
Di dalam kamarnya, Yasmin terus menanti balasan dari pesan yang ia kirim kepada Azlan, namun sampai pagi hari saat ia terbangun Yasmin tak melihat ada satupun balasan dari Azlan. Dengan sedikit perasaan sedih dan khawatir Yasmin hanya menatap kosong pada layar ponselnya.
Setelah berdandan cantik Yasmin bergegas pergi ke kantor. Sampai disana ia melihat kedalam ruangan Azlan, namun ia tidak melihat Azlan disana.
“Eemmm, mungkin belum datang.” Gumam Yasmin.
Yasmin masuk kedalam ruang kerjanya sebagai sekretaris Azlan. Yasmin duduk dan mengerjakan pekerjaannya di meja itu dengan sebuah laptop yang berhadapan dengannya. Tak lama kemudian ia mendengar suara Dandi yang sedang berbincang dengan Azlan.
“Eehh, itu dia!” Gumam Yasmin.
Yasmin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa bertemu dengan Azlan di sela-sela waktu kerjanya. Selang beberapa jam Yasmin sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang.
“Aneh, kenapa hari ini dia tidak memanggilku keruangannya? Biasanya setiap menit dia selalu saja menggangguku! Pesan dariku juga tak di balasnya hingga sekarang! Ada apa sih?” Gumam Yasmin lagi.
“Apa aku datang ke ruangannya aja ya! Ini sudah jam istirahat, apa dia tidak lapar? Dia tidak kesini untuk makan? Aku sudah masak banyak makanan untuknya! Aku juga sudah buat bolu kukus.” Kata Yasmin sembari melihat bekal makanan yang ia bawa untuk Azlan seperti setiap harinya.
“Tunggu sebentar lagi deh! Dia pasti akan datang, dia kan gak bisa tahan lapar.” yasmin masih duduk di ruangannya menunggu Azlan.
One hour later.
“Sudah jam 1 siang begini, kok dia tidak datang-datang? Perasaan tidak ada jadwal yang membuatnya sibuk!” Gumam Yasmin.
Tak mau menunggu lagi Yasmin membawa bekal makan siang yang ia masak untuk Azlan keruangannya. Disana ia tak melihat Azlan.
“Eeehh, pergi kemana dia?” Tanya Yasmin dalam hatinya.
Yasmin masih memegang bekal makan siang itu. saat Yasmin akan keluar dari ruangan Azlan, ia bersitatap dengan Azlan dan juga Dandi.
“Kalian darimana saja?” Tanya Yasmin.
“Kami baru saja selesai makan siang di resto depan!” Jawab Dandi yang seketika membuat Yasmin kecewa.
“Oh, begitu!” Sahut Yasmin memegang kotak makanan itu dengan erat.
Tak ingin menatap Azlan, Yasmin langsung masuk kedalam ruanganya kembali. Wajah Yasmin tampak kecewa sekaligus sedih saat itu, namun Azlan masih tak bergeming melihat raut wajah Yasmin.
“Bos, apa aku salah bicara ya?” Tanya Dandi bingung saat melihat Yasmin sedih.
“Sudahlah, biarkan saja!” Sahut Azlan.
Azlan masuk kedalam ruangannya dan di ikuti oleh Dandi.
“Bos, Yasmin sedang sedih tuh!” Kata Dandi.
“Jadi aku harus apa?” Ujar Azlan.
“Hei, bos! Sebenarnya ada masalah apa sih?” Tanya Dandi.
“Yasmin itu termasuk wanita yang tidak peka, kau lagi ngambek bukannya di bujuk malah di cuekin!” Ujar Azlan.
“Memangnya bos ngambek kenapa?” Tanya Dandi.
Azlan pun curhat pada asisten kepercayaannya itu.
“Ppffftt, hahahahaha, masalah sepele seperti itu saja kau ngambek?” Kata Dandi.
“Huh, aku kesal karena dia tidak ingat padaku saat kami bertemu waktu kecil.” Kata Azlan.
“Bos, wajarlah dia tidak ingat! Memangnya saat itu kalian sudah berkenalan? Sudah tau nama masing-masing? Belum kan? Jadi wajar saja dia tidak ingat padamu, bos!” Kata Dandi membuat Azlan tersadar akan kesalahan yang ia perbuat pada Yasmin.
Azlan hanya diam saat Dandi mencoba untuk membuatnya mengerti.
“Bos, hal sepele jangan di jadikan masalah yang besar di dalam suatu hubungan, bisa fatal loh akibatnya!” Ucap Dandi lagi.
Mendengar perkataan Dandi, Azlan langsung bergegas keluar ruangan dan pergi menuju ruangan Yasmin, namun saat membuka pintunya ia tak melihat Yasmin. Mata Azlan tertuju pada bekal makanan yang Yasmin siapkan untuknya. Ia juga melihat kotak yang berisi kue kesukaannya itu.
“Sial! Aku mengacaukan segalanya! Dia pasti kecewa padaku.” Gumam Azlan bergegas mencari Yasmin.
Sambil mencari kesana kemari Azlan juga berusaha untuk menghubungi ponsel Yasmin, namun saat itu ponselnya mati.
“Dimana kau Yasmin?” Gumam Azlan yang sudah panik mencari Yasmin di seluruh ruangan kantor.
Tak lama dandi menghampiri Azlan.
“Bos, tadi kata security nona Yasmin sudah keluar sejam yang lalu!” Kata Dandi.
“Sial! Dia pasti pulang kerumahnya!” Sahut Azlan.
“Dandi, tangani semua pekerjaan hari ini.” Perintah Azlan pada asistennya itu.
“Oke!” Sahut Dandi.
Azlan pergi mencari Yasmin kerumahnya, namun setibanya ia disana kata para pelayan Yasmin belum pulang. Azlan bergegas pergi ke toko bunga mencari Yasmin untuk meminta maaf karena sikapnya yang telah mengacuhkan Yasmin.
“Sakura, apa Yasmin ada disini?” Tanya Azlan.
“Tidak! Yasmin datang kesini hanya hari sabtu dan minggu saja itupun kalau kau tak menyekapnya.” Sahut Sakura.
Sakura melihat raut wajah Azlan yang sedang kalut.
“Ada apa?” Tanya Sakura pada Azlan.
“Dia sedang kecewa denganku!” Kata Azlan.
Azlan menjelaskan semua yang terjadi saat itu gara-gara ulahnya sendiri.
“Hei, asal kau tau saja, Yasmin itu wanita yang susah untuk di bujuk! Tampangnya memang polos, mudah di bodohi namun kalau sudah ngambek susah di bujuk!” Kata Sakura yang tau persis sifat Yasmin.
“Menurutmu aku harus bagaimana?” Tanya Azlan.
“Berdoa saja, semoga Yasmin mau menerima usahamu untuk membujuknya!” Kata Sakura.
“Ayolah, sakura! Kau sahabatnya kan, kau pasti tau cara bagaimana untuk membujuknya.” Kata Azlan.
“Berikan saja coklat, dia tergila-gila makan coklat!” Kata Sakura.
“Tapi dia dimana? Aku tak tau cari dia kemana lagi!” Kata Azlan.
“Coba cari kerumah mendiang ibunya siapa tau dia kesana.” Sahut Sakura.
“Oke!” Kata Azlan dan langsung bergegas mencari yasmin.
Azlan yang panik mencari Yasmin, lupa membeli coklat. Dia tancap gas menuju kerumah mendiang ibu Yasmin, dan benar Yasmin sedang duduk di dalam kamar dan makan coklat sambil nangis. Azlan pun mendekati Yasmin.
“Yasmin, aku minta maaf karena mengacuhkanmu!” Ucap Azlan membelai wajah Yasmin.
“Jangan sentuh aku!” Teriak Yasmin kesal sambil menangis.
Azlan menatap Yasmin yang sedang makan coklat.
“Ah, sial! Aku lupa membeli coklat tadi! Aduh, gimana membujuknya nih?” Gumam Azlan dalam hatinya.
“Sayang, aku minta maaf! Aku gak bermaksud untuk membuatmu kecewa.” Kata Azlan.
__ADS_1
“Jangan panggil aku sayang! Pergi sana!” Ujar Yasmin mengusir Azlan.
“Tapi sayang……
“Aku bilang pergi!” Teriak Yasmin.
“Oke! Aku pergi.” Balas Azlan.
Azlan yang ikut kesal malah pergi meninggalkan Yasmin begitu saja dirumah yang terlihat kosong. Azlan menghidupkan mesin mobilnya dan tancap gas pergi meninggal rumah tersebut. Yasmin yang masih di dalam kembali menangis karena di tinggal Azlan.
“Kenapa kau jadi bodoh si Yasmin? Sudah jelas-jelas itu yang kau inginkan dari Azlan. kau ingin Azlan meminta maaf padamu, tapi kenapa kau malah mengusirnya?” Gumam Yasmin pada dirinya sendiri sambil menangis.
Sore harinya Yasmin pulang kerumahnya, saat masuk kedalam ia melihat begita banyak kotak besar di ruang tengah.
“Apa-apaan nih?” Gumam Yasmin.
Yasmin menghitung jumlah kotak besar itu.
“Banyak banget, aku sampai capek menghitungnya!” Kata Yasmin.
Tak lama pelayan menghampirinya.
“Nona, kau sudah pulang!” Sapa pelayannya.
“Iya!” Sahut Yasmin.
“Oh, iya! Ini apa ya? Kenapa banyak kotak disini?” Tanya Yasmin.
“Ini kiriman dari tuan Azlan, isinya coklat dan semuanya ada 100 kotak besar! 1 kotak besar isinya 100 pack coklat, 1 pack coklat isinya ada 10 coklat, jadi semuanya ada, eeemmmm saya jadi bingung menghitungnya?” Kata pelayan itu kebingungan.
“Hehehehe, tidak usah dihitung, bikin puyeng!” Kata Yasmin.
Yasmin menaiki anak tangga sambil tersenyum bahagia saat Azlan mengirimkan begitu banyak coklat padanya.
“Dasar Azlan konyol! Memberikan aku segudang coklat, memangnya aku mandi coklat? Dasar!” Gumam Yasmin.
Yasmin membersihkan dirinya di kamar mandi , selesai mandi ia melihat ponselnya yang begitu banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Azlan.
“Rasakan pembalasanku!” Ujar Yasmin melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Yasmin pun merebahkan dirinya ke atas ranjang, hari sudah mulai gelap dan ia merasa sangat lelah karena seharian menangis. Pukul 8 malam Azlan duduk bersama 11 adiknya di meja makan, ia sama sekali tak menyentuh makannya. Si kembar yang melihat azlan tak menyentuh makanannya, merasa heran karena biasanya Azlan begitu lahap menyantap makanannya. Setelah selesai makan malam, si kembar menghampiri kakaknya sambil membawa pudding mangga dingin untuknya.
“Kak, kami lihat kau tidak makan tadi, jadi kami bawakan pudding mangga untukmu.” Kata Melia menyodorkan pudding mangga kepada Azlan.
Tak ingin adiknya kecewa Azlan mengambil pudding itu dan melahapnya, padahal saat itu ia sama sekali tidak ingin makan apapun.
“Kak, lagi galau ya?” Tanya Melani.
“Tidak, biasa saja!” Sahut Azlan.
“Cerita dong.” Kata Melia.
“Tidak ada apa-apa.” Sahut Azlan.
Tiba-tiba si centil Delina masuk kedalam kamar Azlan dan nimbrung dengan mereka.
“Kak, sudah berhasil bujuk Yasmin?” Tanya Delina.
“Tau darimana kau?” Azlan malah balik bertanya.
“Hah, aku punya informan terbaik loh, yaitu kak dandi!” Sahut Delina.
“Huh, sialan si Dandi!” Umpat Azlan pada asistennya itu.
“Jadi kakak memang sedang ada masalah dengan Yasmin?” Tanya si kembar.
“Kenapa sih? Cerita dong, siapa tau kita bisa bantu kak!” Sahut Melani.
“Biar aku yang cerita! Jadi kak Azlan sedang ngambek sama Yasmin, terus kak Azlan cuekin Yasmin di kantor, terus Yasmin jadi ikutan ngambek sama kak Azlan! Kak Azlan udah kirim 100.000 batang coklat, namun Yasmin masih ngambek, begitu ceritanya!” Kata Delina menjelaskan panjang lebar.
Si kembar dan Azlan hanya menatap Delina yang sok tau jalan ceritanya.
“Apa?” Tanya Delina bingung dengan tatapan Azlan padanya.
“Dasar sok tau!” Ujar si kembar mendorong kepala Delina.
“Huh, aku kan sudah bilang aku punya informan hebat di kantor kak Azlan!” Sahut Delina sewot.
“Kak, temui aja si Yasmin! Kakak kan punya sifat pemaksa, paksa saja dia kalau dia masih tidak mau berbaikan dengan kakak.” Kata Melia.
“Oh, iya! Baiklah, jika itu yang kau inginkan Yasmin. Hehehehe.” Ucap Azlan terkekeh licik.
“Hihihihihihi, kak Azlan memang hebat!” Seru si kembar.
“Ddiiihh, ide konyol malah di dengerin! Dasar!” Ujar Delina sewot pada si kembar.
Ketiga adiknya melihat Azlan mengambil baju dan menyimpannya di dalam tas kecil.
“Kak, Kenapa bawa pakaian?” Tanya Melani pada Azlan.
“Mau tau saja!” Sahut Azlan.
“Huh, kak Azlan itu mesumnya tidak ketulungan jika bersama Yasmin! Dia pasti akan menindas Yasmin semalaman.” Kata Delina.
“Pintar.” Sahut Azlan mengacungkan jempolnya pada Delina.
Si kembar tercengang melihat Azlan begitu bersemangat malam itu.
“Hei, Delina! Sejak kapan kau jadi pintar, hah?” Tanya Melia.
“Sejak menjalin kasih dengan kak Dandi! Kak dandi itu pria cerdas, jadi aku ketularan cerdas kalau sering-sering dekat dengannya.” Kata Delina.
“Begitu ya? Eehh, si Angga pria cerdas juga loh, apa aku akan jadi cerdas bila menempel padanya setiap hari?” Tanya Melani pada Delina.
“Hei, itu memang maunya kau saja, dasar genit!” Sahut Melia kesal pada Melani.
“Diihhh, yang masih jomblo nyinyir saja mulutnya!” Balas Melani mengejek Melia.
“Hhheemmmpppp!” Melia seketika menjadi dongkol di juluki jomblo.
Delina ngakak saat melihat Melia kesal pada omongan Melani. Azlan telah selesai membawa pakaiannya yang sudah ia simpan di dalam tas kecil.
“Oke bro, aku pergi dulu! Bye!” Ucap Azlan pada ketiga adiknya.
“Sukses ya kak!” Seru ketiga adiknya itu.
Saat Azlan menuruni anak tangga, ia berpas-pasan dengan Jovanka.
“Kak mau kemana?” Tanya Jovanka melihat Azlan membawa tas.
“Menindas Yasmin!” Sahut Azlan asal bicara.
Saat itu yang ada di pikran Jovanka adalah, Azlan dan Yasmin akan membuat adik bayi. Wajah Jovanka seketika menjadi merah.
__ADS_1
“Hehehehehe, asik! Aku akan segera punya keponakan!” Seru Jovanka.
“Kalau anak kak Azlan, cowok aku akan ajari dia main basket, tapi kalau cewek aku akan paksa dia belajar menyukai basket seperti aku! Hehehe.” Sambung Jovanka lagi.
A few moment later.
“Eehh, bukannya kak Azlan belum nikah ya sama kak Yasmin?” Gumam Jovanka mendadak bingung sendiri.
*****
Azlan pun pergi kerumah Yasmin malam itu. Disana ia di sambut oleh beberapa pelayan yang bekerja dirumah Yasmin.
“Dimana Yasmin?” Tanya Azlan.
“Nona ada di kamarnya, kemungkinan dia sudah tidur!” Sahut pelayan.
“Baiklah, malam ini aku akan menginap disini.” Kata Azlan yang membuat pelayan itu sedikit terkejut.
“Di kamar nona?” Tanya pelayan itu bingung.
“Iya lah!” Sahut Azlan.
“Eemm, dengarkan aku! Apa kau bisa membantuku?” Tanya Azlan.
“Apa tuan?” Tanya pelayan.
“Aku dan Yasmin sedang ada masalah, jadi malam ini aku berniat untuk memperbaiki masalah itu, jadi kau tau kan maksudku? Hehehehe.” Kata Azlan menjelaskan niatnya itu pada pelayan.
“Siiiip lah! Yang penting tuan dan nona yasmin berbaikan.” Sahut pelayan itu.
“Oke, aku naik ke atas dulu! Hehehe.” Ucap Azlan berlari menuju kamar Yasmin.
Kebetulan malam itu Yasmin lupa mengunci pintu kamarnya, dirinya sangat lelah sehingga langsung tertidur setelah selesai mandi dan lupa mengunci kamarnya. Dengan mudahnya Azlan masuk dan langsung berbaring di sebelah Yasmin. Tangan Azlan mendekap tubuh Yasmin yang berbaring membelakanginya.
“Yasmin.” Bisik Azlan.
Hening.
“Yasmin!” Bisik azlan lagi.
Masih hening.
“Yasmin, jika kau tak mau bangun aku akan memperkosamu!” Ucpa Azlan dengan nada sedikit kesal.
Sontak saja Yasmin langsung membuka matanya lebar-lebar. Yasmin membalikkan tubuhnya dan melihat Azlan yang sudah nyengir padanya.
“Huh, mau apa kau? Pergi sana!” Ujar Yasmin kesal pada Azlan.
“Aku tidak mau pergi, sebelum kau mau berbaikan denganku.” Kata Azlan.
“Aku bilang pergi sana!” Ujar Yasmin mengusir Azlan.
“Aku bilang aku tidak mau pergi! Aku akan tetap tinggal disini sampai kau mau berbaikan denganku.” Kata Azlan.
“Terserah kau, dasar tukang paksa!” Umpat Yasmin.
“Aku tidak perduli! ” Sahut Azlan.
Hening beberapa saat.
“Yasmin, maafkan aku! Waktu itu aku kesal padamu karena kau tak ingat padaku saat kita masih kecil.” Kata Azlan.
“Apa maksudmu?” Tanya Yasmin bingung.
“Anak laki-laki yang kau lihat di pesta pernikahan tante Luisa dan om Ferry itu adalah aku! Aku anak laki-laki yang kau lihat sedang mencium pacarnya.” Kata Azlan.
“Kau? Itu kau?” Tanya Yasmin.
Azlan mengangguk.
"Ppppfffttt, bbuuaaahahahahahaha!” Yasmin tertawa terpingkal-pingkal.
“Huh, menyebalkan!” Ujar Azlan sewot karena di tertawakan oleh Yasmin.
“Aku tak menyangka kalau itu adalah kau! Karena wajahmu saat itu sangat frustasi akan mendapatkan adik lagi dari orang tuamu, hahahah.” Sahut Yasmin.
Azlan hanya bisa menatap Yasmin yang sedang menertawainya.
“Sudah puas tertawa, Yasmin?” Tanya Azlan.
“Sudah!" Sahut Yasmin berhenti tertawa.
“Yasmin, jangan ngambek lagi.” Pinta Azlan sembari memeluk tubuh tunangannya itu.
“Makanya jangan acuhkan aku dong!” Sahut Yasmin.
“Iya, aku janji gak akan mengacuhkan kau lagi!” Kata Azlan.
“Aku tuh sedih kalau kau mengacuhkan aku!” Ucap Yasmin dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya, aku janji gak buat kau bersedih lagi.” Kata Azlan.
“Janji?” Tanya Yasmin.
“Iya janji!” Sahut Azlan.
Mereka berduapun berbaikan dengan mudahnya. Tak lama terdengar suara cacing yang ada di perut Yasmin. Malam itu Yasmin memang belum makan malam.
“Kau lapaK? kau mau makan apa?” Tanya Azlan.
“Coklat! Aku suka coklat manis.” Sahut Yasmin.
“Aku lebih manis dari coklat, makan aku saja! Aku rela kok.” Kata Azlan.
“Dasar modus.” Ujar Yasmin.
“Hehehehe, Yasmin, aku nginap disini ya?” Pinta Azlan.
“Iya, tapi jangan berbuat yang aneh-aneh!” Sahut Yasmin.
“Kalau cium boleh dong.” Pinta Azlan lagi.
“Huh, dasar mesum! Bilang saja terus terang kalau kau membujukku karena tak tahan tidak menciumku seharian, iya kan?” Ujar Yasmin.
“Hehehe, tau saja! Kau memang calon istri yang pintar, Yasmin.” Kata Azlan memeluk tubuh Yasmin.
“Minggir sana! Aku mau makan coklat! Ada orang gila yang mengirimkan aku segudang coklat hari ini.” Sindir Yasmin.
“Yasmin, aku tidak gila.” Sahut Azlan.
__ADS_1
“Tidak gila tapi konyol! Kirim coklat satu pabrik!” Gerutu Yasmin keluar dari kamarnya.
“Hehehe, yang penting aku sudah berdamai dengan si cantik! Aku akan tidur nyenyak malam ini.” Ucap Azlan berbaring di atas ranjang milik Yasmin.