MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
SALAH SANGKA


__ADS_3

Siang matahari mulai terik, Azlan melihat dari jendela ruangan kantornya yang terbuat dari kaca tebal. Sesekali ia melirik jam yang ada di pergelangan tanganya.


“Huh, dia terlambat lagi! Aku sangat lapar.” Gumam Azlan melirik jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Tak lama Dandi datang ke ruangan bosnya itu.


“Bos, apa kau belum makan? Nona Yasmin mana?” Tanya Dandi yang baru selesai makan siang di luar.


“Mana aku tau dia kemana! Dari tadi belum muncul juga! Aku lapar sekali.” Kata Azlan memegang perutnya.


“Bos, nona Yasmin tidak mungkin setelat ini!” Ujar Dandi.


“Aku akan coba menghubunginya.” Kata Dandi lagi.


“Tidak perlu, biar aku yang mencarinya! Dia pasti ditoko bunganya.” Kata Azlan bergegas pergi.


Azlan pun pergi menuju ke toko bunga Yasmin dengan mengendarai mobil mewahnya. Sampai disana betapa kagetnya dia melihat toko bunga milik Yasmin hancur berantakan. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan toko. Ia turun dan melihat Yasmin duduk sambil menangis di dalam toko yang rusak parah itu. Azlan pun menghampiri Yasmin dengan wajah yang sudah basah dengan air matanya.


“Yasmin, apa yang terjadi?” Tanya Azlan.


“Entahlah.” Sahut Yasmin.


“Siapa yang menghancurkan tokomu?” Tanya Azlan lagi.


“Aku juga tidak tau! Tadi siang orang sebelah menghubungi aku dan menyuruhku datang kesini, saat aku datang semuanya sudah hancur.” Jawab Yasmin tambah sedih.


“Ini satu-satunya peninggalan dari mendiang ibuku.” Kata Yasmin lagi.


Azlan berpikir sejenak, dan yang ada di pikirannya hanyalah Desi.


“Ini pasti ulahnya! Hanya dia yang bisa melakukan ini.” Ucap Azlan dalam hatinya.


Azlan pun pergi begitu saja meninggalkan toko Yasmin. Azlan melajukan mobilnya dengan kencang menuju aparteman Desi. Sampai disana ia menekan bel pintu apartemen Desi dengan sangat tak sabaran. Azlan sangat kesal saat itu. Desi membuka pintu apartemennya dan melotot pada Azlan yang meneken bel dengan tergesa-gesa.


“Kau?” Ucap Desi ketika melihat Azlan di hadapannya.


“Katakan padaku! Apa kau yang merusak toko bunga milik Yasmin?” teriak Azlan sambil mencengkram lengan Desi.


“Apa maksudmu?” Desi bingung dengan pertanyaan Azlan.


“Jangan buat aku menjadi tak sabaran, Desi! Katakan padaku apa kau yang merusak toko bunga Yasmin?” Teriak azlan lagi.


“Untuk apa aku melakukan hal itu? Itu tidak akan menguntungkan aku sama sekali.” Balas Desi.


“Kalau bukan kau, lalu siapa lagi, hah? Cuma kau yang bisa melakukan hal ini untuk menindasnya.” Kata Azlan kesal.


“Kau tidak terima karena aku mengusirmu waktu itu dan menyuruh Yasmin tetap tinggal di kantormu, makanya kau berusaha untuk menindasnya kan?” Sambung Azlan.


“Hei Azlan! Kau dengarkan aku baik-baik! Aku tidak punya masalah dengan wanita kurir itu! Jika kau ingin menikah sekalipun dengannya, aku tak perduli! Masih banyak pria yang mengejarku di luar sana.” Kata Desi.


“Kau pikir aku mau buang-buang waktu untuk mengganggu kehidupan kalian berdua? Aku sudah pernah bilang padamu, Azlan! Kau itu membosankan.” Sambung Desi.


“Aku akan menyelidikinya, jika kau terbukti melakukan hal itu pada Yasmin, maka aku tak akan segan untuk membunuhmu!” Ancam Azlan pada Desi.


“Apa kau dengar, hah?” Teriak Azlan sangat kesal pada Desi.


“Pergi dari rumahku!” Teriak Desi kesal pada Azlan.


Azlan pun pergi dari apartemen Desi. Di perjalanan ia menghubungi Dandi untuk menyelidiki siapa yang merusak toko bunga milik Yasmin. Azlan kembali ke toko Yasmin, namun saat tiba disana ia tak melihat Yasmin lagi. Azlan pun pergi kerumah Yasmin dan ternyata benar Yasmin sudah berada dirumahnya.


“Yasmin.” Panggil azlan sambil menggedor pintu rumah Yasmin.


Yasmin membuka pintunya dengan wajah yang masih sembab.


“Masuklah, aku sudah menyiapkan makan siangmu! Maaf kalau sangat terlambat.” Kata Yasmin.


“Tak apa.” Sahut Azlan.


Azlan pun duduk di ruang makan bersama Yasmin. Azlan sama sekali tak selera makan saat melihat wajah Yasmin yang dirundungi kesedihan. Berkali-kali Yasmin menyeka air matanya yang terus mengalir. Yasmin yang merasa Azlan tak menyentuh makanannya langsung menatap Azlan.


“Ada apa? Apa kau tidak suka? Itu tidak pedas!” Kata Yasmin.


“Aku tak selera makan.” Sahut Azlan.


“Yasmin apa kau punya musuh?” Tanya Azlan.


“Tidak.” Sahutnya.


“Apa kau yakin?” Tanya Azlan lagi.


“Hubunganku dengan ibu dan adik tiriku memang tidak baik, tapi bukan berarti itu ulah mereka!” Kata Yasmin.


“Kau punya saudara tiri?” Tanya Azlan pura-pura tak tau.


“Iya, jangan bahas mereka! Aku benci!” Sahut Yasmin.


Hening…..


Kkkrrriiiuuuukkkk………………


Perut Azlan keroncongan.


“Makanlah!” Kata Yasmin.


“Kau juga makan.” Sahut Azlan.


Mereka pun makan bersama walaupun nafsu makan mereka berkurang karena insiden ruasknya toko bunga milik Yasmin. Setelah makan Azlan kembali ke kantornya, ia terus bepikir siapa yang merusak toko milik Yasmin. Bagaimanapun ia juga tau sifat Desi yang kesal apabila dituduh dengan apa yang tidak ia lakukan.


“Namun siapa?” Gumam Azlan.


Hampi malam azlan masih duduk di ruang kantornya. Masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu. saat fokus menatap layar laptopnya, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Dandi.


“Bos, aku sudah tau siapa yang merusak toko nona Yasmin.” Kata Dandi.


“Siapa?” Tanya Azlan.


“Nona Syeril!” Jawab Dandi yang mengagetkan Azlan.


“Apa kau yakin?’ Tanya Azlan seakan tak percaya.


“Iya bos! Dia menyewa beberapa preman jalanan untuk merusak toko bunga nona Yasmin saat tengah malam… dan semua itu terekam pada cctv yang terpasang disudut jalan.” Kata Dandi.


“Kurang ajar!” Umpat Azlan.


Setelah mendapatkan informasinya, ia menemui Syeril yang sering menghabiskan waktunya bersama Geof dan juga Boy di salah satu bar tempat biasanya bertemu. Tiba disana Azlan menatap Syeril dengan sangat marah.


“Kak, Azlan! Kau datang.” Sapa Syeril berlari menyambut Azlan dengan wajah sumringah.


Azlan langsung mencengkram lengan Syeril dengan kasar membuat Geof dan Boy terkejut.


“Apa masalahmu dengan Yasmin?” Tanya Azlan dengan tatapan mata yang tajam.


“Apa? Siapa Yasmin?” Tanya Syeril pura-pura tak tau.


“Kau pikir aku bodoh, hah?” Teriak Azlan membuat Syeril terkejut.


Lalu Geof mencoba untuk menenangkan Azlan. bukannya tenang Azlan malah semakin kesal dan menyuruh Geof tak mencoba mengganggunya.


“Kau merusak toko bunga Yasmin!” Kata Azlan pada Syeril.


“Aku tak mengerti maksudmu, kak!” Kata Syeril masih tak mau mengaku.


“Jika kau tak mengakuinya, aku pastikan bukti rekaman cctv di sudut jalan itu akan di lihat langsung oleh ayahmu.” Ancam Azlan melepaskan lengan Syeril dan hendak pergi dari tempat itu. Namun Syeril mencegahnya.


“Benar, memang aku yang merusak toko bunga Yasmin!” Teriak Syeril.


Semua tercengang saat syeril mengakui perbuatannya yang merugikan orang lain. Selama ini Geof dan Boy melihat sosok Syeril sebagai gadis yang baik dan santun.


“Aku melakukan itu karena tak suka jika dia mendekatimu.” Kata Syeril.


Azlan kembali mendekatinya.


“Kau pikir siapa kau? Beraninya kau menghalangi Yasmin mendekati aku, hah?” Teriak Azlan.


“Aku mencintaimu, kak!” Ucap Syeril dengan deraian air matanya.


“Apa kau tau? karena sifat burukmu ini lah aku bahkan tidak pernah melirikmu, apalagi membalas cintamu!” Kata Azlan membuat Syeril semakin sedih dan patah hati.


“Kak, aku hanya mencintaimu, aku hanya ingin kau…..


“Diam!” Bentak Azlan mengejutkan Syeril.

__ADS_1


“Aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah ayahmu, saat tau kalau putri satu-satunya membuat hal seburuk ini.” Kata Azlan.


“Kak, aku mohon jangan sampai ayahku tau, dia pasti akan sedih.” Pinta Syeril memohon.


“Karena aku menganggap om Aska seperti keluargaku, maka kali ini kau kulepaskan!” Kata Azlan.


“Aku peringatkan kau jangan pernah mengusik urusanku lagi.” Sambung Azlan dengan tatapan yang penuh amarahnya pada Syeril.


Syeril hanya tertunduk di hadapan Azlan yang kemudian langsung pergi meninggalkan bar itu. Geof dan Boy mencoba untuk menahan Azlan disana, namun Azlan tak memperdulikannya dan pergi begitu saja. Azlan kembali kerumahnya dengan raut wajah yang masih kesal. Saat Azlan akan masuk kedalam kamarnya, si kembar dan delina mengejarnya.


“Kak, ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya Melia.


“Tidak apa-apa, aku hanya lelah!” Sahut Azlan.


“Kau bohong! Kami lihat toko bunga Yasmin hancur.” Kata Delina.


“Kalian sudah tau?” Tanya Azlan sembari duduk di tepi ranjangnya.


“Kak, apa yang terjadi? Yasmin pasti sedih!” Kata Melani.


“Sudahlah, semuanya biar aku yang urus!” Sahut Azlan.


Ketiga adiknya itu memeluk Azlan agar apa yang membebani kakanya saat ini bisa sedikit berkurang.


“Kak, jangan sedih! Kami akan membantumu mendapatkan Yasmin.” Kata Delina.


“Apa?” Ucap Azlan klaget.


“Hehehehe, tidak usah malu-malu! Kami tau kau menyukai Yasmin.” Kata Melia.


Dengan wajah merah merona Azlan mengusir adik-adiknya itu keluar dari kamarnya. Ketiga adiknya itu hanya tertawa saat melihat Azlan mencoba untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Yasmin kepada mereka. Setelah adik-adiknya keluar Azlan pergi mandi tak lama kemudian saat ia keluar dari kamar mandi ia melihat Chika sudah lompat-lompat di ranjangnya yang empuk.


“Hei, kenapa kau berada di kamarku hah?” Teriak Azlan pada Chika.


Chika tak peduli dengan teriakan Azlan. ia terus melompat-lompat bermain di ranjang Azlan.


“Chika, turun!” Teriak Azlan lagi.


“Tidak!” Sahut Chika.


“Aku bilang turun!” Teriak Azlan lagi.


“Aku akan turun jika kakak berjanji akan mengajakku makan malam di rumah kak Yasmin yang cantik itu.” Kata Chika masih terus melompat-lompat.


Azlan sangat frustasi dengan ulah adik bungsunya itu. Azlan tak menghiraukan yang dikatakan oleh Chika. Ia berbaring di sisi ranjang dan mulai menutup matanya hendak tidur. Azlan masih mencoba untuk tidur, namun tak bisa karena ranjang terus bergoyang akibat ulah Chika yang terus melompat-lompat.


“Chika, hentikan!” Teriak Azlan lagi memarahi Chika.


“Tidak!” Sahut Chika.


“Oke, baiklah! Jika kau berhenti melompat maka aku akan membelikanmu boneka yang banyak! Apa kau mau?” Kata Azlan bernegosiasi dengan adik bungsunya itu.


“Tidak! Aku sudah banyak boneka sampai kamarku tak muat.” Sahut Chika menolak.


“Aku akan berhenti jika kakak mengajakku makan malam dirumah kak Yasmin.” Kata Chilka lagi.


“Hei, Yasmin itu bukan pacarku!” Kata Azlan.


Chika langsung berhenti melompat dan duduk di hadapan Azlan.


“Hhiikksss..hhiikkss….hiikkss.” Chika nangis.


“Hei, Kenapa kau tiba-tiba menangis?” Tanya Azlan.


“Aku sedih jika kakak tidak pacaran dengan kak Yasmin.” Sahut Chika.


“Hhhuuuwwwaaaa.” Teriak Chika menangis semakin kencang.


“Sialan, tangisannya seakan memecahkan gendang telingaku!” Gumam Azlan sembari menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya..


“Iya, Yasmin adalah kekasihku! Apa kau puas chika?” Teriak Azlan pada adiknya.


Chika langsung tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya kepada Azlan, sementara Azlan hanya bisa tepok jidad melihat tingkah adiknya yang baru berusia 5 tahun itu.


“Keluar dari kamarku, dan pergilah tidur di kamarmu.” Kata Azlan pada Chika.


“Tidak! Aku mau tidur disini saja dengan kakak.” Sahut Chika.


Chika pun berbaring di samping Azlan sambil memeluk boneka kesayangannya itu. Saat mata Azlan akan terlelap, Chika menggoyang-goyang tubuhnya.


“Kak!” Bisik Chika padanya.


“Hheemmmm?” Sahut Azlan.


“Apa kak Yasmin punya adik?” Tanya Chika.


“Tidak!” Sahut Azlan.


“Kak, apa kak Yasmin punya kakak?” Tanya Chika lagi.


“Tidak!” Sahut Azlan menahan rasa dongkolnya.


“Kak, apa kau pernah menciumnya?” Tanya Chika.


“Berisik!” Teriak Azlan kesal.


Chika hanya cengengesan melihat kakaknya kesal. Azlan mengangkat Chika dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Dengan kesal Azlan melemparkan tubuh adiknya itu ke atas ranjang tidurnyanya yang di penuhi oleh boneka..


“Diam disini! Jangan masuk kekamarku lagi.” Bentak Azlan pada Chika.


“Hhhheeemmmmppppp!” Chika kesal pada Azlan dan memalingkan wajahnya.


Azlan menyuruh Dandi untuk mengurus segala keperluan renovasi toko bunga Yasmin yang rusak akibat ulah Syeril yang cemburu padanya. Yasmin yang sibuk dengan urusan kuliahnya sudah berhari-hari tidak singgah ke tokonya itu, namun ia tetap menyediakan makan siang untuk Azlan.


Renovasi toko bunga milik Yasmin pun selesai bahkan lebih bagus dari yang sebelumnya. Sabtu pagi Yasmin dan Sakura berniat untuk membersihkan toko bunganya itu ia tak tau kalau Azlan telah merenovasi tokonya tersebut. Saat tiba disana ia dan Sakura tercengang dan melihat kesana kemari.


“Dimana toko bungaku?” Gumam Yasmin.


“Eh, bukannya tokomu hancur! Kenapa jadi bagus begini?” Tanya Sakura bengong melihat bangunan yang baru.


“ini bukan tokoku!” Kata Yasmin.


“Hei, apa kau bodoh? Lihat tulisan di depannya itu., YASMIN’S FLOWERS!” Sahut Sakura.


“Eh, tapi ini bukan tokoku!” Kata Yasmin masih tak percaya.


Tak lama orang yang bersebelahan toko dengan Yasmin mendatanginya.


“Yasmin, ini kunci tokomu.” Kata orang itu.


“Kunci apa?” Tanya Yasmin bingung.


“Ada seseorang yang membenahi toko bungamu yang hancur, dan ini kunci barunya.” Kata orang itu lagi.


“Apa kau tau siapa dia?” Tanya Yasmin.


“Tidak, dia tidak mau kau tau tentangnya.” Jawabnya.


Yasmin pun mengucapkan terima kasih pada orang tersebut dan masuk kedalam tokonya yang baru saja di reovasi oleh Azlan.


“Wah, indah sekali!” Seru Sakura takjub dengan ruangan yang di penuhi oleh bunga-bunga.


Lalu Sakura melihat Yasmin masih bengong.


“Hei kau kenapa?” Tanya Sakura.


“Aku bingung, siapa yang berbaik hati untuk merenovasi tokoku?” Kata Yasmin.


“Sudahlah jangan dipikirkan! Mungkin dia penggemarmu, hehehe.” Sahut Sakura.


“Hah, kau ini! kau pikir aku artis holywood!” Sahut Yasmin.


“Semuanya beres! Mari kita mulai berjualan bunga lagi!” Seru Sakura bersemangat.


Pukul 12 siang Azlan datang ketoko bunga Yasmin, namun kali ini dia tidak sendiri, dia membawa Chika yang terus merengek minta ikut menemui Yasmin. Yasmin melihat dari kaca depan tampak jelas Azlan menggandeng tangan mungil Chika.


“Eh, dia bawa adiknya!” Gumam Yasmin.


Masuklah Azlan dan Chika kedalam toko itu.


“Halo kakak princess!” Sapa Chika kepada Yasmin.

__ADS_1


Yasmin hanya tersenyum.


“Wah, kau sangat manis!” Ucap Sakura pada Chika.


“Kau juga! Matamu sipit seperti orang china.” Sahut Chika pada Sakura.


“Aku bukan keturunan Jepang, bukan China! Namaku Sakura.” Kata Sakura.


Chika dan Sakura pun mulai akrab.


“Apa kau mau makan sekarang?” Tanya Yasmin pada Azlan.


“Tentu saja, aku lapar!” Sahut Azlan.


“Hah, kau selalu saja kelaparan!” Ujar Yasmin.


“Kakakku memang tukang makan! Dia sangat rakus!” Sahut Chika sambil terkekeh.


Yasmin dan Sakura tertawa mendengar perkataan Chika.


“Hei, Chika, tutup mulutmu!” Teriak Azlan kesal.


Azlan melirik sebuah kotak yang ada di atas meja.


"Apa itu?” Tanya Azlan.


“Bolu kukus!” Jawab Yasmin.


“Wah, kau memang calon istri yang pintar!” Seru azlan keceplosan.


“Apa?” Tanya Yasmin.


“Eeemmm, maksudku, kau calon istri dari suamimu nanti, hehehe.” Sahut Azlan berdalih.


“Dasar aneh!” Gumam Yasmin.


Saat Azlan akan memakan bolu kukus kesukaannya, tiba-tiba tangan Chika menyambar bolu itu dari tangan Azlan. Chika langsung memakan bolu itu.


“Chika!” Teriak Azlan kesal.


Si Chika hanya tertawa saja. Azlan mau berbagi apapun dengan semua adik-adiknya, tapi tidak dengan bolu kukus kesukaanya itu. Azlan tak mau siapapun memakan bulo kukus kesukaanya itu.


Tangan Chika menyambar lagi pada bolu kukus yang ada di meja dan berlari setelah mendapatkannya. Azlan kesal dan mengejar Chika yang sudah menghabiskan 3 potong bolu kukus miliknya. Yasmin dan Sakura hanya melihat kakak adik itu dengan wajah yang aneh.


“Apa itu CEO yang aku kenal?” Gumam Yasmin.


“Entahlah!” Sahut Sakura.


Tak lama masuk lah Balqis dan Abrar yang membuat Azlan mati kutu saat melihatnya.


“Halo, apa disini ada anak-anakku?” Tanya Balqis pada Yasmin.


Yasmin menunjuk kearah Azlan dan Chika yang sedang terpaku dengan memegang bolu kukus di tangannya.


“Toko bungamu sangat nyaman, ya!” Kata Abrar pada Yasmin.


“Terima kasih, tuan!” Sahut Yasmin.


“Jangan panggil aku tuan, aku kan calon mertuamu!” Sahut Abrar.


“Papi, apaan sih!” Ujar Azlan dengan wajah yang memerah.


“Hehehehe, aku dan pak CEO tidak ada hubungan apa-apa!” Sahut Yasmin menjelaskan hubungannya dengan Azlan pada Abrar.


“Hhhuuwwaaaaa.” Chika nangis dengan tiba-tiba.


“Eh, kenapa?” Tanya Balqis pada Chika.


“Kakak princess tidak mau jadi kakak iparku!” Teriak Chika nangis berguling-guling di lantai.


“Apa kau mau jadi kakak iparnya? Kalau kau bilang tidak maka dia akan terus menangis.” Kata Balqis pada Yasmin.


“Eemm, baiklah, aku akan jadi kakak iparmu, Chika!” Kata Yasmin dengan maksud agar Chika berhenti menangis.


“Oke! Kalau begitu kami akan tentukan tanggal pernikahan kalian berdua.” Sahut Abrar begitu antusias.


“Apa?” Seru Azlan dan Yasmin terkejut.


Sakura tumbang mendengar perkataan Abrar.


“Ayo Chika, kita pulang!” Balqis menyeret Chika keluar dari toko bunga itu bersama Abrar.


Balqis dan Abrar membawa Chika kembali kerumah. Saat di perjalanan mereka sangat senang.


“Aktingmu sangat bagus, nak!” Kata Abrar memuji Chika.


“Tentu saja, cita-citaku kan menjadi aktris terkenal!” Sahut Chika mengembang kempiskan kedua lubang hidungnya.


“Sebentar lagi aku akan punya menantu!” Seru Balqis kegirangan.


“Kau benar, dan kita akan punya cucu!” Sahut Abrar ikut kegirangan.


“Dan aku akan punya adik baru!” Kata Chika.


“Bukan adik, tapi keponakan!” seru Abrar dan Balqis meralat perkataan Chika.


“Hehehehehe.” Chika tertawa.


Didalam toko bunga itu Azlan dan Yasmin masih gusar dengan apa yang dikatakan oleh Abrar barusan. Azlan melihat Yasmin mondar-mandir gelisah yang membuatnya kesal.


“Hei, berhentilah mondar-mandir! Membuatku tambah panik saja!” Kata Azlan pada Yasmin.


“Huh, kenapa kau masih duduk diam disini? Cepat pergi katakan pada orang tuamu kalau kita tidak punya hubungan apa-apa!” Sahut Yasmin.


“Tidak mau!” Sahut Azlan dengan gampangnya.


“Hei, apa kau gila? Kau tidak budek kan? Tadi orang tuamu bilang mereka akan menikahkan kita!” Kata Yasmin.


“Kau sendiri yang salah, kenapa kau bilang kau akan menjadi kakak ipar untuk Chika?” Tanya Azlan.


“Aku mengatakannya agar Chika berhenti menangis!” Sahut Yasmin.


“Hah, kau tak mengenal keluargaku! Mereka menjebakmu tadi.” Kata Azlan.


“Maksudmu?” Tanya Yasmin.


“Mereka ingin kau menikah denganku, makanya mereka menjebakmu!” Sahut Azlan.


Yasmin langsung terduduk lemas sambil memijat-mijat kepalanya.


“Hah, aku memang sangat bodoh! Kenapa aku mau saja mengatakan hal itu tadi?” Gumam Yasmin pusing memikirkan hal yang sudah terjadi.


“Hei, kau tidak mau menikah dengankA? aku ini CEO dan tampan! Banyak wanita yang mengejarku.” Kata Azlan penuh percaya diri.


“Pergi sana bersama wanita-wanita yang mengejarmu!” Teriak Yasmin kesal pada sikap Azlan yang selalu percaya diri.


“Huh, kau menolakku, apa jangan-jangan kau punya kekasih?” Tanya Azlan curiga.


“Bukan urusanmu!” Sahut Yasmin.


“Yasmin, kau tidak bisa menolaknya lagi! Karena orang tuaku pasti sudah mengatur semuanya! Kalau kau tiba-tiba menolak, maka kau akan tau sendiri akibatnya jika berurusan dengan mereka.” Kata Azlan mencoba membodohi Yasmin.


“Orang kaya memang selalu seenaknya saja!” Ujar Yasmin bertambah kesal.


“Pppfffttt, sepertinya ucapanku barusan dapat menakutinya! Hehehehe.” Gumam Azlan dalam hatinya.


“Baiklah, aku pergi dulu ya calon istriku yang pintar masak! Hahahaha.” Kata Azlan melangkah keluar dari toko dengan tertawa puas.


Yasmin hanya duduk diam menatap Azlan dengan kesal. Tak lama Sakura tersadar dari pingsannya.


“Apa aku melewatkan sesuatu?” Tanya Sakura setengah sadar.


Yasmin langsung nangis bombai memeluk Sakura yang masih duduk di lantai.


“Hhhuuuwwwaaaa, mereka menjebakku!” Teriak Yasmin nangis histeris.


“Hah, dasar gadis polos!” Sahut Sakura.


“Bagaimana dengan kak fatur?” Teriak Yasmin masih nangis.


“Mana aku tau!” Sahut Sakura.

__ADS_1


Yasmin terus menangis meratapi kepolosannya yang mudah di bodohi orang lain. Dengan mudahnya Abrar dan Balqis menjebak Yasmin untuk menjadi menantunya.


__ADS_2