
Azlan dan Yasmin tiba di rumah dengan luka lebam. Untuk yang kedua kalinya Abrar dan Balqis diam-diam memperhatikan wajah Azlan yang pulang dengan luka lebam di wajahnya. Abrar dan Balqis tau pasti ada sesuatu hal yang terjadi di antara mereka berdua. Azlan menarik tangan Yasmin dengan sangat kasar untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kau sangat merindukan kakak kelasmu itu, hah?" Teriak Azlan bertanya pada Yasmin.
"Apa maksud perkataanmu, Azlan?" Tanya Yasmin.
"Kau sengaja kan pergi ke toilet hanya untuk bertemu dengan Fatur sialan itu!" Ujar Azlan sangat kesal.
"Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu? Aku bahkan tak tau kalau dia juga berada disana." Sahut Yasmin.
Azlan sudah berusaha untuk menahan amarahnya, namun ia tak bisa. Dengan rasa cemburunya yang sangat besar, Azlan tak mampu meredam amarahnya kepada Fatur hingga ia melampiaskannya pada Yasmin. Azlan teringat bahwa Fatur sempat mencium bibir istrinya. Lalu ia mendekati Yasmin dan menarik tubuhnya serta menciumnya dengan kasar. Yasmin sangat terkejut mendapatkan sikap kasar dari pria yang ia cintai. Dengan sekuat tenaganya Yasmin mendorong tubuh Azlan agar menjauh darinya.
"Kenapa kau mendorongku? Apa kau tidak ingin aroma tubuh Fatur hilang darimu, hah?" Teriak Azlan semakin kesal.
"Azlan, cukup! Aku tak mengenalmu bila kau terus saja seperti ini padaku." Aahut Yasmin terpancing emosi.
Azlan tersadar akan apa yang membuatnya sangat kasar pada Yasmin saat ini adalah kesalahan besar dan akan berdampak negatif untuk hubungan mereka berdua. Azlan mendudukan dirinya di tepi ranjang sambil menghela nafasnya yang berat dan menundukkan kepalanya menatap lantai kamar. Yasmin mencoba untuk mendekati suaminya. Ia tau apa yang menyebabkan Azlan bersikap kasar seperti itu padanya.
"Aayang, aku tau kau cemburu, tapi aku milikmu, tidak ada yang bisa merebutku darimu." Ucap Yasmin mencoba untuk menenangkan Azlan.
"Redakan emosimu, hal ini akan membuat kondisi hubungan kita semakin memburuk. kalau itu sampai terjadi di hubungan kita, akan ada orang lain yang merasa menang karena telah berhasil menghancurkan kita." Ucap Yasmin lagi.
"Kau benar, Yasmin! Maafkan aku." Sahut Azlan meminta maaf atas sikapnya pada Yasmin.
"Sudahlah, aku mengerti keadaanmu, sayang." Kata Yasmin.
Yasmin dan Azlan pun saling berpelukan setelah konflik yang mereka alami mereda. Abrar dan Balqis yang menguping di depan pintu kamar mereka, mendengar semua yang terjadi pada anak dan menantunya itu. Setelah semuanya mereda dan Azlan sudah tertidur pulas, Yasmin masuk ke kamar buah hatinya dan memandangi satu persatu wajah anak-anaknya.
"Jika rumah tanggaku hancur, maka hal itu akan berimbas pada kebahagian ketiga anakku." Ucap Yasmin.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut kebahagian kalian, nak." Ucap Yasmin lagi sambil menatap ketiga bayi kembarnya yang sedang tertidur.
Keesokan paginya, semuanya hanya diam seribu bahasa melihat wajah Azlan yang lebam-lebam saat sedang sarapan bersama. Hal itu di karenakan Abrar dan Balqis melarang semua anak-anaknya untuk bertanya suatu apapun pada Azlan saat ini. Setelah selesai sarapan, Azlan pamit untuk pergi bertemu dengan teman-temannya. Yasmin melihat Azlan sudah pergi mengendarai mobil, lantas ia pun masuk kedalam dan menemui ayah mertuanya. Abrar sedang duduk sambil membaca koran di ruang tengah. Yasmin membawa secangkir kopi yang ia buat khusus untuk ayah mertuanya.
"Papi, ini kopinya." Ucap Yasmin pada Abrar.
"Kenapa kau harus repot-repot? Disini banyak pelayan!" Kata Abrar.
Yasmin duduk di sebelah Abrar dan Abrar tau apa yang sedang Yasmin inginkan darinya.
"Apa kau ingin aku membantumu?" Tanya Abrar.
"Pi, aku tak tau harus berbuat apa agar masalahku dan Azlan selesai." Sahut Yasmin.
"Temui pria itu dan katakan padanya agar tidak mengganggu rumah tangga kalian." Kata Abrar memberikan solusi.
"Tapi aku takut Azlan akan salah paham bila aku bertemu dengan Fatur." Sahut Yasmin.
"Aku akan menemanimu." Kata Abrar.
Yasmin menghubungi Fatur dari nomor ponsel yang di kirimkan oleh Gaby padanya untuk membuat janji pertemuan.
"Kak, aku ingin bertemu denganmu." Kata Yasmin.
"Benarkah?" Sahut Fatur kegirangan.
"Iya, temui aku di mall yang dulu kita pernah bertemu." Kata Yasmin.
"Baiklah." Sahut Fatur.
Setelah menutup teleponnya, Fatur merasa kalau perbuatannya selama ini berhasil membuat Yasmin meluangkan waktu untuknya.
"Setelah melihat sikap brutal dan kasar dari suamimu, akhirnya kau sadar bahwa dia tidak sebaik diriku, Yasmin." Gumam Fatur dengan percaya dirinya.
Minggu sore Yasmin pergi bersama Abrar dengan membawa ketiga anaknya untuk menemui Fatur di mall yang sudah mereka janjikan. Tiba disana Yasmin dan Abrar melihar Fatur yang sudah menanti dirinya dengan gelisah.
"Pergilah temui dia dan bawa ketiga anakmu, aku akan memantu dari kejauhan." Kata Abrar pada Yasmin.
Yasmin pun mengikuti perintah Abrar dan berjalan menemui Fatur sambil mendorong stroller ketiga anaknya yang masih bayi.
"Kak." Sapa Yasmin pada Fatur yang sudah sejak tadi menunggunya.
Fatur sangat terkejut saat melihat Yasmin membawa ketiga bayinya. Fatur dan Yasmin pun duduk di salah satu resto yang ada di mall tersebut dan Abrar terus memantau mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Kau membawa mereka!" Kata Fatur menatap ketiga bayi kembar Yasmin.
"Iya! Aku adalah seorang ibu dari ketiga bayiku jadi aku harus membawa mereka kemanapun aku pergi." Jawab Yasmin.
"Yasmin, apa kau bahagia memiliki suami yang memiliki sifat brutal seperti dia?" Tanya Fatur.
"Iya, aku sangat bahagia! aku sangat bahagia memiliki suami yang brutal sepertinya, karena kebrutalannya aku merasa terlindungi dari orang-orang jahat yang ingin menghancurkan rumah tanggaku." Jawab Yasmin menyindir Fatur.
"Yasmin, akulah yang seharusnya menjadi suamimu, bukan dia." Kata Fatur.
"Siapa yang tau tentang jodoh? Apa kau memiliki kelebihan di luar batas seperti Tuhan?" Sahut Yasmin.
Fatur tidak bisa berkata apa-apa saat Yasmin membalas ucapannya.
"Kak, tataplah ketiga bayiku! Bagaimana jika kebahagiaan mereka di renggut oleh orang yang tidak bertanggung jawab?" Ujar Yasmin.
"Apa maksud perkataanmu, Yasmin?" Tanya Fatur.
"Aku tau kau tidak memiliki perasaan apapun lagi padaku sekarang, kau hanya tak terima kalau aku sudah bahagia bersama Azlan sehingga kau berusaha untuk menghancurkannya." Jawab Yasmin.
"Yasmin, dengarkan aku..
"Kau yang harus mendengarkan aku." Potong Yasmin pada ucapan Fatur.
"Aku hanya seorang istri dan ibu untuk keluargaku, aku mohon padamu, jangan renggut kebahagianku dan juga ketiga bayiku. Aku memiliki tanggung jawab yang besar pada kebahagiaan ketiga anakku." Kata Yasmin.
"Lihatlah, betapa manisnya senyuman dari ketiga bayiku! Apa kau tega merenggut kebahagian mereka?" Ucap Yasmin lagi.
Fatur menatap ketiga bayi Yasmin yang sedang tertawa riang di dalam strollernya. Fatur seakan terhipnotis dengan wajah bayi-bayi yang tak berdosa itu. Fatur kembali menatap Yasmin yang sudah berderai air mata di hadapannya.
"Apa yang sudah aku lakukan padanya? Dia bahkan menangis karena perbuatanku." Batin Fatur merasa bersalah dengan perbuatannya yang ingin menghancurkan rumah tangga Azlan dan Yasmin.
"Yasmin, maafkan aku! Setelah ini aku pastikan tidak akan menampakkan diriku lagi di hadapan kalian berdua." Ucap Fatur seraya bangkit dari kursinya.
"Terima kasih, kak." balas Yasmin.
Fatur pun pergi meninggalkan Yasmin dan ketiga bayinya di resto tersebut. Setelah Fatur pergi, Abrar mendekati menantu dan ketiga bayinya.
"Iya, pi! Mudah-mudahan dia tidak mengganggu hubungan kami lagi." Sahut Yasmin.
"Syukurlah kalau begitu." Sahut Abrar.
"Ayo kita pulang, jangan sampai Azlan tau tentang hari ini." Kata Abrar lagi.
"Iya, pi." Kata Yasmin.
Yasmin dan Abrar pulang kerumah dengan membawa ketiga bayinya. Disana Azlan sudah menunggu kepulangan mereka. Azlan bingung melihat Abrar dan Yasmin pergi bersama.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Azlan pada Yasmin dan Abrar.
"Jalan-jalan lah." Sahut Yasmin.
"Tumben amat!" Kata Azlan curiga.
"Apa kau mencurigaiku, hah?" Teriak Abrar kesal pada putrnya yang sama seperti dirinya memiliki sifat pencemburu.
"Hehehehe, aku kan hanya bertanya saja. pi." Sahut Azlan takut pada amukan Abrar.
Azlan mendekati Yasmin dan berbisik padanya.
"Apa kalian tadi jalan bersama?" Tanya Azlan pada Yasmin.
"Iya." Sahut Yasmin.
"Apa kau tidak malu jalan dengan seorang pria tua seperti papi?" Bisik Azlan yang kedengaran oleh Abrar.
"Apa kau bilang?" Teriak Abrar ngamuk pada Azlan.
Abrar mengejar putra sulunganya yang memiliki sifat konyol melebihi dirinya. Azlan berlari kesana kemari menghindari serangan dari sang ayah.
A few moment later...
"Hah...hah...hah, aku sangat lelah." Ucap Abrar ngos-ngosan mengejar Azlan.
__ADS_1
"Sudah tua masih saja tak mengaku." Gumam Azlan.
"Aku belum setua yang kau katakan!" Teriak Abrar kesal.
"Pi, papi itu sudah tua! Baru 10 menit mengejar-ngejarku papi sudah ngos-ngosan." Kata Azlan.
"Aku hanya kurang berolah raga saja, makanya mudah lelah." Sahut Abrar yang tak mengakui dirinya sudah tua.
"Alasan saja!" Gumam Azlan.
"Pergi dari hadapanku! Kau membuatku darah tinggi saja." Ujar Abrar pada Azlan.
Azlan hanya cengengesan saat melihat Abrar sudah ngos-ngosan duduk di sofa ruang tengah. Azlan pergi menemui Yasmin yang sedang menyusui ketiga bayinya secara bergantian.
"Yasmin, kau tadi dari mana?" Tanya Azlan sangat penasaran.
"Aku ke mall membawa mereka jalan-jalan, karena kau tidak berada dirumah makanya papi menemani kami." Jawab Yasmin yang tak ingin tau alasan yang sebenarnya.
"Oh, begitu." Sahut Azlan.
Azlan melihat salah seorang anaknya yang sedang menyusu pada Yasmin. Azlan mengelus kepala anaknya yang tampak tenang dalam dekapan Yasmin.
"Kelak kalau kalian sudah besar, jadilah anak yang berguna ya." Ucap Azlan pada ketiga bayinya.
Lalu Azlan memeluk tubuh istrinya.
"Yasmin, ayo kita punya anak lagi." Kata Azlan.
"Hei, hei, ini tiga bocah saja belum lepas ASI, kau malah menyuruhku hamil lagi." Sahut Yasmin.
"Susu formula kan banyak." Kata Azlan.
"Hah, seenak jidatmu saja kalau bicara." Ujar Yasmin.
Lagi-lagi Azlan hanya cengengesan yang menjadi ciri khas dirinya.
Di ruang tengah Abrar melihat Delina yang duduk sambil menatap ponselnya. Balqis membawa secangkir kopi untuknya.
"Delina, bagaimana dengan aktifitas kampusmu?" Tanya Abrar.
"Biasa saja." Sahut Delina singkat.
"Jangan bilang nilai-nilaimu selalu jelek." Kata Balqis.
"Apa lah dayaku, mi! Kalau aku terlahir dengan otak yang tak mampu belajar." Kata Delina cuek.
"Huuhh, anak ini ada aja jawabanya." Ujar Balqis kesal pada Delina.
"Jadi kapan kau akan lulus kuliah?" Tanya Abrar.
"Mana aku tau, pi." Sahut Delina.
Abrar menghela nafas melihat putrinya yang tak pernah perduli pada pendidikannya. Delina hanya sibuk dengan merawat kecantikannya dan Dandi. Keesokan harinya, Abrar datang menemui Dandi di ruang kerjanya. Dandi sangat terkejut saat melihat Abrar masuk ke dalam ruanganya.
"Tuan, jika kau perlu sesuatu kau tinggal menghubungiku jadi tak perlu repot-repot datang kesini." Kata Dandi.
"Mulai sekarang jangan panggil aku tuan." Kata Abrar.
"Lalu?" Tanya Dandi bingung.
"Panggil aku papi! Bersiaplah, bulan depan kau dan Delina akan segera menikah." Kata Abrar.
"Apa?" Ucap Dandi terkejut dengan keputusan Abrar.
"Apa kau tidak mau?" Tanya Abrar.
"Aku mau!" Seru Dandi kegirangan.
Abrar menipiskan senyumnya dan berlalu keluar ruangan Dandi. Masih terlihat oleh Abrar kalau Dandi jejingkrakan di dalam karena terlalu senang.
"Hehehehe, Dia tergila-gila pada pesona putriku." Gumam Abrar.
__ADS_1