menatapnya.
“Kak, kak boy sedang menatapmu!” Bisik Reyn pada Gaby.
“Brisik!” Sahut Gaby.
Yasmin memperhatikan Boy yang menatap Gaby saat itu. Yasmin tersenyum mengetahui kalau Boy memiliki sesuatu pada Gaby.
“Mungkinkah Boy menyukai Gaby?” Bisik Yasmin pada Azlan.
“Sepertinya begitu!” Sahut Azlan.
Malam itu mereka yang di undang makan malam dirumah Boy pun datang. Romi dan Melda menyambut kedatangannya mereka semua dengan hangat. Namun tak begitu dengan Boy yang terlihat kaku dan salah tingkah saat melihat Gaby untuk pertama kalinya datang kerumahnya.
__ADS_1