MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
MENGINAP LAGI


__ADS_3

Setelah lulus kuliah si kembar masih enggan membantu Abrar untuk bekerja di cabang perusahaannya. Mereka masih senang berleha-leha dan bermain dengan teman-temannya di luar rumah. Dengan uang tabungan yang mereka miliki si kembar berniat pergi ke Itali untuk liburan disana. Setelah meminta izin pada kedua orang tuanya, mereka pun pergi dengan pesawat pribadi milik papinya itu.


Setibanya mereka disana, mereka di sambut hangat oleh Isabel dan juga Zidan. Begitu pula dengan Gaby dan Reyn yang sangat senang mereka berkunjung ke Itali.


Malam hari saat sedang makan malam dirumah Zidan.


“Apa rencana kalian setelah lulus?” Tanya Zidan pada keponakannya itu.


“Nikah!” Seru keduanya.


“Diihhh, jawabannya ngasal aja.” Sahut Reyn.


Si kembar tertawa.


“Hei, om tanya serius.” Kata Zidan.


“Kita juga serius, om!” Seru si kembar lagi.


“Gimana sih? Papimu itu banyak perusahaannya, kenapa kalian tak bekerja disana saja.” Kata Zidan.


“Capek!” Sahut Melia.


“Asikan main spidol, om! Hehehehe." sahut Melani.


“Haaaiihhh, kalian berdua memang super.” Ujar Zidan.


Si kembar ngakak lagi melihat Zidan frustasi berbincang dengan mereka berdua.


“Buru-buru mau nikah, memangnya sudah punya calon?” Tanya Isabel.


Si kembar menggeleng dengan tampang sedih.


“Ppffftt, hahahahaha, mau nikah calonnya tidak ada! Nikah sama siapa woi? Sama setan?” Ujar Reyn ngakak lepas.


“Apaan lu, rendang! Nyaut saja, tuh mulut” Balas si kembar sewot.


Si Reyn semakin tertawa saat melihat si kembar sewot padanya. Sementara Gaby fokus dengan makanannya tak mau menggubris siapapun yang sedang berbincang.


“Cari dulu prianya, baru nikah!” Kata Zidan.


“Tidak tau mau cari dimana, om." Kata si kembar lagi.


“Eeehh kak, emangnya kalian pikir nyari pasangan tuh seperti cari barang yang hilang? Ada-ada saja!" Sahut Reyn.


Si kembar makin sewot dengan Reyn, sementara Isabel melihat Gaby yang hanya diam saja.


“Gaby, diam saja." Kata Isabel.


“Lapar, ma.” Sahut Gaby tetap makan.


“Si kembar pengen nikah tuh!" Kata Isabel pada Gaby.


“Hah, kak Melia dan kak Melani itu selama ini hanya sibuk dengan kejahilan mereka berdua! Mereka tak pernah terpikir untuk berpacaran serius dengan kekasihnya! Bukannya bermesraan, malah di jahili.” Kata Gaby yang tau persis tentang si kembar.


“Makanya mereka berdua sering di putusin sama pacar-pacar mereka.” Sambung Gaby lagi.


“Hhhuuuwwwaa, nyesek banget dengar omongan si Geboy!" Seru si kembar nangis bombai.


“Sabar ya, ini hanya ujian.” Kata Zidan.


“Ubah tuh sifat jahilnya, biar dapat pria yang baik, terus nikah deh! Entar tante dan om pulang ke Indonesia saat kalian berdua nikah.” Kata Isabel.


“Eeehh, kak Azlan mau nikah loh." Kata si kembar.


“Sudah tau!” Seru semuanya.


Si kembar bengong mendengar kalau keluarga Zidan sudah tau Azlan akan menikah dengan Yasmin.


 


*****


Didalam kamarnya Azlan tampak sedang merapikan bajunya dan memakai parfum. Balqis masuk dan melihat putra sulungnya itu.


“Mau kemana?” Tanya Balqis.


“Mau menindas calon mantu mami!" Sahut Azlan.


“Jangan terlalu jauh loh!" Kata Balqis memberi peringatan pada anaknya.


“Mami tenang saja deh! Azlan tidak bakalan berpikir untuk melakukan hal itu sebelom nikah." Kata Azlan.

__ADS_1


“Janji ya!” Ucap Balqis.


“Iya mi, janji!" Ucap Azlan.


“Oke, aku pergi dulu.” Kata Azlan lagi berlari keluar kamar setelah mengambil kunci mobilnya.


Balqis merasa bahagia melihat Azlan yang sangat antusias mengejar Yasmin. Bahkan saat menjalin hubungan dengan Desi, Azlan tak pernah terlihat bersemangat seperti ini. Azlan melajukan mobilnya dengan kencang menuju kerumah Yasmin. Setibanya disana ia melihat Yasmin yang baru saja kembali dengan menaiki motornya.


“Darimana?” Tanya Azlan pada Yasmin.


“Mengantar Sakura pulang kerumahnya, tadi dia habis dari sini." Sahut Yasmin.


“Ayo masuk!" Ajak Yasmin.


Mereka berdua pun masuk kerumah. Azlan duduk di ruang tamu dan Yasmin pergi mandi setelah pulang mengantar sakura. Yasmin keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian yang santai. Hanya dengan celana pendek dan kaos oblongnya serta rambut yang di kuncir. Azlan menatap Yasmin dengan seksama.


“Hei, kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Yasmin yang sudah duduk di samping Azlan.


“Cantik!” Bisik Azlan.


“Dasar gombal!” Sahut Yasmin.


Azlan mendekap Yasmin dengan mesra.


“Sayang, minggu depan kita akan bertunangan! Ayahmu sudah menghubungimu?” Tanya Azlan.


“Sudah!" Sahutnya singkat.


“Singkat banget!"  Ujar Azlan.


“Aku malas membicarakannya.” Kata Yasmin.


“Dia kan ayahmu.” Kata Azlan.


“hah, jangan bahas dia deh!” Ujar Yasmin sedikit kesal.


Azlan melihat reaksi wajah Yasmin yang kesal.


“Segitu bencinya dia dengan pengkhianatan dari ayahnya!” Gumam Azlan dalam hatinya.


“Besok sepulang dari kantor, kita pergi beli gaun ya!” Ajak Azlan.


“Tidak usah deh! Aku pakai gaun ibuku saja.” Kata Yasmin.


“Sini aku tunjukan!” Kata Yasmin menarik tangan Azlan masuk kedalam kamarnya.


Azlan duduk di tepi ranjang melihat Yasmin membuka lemari dan menunjukkan gaun milik mendiang ibunya itu.


“Aku berniat untuk memakai gaun ini.” Kata Yasmin.


“Eehhh, masih bagus.” Kata Azlan melihat gaun indah itu.


“Coba dong, aku mau lihat!” Kata Azlan lagi.


Yasmin menggeleng.


“Kau boleh melihatnya saat di acara pertunangan kita.” Kata Yasmin menolak.


“Huh, nanti aku bisa mati penasaran." Kata Azlan persis seperti Abrar yang memiliki sifat tak sabaran.


Yasmin menyimpan kembali gaun itu kedalam lemari. Kemudian dia duduk di pangkuan Azlan.


“Aku juga penasaran setampan apa kau nanti saat di acara itu?” Ucap Yasmin sangat dekat dengan Azlan.


“Aku ini manusia tertampan didunia, hahahahahaha.” Sahut Azlan percaya diri.


“Huh, dasar!” Sahut Yasmin.


Hening dan saling tatap.


“Malam ini aku menginap lagi ya?” Pinta Azlan.


“Iya! Tapi jangan berbuat yang aneh-aneh." Kata Yasmin.


“Sssiiippp!” Sahut Azlan.


Malam itu Azlan kembali menginap di rumah Yasmin, bahkan dia sengaja membawa pakaian ganti untuk pergi ke kantor bareng dengan Yasmin. Semua karyawan kantor tau kalau Azlan dan Yasmin menjalin kasih dan akan segera menikah. Sebelum merasakan kantuknya, mereka berdua menonton televisi sambil mengobrol untuk merencanakan pernikahan mereka berdua.


Abrar tau kalau Azlan sering menginap dirumah Yasmin, namun ia percaya Azlan yang memang bisa di pegang kata-katanya. Abrar tau sifat putranya itu. Ia yakin kalau Azlan tidak akan pernah mengecewakan dirinya.


Di kediamana kampung hawa terdengar tangisan Syifa di dalam kamarnya. Balqis dan Abrar masuk menemui putrinya yang cengeng itu.

__ADS_1


“Ada apa? kenapa menangis?” Tanya Balqis.


“Rindu kakak kembar." Ucap Syifa.


“Mereka sedang liburan, sebentar lagi pasti pulang.” Kata Abrar.


“Papi sama mami telepon kakak kembar suruh pulang! Syifa mau deh di coret-coret wajahnya asalkan kakak kembar tidak pergi jauh-jauh lagi.” Kata Syifa.


“Ooohh, kau sangat menyayangi si kembar.” Kata Balqis memeluk Syifa.


“Iya, nanti papi telepon!” Kata Abrar.


Dirumah itu walaupun si kembar sering menindas dan bersikap jahil kepada adik-adiknya, namun semuanya sangat menyayangi mereka berdua. Di Itali Gaby dan Reyn mengajak si kembar berkeliling kota roma dan bahkan mereka pergi ketempat-tempat wisata yang ada di sana.


Reyn yang punya sifat konyol sering di tindas oleh ketiga wanita itu akibat ulah konyolnya. Reyn sering mengganggu ketiga wanita itu yang sedang berselfi ria di tempat wisata. Reyn juga terkadang membawa teman-teman kampusnya untuk berkenalan dengan si kembar. Teman-teman Reyn tergolong bule tampan, membuat si kembar bersemangat berkenalan dengan mereka walaupun terpaut usia yang lumayan jauh.


Di dalam kamarnya si kembar sedang asik memainkan ponselnya. Mereka berdua kadang tertawa karena membaca pesan singkat dari pria-pria yang menggoda mereka.


“Eehh, kau masih ingat pria yang kita jahili di pesta ultah si herdinan?” Tanya Melia pada Melani.


“Ingat! Kenapa?” Tanya Melani.


“Ternyata dia anak pengusaha mainan! Keluarganya bahkan punya pabrik sendiri loh.” Kata Melia.


“Kau tau darimana?” Tanya Melani.


“Dari tante Luisa! Keluarga pria itu ada hubungan kerja juga dengan papi.” Kata Melia.


“Ooh, benarkah? Lalu kau mau apa?” Tanya Melani.


“Dia lumayan tampan! Jadi aku berniat untuk mengejarnya, hehehehe.” Kata Melia.


“Dddiiihh, tidak asik!” Ujar Melani sewot.


“Kenapa? Kau suka juga padanya?” Tanya Melia.


“Bukan itu! Kau sudah punya target tapi aku belum.” Sahut Melani.


“Hei, aku dengar di perusahaan cabang milik papi ada pria tampan loh!" Kata Melia.


“Tau darimana kau? Kau saja jarang kesana.” Tanya Melani.


“Dasar bodoh! Papi sering mengundangnya makan malam dirumah kita! Apa kau lupa?” Tanya Melia.


“Maksudmu pria yang bernama Angga itu?” Tanya Melani.


“Iya! Aku pernah melihat dia yang terus melirikmu saat kita makan bersama.” Kata Melia.


“Be..benarkah?” Tanya Melani tersipu malu.


“Hei, aku jijik melihat wajahmu yang tersipu malu itu.” Kata Melia kesal.


“Okee! Setelah kak Azlan bertunangan, aku akan bekerja di perusahaan cabang papi, biar bisa dekat dengan Angga!" kata Melani bersemangat.


“Huh, dasar murahan!” Umpat Melia pada kembarannya itu.


Dua hari sebelum acara pertunangan Azlan dan Yasmin, Teo mengunjungi Yasmin dirumahnya. Walaupun


sedikit kesal Yasmin tetap membukakan pintu untuk ayahnya tersebut. Mereka berdua pun berbincang di ruang tamu.


“Nak, lebih baik kau tinggal bersama ayah sampai kau menikah nanti.” Kata Teo.


“Tidak perlu! Aku disini saja, aku tak suka satu atap dengan keluarga ayah.” Sahut Yasmin.


“Nak, mereka juga keluargamu." Kata Teo.


“Asal ayah tau saja, semenjak ibuku terusir dari rumah itu aku tak pernah menganggap mereka keluargaku!” Kata Yasmin dengan linangan air matanya.


“Maafkan ayah, ayah memang bersalah dalam hal ini! Ayah memang egois.” Ucap Teo.


“Sudahlah ayah, aku tak ingin ada drama baru jika aku tinggal bersama dengan mereka disana! Lebih baik aku disini." Kata Yasmin.


Teo menatap putri tunggalnya itu dengan pandangan yang sangat bersalah. Dadanya terasa sesak saat melihat genangan air mata yang hendak tumpah dari kelopak mata putrinya itu. Wajah Yasmin yang sangat mirip dengan mendiang ibunya, membuat Teo merindukan sosok wanita yang sangat ia cintai hingga sekarang walaupun sosok itu telah pergi selamanya dari dunia ini.


“Ayah sudah selesai kan bicaranya padaku? Aku mau tidur! Aku lelah seharian bekerja.” Kata Yasmin.


“Iya, nak! Nanti ayah akan menjemputmu untuk mengantarmu ke tempat acara pertunanganmu.” Kata Teo.


Teo pun beranjak pergi dari rumah kecil yang di tempati oleh putri tunggalnya itu. Rasa khawatir dan iba ia rasakan saat melihat Yasmin yang hanya tinggal sendirian dirumah tersebut. Namun apa dikata, ia sudah berulang kali mencoba untuk membawa putrinya itu kembali tapi Yasmin menolaknya mentah-mentah. Teo sadar perbuatannya dulu memang sangat menyakitkan untuk putrinya tersebut.


“Aku pasti akan membawa rasa bersalah ini sampai mati." Ucap Teo sedih sambil melajukan mobilnya kembali pulang kerumah.

__ADS_1


Di dalam kamarnya Yasmin menangis sesunggukan karena telah bersikap kasar kepada ayahnya. Tak dapat di pungkiri anak mana yang tak sayang dengan ayahnya. Namun saat ini Yasmin masih bergelut dengan rasa benci terhadap sikap ayahnya yang tega mengusir ibunya dulu.


__ADS_2