
Dengan perut yang membesar, Yasmin berjalan santai di seputaran taman yang tak jauh dari kediaman kampung hawa. Karena hari libur Azlan membawa Jovanka, Tantia dan juga Chika untuk pergi menemani Yasmin yang sedang ingin berjalan santai disana. Dengan handuk kecil yang tergantung di lehernya, Azlan berlari kecil mengitari taman tersebut, sedangkan Yasmin berjalan bersama dengan Chika. Saat itu Jovanka sedang duduk di bangku tangan dengan memegang ponsel di tangannya. Jovanka tampak sibuk mengetik dengan kedua jari jempolnya. Jovanka mengangkat ponselnya dan melakukan foto selfie bersama dengan Tantia di taman itu.
"Upload!" Seru Jovanka pada ponselnya.
Jovanka mengunggah sebuah foto dirinya di salah satu medsosnya. Lalu Jovanka pergi berlari kecil mengitari taman tersebut.
Di dalam kamarnya, Adrian sudah bangun dari tidurnya, namun ia masih ingin bermalas-malasan karena hari libur.
Dengan mata yang masih terpejam, Adrian meraih ponselnya yang tak jauh dari jangkauannya. Ia ingin melihat jam yang ada di ponselnya, namun saat ia membuka ponselnya ia melihat notifikasi yang ada di layar ponselnya. Adrian melihat foto yang di unggah oleh Jovanka di medsosnya. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar, dan bangkit dari ranjang kamarnya. Adrian segera mandi dan menggunkan pakaian olahraganya. Adrian berlari menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan untuk mencari Herdinan. Terlihat olehnya Herdinan duduk makan sereal kesukaannya dengan pakaian santai dirumah.
"Sarapan dulu, sayang!" Ucap Luisa pada Adrian.
"Tida usah ma, aku buru-buru." Sahut Adrian sambil menarik lengan adiknya.
Ferry melihat Adrian menyeret adiknya dengan paksa untuk masuk kedalam mobil dan ikut bersamanya. Dengan mangkuk yang berisi sereal dan susu juga tanpa memakai alas kaki, Herdinan ikut bersama sang kakak ke sebuah taman yang dimana ada Jovanka dan juga Tantia disana. Adrian melajukan mobilnya dengan sangat kencang, hingga sereal yang ada di mangkuk Herdinan berserakan di dalam mobil. Herdinan yang memang kaku, hanya diam saja dan fokus pada makanan yang ada di tangannya.
Adrian memarkirkan mobilnya di area taman itu. Ia kembali menyeret Herdinan untuk keluar dari mobilnya. Herdinan nurut saja pada sang kakak yang menyeretnya dan di tangannya masih ada mangkuk sereal tersebut.
Tanpa alas kaki, kaos oblong dan celana ponggol Herdinan turun dari mobil dan mengikuti langkah kakaknya. Adrian melihat Jovanka yang sedang menggerakkan tubuhnya di area taman itu.
"Itu dia calon istriku di masa depan!" Gumam Adrian melihat Jovanka.
Adrian pun bergegas pergi mendekati Jovanka namun kali ini ia tak menyeret Herdinan. Ia meninggalkan Herdinan begitu saja yang membuat Herdinan mati kesal karenanya.
"Dasar, kakak biadab! Sudah menyeretku kesini, setelah melihat Jo, dia langsung ngacir begitu saja!" Ujar Herdinan kesal pada Adrian.
Herdinan duduk di bangku taman makan serealnya yang tersisa sedikit di dalam mangkuk karena sudah berserakan di dalam mobil. Adrian berdiri di samping Jovanka yang sedang melakukan gerakan untuk melemaskan otot-ototnya.
"Hai, istriku di masa depan!" Sapa Adrian pada Jovanka.
"Eh, sejak kapan dia disini?" Gumam Jovanka melihat Adrian.
"Kak adrian ngapain disini?" Tanya Jovanka pada Adrian.
"Jogging dong!" Sahut Adrian.
"Jauh amat, bukannya di kawasan rumah om Ferry juga ada taman yang lebih luas dari ini untuk jogging?" Kata Jovanka.
"Karena terlalu luas, makanya aku ke taman ini untuk mencari yang lebih sempit agar bisa berdekatan denganmu, wahai calon istriku di masa depan, hehehehe" Sahut Adrian cengengesan.
"Diihh, dasar konyol!" Ujar Jovanka dengan wajah yang memerah.
Di taman itu lagi-lagi adria terus mengejar Jovanka, ia seakan tak pantang menyerah untuk menaklukan hati gadis pujaannya itu. Sementara itu Herdinan melihat Tantia yang sedang melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Alamak, ada si Tantia juga disini!" Gumam Herdinan.
Herdinan melihat dirinya yang tak menggunakan alas kaki dan juga hanya memakai pakaian santai.
"Aaarrrggghhh! Aku tidak sadar kalau aku tidak pakai sendal dan juga aku memakai kaos dan celana ponggol saja." Pekik Herdinan dalam hatinya.
Herdinan semakin gugup dan malu saat Tantia sudah berada dekat dengan dirinya. Tantia melebarkan senyumnya saat meilhat Herdinan di taman itu. Tantia yang memang menyukai herdinan sejak kecil, langsung duduk di samping Herdinan dan merangkul lengan kekarnya.
"Kak, kau sangat tampan!" Seru Tantia.
"Tantia, jangan begini, malu dilihat orang." Sahut Herdinan menyingkirkan tangan Tantia pada lengannya dengan perlahan.
"Untuk apa malu, kau kan pacarku!" Sahut Tantia.
"Eehh, sejak kapan kita jadian?" Tanya Herdinan bingung.
"Mulai sekarang, pokoknya kalau aku bilang kita pacaran ya berarti kita pacaran.' Kata Tantia si pemaksa.
"Lepaskan Tantia!" Ujar Herdinan risih dengan Tantia.
Lengan Herdinan terlepas dari tangan Tantia, lalu ia beranjak pergi meninggalkan Tantia yang masih duduk di bangku taman itu seorang diri. Tantia hanya menatap Herdinan yang pergi meninggalkannya dengan perasaan yang sedih.
"Aku kan suka padanya, kenapa dia harus seperti itu padaku? Sudah jelas, Herdinan tidak menyukai aku!" Gumam Tantia sambil menundukkan wajahnya.
Herdinan masuk kedalam mobil dan menghela nafas panjang di sana. Ia menoleh ke kaca mobil yang tampak jelas Tantia masih duduk sendirian disana.
"Dia sangat agresif." Ucap Herdinan menatap Tantia dari dalam mobilnya.
Tak ingin menampakan kesedihannya, Tantia pergi mendekati Yasmin dan Chika yang masih berjalan santai di taman itu, sedangkan Azlan pergi membeli minuman dingin untuk Chika.
"Sepertinya aku melihat Herdinan berbincang denganmu, kemana dia?' Tanya Yasmin pada Tantia.
"Entahlah, mungkin dia tidak suka berada di dekatku." Sahut Tantia.
"Kenapa? Apa kalian bertengkar?' Tanya Yasmin lagi.
"Tidak, dia hanya tidak menyukaiku saja, jadi aku harus berhenti menyukainya." Sahut Tantia.
"Jangan berkata seperti itu, mungkin Herdinan hanya sedang tak ingin di ganggu saja." Kata Yasmin.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tidak mau memikirkan dia lagi." Kata Tantia.
Tak lama kemudian, Adrian dan Jovanka menghampiri mereka. Azlan pun tiba dengan membawa sebotol minuman dingin untuk Chika. Mereka semua duduk di bangku taman sambil berbincang. Adrian yang menyadari kalau herdinan tak ikut bergabung menanyakannya pada Tantia.
"Tantia, apa kau sudah bertemu dengan herdinan? Tadi aku membawanya kesini." Tanya Adrian.
'Iya, tapi hanya beberapa detik saja, setelah itu dia pergi." Sahut Tantia.
"Kemana?" Tanya Adrian.
"Entahlah!" Sahut Tantia.
Adrian menatap tantia yang bagaikan tak perduli dengan Herdinan.
"Tidak seperti biasanya, ada apa dengan Tantia? Apa dia berhenti untuk menyukai Herdinan?' Gumam Adrian dalam hatinya.
Adrian bangkit dari temat duduknya, dan mencari Herdinan. Ternyata Herdinan sedang duduk santai di dalam mobil sambil mendengarkan musik. Adrian mengetuk kaca pintu mobilnya.
"Kenapa kau disini?" Tanya Adrian.
"Nunggu kakak lah!" Sahut Herdinan.
"Kau tidak menemui tantia?' Tanya Adrian lagi.
"Hei, apa kau tidak lihat tampangku yang sekarang? Aku hanya menggunakan kaos oblong dan celana ponggol saja, bahkan aku tidak pakai sendal!" Ujar Herdinan kesal.
"Jadi itu alasanmu tidak mau menemui Tantia?" Tanya Adrian.
"Sudah tau malah bertanya." Sahut Herdinan jengkel.
"Astaga, hei kaku! Si Tantia lihat kau tak pakai baju pun dia tetap bilang kau tampan." Kata Adrian mengolo-olok adiknya.
Herdinan semakin dongkol akibat ejekan dari kakaknya.
"Cepatlah, apa kau sudah siap joggingnya? Aku mau pulang!" Kata Herdinan.
"Iya, sudah! Ayo kita pulang!" Sahut Adrian masuk ke dalam mobilnya.
Adrian kembali menatap adiknya yang kaku itu.
"Kau tidak menemui Tantia dulu?" Tanya Adrian lagi.
"Tidak! Aku malu." Sahut Herdinan.
Adrian pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya kembali pulang kerumah. Adrian yang sudah puas menganggu Jovanka saat di taman tersebut menyetir mobilnya dengan perasaan yang gembira.
flashback saat Adrian dan Jovanka duduk di bangku taman.
"Jo, aku suka padamu." Ucap Adrian nembak Jovanka.
"Sejak kapan?" Tanya Jovanka.
"Sejak kita masih dalam kandungan!" Jawab Adrian konyol.
"Dasar gila!" Sahut Jovanka.
"Hehehehe, tidak tau sejak kapan, pokoknya aku suka padamu sejak lama, mungkin di kehidupan yang dulu kita sepasang suami istri yang bahagia." Kata Adrian lagi dengan konyolnya.
"Dari mana kakak tau?" Tanya Jovanka.
"Karena di setiap ada kamu, jantungku berdetak, berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang, di setiap ada kamu, darahku mengalir, mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala." Sahut Adrian mulai bernyanyi.
"Aku sedang ingin bercinta karena mungkin ada kamu disini aku ingin." Sambung Adrian lagi bertingkah bagaikan penyanyi rocker di hadapan Jovanka.
Jovanka mengernyitkan dahinya melihat Adrian bertingkah konyol di depannya. Tak lama senyumnya mengambang dan memalingkan wajahnya lalu ia tertawa geli. Adrian terus menyanyi di depan Jovanka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya bak ala-ala penyanyi penyanyi rocker.
"Aduhh, kepalaku pusing! Hehehe." Ucap Adrian selesai bernyanyi dan duduk kembali di samping Jovanka.
Jovanka semakin tertawa geli saat melihat Adrian memegang kepala yang pusing setelah menyanyi. Adrian ikut tertawa saat melihat Jovanka dengan wajah memerah.
"tTdi habis ngapain sih?" Tanya Jovanka menahan tawanya.
"Nembak pakai lagu, hehehe." Jawab Adrian cengengesan.
Jovanka terus tertawa geli melihat tingkah konyol Adrian di depannya.
"Ngomong-ngomong di terima atau tidak nih?" Tanya Adrian.
"Iya." Sahut Jovanka sambil menganggukkan kepalanya.
Adrian kaget mendengar jawaban dari Jovanka yang menerima cintanya, karena selama ini Jovanka selalu menghindar saat Adrian mengejar-ngejarnya. Adrian memegang kedua tangan Jovanka dan menatapnya.
"Serius?" Tanya Adrian seakan tidak percaya kalau Jovanka telah menerima cintanya.
__ADS_1
"Iya, serius!" Jawab Jovanka.
"Jovanka, kau tidak lagi kerasukan setan di taman ini kan?" Tanya Adrian bingung.
"Apaan sih?" Ujar Jovanka.
"Soalnya selama ini kau selalu menolakku mentah-mentah, dan sekarang kau menerimaku." Kata Adrian.
"lalu tidak jadi nih pacaran sama aku? Ya sudah aku tolak saja deh!" Sahut Jovanka berbalik badan membelakangi Adrian.
"Hahahahaha, jadi dong, kau kan istriku di masa depan!" Sahut Adrian mendekap Jovanka dari belakang.
"Sana, jangan peluk-peluk!" Kata Jovanka mendorong Adrian.
"Kalau tidak boleh peluk, cium boleh dong, hehehe." Kata Adrian.
"Tidak boleh!" Sahut Jovanka.
Jovanka beranjak pergi dan meninggalkan Adrian yang masih duduk di bangku taman itu.
"Sabar Adrian, yakinlah kalau si cantik jo adalah istrimu di masa depan! Ganbatte (semangat dalam bahasa jepang)." Ucap Adrian menyemangati dirinya sendiri.
Adrian pun mengikuti langkah Jovanka yang menghampiri Yasmin dan juga yang lainnya di taman itu.
Flashback off.
Azlan membawa Yasmin dan adik-adiknya pulang dari taman itu setelah selesai berolah raga. Tantia masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Selesai mandi ia berbaring di atas ranjangnya dan memainka ponselnya. Ia membuka album foto yang ada di ponselnya, dan menghapus semua foto Herdinan yang ada di ponselnya. Tantia juga meng-unfollow Herdinan di medsosnya.
"Aku harus melupakannya mulai sekarang." Ucap Tantia.
Tantia memejamkan matanya sambil berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Baru saja ia seakan tertidur, terdengar jeritan Yasmin yang kebetulan kamarnya tak jauh dari kamarnya. Tantia membuka pintu kamarnya dan melihat semua orang sudah panik di sana.
"Ada apa sih?" Gumam Tantia melihat ke kamar Yasmin.
Ternyata di sana, Yasmin sudah mengeluarkan banyak darah pada sela kakinya. Terdengar olehnya, kalau Balqis mengatakan kalau Yasmin akan segera melahirkan. Kediaman kampung hawa panik saat Yasmin akan melahirkan ketiga bayinya tersebut. Yasmin di bawa kerumah sakit dan saat di periksa oleh dokter kandungan, Yasmin harus menempuh jalan operasi caesar untuk melahirkan ketiga buah hatinya.
Dengan perasaan yang was-was, Azlan melihat proses operasi yang di jalani oleh Yasmin. Sekitar satu jam, Azlan melihat salah satu bayinya yang keluar dari sayatan perut Yasmin. Tubuh Azlan bergetar melihat dan mendengar tangisan bayi tersebut. Azlan melihat jari mungil bayi tersebut seperti sedang mengacungkan jari tengah padanya.
"Hei, aku ini ayahmu, mengapa kau mengacungkan jari tengahmu, hah?" Ujar Azlan dalam hatinya menatap bayi yang masih dalam gendongan perawat.
Azlan masih fokus pada bayi yang sedang di bersihkan oleh perawat. Ia melihat bayi itu dengan seksama.
"Apa bayinya perempuan?" Tanya Azlan pada perawat itu.
"Bayinya laki-laki!" Jawab perawat.
"Yes! Dugaanku benar selama ini, bayi nakal itu laki-laki." Kata Azlan sangat gembira.
Azlan mencium kening Yasmin yang masih menjalani proses operasi untuk melahirkan bayi-bayinya lagi. Di dalam ruang operasi itu lahirlah 3 bayi yang di antaranya 1 bayi laki-laki dan 2 bayi perempuan. Keinginan Yasmin yang ingin memiliki bayi sepasang sudah terkabulkan.
Kini Azlan dan Yasmin sudah menjadi orang tua yang bahagia dengan bayi-bayi mungil nan menggemaskan. Begitu pula dengan Abrar dan Balqis yang sudah menjadi kakek dan nenek untuk cucu-cucunya. Ucapan selamat berdatangan dari kerabat dan juga sahabat dekat mereka. Banyak hadiah yang dikirimkan untuk bayi-bayi mungil itu. Melia dan melani menatap bayi-bayi Azlan dengan hadiah kecil ditangan mereka. Melia dan Melani menatap bayi perempuan yang kembar.
"Ini penerus kita, Melani!" Kata Melia.
"Iya, hehehe." Sahut Melani.
"Kau bawa hadiahmu kan?" Tanya Melia.
"Pastinya, hehehe!" Sahut Melani terkekeh jahat.
Azlan melihat kedua adiknya yang menatap bayi perempuannya yang kembar. Lalu Azlan melihat bungkusan kecil yang terbalut pita berwarna pink di tangan Melia dan Melani. Ia pun menghampiri kedua adiknya itu.
"Kalian bawa hadiah?" Tanya Azlan pada si kembar Melani dan Melia.
"Iya dong!" Sahut keduanya.
"Apa itu?" Tanya Azlan.
"Spidol warna!" Jawab keduanya.
Azlan mencerna ucapan kedua adiknya itu.
"Jangan bilang kalian akan mewarisi hobi kalian pada kedua putri kembarku!" Kata Azlan.
Melia dan Melani mengangguk sambil tersenyum licik. Azlan menatap bayi laki-laki yang tidur di sebelah bayi kembarnya.
"Sungguh malang nasibmu, nak! Jika suatu saat kau bernasib yang sama sepertiku selalu di coret-coret oleh kedua adik yang kembar." Kata Azlan pada bayi laki-lakinya.
Si kembar Melia dan Melani ngakak mendengar perkataan Azlan pada bayi laki-lakinya.
__ADS_1