
Dandi mencium Delina dengan lembut dan Delina membalas ciuman dari kekasihnya itu. Tanpa di sadari tangan Dandi mengelus paha mulu Delina yang membuat jantung Delina berdebar semakin kencang. Hal yang sama juga di alami oleh Dandi saat itu, ia meraskan debaran yang sangat kuat pada jantungnya. Dandi menghentikan ciumannya dan menatap pada Delina.
"Sayang, aku bukan pria brengsek! Jadi kita tidur saja ya." Kata Dandi pada Delina.
Delina langsung cemberut dan Dandi tertawa melihat ekspresi Delina padanya.
"Jangan cemberut, sayang! Kita akan melakukanya jika kau benar-benar sudah menjadi hak ku." Bisik Dandi pada Delina.
"Apa kakak tau, jantungku hampir copot tadi! Aku pikir kakak mau melakukannya padaku malam ini." Ujar Delina sewot.
"Hahahahaha, aku hanya mengerjaimu tadi." Kata Dandi tertawa geli.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Delina kesal.
Dandi terus tertawa saat delina kesal padanya. Dandi terus mengajak Delina untuk bercanda malam itu agar Delina mau tersenyum padanya. Dandi menggelitik perut Delina.
"Kak, jangan, geli kak!" Seru Delina menahan tawanya.
"Aku tak perduli! Aku akan terus menggelitikmu, hahahaha." Kata Dandi.
"Jangan, nanti aku bisa pingsan kak!" Sahut Delina kegelian.
Dandi pun menghentikan candaannya pada Delina dan kembali menatap Delina dalam-dalam.
"Kak, ayo cium lagi." Pinta Delina.
"Sayang, kita hanya berdua di kamar ini, nanti kebablasan loh! Hehehe." Sahut Dandi.
"Huh, aku rindu, tau, sama kakak! Kita sayang-sayangan saja seperti yang sering kita lakukan di dalam mobil waktu itu." Kata Delina.
"Hehehe, dasar wanita genit!" Kata Dandi yang langsung memberikan ciuman panas pada Delina saat itu.
*****
Evan menghentikan mobilnya tepat di halaman kediaman kampung hawa. Setelah memberikan ciuman mesra pada Evan, Melia langsung mendekati Melani yang sedang duduk bersama Angga di bangku taman yang ada disitu. Saat itu Melani sedang bermesraan dengan Angga. Melia datang dan langsung menyeret Melani masuk ke dalam rumah.
"Sayang!" Panggil Angga pada Melani.
"Sayang, kembaranku sedang gila! Lebih baik kau pulang ya, mmuuaacchh." Kata Melani pada Angga.
Angga dan Evan menatap si kembar yang konyol itu.
"Kenapa Melia?" Tanya Angga pada Evan.
"Kumat!" Sahut Evan masih menatap si kembar.
"Ayo pulang!" Ajak Angga.
"Baiklah!" Sahut Evan.
Mereka pun pulang menaiki mobilnya masing-masing tanpa pamit kepada Abrar dan Balqis. Abrar dan Balqis melihat Melia menyeret saudari kembarnya.
"Ada apa dengan mereka?" Gumam Abrar melihat si kembar.
"Kumat!" Sahut Balqis.
"Oh." Sambung Abrar.
Si kembar sudah di dalam kamarnya. Melani menatap bingung pada Melia yang mondar mandir tak jelas di hadapannya.
"Woi, mondar mandir mulu! Nanti mataku jereng kalau melihatmu begitu terus." Ujar Melani pada Melia.
"Si Delina nginap dirumah kak Dandi!" Kata Melia.
"Aaapppaaaaa?" Teriak melani terkejut.
Melia cepat-cepat menutup mulut Melani.
"Pelankan suaramu, nanti papi sama mami dengar!" Bisik Melia.
"Apa kau mau kalau Delina di gantung sama papi kalau tau dia menginap dirumah kak Dandi?' Sambung Melia.
Melani menggeleng.
"Kau tau dari mana?' Tanya Melani berbisik.
"Aku melihatnya makan malam dengan Dandi tadi di cafe." Jawab Melia.
"Wah, tidak benar nih si Delina!" Ujar Melani.
"Gimana nih? Aku tak mau loh kalau nama papi tercoreng kalau Delina hamil diluar nikah." Kata Melia.
Melani berpikir dan mengambil ponselnya.
"Mau apa kau?" Tanya Melia.
"Menghubungi Delina untuk segera pulang." Kata Melani.
__ADS_1
"Hei, jangan, nanti papi sama mami curiga! Ini sudah jam 11 malam, kita tunggu dia pulang saja baru kita interogasi dia." Kata Melia.
"Yaaahh, keburu buat baby nanti si Delina sama Dandi." Kata Melani.
"Ya sudah, cepat kau hubungi dia suruh pulang, nanti aku yang bawa dia masuk dari pintu samping." Kata Melia.
Melani pun menghubungi ponsel Delina dan kebetulan ponsel Delina mati sedang mengisi baterai.
"Tidak nyambung!" Kata Melani.
"Aaaaahh, mampus!" Kata Melia.
Melani pun menghubungi ponsel Dandi untuk menyuruh membawa Delina pulang, namun lagi-lagi ponselnya mati karena saat itu dandi sedang tak ingin di ganggu oleh siapa pun saat ia sedang bersama Delina. Malam itu si kembar tak bisa tidur gelisah memikirkan Delina yang menginap di rumah kekasihnya. Sedangkan Delina dan Dandi tidur nyenyak sambil berpelukan berdua di atas ranjang yang sama di kamar apartemen.
Keesokan paginya, Abrar melihat kelopak mata si kembar menghitam bagaikan mata panda.
"Kalian demam lagi?" Tanya Abrar pada si kembar saat sedang sarapan bersama.
Si kembar menggeleng bersamaan.
"Jadi, kenapa?" Tanya Abrar.
"Tak bisa tidur!" Jawab Melia.
"Mikirin sesuatu." Jawab Melani.
"Mikirin apa?" Tanya Balqis.
"Del.....
Melia menyumpal mulut Melani dengan makanan agar berhenti bicara.
"Hahahaha, kau bilang kau lapar kan?" Ujar Melia pada Melani sambil melotot.
"Ada apasih?" Tanya Balqis penasaran pada si kembar.
Tak lama kemudian, Delina pulang dengan wajah yang cerah merona seperti habis pakai serum wajah yang bermerk.
"Pagi, pi, mi!" Sapa Delina ceria.
Si kembar menatapnya dengan wajah kesal. Si kembar bangkit dari kursinya dan menarik tangan Delina yang saat itu akan duduk sarapan dengan yang lain. Si kembar menyeret Delina masuk kedalam kamar mereka.
"Kak, apaan sih?" Tanya Delina.
"Kau semalam dari mana hah?" Tanya Melia.
"Kau belajar berbohong sekarang?" Ujar Melani.
Delina kaget saat si kembar menginterogasinya. Delina langsung berlutut pada si kembar.
"Kak, ampun kak, janji tak bohong lagi sama papi dan mami." Ucap Delina ketakutan.
"Dasar bodoh! Kau mau mencoreng nama papi dan mami? Kau tak terpikir kak Azlan juga yang memliki rekan bisnis? Kalau kau sampai hamil di luar nikah nama mereka pasti tercoreng, Delina." Kata Melia.
"Hamil? Kak, aku dan kak Dandi tak melakukan hal sejauh itu kak." Kata Delina.
"Kami tak percaya! Kau dan dia sudah berapa lama melakukan itu? Apa kau sering melakukannya?' Tanya Melia kesal pada adiknya.
"Kak, aku bersumpah! Aku dan kak Dandi tak melakukan hal itu." Kata Delina berkata jujur.
Melani melihat Melia sangat kesal pada Delina. Ia mencoba untuk menenangkan Melia saat itu.
"Begini saja, aku punya teman seorang dokter kandungan, aku ingin kau periksa apa kau masih perawan atau tidak." Kata Melani mengambil jalan tengah.
"Oke!" Sahut Delina.
Mereka bertiga pun pergi ke dokter kandungan itu. Pada saat itu hari minggu praktek dokter tutup, namun karena dokter itu sudah lama berteman dengan Melani khusus untuk membantunya dokter itu membuka tempat praktenya dan memeriksa Delina. Alhasil yang di curigakan oleh si kembar tak terbukti pada Delina. Si kembar pun menghela nafas lega mengetahui Delina tak melakukan hal yang jauh dengan Dandi.
Di perjalanan pulang, Melia melirik Delina yang cemberut dari kaca spion.
"Hei...hei, kami melakukan ini demi kebaikanmu." Kata Melia pada Delina.
"Iya, aku tau!" Sahut Delina.
"Jangan cemberut lagi dong." Kata Melani.
"Belikan aku tas keluaran terbaru agar aku tak cemberut lagi." Kata Delina.
"Kau mau merampok kami, hah?" Teriak Melia.
"Terserah!" Sahut Delina.
"Sudahlah, berikan saja!" Kata Melani.
Melia pun melajukan mobilnya ke salah satu toko langganan mereka untuk membeli apa yang di inginkan Delina.
Setelah itu mereka kembali pulang kerumah. Malam harinya sebelum tidur Delina masuk ke kamar si kembar yang memang belum juga tidur.
__ADS_1
"Kak, jangan sampai mami dan papi tau ya, plisss!" Kata Delina pada si kembar.
"Jangan buat lagi hal seperti kemarin." Kata Melia.
"Iya, aku janji deh!" Sahut Delina.
"Del, semalaman kau ngapain saja dengan kak Dandi?" Tanya Melani penasaran.
"Huh, mau tau saja!" Sahut Delina ikut berbaring di ranjang si kembar.
"Ayo ceritakan, kalau gak papi dan mami tau nih." Ancam Melia yang ikutan penasaran.
"Aku cuma main yayang-yayangan saja! Hehehehe." Jawab Delina.
"Yakin tuh? Pasti kau diraba-raba kan?" Tanya Melani.
"Iya lah, kak Dandi kan pria normal!" Sahut Delina.
"Dasar!" Umpat Melani menedang kaki Delina.
"Kak, mau tau gimana rasanya nginap sama pria yang kita cintai?" Tanya Delina pada si kembar.
Si kembar pun mengangguk dengan cepat.
"Jantungku terasa mau copot loh! Untung lem di jantungku lem super, jadi tidak gampang copot." Kata Delina.
"Kau pikir jantungmu itu terbuat dari kertas, dasar begok!" Ujar Melia.
"Terus, gimana lagi?" Tanya Melani semakin penasaran.
Delina pun menceritakan malam pertamanya menginap di apartemen Dandi saat itu kepada si kembar.
Si kembar hanya menjadi pendengar yang budiman saat Delina curhat tentang pengalamannya menginap bersama seorang pria yang ia cintai.
*****
senin pagi, Lita membangunkan anaknya yang sering bermalas-malasan dirumah dan berfoya-foya di luar. Hari itu Luky ingin mengajak putranya untuk ikut ke kantornya. Lita membujuk Geof penuh dengan kesabaran agar Geof mau ikut dengan ayahnya ke kantor.
"Nak, papamu itu sudah tua, kau harus menggantikan posisinya di perusahaan." Kata Lita pada Geof.
"Ma, aku belum berminat untuk bekerja di perusahaan papa." Sahut Geof.
"Tolonglah nak, jangan buat papa dan mama kecewa! Cuma kau yang kami harapkan." Kata Lita lagi berlinang air mata.
Geof melihat mata mamanya sudah berkaca-kaca. Ia bangun dari ranjangnya dan masuk kedalam kamar mandi. Geof memang pria yang tidak bertanggung jawab, kehidupan yang bebas membuatnya lupa diri. Namun ia masih memiliki hati yang baik, ia tak bisa melihat wanita menangis di hadapannya.
Geof sudah rapi dengan setelan jas yang menambah ketampananya. Geof duduk sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Geof, papa ingin kau membantu papa di perusahaan." Kata Luky.
"Kali ini saja pa, aku masih belum berminat bergabung di perusahaan papa." Kata Geof.
"Suatu saat kau akan menjadi CEO di perusahaan itu menggantikan posisi papa, nak." Kata Luky.
"Kita lihat nanti saja lah." Sahut Geof.
Lita menggenggam tangan Luky untuk tak berdebat dengan putra tunggalnya itu. Siap sarapan Luky dan Geof pergi menuju ke kantor, disana banyak yang menatap kagum ada ketampanan Geof. Geof masuk bergabung dalam ruang meeting yang diadakan pagi itu.
Setelah dua jam melakukan meeting, akhirnya meeting itu selesai. Geof berencana untuk pergi dari kantor papanya. Namun saat itu ia merasa kebelet ingin pergi ke toilet. Setelah selesai buang air, Geof melihat salah satu office girl yang sedang membersihkan lantai di depan toilet wanita di gedung kantor itu. Geof merasa wanita ini tak asing baginya. Geof pun mendekati wanita itu.
"Kita bertemu lagi, wanita pengantar minuman!" Kata Geof pada Merta yang sebenarnya bekerja di perusahaan milik Luky sebagai office girl.
Merta kaget setengah mati saat melihat Geof menatapnya tajam.
"Maaf tuan, aku tak mengenalmu." Ucap Merta hendak pergi menghindar dari Geof.
Geof menarik lengannya dengan kuat.
"Kau pikir kau bisa membodohi aku, hah?" Teriak Geof pada Merta.
"Lepaskan kau! Apa masalahmu padaku?" Balas Merta pada Geof.
"Masalahmu padaku adalah karena kau berani menolak dan menghinaku saat di bar waktu itu." Kata Geof.
"Kau sudah membalasku dengan membuatku di pecat dari sana, lantas apa lagi yang kau inginkan dariku?" Ujar Merta.
"Sialan, beraninya dia meninggikan suaranya padaku! Aku adalah anak dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja, tapi dia malah berani melawanku." Gumam Geof dalam hatinya.
"Kau tau siapa aku, hah?" Teriak Geof semakin kesal.
"Lepaskan aku! Aku tak perduli denganmu!" Sahut Merta berontak.
Merta terus berontak namun Geof semakin kencang mecengkram lengannya. Tak ada cara lain, Merta memberanikan diri untuk menggigit tangan Geof dengan kuat membuat bekas di tangannya. Geof melepaskan cengkramannya dan Merta pun lari menghindari Geof.
Geof meringis kesakitan sambil melihat bekas gigitan dari merta yang melukai tangannya itu.
__ADS_1
"Awas kau, wanita sialan!" Teriak Geof kesal.
Saat itu dari balik tembok ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Geof dan Merta. Orang itu juga menarik garis di bibirnya ke atas saat melihat Merta berani menggigit Geof.