MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
ABRAR VS KENZO


__ADS_3

Setelah beberapa hari dirumah sakit, akhirnya ketiga bayi mungil itu di bawa ke kediaman kampung hawa. Suasana bahagia tak terbendung menyambut kedatangan bayi-bayi imut yang di beri nama Ari, Ara, dan Arum. Bayi mungil itu menempati kamar barunya yang berwarna-warni dengan tempat tidur yang khusus di pesan untuk mereka oleh sang kakek. Ketiga bayi itu di letakkan pada satu tempat tidur, posisinya ari di tengah antara ara dan arum.


Yasmin duduk di dalam kamarnya sambil memompa asinya untuk stok di dalam kulkas. Tiga orang pengasuh di kerahkan oleh Azlan untuk membantu Yasmin mengurus bayi-bayinya. Abrar dan Balqis yang baru saja menjadi sepasang kakek dan nenek tak mau jauh-jauh dari ketiga cucunya itu. Mereka selalu berada di samping cucunya, apalagi Abrar yang tak mampu mendengar teriakan ketiga cucunya, ia langsung berlalri untuk menghampiri ketiga cucunya yang sedang menangis lalu menggendongnya secara bergantian. Azlan yang merasa terbantu oleh keluarganya mengurus ketiga bayinya tak ada beban setelah memiliki anak, ia terus fokus pada pekerjaannya di kantor.


Beberapa bulan kemudian, Abrar membuat acara perjamuan untuk mengenalkan ke tiga cucunya pada rekan dan sahabat dekat. Perjamuan itu turut di meriahkan dengan kedatangan Zidan dan Isabel, tentunya si rendang juga tak ketinggalan. Si rendang mempunyai misi lain saat berada di Indonesia.


Malam perjamuan sangat ramai di hadiri para tamu undangan, kebetulan Abrar membuat acaranya di kediamannya sendiri. Devan dan Clara datang membawa serta putra dan putrinya. Kenzo membawa hadiah dua buah boneka beruang yang besar dan sebuah Ukulele (sebuah alat musik petik seperti gitar kecil). Abrar sedang menggendong dan menimang ari saat itu, dan kenzo mendekatinya dengan membawa ukulele.


"Om, bawa hadiah ni untuk Ari!" Seru Kenzo pada Ari yang masih berusia 4 bulan.


"Hore, dapat hadiah dari om Kenzo!" Seru Abrar mewakili Ari.


"Kalau begitu kakek akan menyanyi untuk Ari." Sambung Abrar.


AKU ANAK SEHAT TUBUHKU KUAT


KARENA IBUKU RAJIN DAN CERMAT


SEMASA AKU BAYI SELALU DI BERI ASI


MAKANAN BERGIZI DAN IMUNISASI


Itu lah lirik lagu yang di nyanyikan oleh Abrar pada cucu laki-laki yang sedang berada dalam dekapannya. Namun tiba-tiba Kenzo protes.


"Om, bukan begitu lagunya!" Ujar Kenzo sambil melirik Azlan yang duduk tak jauh dari mereka.


"Lantas bagaimana.?" Tanya Abrar bingung.


"Eeehheeemm, chek sound, satu dua di coba! Oke dengarkan nyanyianku." Kata Kenzo mulai bernyanyi sambil memetik ukulele yang di pegangnya.


ARI ANAK SETAN TUBUHNYA BAU MENYAN


KARENA AYAHNYA RAJA SILUMAN


SEMASA ARI BAYI SELALU DI BERI ASI


MAKANAN  BERGIZI JENGKOL DAN TERASI.


"Hahahahahaha, baguskan lirik lagunya kalau di plesetin?" Ucap Kenzo tertawa sambil bertolak pinggang memancing amarah Abrar dan Azlan.


Abrar bangkit dari duduknya dan memberikan ari pada Balqis. Azlan dan Abrar mendekati Kenzo yang masih tertawa lepas. Lalu ia melihat ada aura kegelapan yang mendekatinya.


"Wah, bencana nih!" Gumam Kenzo melihat Abrar dan Azlan sudah bertanduk.


Kenzo melihat Azlan dan abrar siap menghajarnya. Ia pun di seret oleh ayah dan anak yang kompak itu dan langsung di hajar oleh mereka. Devan, Clara dan juga Rara hanya bisa menghela nafas melihat Kenzo di tindas oleh ayah dan anak tersebut yang tak lain karena ulahnya sendiri.


Setelah puas menghajar Kenzo, ayah dan anak tersebut kembali dalam perjamuan tersebut. Sementara Kenzo masih terkulai lemas dengan baju yang berantakan.


"Aku kan hanya bercanda." Gumam Kenzo terduduk ngesot di lantai.


Di malam perjamuan itu tampak di pojokan, Adrian sedang pacaran sama Jovanka. Mereka tertawa cekikikan berdua disana, sedangkan Herdinan memasang mata untuk mencari keberadaan Tantia saat itu.


"Dimana dia?" Gumam Herdinan mencari-cari Tantia.


Tak lama mata Herdinan menatap Tantia yang sedang berbincang dengan seorang pria yang tak lain adalah Adhitya anak dari Caca dan Rudi yang baru saja memulai usahanya di indonesia.


"Akrab sekali mereka berdua!" Gumam Herdinan sedikit kesal melihat Tantia dan Adhitya.


Setelah lama berbincang, Tantia pergi mengambil makanan untuk Adhitya yang duduk tak jauh dari Herdinan. Hubungan antara Adhitya dan Herdinan tak begitu baik karena Herdinan sedikit agak angkuh di hadapan Adhitya.


"Kak Adhit, ini aku bawakan makanan." Kata Tantia.


"Terima kasih ya, baik banget sih." Ucap Adhitya.


Herdinan mendengus kesal saat itu hingga suara dengusanya terdengar oleh Adhitya. Tantia duduk di samping Adhitya dan makan bersamanya.


"Eemm, bukannya kau dan Herdinan pacaran ya?" Tanya Adhitya.


"Tidak! Dia tak suka aku." Sahut Tantia.


"Oh begitu, tapi sepertinya dia kesal kau berada di dekatku." Kata Adhitya lagi.


"Biarkan saja, aku sudah melupakan semuanya." Ucap Tantia.

__ADS_1


"Kenapa? Apa memang beneran dia tak suka padamu?' Tanya Adhitya.


"Iya! Sudah lah tidak usah di omongin lagi, aku tak ingin punya perasaan apapun lagi padanya, cukup kenalan saja tidak lebih." Sahut Tantia.


"Bagaimana jika kau jadi pacarku?" Ujar Adhitya dengan genitnya.


"Ddiihh, mau jadi yang keberapa?' Tanya Tantia.


"Yang ke lima, hehehehe." Jawab Adhitya yang memang playboy dan bertolak belakang dengan sifat ayahnya.


"Dasar, tak sudi aing mah!" Sahut Tantia.


Lalu mereka berdua pun tertawa girang berdua. Diantara Adhitya dan Tantia memang sejatinya hanya berteman, mereka tidak punya hubungan yang lebih dari itu. Herdinan semakin kesal melihat tantia tertawa lepas saat berbincang dengan adhitya. Kemudian Adhitya pamit karena di panggil oleh beberapa kenalannya yang juga sedang menjalin bisnis dengannya di perjamuan itu. Merasa ada kesempatan, Herdinan yang terkenal kaku mencoba untuk mendekati Tantia yang sedang duduk sendirian.


"Tantia, apa aku boleh duduk di sini?" Tanya Herdinan.


"Oh iya kak, boleh." Sahut Tantia.


Hening.


"Aku harus bicara apa? Aduh, aku bingung!" Gumam Gerdinan dalam hatinya.


Herdinan melirik Tantia yang masih menyantap makanan yang ada di mejanya. Ia melihat Tantia sangat menyukai pudding susu yang sedang di santapnya.


"Apa kau sangat suka pudding?' Tanya Herdinan membuka obrolan.


"Hahaha, iya!" Sahut Tantia singkat.


"Huh, singkat amat jawabnya! Biasanya dia sangat agresif padaku, kenapa tiba-tiba jadi dingin seperti ini?" Batin Herdinan bingung melihat sikap Tantia yang berubah drastis padanya.


Saat akan bicara lagi, tiba-tiba tantia meletakkan sendoknya dan hendak bangkit dari tempat duduknya. Herdinan spontan menarik tangan Tantia saat itu.


"Tantia." Panggil Herdinan.


"Iya, ada apa?" Tanya Tantia dengan ekspresi datar.


"Kau mau kemana?" Tanya Herdinan.


Herdinan semakin bingung saat Tantia berusaha untuk melepaskan genggaman tangannya.


"Eeemm, aku pergi dulu ya." Ucap Tantia seraya pergi meninggalkan Herdinan.


Herdinan hanya menatap langkah Tantia yang semakin menjauh darinya. Ia terus melihat Tantia yang begitu ramah menyapa tamu-tamu yang lain. Dari kejauhan Luisa melihat wajah Herdinan yang lesu saat Tantia tak acuh terhadapnya.


Sepulang dari perjamuan itu, Herdinan berdiam diri di kamarnya. Luisa datang membawa segelas susu hangat untuk putra keduanya itu. Luisa masih melihat raut wajah Herdinan tampak sedih saat di acara perjamuan hingga dirumah.


"Kau kenapa?' Tanya Luisa.


"Tidak kenapa-kenapa." Sahut Herdinan.


"Mama lihat wajahmu muram saat di acara perjamuan tadi, apa kau dan Tantia bertengkar?' Tanya Luisa.


"Tidak!" Sahut Herdinan singkat.


"Lalu kalian berdua kenapa? Mama tadi lihat Tantia mengacuhkanmu, tidak seperti biasanya." Kata Luisa.


"mana aku tau, ma." Sahut Herdinan.


Dari balik pintu Ferry dan Adrian sedang menguping pembicaraan antara ibu dan anak yang ada di dalam kamarnya. Suara ribut terdengar hingga ke dalam kamar.


"Jangan menguping, masuk saja!" Teriak Luisa yang tau tingkah kedua ayah dan anak itu.


Mereka berdua pun masuk sambil cengengesan.


"Kenapa, kau putus sama Tantia?" Tanya Ferry pada Herdinan.


"Putus apaan? Jadian juga belum!" Sahut Herdinan sewot.


"Begok banget sih, sudah tau Tantia itu suka padanya, dia malah mengacuhkan Tantia." Sahut Adrian.


"Berisik!" Ujar Herdinan kesal pada kakaknya.


"Dasar kaku!" Balas Adrian.

__ADS_1


Ferry dan Luisa pun mencoba untuk menenangkan kedua putranya yang memang hampir setiap hari bertengkar namun dengan begitu mereka sangat dekat satu sama lain.


"Sebenarnya kau suka Tantia atau tidak?" Tanya Ferry pada Herdinan.


"Sukalah! Tantia kan cantik, periang, genit, hanya saja di terlalu agresif aku jadi ketakutan saat dia tiba-tiba melakukan kontak fisik denganku." Sahut Herdinan.


"Hei, Tantia itu wanita, segetol apapun dia berusaha mengejarmu dan kau hanya diam saja tak memberikan respon apapun, suatu saat dia akan menyadari kalau kau tak suka padanya dan tak mau membalas cintanya, lalu dia akan menyerah pada dirimu." Kata Ferry.


"Sudah, mama sama papa keluar saja! Biar abang Adrian yang memberi petuah cinta pada si adik yang kaku ini." Kata Adrian mendorong kedua orang tuanya keluar dari kamar Herdinan.


Lalu Adrian menutup pintu kamar dan menguncinya. Adrian berbaring di samping adiknya.


"Makanya jadi pria itu jangan terlalu kaku, kalau aku jadi kau, sudah ku ***** habis si Tantia." Kata Adrian.


"Apaan sih, dasar otak mesum kau!" Ujar Herdinan menendang kaki Adrian.


Hening beberapa saat. Kedua kakak beradik itu saling menatap langit-langit kamarnya.


"Her!" Panggil Adrian.


"Heemm?" Sahut Herdinan dengan suara pelan.


"Kalau kau tidur aku tampol wajahmu!" Ujar Adrian.


"Aku tidak tidur, kampret! Ada apa?" Tanya Herdinan dongkol pada kakaknya.


"Aku rasa, si Tantia sudah menyerah pada dirimu, makanya dia berubah sikap padamu." Kata Adrian.


"Lalu aku harus apa? Aku sudah tau itu." Sahut Herdinan.


"Ya kau kejar lah, nyet! Jadi pria begok amat sih, heran aku, ngidam apa sih mama saat mengandungmu?' Ujar Adrian gondok pada adiknya.


"Kata papa, mama ngidam biji kedondong, hehehehe." Jawab Herdinan.


"Pantesan begok, biji dondong di makan." Ujar Adrian semakin dongkol.


"Apa kau tidak lihat perjuanganku untuk menaklukan hati istriku di masa depan?" Tanya Adrian.


"Siapa istrimu di masa depan?" Tanya Herdinan tak nyambung.


"Ya Jovanka lah, dodol!" Jawab Adrian.


"Eeehhh, kau sudah jadian denganya?" Tanya Herdinan.


"So pasti! Berkat kegantengan dan kegigihanku, aku berhasil mendapatkan cintanya Jo, sebentar lagi aku akan menikah dengannya." Sahut Adrian.


"Woi, kampret! Jovanka masih SMA, begok! Mana mungkin dia menikah denganmu." Teriak Herdinan.


"Ya tunggu dia lulus sarjana lah, lagian aku kan juga masih kuliah." Kata Adrian dengan santainya.


Hening lagi.


"Lalu aku harus apa untuk mendapatkan Tantia?' Tanya Herdinan.


"Kau harus berubah dan jangan jadi pria kaku lagi terhadapnya, wanita itu suka pria yang hangat, bukan dingin plus kaku seperti dirimu." Jawab Adrian memberikan solusi pada adiknya.


"Besok, ikut aku ke mall, kita belanja pakaian yang keren untukmu, karena penampilan itu menunjang segalanya." Sambung Adrian lagi.


"Terserah kau." Sahut Herdinan.


"Hah, aku sangat lelah mencium Jo tadi saat di pojokan." Ucap Adrian.


"Dasar pembohong! Kau pikir aku tidak lihat kalau Jo terus saja memukulmu karena kau nyosor mulu ke dia, dasar bandot!" Ujar Herdinan pada Adrian.


"Hehehehe, ternyata kau mengawasiku." Sahut Adrian cengengesan.


"Pergi ke kamarmu sana!" Kata Herdinan.


"Tidak! Aku mau tidur disini." Sahut Adrian.


Herdinan membalikkan tubuhnya membelakangi Adrian yang masih dalam posisi terlentang. Herdinan menutup matanya dan membayangkan wajah ceria Tantia yang selalu ramah dan memaksa dirinya sewaktu dulu.


"Maafkan aku, Tantia! Jika saat di taman itu kau terluka, tapi aku tak bermaksud untuk melukai hatimu saat itu." Gumam Herdinan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2