
Setelah selesai sarapan, Abrar, Balqis dan juga Yasmin pergi ke apartemen Delina untuk mengetahui kondisi anaknya. Abrar yang sangat peduli dengan cucu-cucunya memanggil tida dokter sekaligus untuk memeriksa kondisi kesehatan cucunya tersebut. Abrar menggendong cucunya itu sambil berderai air mata dan Balqis hanya bergelang kepala melihat sikap Abrar yang terlalu lebai.
"Kenapa kau begitu berlebihan?" Ucap Balqis pada Abrar.
"Apa kau tidak lihat? Cucuku sedang sekarat!" Sahut Abrar.
"Papi, anakku hanya terserang demam saja!" Ujar Delina kesal.
"Aku tidak perduli. Cepat periksa cucuku!" Teriak Abrar pada ketiga dokter itu.
Ketiga dokter itu pun sibuk memeriksa kondisi anak Delina yang memang hanya terserang demam biasa.
"Bagaimana keadaan cucuku?" Tanya Abrar panik.
"Setelah di periksa, cucu anda hanya terserang demam biasa. Hal ini biasa terjadi pada bayi seusianya yang sedang mengalami tumbuh gigi." Jawab dokter.
Abrar membuka mulut cucunya lebar-lebar dan melihat gigi kecil yang baru saja tumbuh di gusi bagian bawah.
"Wah, sebentar lagi cucuku akan makan daging!" Seru Abrar kegirangan.
Balqis, Yasmin dan Delina auto tepok jidat melihat tingkah Abrar yang begitu gembira mengetahui cucunya sudah tumbuh gigi.
*****
Beberapa bulan kemudian, perut Yasmin semakin membesar. Yasmin duduk di sofa sambil mengurut kakinya yang terlihat membengkak. Arum mendatanginya saat itu.
"Bunda, kapan adik bayinya akan keluar?" Tanya Arum pada Yasmin.
"Sebentar lagi." Jawab Yasmin.
"Adiknya laki-laki atau perempuan?" Tanya Arum.
"Laki-laki. Apa kau akan menyayangi adikmu ini jika ia lahir?" Kata Yasmin pada Arum.
"Tidak! Aku hanya akan menyayangi adik perempuan saja." Sahut Arum sewot.
"Hei, jangan seperti itu! Bagaimana pun juga dia adalah adikmu." Kata Yasmin.
"Lihat saja nanti jika dia lahir aku akan coret-coret wajahnya dengan spidol." Ujar Arum seraya melangkah pergi dari Yasmin.
Azlan yang kebetulan ingin menemui Yasmin, mendengar semua perkataan Arum barusan. Azlan teringat akan tingkah adik kembarnya saat masih kecil yang hobi mencoret-coret wajah orang lain. Azlan menghela nafas dengan berat. Yasmin melirik Azlan yang tampak frustasi saat itu.
"Ada apa, sayang?" Tanya Yasmin pada Azlan.
"Sepertinya kisah masa kecilku akan terus berlanjut pada anak-anak kita." Jawab Azlan.
"Hehehe, tapi kisahmu itu kan sangat seru!" Sahut Yasmin.
"Iya, tapi ketiga bayi kembar kita menuruni sifat somplak dari keluargaku." Kata Azlan.
Yasmin tertawa geli saat mendengar Azlan mengatakan keluarganya somplak. Azlan mengelus perut Yasmin yang sedang hamil 8 bulan.
"Semoga bayi kita yang akan segera lahir ini tidak ketularan somplak seperti kakak-kakaknya." Ucap Azlan sembari menciumi perut Yasmin.
Saat sedang berbincang di ruang tengah, Melia dan Melani datang dengan membawa anak serta suami mereka. Perut saudara kembar identik itu terlihat sama membesar seperti Yasmin. Usia kandungan mereka pun juga sama yaitu menginjak 8 bulan. Mereka ikut bergabung duduk di ruang tengah bersama Yasmin dan juga Azlan.
"Dimana papi dan mami?" Tanya Melani pada Azlan.
"Mereka berada di kamarnya, sedang buat adik bayi untukmu." Sahut Azlan asal bicara.
"Hahaha, jika itu sampai benar terjadi maka aku akan memberi hadiah termewah untuk mereka." Sahut Melia tertawa geli.
Tak lama kemudian turunlah sepasang kakek dan nenek yang berkeinginan memiliki cucu sebanyak-banyaknya. Kakek dan nenek itu tak lain adalah Abrar dan Balqis yang ikut bergabung di ruang tengah.
"Bagaimana kondisi para calon cucuku yang ada di perut kalian?" Tanya Abrar pada putri kembarnya dan juga Yasmin.
"Sehat!" Seru ketiganya.
"Bagus!" Ucap Abrar duduk dengan tenang di sofa.
"Pi, kata kak Azlan papi dan mami barusan sedang buat adik bayi ya untuk kami?" Kata Melani pada Abrar.
Abrar menatap Azlan yang duduk kaku di sebelahnya.
Pllleeettaaakkkk..............
Abrar menjitak kepala Azlan.
"Seenak jidatmu saja kalau bicara!" Ujar Abrar kesal pada Azlan.
"Papi, kepalaku sakit, pi!" Teriak Azlan ikutan kesal karena kelapanya dijitak Abrar.
"Pppfftt, hahahahaha....." Melia dan Melani serta para suaminya menertawakan Azlan.
Azlan menatap pada Yasmin bagaikan anak kucing yang sedang sedih.
"Yasmin, kepalaku di jitak papi. huhuhuuh." Ucap Azlan merengek pada Yasmin.
"Hemmpp! Salahmu sendiri siapa suruh kau asal bicara tadi." Ujar Yasmin memalingkan wajahnya tidak perduli pada Azlan.
__ADS_1
"Hei, aku ini suamimu! Kenapa kau tidak membelaku?" Teriak Azlan kesal pada Yasmin.
Yasmin tersenyum sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Azlan. Sedangkan Balqis hanya bisa melihat tingkah laku suami, anak dan menantunya yang tidak ada beresnya sedikitpun. Ari datang menghampiri Abrar yang sedang duduk santai di ruang tengah. Ari sempat melihat Abrar menjitak kepala Azlan.
"Kakek, jangan jitak kepala ayahku!" Teriak Ari protes pada Abrar.
Azlan menoleh pada putranya dengan tangis haru bahagia.
"Akhirnya ada yang membelaku disini." Ucap Azlan.
"Apa kau protes padaku?" Tanya Abrar pada cucunya itu.
"Iya." Jawab Ari.
"Kalau begitu kau tidak boleh menyentuh benda-benda dirumah ini untuk kau pecahkan!" Kata Abrar pada Ari yang hobi memecangkan barang.
Ari menatap sang kakek yang sedang beradu pandang padanya.
"Kalau begitu kakek jitak saja kepala ayah sesuka kakek dan aku akan menekuni hobiku itu. Hahaha." Kata Ari tertawa jahat sambil melirik Azlan.
"Anak pintar." Ucap Abrar ikut tertawa jahat bersama Ari.
"Hei, papi jangan mengajari putraku yang tidak-tidak!" Teriak Azlan pada Abrar.
Plleeettaaakk..........
Abrar kembali menjitak kepala Azlan lagi.
"Beraninya kau mengajariku! Aku ini adalah kakek yang paling hebat sepanjang masa. Apa kau mengerti hah?" Teriak Abrar kesal pada Azlan.
"Hah, apapun yang aku lakukan, selalu saja di jitak sama papi." Gumam Azlan memilih untuk tidak menanggapi sikap Abrar yang masih menjadi pemimpin di kediaman penitipan cucu itu.
Melani dan Melia tidak henti-hentinya tertawa melihat Azlan yang selalu di tindas oleh Abrar. Tak lama kemudian, kedua putra mereka datang dengan wajah yang sudah di penuhi oleh coretan spidol permanent.
"Wajah kalian kenapa?" Tanya Melia kaget.
"Di coret sama kakak kembar." Sahut Keduanya.
Ara dan Arum terkekeh geli di sudut ruangan dengan spidol di tangan mereka. Melia dan Melani menghela nafas sambil berupaya menghapus coretan yang ada di wajah anak mereka.
"Itu adalah karma karena dulu kalian selalu mencoret-coret wajahku yang tampan ini. Hahaha." Kata Azlan sambil tertawa jahat pada Melia dan Melani.
Ppplllleeetttaaaakk..................
Abrar lagi-lagi menjitak Azlan yang duduk di sebelahnya.
"Kali ini apa lagi salahku, pi?" Teriak Azlan sambil mengelus kepalanya.
Melia dan Melani kembali tertawa melihat wajah Azlan yang sewot menatap Abrar yang duduk santai bagai tidak ada kejadian apapun.
"Hahaha, mampus!" Seru si kembar Melia dan Melani pada Azlan.
Suasana hangat di keluarga Abrar terlihat sangat jelas malam itu. Dengan canda dan tawa dari anak, menantu dan cucu-cucunya membuat Abrar dan Balqis bersemangat hidup lama di usia mereka yang sudah senja.
*****
Di dalam ruang kamarnya yang hangat, Boy sedang menemani Gaby yang sedang hamil 8 bulan. Mereka sangat antusias akan menyambut kedatangan bayi mungil yang merupakan anak pertama mereka. Wanita berambut pirang itu sangat manja kepada Boy di saat sedang mengandung buah cinta mereka.
"Kak, peluk." Ucap Gaby yang selalu ingin bermanja-manja pada Boy.
Boy pun memeluk wanita yang sangat ia cintai itu.
"Sayang, aku sangat tidak sabar ingin melihat bagaimana rupa bayi kita." Kata Boy pada Gaby.
"Yang pasti dia akan tampan seperti dirimu." Sahut Gaby yang sedang merasakan kehangatan dari dekapan sang suami.
"Tapi jika dia mirip denganmu pasti akan lebih tampan." Kata Boy.
Nafas Boy terasa hangat di leher Gaby saat ia mendekapnya dari belakang. Gaby merasa kegelian saat nafas Boy berhembus di kuduknya.
"Hehehe, aku geli." Kata Gaby.
Bukannya menjauh Boy malah mencium kuduk istrinya itu yang membuat Gaby berbalik menghadap Boy.
"Kau pasti sengaja kan?" Kata Gaby menatap Boy yang tersenyum padanya.
"Hehehe, aku ingin itu!" Bisik Boy pada Gaby.
"Dasar!" Ucap Gaby mencubit pipi Boy.
Dekapan mesra itu berubah menjadi kehangat yang luar biasa untuk sepasang suami istri yang akan segera memiliki anak pertama mereka.
Di salah satu hotel berbintang Balqis dan Abrar terlihat sedang sibuk mengatur pesta pertunangan untuk kedua putrianya yang tak lain adalah Tantia dan juga Jovanka. Tantia akan bertunangan dengan Herdinan dan Jovanka akan bertunangan dengan Adrian. Undangan pernikahan sudah tersebar kepada para sahabat maupun kerabat sejak seminggu yang lalu. Ruangan yang akan menjadi pesta pertunangan itu telah di dekorasi dengan begitu indahnya.
__ADS_1
Malam acara pertunangan itu telah di selenggarakan dengan penuh suka cita dan meriah. Azlan dan Yasmin tidak bisa hadir dalam pesta tersebut di karenakan Yasmin sedang menanti kelahiran bayinya dengan jalan operasi di rumah sakit. Setelah acara bertukar cincin selesai, Adrian membawa Jovanka untuk mengasingkan diri dari ruang acara tersebut.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" Tanya Jo pada Adrian yang kini menjadi tunangannya.
"Karena aku hanya ingin berduaan saja denganmu." Jawab Adrian yang tidak berkedip menatap Jovanka yang terlihat sangat cantik saat itu.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku malu, tau!" Ujar Jo dengan wajah yang memerah.
"Cantik banget! Aku tak menyangka akan segera menikah dengan wanita secantik dirimu, Jo." Ucap Adrian yang memang sejak bayi tergila-gila pada Jovanka.
"Kita menikahnya masih lama. Masih beberapa tahun lagi karena papi bilang setelah aku mendapatkan gelar sarjana baru boleh menikah denganmu." Sahut Jovanka.
"Tidak masalah, yang penting kau akan tetap menjadi milikku!" Seru Adrian memeluk Jo dengan erat.
Disisi lain ternyata Tantia dan Herdinan juga kabur dari ruang acara pesta. Mereka pergi ke tempat lain untuk menyendiri dari keriuhan suasana pesta. Tantia yang sejatinya memiliki sifat pemaksa menyeret Herdinan untuk ikut bersamanya. Tantia menyenderkan tubuh Herdinan ke tembok dan mengapitnya dengan kedua tangan.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Herdinan menatap Tantia.
"Aarrrggghh, aku sangat senang karena sebentar lagi kita akan segera menikah." Ucap Tantia girang.
Herdinan membalikkan posisinya menjadi Tantia yang bersandar di dinding tembok ruangan dan mengapitkan dengan kedua tanganya. Tantia melebarkan matanya menatap Herdinan yang biasa kaku tapi kali ini terlihat sangat agresif.
"Kau cantik, Tantia." Ucap Herdinan seraya mendekatkan wajahnya pada Tantia.
Untuk pertama kalinya Herdinan mencium Tantia terlebih dahulu. Tantia sempat kaget melihat sikap Herdinan yang berubah drastis setelah mereka bertunangan. Herdinan yang biasanya kaku menjadi agresif kepadanya dan berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Ciuman hangat yang mendarat di bibirnya di balas oleh Tantia sambil merangkul leher Herdinan.
Puas saling berciuman mesra, Tantia masih saling tatap dengan Herdinan.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?" Tanya Tantia pada Herdinan.
"Karena sebentar lagi kau akan menjadi milikku." Jawab Herdinan yang akan melanjutkan ciumannya lagi.
Tantia menahan Herdinan yang akan segera menciumnya lagi.
"Kenapa?" Tanya Herdinan.
"Jangan cium lagi. Nanti lipstikku habis!" Kata Tantia yang tak ingin make-upnya luntur.
"Aku tidak perduli!" Ujar Herdinan memaksa Tantia untuk menciumnya.
"Jangan!" Teriak Tantia.
"Aku tidak perduli!" Balas Herdinan.
"Ternyata si kaku sudah tergila-gila padaku dan hal itu sangat mengerikan!" Gumam Tantia yang pasrah di ciumi oleh Herdinan.
Di ruang pesta Ferry dan Luisa sangat bingung mencari kedua putranya.
"Kemana mereka?" Tanya Ferry pada Luisa.
"Mana aku tau." Jawab Luisa.
Saat sedang celingak-celinguk mencari kedua putranya yang baru saja bertunangan dengan kedua putri Abrar, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan di tengah-tengah pesta itu. Suara teriakan itu terdengar saling bersahutan. Ternyata Melia, Melani, Gaby dan juga Syeril merasakan kontraksi pada perut mereka. Para wanita yang sedang hamil secara bersamaan itu akan segera melahirkan bayi mereka.
Devan yang memiliki rumah sakit, membawa para wanita yang akan melahirkan itu kerumah sakitnya. Kebetulan Yasmin akan di operasi di rumah sakit yang sama dengan mereka. Yasmin masih di ruang rawat menunggu proses persalinannya secara operasi.
"Ada apa? Sepertinya ada keributan di luar." Tanya Yasmin pada Azlan yang sedang menemaninya.
"Sebentar aku lihat keluar." Kata Azlan beranjak keluar ruangan.
Azlan pun keluar dan melihat para wanita yang akan segera melahirkan. Azlan kaget melihat wanita-wanita yang tidak lain adalah adik, sepupu dan juga ipar sepupunya.
"Wah, pemandangan langka nih!" Seru Azlan melihat para wanita yang akan melahirkan dirumah sakit itu.
Semuanya panik dan sibuk mengurusi para wanita yang akan segera melahirkan itu. Abrar, Devan, Aska, Zidan dan juga Romi terlihat sangat panik mondar-mandir menanti kelahiran cucu-cucu mereka.
Selang beberapa menit kemudian tangisan bayi saling sahut menyahut di rumah sakit yang dimiliki oleh Devan.
Para kakek yang sejatinya bersahabat dari mereka muda bersorak sorai bahagia mendegar suara tangisan dari cucu-cucu mereka.
Yasmin di bawa keruang operasi untuk melahirkan bayinya juga. Tak sampai satu jam Yasmin pun melahirkan bayi laki-laki yang sehat dan persis mirip Azlan.
Kebahagiaan terus menerus menghampiri pada keluarga para pria yang sejatinya memang sudah menjadi sahabat sejak mereka masih di usia muda. Luky datang bersama Lita untuk menjenguk para wanita yang baru saja melahirkan bayinya. Luky duduk bersama dengan sahabat-sahabatnya yang kini sudah menjadi kakek.
"Kenapa aku selalu saja terlambat? Sewaktu menikah aku yang terakhir dan memiliki cucu pun aku juga terakhir. Huhuhuhuhuhu." Ucap Luky nangis bombai.
"Hahahaha, terima saja nasibmu, mantan playboy!" Seru semua sahabatnya yang menertawai dirinya.
Luky terlihat sedang berpikir.
"Ini tidak bisa di biarkan! Aku akan mencari Merta untuk segera melahirkan cucu untukku." Teriak Luky yang mengagetkan semua sahabatnya.
T A M A T..............................
BACA CERITA TERBARUKU
__ADS_1
WANITA SAMARAN UNTUK CEO