MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
NYOSOR MULU.


__ADS_3

Setelah semua adik Azlan pulang, Yasmin teringat dengan Azlan yang sedang bersembunyi. Yasmin mencari-cari di mana tempat persembunyian Azlan.


“Azlan, dimana kau?" Panggil Yasmin.


"Aku disini!" Sahut Azlan dengan nada yang tak berdaya.


Cepat-cepat Yasmin membuka pintu lemarinya.


“Astaga.” Ucap Yasmin melihat Azlan yang sedang kelaparan.


“Sayang, aku lapar?" Kata Azlan dengan tatapan yang menyedihkan.


“Iya, aku akan memasak makanan untukmu!" Sahut Yasmin.


“Nasi gorengnya mana?” Tanya Azlan.


“Sudah habis di makan Rindi?" Sahut Yasmin.


“Aaarrgghhh! Dasar anak milenial itu!” Teriak Azlan kesal.


Kemudian dengan sesegera mungkin Yasmin masak lagi untuk Azlan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan Azlan duduk dengan sangat kelaparan pada perutnya.


“Taaaddaaa, ini sarapanmu!" Seru Yasmin memberikan nasi goreng plus telor ceplok.


“Ini bukan sarapan, tapi makan siang!" Sahut Azlan.


“Hehehe.” Yasmin tersenyum melihat Azlan sangat lahap makan makanannya.


Setelah kenyang Azlan pergi mengantar Yasmin ke toko bunganya yang kini sedang di kelola oleh Sakura. Lalu setelah itu Azlan kembali pulang kerumahnya. Setibanya dirumah, ia melihat adik-adiknya berjejer menunggunya.


“Ada apa?” Tanya Azlan.


“Kami minta suap!" Seru semuanya.


“Suap apaan sih?” Teriak Azlan.


“Tadi kami lihat mobil kakak di depan rumah kakak Yasmin.” Sahut Syifa.


“Ah, sial! Mereka semua tau kalau aku menginap dirumah Yasmin semalam.” Batin Azlan.


“Eemmm, papi sama mami tau?” Bisik Azlan kepada adik-adiknya.


Semuanya menggeleng.


“Oke, kalau begitu semuanya beres!" Kata Azlan ingin melangkah pergi dan berlalu dari adik-adiknya.


“Kak, kami bisa saja buka mulut! Hehehehe.” Ancam adik-adiknya.


“Cepat katakan, kalian mau apa dariku?” Teriak Azlan yang tau tabiat adik-adiknya.


“Duiiitttt!” Seru semuanya.


“Iya, baiklah! Nanti aku transfer." Kata Azlan yang tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan adik-adiknya itu..


Lagi-lagi Azlan ditodong oleh adik-adiknya. Tidak ada jalan lain yang ada di pikirannya saat itu selain menuruti semua keinginan adik-adiknya. Azlan duduk dan memegang ponselnya untuk menstranfer uang kepada semua adiknya kecuali Chika. Saat itu tanpa ia sadari kalau Abrar dan Balqis sedang menguping pembicaraan Azlan dan


adik-adiknya.


“Semalam dia menginap dirumah Yasmin.” Ucap Abrar.


“Ini tidak bisa dibiarkan!" Sahut Balqis.


“Iya, kau benar!” Sambung Abrar.


“Cepatlah kau siapkan acara pertunangan mereka setelah itu kita nikahkan mereka berdua, aku tak ingin Azlan punya anak di luar nikah.” Kata Balqis.


“Oke!” Sahut Abrar.


Abrar kembali bertemu dengan Teo untuk membicarakan acara pertunangan kedua anak mereka. Dan setelah bebincang lama akhirnya mereka sudah menetapkan akan membuat acara pertunangan yang akan di adakan minggu depan.

__ADS_1


Hari senin pagi Yasmin sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Tiba disana ia langsung duduk dan mengerjakan pekerjaannya sebagai sekretaris Azlan. Yasmin terus berkutat pada laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tak lama kemudian Dandi menghampirinya.


“Nona Yasmin rajin banget!" Sapa Dandi masuk keruangannya.


“Hehehe, biasa saja! Selesaikan pekerjaan yang menumpuk." Sahut Yasmin.


“Oh iya jangan panggil nona, Yasmin saja! Kita kan teman sekantor." Kata Yasmin lagi.


“Merendah sekali dia! Dia kan anak pengusaha kaya dan juga kekasihnya bos, tapi tetap saja rendah hati.” Ucap Dandi kagum dalam hatinya.


Tak lama kemudian Azlan masuk keruangannya dan membuka kain gorden untuk melihat Yasmin di ruangan sebelah. Dan saat itu ia melihat kalau ada dandi sedang berbincang dengan Yasmin. Wajah Azlan memerah kesal saat melihat sang asisten berbincang dengan kekasihnya itu. Azlan langsung mengangkat telepon yang terletak di mejanya.


“Iya pak!” Ucap Yasmin menerima telepon Azlan.


“Keruanganku segera!" Ujar Azlan dengan nada datar.


“Baik!" Sahut Yasmin.


“Eh, dingin sekali nada bicaranya! Kenapa ya?” Gumam Yasmin dalam hatinya.


Yasmin pun pergi menuju ruangan Azlan yang bersebelahan denganya. Setelah masuk ia melihat wajah Azlan kesal padanya.


“Bapak panggil saya?” Kata Yasmin.


“Aku tak suka kau berbincang ramah dengan Dandi!" Ujar Azlan terus terang.


“Astaga, jadi karena itu! Tapi dia tau dari mana kalau Dandi diruanganku tadi?” Pikir Yasmin sambil melihat dinding kaca yang terpampang langsung keruangannya.


“Huh, sialan! Dia memata-matai aku dari dinding kaca ini! Kalau begitu selama ini dia tau apa saja yang aku lakukan di dalam sana.” Gumam Yasmin kesal.


“Hei, kenapa diam saja? Aku tuh cemburu, tau!” Ujar Azlan.


“Kau menyebalkan!” Tukas Yasmin beranjak pergi kembali keruangannya.


Azlan melihat Yasmin kesal padanya. Dengan berdecak kesal Azlan mengikuti Yasmin yang kembali keruanganya. Azlan menarik tangan Yasmin.


“Kenapa malah kau yang kesal?” Tanya Azlan.


“Ppffftt, dia sadar!” Gumam Azlan.


“Dasar menyebalkan!" Umpat Yasmin.


“Dengarkan aku Yasmin, dinding kaca itu memang sudah ada dari dulu untuk memantau pekerjaan sekretaris.” Kata Azlan.


“Berarti selama ini kau sering melihat sekretarismu yang dulu kan?” Ujar Yasmin ikut cemburu.


“Tidak! Aku tidak pernah memperhatikannya! Dinding kaca itu tertutup kain gorden, semenjak ada kau makanya aku buka." Kata Azlan.


“Iya deh, aku ngaku! Aku memang sering melihatmu dari ruanganku! Dan yang paling aku suka saat kau berjalan ala-ala model waktu itu, hehehe.” Sambung Azlan lagi membuat Yasmin malu.


“Pergi sana!” Usir Yasmin.


“Ddiihh, baru kali ini ada sekretaris kurang ajar berani mengusir CEO nya!” Ujar Azlan.


“Mau aku pecat hah?” Tanya Azlan.


“Ya sudah pecat saja!" Sahut Yasmin.


“Huh, dia menantangku!” Gumam Azlan.


Azlan mendekat kepada Yasmin.


“Apa?” Tanya Yasmin berjalan mundur dan mentok ke dinding.


Azlan yang sudah sangat dekat, langsung ******* bibir Yasmin dengan ganasnya. Yasmin mencoba untuk mendorongnya, karena situasinya tidak tepat, mereka berada di lingkungan kantor.


“Bibirmu manis! Hehehehe.” Ucap Azlan sambil berbalik dan beranjak pergi dari ruangan Yasmin.


“Dasar menyebalkan!" Teriak Yasmin kesal.

__ADS_1


Azlan yang di maki Yasmin malah ngakak setelah menindas Yasmin di pagi hari saat di ruangan Yasmin. Azlan kembali keruangannya dan mulai dengan pekerjaannya sedangkan Yasmin duduk mengerjakan pekerjaannya sambil kesal setengah mati karena di ganggu oleh Azlan.


Hari sudah siang dan jam menunjukkan pukul 1 siang. Waktunya untuk makan siang. Azlan yang tak bisa menahan rasa laparnya memutuskan untuk pergi menemui Yasmin diruangannya.


“Yasmin, aku lapar!" Kata Azlan.


“Iya sebentar tunggu diruanganmu, aku akan bawa makanannya.” Sahut Yasmin.


Azlan pun kembali keruanganya menunggu Yasmin datang. Tak lama Yasmin pun datang dengan bekal makanan yang ia masak tadi pagi. Azlan makan dengan lahap seperti biasanya. Azlan sudah mulai terbiasa makan makanan yang di masak oleh Yasmin untuknya.


"Wah, kenyang!" Seru Azlan selesai makan.


“Yasmin.” Panggil Azlan.


“Heeem?” Sahutnya.


“Aku kangen dengan bolu kukus.” Kata Azlan.


“Iya, besok aku buatkan!" Sahut Yasmin.


“Yasmin.” Panggil Azlan lagi.


“Apa?” Tanya Yasmin.


“Aku kangen!” Kata Azlan.


“Iya, besok aku buatkan!" Sahut Yasmin tak fokus pada ucapan Azlan.


“Bukan bolu kukus, tapi aku kangen padamu!” Ucap Azlan membuat Yasmin tersipu malu.


“Hampir setiap hari kau melihatku, masih punya rasa kangen kah?” Tanya Yasmin.


Azlan mengangguk dengan wajah konyolnya.


“Lalu?” Tanya Yasmin.


“Cium!” Rengek Azlan.


“Huh, nyosor mulu sih! Tadi pagi kan sudah.” Sahut Yasmin.


“Huh, tidak asik ciuman yang seperti itu! Aku mau ciuman saat kita di kamar tamu rumahku! Saat itu kau sangat menggairahkan, hehehe." Pinta Azlan.


“Ddiihh, mesum banget sih!” Ujar Yasmin dengan wajah memerah.


“Cepatlah cium aku!" Perintah Azlan yang sudah mendekap Yasmin.


Yasmin pun mencium bibir Azlan dan di balas oleh Azlan dengan ciuman yang panas. Saat itu mereka berdua sedang duduk di sofa. Tiba-tiba Dandi main nyelonong masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Alhasil si Dandi nangis bombai melihat Azlan dengan Yasmin yang sedang bermesraan di dalam. Dandi langsung kembali keruangannya dan melihat foto Delina di ponselnya.


“Huh, malam minggu kemarin si Delina ngambek saat melihatku tersenyum dengan wanita lain, padahal itu temanku! Gara-gara itu aku tak bisa menciumnya! Aarrgghh, menyebalkan! Aku juga mau bermesraan dengan si Delina.” Gumam Dandi frustasi.


Setelah puas bermesraan, Yasmin kembali melanjutkan pekerjaannya begitu pula dengan Azlan. Tak lama Dandi masuk dengan wajah yang lesu.


“Kenapa kau?” Tanya Azlan.


“Delina ngambek!” Sahut Dandi.


“Hahahaha.” Azlan malah tertawa.


“Huh, iya lah si bos yang lagi mesra-mesranya dengan Yasmin.” Kata Dandi dongkol.


“Makanya kalau mau masuk ketuk pintu dulu! Untung si Yasmin tak sadar kalau kau melihat adegan kami tadi.” Ujar Azlan.


"Hah, aku sangat frustasi kalau Delina ngambek.” Kata Dandi.


“Bos, kalau aku lamar Delina untuk jadi istriku, boleh gak bos?” Tanya Dandi.


“Tidak! Aku anak sulung jadi harus aku duluan yang menikah! Kemudian si kembar lalu si Delina.” Sahut Azlan.


“Hhhaaaiiihh, saat itu terjadi pasti umurku sudah 40 tahun." Kata Dandi.

__ADS_1


“Deritamu!"  Ujar Azlan membuat Dandi semakin frustasi.


__ADS_2