MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
MENJADI KACAU


__ADS_3

Yasmin membuka matanya di pagi hari yang cerah di salah satu hotel mewah di kota Roma. Di sana ia melihat sosok Azlan yang tidur tertelungkup di sebelahnya.


"Pertemuan di lift kantornya, perjanjian yang konyol dengannya, sampai-sampai aku jatuh hati dan mencintainya, hingga kini aku tak menyangka akan menjadi istrinya." Gumam Yasmin dalam hatinya sambil mengelus pipi suaminya itu.


Kemudian tampak Azlan mengernyitkan kedua alisnya dan membuka matanya perlahan menatap Yasmin yang tersenyum padanya,.


"Selamat pagi sayangku!" Ucap Azlan dengan suara parau karena baru bangun tidur.


"Pagi!" Sahut Yasmin.


"Mandi bareng yuk!" Ajak Azlan.


"Dasar modus!" Sahut Yasmin.


"Hehehehe, biar kau cepat hamil, sayang." Kata Azlan.


"Azlan, hari ini kita mau jalan-jalan kemana?" Tanya Yasmin.


"Ke tempat yang romantis dan makan pizza kesukaanmu." Jawab Azlan.


"Apa kau mau, sayang?" Tanya Azlan.


Yasmin mengangguk cepat.


"Kalau begiu satu ronde dulu ya! Hehehehe." Kata Azlan tertawa licik.


"Selalu saja begitu." Gumam Yasmin.


Pagi itu Azlan kembali menindas Yasmin untuk menyalurkan hasratnya. Setelah itu mereka mandi bersama dan bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan mengelilingi kota Roma dan makan pizza kesukaan Yasmin.


Lelah berjalan menikmati keindahan kota Roma yang penuh dengan keromantisan itu, Azlan dan Yasmin duduk di salah satu resto yang menjual roti berbentuk bundar. Yasmin sangat menggilai makanan khas Itali itu.Saat sedang menikmati makanannya, mereka di hampiri seorang pria yang tak asing bagi mereka, yaitu Fatur seorang pria yang telah lama jatuh hati pada Yasmin.


"Hai, Yasmin." Sapa Fatur pada Yasmin.


"Hai, kak Fatur! Apa kabar?" Balas Yasmin canggung.


Azlan hanya diam dan menatap Fatur dengan kesal.


"Apa kau sedang perjalanan bisnis disini?" Tanya Fatur.


"Kami sedang berbulan madu!" Sahut Azlan.


Fatur sangat terkejut mendengar jawaban Azlan. Fatur melirik Yasmin untuk mendapatkan jawaban yang benar, namun saat itu Yasmin hanya diam seribu bahasa yang menandakan kalau apa yang di katakan oleh Azlan adalah benar.


"Kalian sudah menikah ya?" Tanya Fatur sedikit kecewa.


"Iya, kami sedang menikmati masa-masa indah menjadi pengantin baru." Sahut Azlan lagi.


Fatur tersenyum sinis pada Azlan.


"Selamat ya Yasmin." Acap Fatur.


"Terima kasih kak." Sahut Yasmin.


"Kau tidak mengucapkan selamat padaku?" Tanya Azlan menatap sinis pada Fatur.


"Selamat tuan Azlan." Ucap Fatur tidak ikhlas.


"Kalau begitu kami permisi duluan, kami akan kembali ke hotel untuk melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh sepasang suami istri! Kau mengerti kan maksudku, tuan Fatur?" Ujar Azlan sengaja menyakiti hati Fatur.


"Tentu saja!" Sahut Fatur menahan amarahnya.


Azlan menarik tangan Yasmin, padahal saat itu Yasmin baru makan sepotong pizza bahkan ia tak sempat meminum minuman yang ia pesan. Fatur menatap kepergian yasmin dan Azlan saat itu. Ia mengepalkan tanganya dengan kesal karena mengetahui kalau Yasmin sudah menikah dengan Azlan. Perasaan menyesal menyelimuti hati Fatur hari itu. Ia merasa menyesal tidak mengutarakan perasaan cintanya pada Yasmin dari dulu.


"Ini tidak adil untukku, Yasmin! Aku berjuang keras untuk menjadi dokter agar dapat membahagiakanmu saat aku menikah denganmu, tapi  kau malah menjadi miliki orang lain." Gumam Fatur kesal dan kecewa.


Dalam perjalanan kembali ke hotel, Azlan melirik ke Yasmin yang hanya diam saja di dalam mobil. Azlan sangat kesal karena melihat raut wajah yasmin yang tampak sedih setelah bertemu dengan Fatur. Azlan menghentikan mobilnya tiba-tiba membuat Yasmin kaget.


"Kenapa kau sedih, Yasmin?" Tanya Azlan kesal.


"Aku tidak sedih!" Sahut Yasmin.


"Kau bohong padaku! Aku melihat kau sedih setelah kau bertemu dengan Fatur tadi, apa kau menyesal menikah denganku dan masih memiliki perasaan padanya?" Teriak Azlan.


"Kau ini bicara apa, Azlan? Aku tak mengerti dengan perkataanmu itu! Aku tidak sedih dan apa maksudmu menanyakan hal konyol itu?" Kata Yasmin ikut emosi.


"Aku tak suka kalian saling menatap!" Bentak Azlan pada Yasmin.


Yasmin wanita yang tidak bisa di bentak, ia langsung menangis saat ada orang yang membentaknya. Yasmin menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Azlan memukul batang stir mobilnya dengan kesal. Azlan menghela nafas dengan berat dan menoleh pada Yasmin yang masih menumpahkan air matanya.


"Yasmin, maafkan aku!" Ucap Azlan sambil mendekap tubuh Yasmin yang bergetar karena menangis.


Yasmin diam saja dan terus menangis.


"Yasmin, maafkan aku! Aku sangat cemburu saat kau menatapnya dan begitu pula dengannya, aku tak rela dia menatapmu tadi, maafkan aku sayang." Kata Azlan lembut membujuk istrinya.


"Aku benci kau yang tak percaya pada cintaku, Azlan!" Sahut Yasmin dalam isak tangisnya.


"Tidak, sayang! Aku percaya kau mencintaiku, tapi aku tak suka melihatnya menatapmu." Sahut Azlan.


"Maafkan aku yasmin, aku salah karena membentakmu tadi, maafkan aku!" Ucap Azlan menyesali perbuatannya.


"Azlan, percayalah padaku! Aku mencintaimu. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya! Setelah ada kau disisiku, aku bahkan tak pernah mengingatnya lagi." Kata Yasmin.


"Iya, sayang, aku percaya padamu! Maafkan aku ya sayang." Ucap Azlan berkali-kali memohon maaf pada Yasmin.


Yasmin mengangguk dan membalas pelukan Azlan padanya. Setelah tenang Azlan melajukan mobilnya dan kembali ke hotel untuk beristirahat.


Selesai membersihkan dirinya, Azlan melihat Yasmin duduk disisi ranjang dan tampak oleh Azlan mata Yasmin yang sedikit membengkak karena menangis tadi. Azlan mendekat dan duduk di samping Yasmin.


"Sayang, maafkan aku ya." Ucap Azlan merangkul Yasmin.


"Iya, sayang." Sahut Yasmin membalas memeluk tubuh Azlan yang masih menggunakan handuk di pinggangnya.


"Azlan, ayo kita ke Paris!" Ajak Yasmin.


"Kita baru 2 hari di sini, kau yang minta kita kesini selama seminggu kenapa sekarang kau ingin ke Paris?" Tanya Azlan bingung.


"Aku, aku berubah pikiran, sayang! Tiba-tiba aku ingin ke Paris." Sahut Yasmin.


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Kata Azlan.


"Besok kita akan pergi ke Paris." Kata Azlan lagi.


yasmin sangat ingin tinggal berlama-lama di roma, namun ia tak mau melihat azlan selalu cemburu pada Fatur bila mereka bertemu dengannya lagi. Yasmin ingin menikmati masa-masa bulan madunya dengan penuh romantis bersama Azlan tanpa ada gangguan dari siapa pun yang dapat membuat hubungan mereka goyah.


Keesokan harinya Azlan dan yasmin bergegas pergi ke Paris untuk melanjutkan bulan madu mereka berdua. Tiba di Paris, Azlan dan Yasmin menempati sebuah villa yang dimiliki oleh Zidan disana. Azlan mengajak Yasmin berkeliling kota Paris dan banyak potret yang di abadikan oleh mereka selama berada disana.

__ADS_1


Malam hari Azlan mengajak Yasmin makan malam romantis di salah satu restoran mewah. Azlan menyewa sebuah ruangan untuk mereka berdua menikmati makan malam yang romantis itu. Perlakuan Azlan yang romantis kepada dirinya membuat yasmin sangat bahagia. Matanya berbinar-binar saat menatap Azlan.


Malam semakin larut, Yasmin dan Azlan berniat untuk kembali ke vila tempat mereka menginap. Saat akan keluar gedung restoran mewah itu, tanpa sengaja Azlan berhadapan dengan Syeril, wanita yang jatuh hati padanya dari kecil.


"Kak Azlan." Sapa Syeril pada Azlan.


Azlan hanya tersenyum sinis pada Syeril dan Syeril melihat Yasmin menggandeng tangan Azlan.


"Apa kabar kak?" Tanya Syeril.


"Baik!" Jawab Azlan singkat.


Yasmin bingung melihat Syeril ia seperti pernah melihat Syeril namun ia lupa dimana tepatnya. Syeril melirik Yasmin penuh dengan kebencian.


"Aku dengar dari ayahku, kalau kakak sudah menikah." Kata Syeril.


"Iya, dan sekarang aku sedang berbulan madu dengan istri tercintaku." Sahut Azlan.


"Azlan, siapa dia?" Tanya Yasmin.


"Dia Syeril anaknya om Aska sahabat papi." Jawab Azlan.


"Oh, hai, aku yasmin, istrinya Azlan." Sapa Yasmin menyodorkan tangannya pada Syeril.


"Syeril!" Sambut Syeril terpaksa di hadapan Azlan.


"Kak, mainlah ke apartemenku." Undang Syeril pada Azlan.


"Maaf Syeril, sepertinya aku akan sibuk setiap harinya, apa kau tak mendengarnya aku sedang berbulan madu disini." Sahut Azlan ketus pada Syeril.


"Kenapa sayang? Syeril kan anak sahabatnya papi, kenapa kau menolaknya?" Tanya Yasmin yang tak tau apa-apa tentang Syeril.


"Yasmin, kalau aku bilang aku sibuk.berarti aku tidak akan pernah bisa datang memenuhi undanganya!" Kata Azlan.


"Sudahlah, ayo kita kembali ke vila! Aku ingin melakukan hal yang menyenangkan denganmu sayang." Bisik Azlan tapi terdengar jelas oleh Syeril.


Azlan dan Yasmin pergi begitu saja meninggalkan Syeril yang sedang terluka karena ucapan Azlan padanya. Syeril meneteskan air matanya saat masih menatap Azlan menuju masuk kedalam mobilnya. Sampai di vila mereka mereka membersihkan diri dan naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Yasmin dan Azlan masih melakukan perbincangan ringan mereka sebelum tidur.


"Sayang, kenapa kau sangat dingin pada Syeril?" Tanya Yasmin.


"Aku tak suka padanya." Sahut Azlan.


"Kenapa? Aku rasa Syeril itu wanita yang baik." Kata Yasmin.


"Hah, kalau kau tau Syeril yang menghancurkan toko bunga milik mendiang ibumu, aku yakin kau pasti akan mencakar wajahnya tadi." Gumam Azlan dalam hatinya.


"Jangan banyak bacot! Sekarang layani aku istriku yang cantik, hehehe." Ujar Azlan telentang pasrah di samping Yasmin.


"Aku mau tidur!" Sahut Yasmin berbaring membelakangi Azlan.


"Aku bilang layani aku, bodoh!" Azlan menarik tubuh Yasmin sedikit memaksa.


"Tidak mau! Aaaarrggghhh, jangan menyentuh bokongku, Azlan!" Teriak Yasmin kesal.


"Hehehehe, aku tak peduli! Sini cium aku." Kata Azlan memaksa Yasmin.


Azlan menarik tubuh Yasmin dan Yasmin menarik rambut Azlan dengan kesal.


"Adduuhh, jangan menarik rambutku wanita kejam!" Teriak Azlan.


Di apartemennya, Syeril menangis dengan tisu yang menggumpal dan berserak dimana-mana. Ia sangat sedih saat melihat Azlan begitu membencinya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering ia melihat nama Kenzo memanggil di ponselnya.


"Halo kak!" Ucap Syeril dengan nada tenang menutupi kesedihannya.


"Kau sedang apa, Syeril?" Tanya Kenzo.


"Aku sedang di apartemenku, ingin tidur!" Sahut Syeril.


"Eemm, Syeril, kapan kau akan pulang ke indonesia?" Tanya Kenzo.


"Aku belum tau kak, aku masih ingin menenangkan pikiranku disini." Kata Syeril.


"Oh begitu." Sahut Kenzo.


"Kak, kapan-kapan mainlah ke Paris! Aku akan membawamu berkeliling disini." Kata Syeril.


"Baiklah, jika aku ada waktu lapang aku akan mengunjungimu di sana." Kata Kenzo.


Setelah menutup teleponnya, Kenzo berjingkrak-jingkrak di ruang tengah. Clara dan Devan melihat putra sulungnya dengan heran.


"Dia kenapa?" Tanya Devan sambil melirik Kenzo.


"Pasti sedang jatuh cinta!" Sahut Clara.


"Darimana kau tau?" Tanya Devan.


"Pria itu kalau sedang jatuh cinta bahagianya luar biadap!" Kata Clara.


"Luar biasa, Clara." Kata Devan.


"Iya, sengaja di plesetin biar lucu, hahahaha.." Sahut Clara.


"Apa kau tau Kenzo jatuh cinta pada siapa?" Tanya Devan.


"Mana aku tau, kau pikir aku ini dukun!" Ujar Clara dengan judesnya.


"Kali saja kau memang seorang dukun yang tau setelah menerawang, hehehe." Kata Devan.


"Ayah, bunda, mau tau kakak jatuh cinta dengan siapa?" Tanya Rara putri kedua Clara dan Devan.


"Siapa?" Tanya Devan dan Clara penasaran.


"Kalau mau tau bagi duit dulu dong! Hehehe." Kata Rara.


Pllleeetttaaakkk............


Clara menjitak kepala putrinya itu membuat Devan terpukau.


"Aduh." Gumam Rara sewot sambil melirik Clara.


"Sakit nak?" Tanya Devan pada Rara.


"Iya, yah." sahut Rara.


"Syukurin! Sudah tau punya bunda galaknya tak tau bilang, pakek negosiasi pula." Kata Devan.


Rara auto sewot pada Devan.

__ADS_1


"Cepat bilang, Kenzo jatuh cinta pada siapa?" Kata Clara.


"Sama kak Syeril." Jawab Rara.


"Wwhhhaaattttt?" Teriak Clara dan Devan kaget.


Rara mengangguk.


"Kenapa hanya berputar disitu saja sih? Gaby dengan Boy, dan sekarang Kenzo dengan Syeril, nanti kau juga ngikut dengan anaknya sahabat ayah seperti mereka." Kata Devan pada Rara.


"Oh, jangan khawatir ayah, aku akan menikah dengan pria yang bukan dari kalangan anak sahabat ayah!" Kata Rara.


"Lalu?" Tanya Clara.


"Tentu saja dengan pria lain yang ayah dan bunda tak kenal, hahahaha." Kata Rara nyeleneh.


"Kedua anakku pada error." Gumam Clara tepok jidat.


"Bundanya pun error, anaknya ya ngikut!" Sahut Devan.


Seketika api membara di tubuh Clara membuat Devan pasang ancang-ancang akan melarikan diri dari amukan Clara.


"Beraninya kau, Devan!" Teriak Clara mengamuk.


Devan lari dengan kencang menghindari amukan Clara sambil tertawa geli karena di kejar-kejar Clara. Rara menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Mereka berdua sangat bahagia, sudah tua masih main kejar-kejaran, dasar!" Gumam Rara melirik kedua orang tuanya.


 


 


*****


Sabtu siang Dandi masih disibukkan dengan urusan pekerjaan yang di limpahkan oleh Azlan padanya. Dandi duduk di depan komputer yang berdiri di atas meja kerja di dalam kamar tidurnya. Tampak Delina sedang tertelungkup sambil membolak balikkan majalah di atas ranjang tidur milik Dandi. Sesekali Delina melirik dandi dengan kesal.


"Kak!" Panggil Delina.


"Hhemmmm." Sahut Dandi tanpa menoleh pada Delina.


"Jalan-jalan yuk, aku bosan!" Kata Delina.


"Tak bisa sayang, aku sibuk! Bagaimana kalau kau pergi ke mall aku akan memberikan kartu kreditku padamu." Kata Dandi.


"Tidak mau! Selalu saja begitu, memangnya aku pacaran dengan kartu kreditmu itu?" Kata Delina sewot.


"Sayang, mengertilah! Bos sedang berbulan madu jadi semua pekerjaan aku yang menanganinya." Kata Dandi terus sibuk menatap komputernya.


"Ya sudah, aku pulang saja! Pacaran saja sana sama komputermu itu." Ujar Delina kesal sambil beranjak pergi.


Dandi tau Delina sedang ngambek padanya. Ia berlari mengejar Delina yang sedang memakai sepatu di dekat pintu apartemen.


"Sayang, jangan ngambek dong! Katanya sayang sama aku." Kata Dandi menghalangi Delina agar tidak pergi dari apartemennya.


"Aku sayang sama kakak, tapi kakak tidak sayang aku." Kata Delina.


"Sayang, aku hanya sibuk dengan pekerjaan saja, mengertilah." Kata Dandi.


Delina diam menatap Dandi.


"Jangan ngambek dong, temani aku disini ya? Katanya kau izin menginap dirumah temanmu pada orang tuamu untuk bermalam disini bersamaku, iya kan?" Kata Dandi membujuk Delina.


Delina membuka kembali sepatunya dan melemparkan tasnya di atas sofa lalu masuk kedalam menuju dapur.


"Aku mau masak mi instant!" Ujar Delina menahan kesalnya pada Dandi.


"Yes! Berhasil!" Seru Dandi berhasil membujuk Delina.


"Sayang, tolong buatkan untukku ya, nanti malam aku janji kita akan makan malam di luar." Kata Dandi.


"Iya!" Sahut Delina.


Delina pun mulai masak mi instant untuknya dan juga Dandi. Tak lama mereka makan berdua di meja makan. Setelah makan Dandi melanjutkan pekerjaannya yang ia persiapkan untuk hari senin. Delina kembali berbaring di atas rajang sambil memainkan ponselnya.


A few moment later.....


"Kak!" Panggil Delina lagi.


"Iya sayang!" Sahut Dandi.


"Masih lama?" Tanya Delina.


"Sebentar lagi sayang." Jawab Dandi terus fokus pada komputernya.


One hour later....


"Yes! Selesai!" Seru Dandi.


Dandi merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan. Setelah itu ia mendekat pada delina yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Dandi mencium kening wanita yang sangat ia cintai itu.


"Kasihan dia, aku terlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu luang untuknya." Gumam Dandi menatap wajah kekasihnya itu.


Dandi memutuskan untuk berbaring di samping Delina dan mendekapnya lalu ikut tertidur lelap setelah lelah bekerja. Malam harinya dandi menepati janjinya untuk mengajak Delina makan malam diluar sekaligus jalan-jalan.


Saat sedang makan malam di salah satu cafe, tak sengaja Melia yag sedang malam mingguan dengan Evan melihat Delina bersama Dandi.


"Bukannya Delina bilang mau menginap dirumah temannya, kenapa dia bersama Dandi sih? Wah...wah, Delina mulai tak jujur nih!" Gumam Melia.


"Awas kau Delina!" Gumam Melia lagi.


Malam itu Melia tak ingin merusak malam mingguannya dengan Evan hanya karena perihal Delina yang tak jujur dengan kedua orang tuanya. Melia berpura-pura tak melihat Delina di cafe itu.


Delina yang memang berencana untuk bermalam di apartemen dandi pun telah berganti pakaian tidur yang ia bawa dalam tasnya setelah pulang dari jalan-jalan bersama Dandi. Delina berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya menunggu dandi selesai mandi.


Tak lama Dandi keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya, Delina menatapnya malu-malu dan Dandi hanya tersenyum saat tau Delina malu melihatnya telanjang dada. Dandi menggunakan piyama tidurnya dan berbaring di sebelah Delina.


"Sayang!" Panggil Dandi pada Delina.


"Astaga, ini pengalaman pertama saat aku bermalam dengan kak Dandi, jantungku mau copot." Ucap Delina dalam hatinya.


Dandi mendekati Delina dan memeluknya.


"Kak, kau mau apa?" Tanya Delina dengan wajah memerah.


"Menurutmu?" Dandi balik bertanya.


Dandi mencium Delina dengan sangat lembut dan Delina pun membalas ciuman kekasihnya itu.

__ADS_1


__ADS_2