
Tenda-tenda kemah terpasang oleh para pelayan di halaman rumah Abrar. Abrar dan Balqis memandangi anak-anak mereka yang sedang sibuk dengan aktifitasnya di halaman itu. Azlan tiba dengan membawa Yasmin dengan mobil mewahnya. Yasmin melihat Abrar dan Balqis melambaikan tangan padanya. Azlan melihat Yasmin sedikit canggung.
“Santai saja! Mereka it somplak semuanya.” Kata Azlan pada Yasmin.
Yasmin melotot pada Azlan yang begitu mudah mengatakan keluarganya somplak. Yasmin pun mengikuti Azlan dari belakang. Abrar dan Balqis mengobrol santai bersama Yasmin, sedangkan Azlan bermain dengan adik-adiknya. Karena mereka akan berkemah dan melakukan panggang memanggang malam hari, Yasmin di ajak berkeliling rumahnya dengan balqis.
Sore hari langit terlihat mendung. Chika dan Syifa langsung mewek saat melihat langit mendung. Azlan malah senang dengan langit yang mendung. Azlan memiliki rencana lain jika hujan turun.
Malam hari hujan sangat lebat, angin bertiup kencang. Azlan berdo’a dalam hatinya.
“Turunlah semakin deras, dan angin topan datanglah agar Yasmin tidak bisa pulang kerumahnya dan menginap disini! Kebetulan kamar tamu di samping kamarku, hehehehe. Aku akan menindasnya malam ini!” Kata Azlan dalam hatinya.
Do’a Azlan pu terkabul, malam itu hujan semakin lebat seperti tangisan Syifa dan Chika yang tak jadi berkemah di halaman luar. Yasmin bingung hujan tak mau berhenti dan malam semakin larut. Abrar dan Balqis menyediakan kamar tamu untuk Yasmin menginap. Tak ada jalan lain, Yasmin pun menginap dirumah Azlan.
Di dalam kamarnya setelah makan malam.
“Ya tuhan, aku terjebak semakin dalam di keluarga ini!” Ucap Yasmin sambil berbaring di dalam kamarnya.
Tak lama Azlan keluar dari dalam lemari yang membuat Yasmin menjerit ketakutan. Cepat-cepat Azlan menutup mulut Yasmin agar tidak berteriak.
“Jangan berteriak! Atau orang tuaku akan segera menikahkan kita.” Ancam Azlan.
Yasmin mengangguk dengan cepat. Azlan melepaskan tanganya dari mulut Yasmin.
“Sedang apa kau disini?” Bisik Yasmin.
“Aku ingin menemanimu!” Sahut Azlan modus, padahal dia berniat ingin mencium Yasmin lagi.
“Tak perlu kau temani, aku berani tidur sendirian.” Kata Yasmin.
Azlan mendekati Yasmin.
“Ini sangat dekat!” Ucap Yasmin dalam hatinya.
“Yasmin, aku suka padamu!” Ucap Azlan mengungkapkan perasaannya.
Ucapan Azlan membuat Yasmin tersipu malu dengan wajah yang memerah. Yasmin memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan perasaan malunya terhadap Azlan, namun Azlan mengalihkan wajah Yasmin untuk menatap dirinya. Azlan semakin mendekatkan wajahnya pada Yasmin. Semakin dekat Azlan langsung mengecup bibir Yasmin dengan lembut berulang kali. Yasmin tak menolaknya kali ini. Azlan mendekap tubuh Yasmin dan mengecup bibirnya lagi. Entah apa yang membuat Yasmin membalas ciuman Azlan padanya. Saat itu tanpa sengaja Chika yang sedang menuju ke kamar Yasmin mendengar sang kakak sedang bermesraan bersama Yasmin.
“Hihihihi, aku tidak dengar apa-apa ya kak!” Bisik Chika langsung kabur kembali masuk ke kamarnya.
Malam itu Chika ingin tidur bersama Yasmin di kamar tamu, namun ia malah mendengar Azlan mendahuluinya masuk ke kamar Yasmin. Setelah menikmati ciumannya, Azlan mengusap bibir lembut Yasmin yang sudah terlena dengannya.
“Aku tak tahan melihatmu, Yasmin! Maaf.” Kata Azlan menatap mata Yasmin dalam-dalam.
“sebaiknya aku kembali kekamarku, kalau tidak aku tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya!” Kata Azlan lagi.
Azlan langsung keluar dari kamar Yasmin dengan langkah yang tergesa-gesa, sedangkan Yasmin langsung berbaring dan menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut. Yasmin menahan rasa malunya saat Azlan mencium dan menatapnya barusan. Yasmin tak menyadari karisma yang dimiliki Azlan mampu membuatnya melupakan Fatur yang sedang berada di Itali.
Saat Azlan keluar dari kamar Yasmin, tanpa sengaja Abrar melihatnya.
“Sepertinya putraku sudah kebelet kawin! Hehehehehe.” Gumam Abrar tersenyum menatap langkah putra sulungnya yang baru saja keluar dari kamar Yasmin.
Pagi-pagi sekali Yasmin pamit pulang, namun Balqis menahannya dan mengajaknya untuk sarapan bersama. Lagi-lagi Azlan harus duduk di sembarang tempat karena kursinya di pakai oleh Yasmin untuk sarapan bersama mereka.
“Eehheeemmm, sepertinya aku melihat seseorang di sekitar kamar tamu!” Sindir Abrar saat mereka semua sedang sarapan bersama.
Yasmin dan Azlan tersedak secara bersamaan.
“Hehehe, lihatlah! Mereka tersedak secara bersamaan."” Kata Balqis seraya memberikan minum kepada Yasmin dan juga Azlan.
“Semalam Chika mau ke kamar kak Yasmin, tapi tidak jadi.” Kata Chika sambil menahan tawanya.
“Kenapa?” Tanya Rindi.
“Hehehehe, karena ada suara berisik di dalam kamar kak Yasmin!” Sahut Chika menyindir sambil terus menahan tawanya.
Wajah Yasmin dan Azlan sangat merah dan gugup.
“Ada suara apa di dalam kamar Yasmin?” Tanya Abrar memancing Chika buka mulut.
“Suara tikus! Hahaha, iya suara tikus!” Sahut Yasmin cepat-cepat menjawab agar Chika tidak buka mulut perihal kejadian semalam.
“Tikus?” Seru semua orang kecuali Azlan.
“Sialan, dia bilang aku tikus!” Gumam Azlan dalam hatinya.
"Kalau begitu yang aku lihat semalam Mickey Mouse dong!" Sahut Abrar melirik Azlan.
Azlan memalingkan wajahnya cepat-cepat dari tatapan Abrar yang tajam padanya.
"Hah, sial! Papi melihatku semalam. Mampus aku!" Gumam Azlan dalam hatinya.
“Pppfffttt, buaahahahahahahahahahaha.” Semuanya tertawa.
Yasmin bengong dan Azlan tepok jidad. Azlan tau Abrar melihatnya keluar dari kamar Yasmin semalam, makanya dia hanya diam saat disindir Abrar dan Chika. Azlan pun mengantar pulang Yasmin kerumahnya. Tiba disana ternyata Sakura telah menunggu Yasmin. Azlan pun pergi setelah mengantar Yasmin sampai ke depan rumahnya.
“Darimana saja kau?” Tanya Sakura pada Yasmin yang baru saja pulang dari kediaman Abrar.
“Ceritanya panjang x lebar = Luas!” Sahut Yasmin.
“Dasar aneh!” Sahut Sakura sewot.
Mereka pun masuk kedalam rumahnya dan Yasmin menceritakan apa yang Azlan lakukan pada Yasmin semalam kepada sahabatnya itu.
“Apa? Kau tidak menolak diciumnya? Tapi kau malah menikmatinya?” Teriak sakura terkejut.
“Iya.” Sahut Yasmin mengangguk frustasi.
“Apa kau jatuh cinta padanya?” Tanya Sakura.
“Hah, aku tak tau!” Jawab Yasmin.
“Bagaimana dengan kak Fatur?” Tanya Sakura.
“Aku tak tau!” Jawab Yasmin semakin frustasi.
“Hah, dasar bodoh!” Ujar Sakura ikut frustasi melihat Yasmin yang sedang gundah gulana dengan perasaannya.
“Apa yang akan aku jelaskan pada kak Fatur saat dia pulang nanti?” Tanya Yasmin bingung.
“Apa kau sudah jadian denganya?” Sakura malah balik bertanya.
“Belum!” Sahut Yasmin.
“Kalau begitu kenapa kau harus frustasi? Bukannya kalian belum punya hubungan pacaran!” Kata Sakura.
“KakFfatur selalu bicara mesra padaku saat di telepon.” Sahut Yasmin.
“Tentukan hatimu dulu! Kau pilih CEO tampan itu atau kak Fatur?” Kata Sakura.
Yasmin semakin frustasi di buat pria-pria tampan itu.
*****
Yasmin kini menjadi sarjana dengan nilai yang terbaik. Waktu perjanjian sisa sebulan lagi. Azlan semakin panik takut tidak dapat mempunyai alasan lagi untuk bertemu dengan Yasmin. Selama terikat perjanjian konyol itu, Yasmin semakin dekat dengan Azlan sehingga Fatur susah untuk bekomunikasi dengan Yasmin. Yasmin sering tak
mengangkat telepon dari Fatur yang masih berada di itali, karena Azlan selalu membuat Yasmin repot dengan permintaan konyolnya.
Di kediaman hawa, si kembar sedang memeluk Abrar yang duduk santai dengan Koran di tangannya.
“Pi, kapan papi akan menikahkan kak Azlan dan Yasmin?” Tanya Melia.
“Iya pi, nanti si Yasmin di gondol wewe gombel loh!” Sahut Melani.
“Kau wewe gombelnya!” Ujar Abrar meloto pada Melani.
Si kembar pun tertawa melihat ekspresi dari ayahnya tersebut.
“Apa yasmin sudah jatuh cinta pada kakak kalian?” Tanya Abrar.
“Mungkin? Hehehehe.” Sahut keduanya ragu-ragu.
“Biarkan dia jatuh cinta dulu pada kakakmu, setelah itu baru kita lanjutkan rencana kita.” Kata Abrar.
“Pi, supaya Yasmin dekat dengan kak Azlan, jadikan dia sekretaris kak Azlan saja!” Sambung Melia memberikan ide cemerlang.
Abrar mengangkat kedua jempolnya pada si kembar sambil tersenyum licik. Abrar memikirkan semuanya dengan matang-matang. Ia mencari jalan agar Yasmin dekat dengan Azlan. Entah apa yang membuatnya yakin kalau Yasmin adalah wanita yang tepat untuk putra sulungnya itu.
Abrar mencari tau tentang Yasmin yang sedang melamar pekerjaan di perusahaan yang membutuhkan sekretaris. Yasmin melamar pekerjaan sebagi sekretaris di 4 perusahaan dan hanya 2 perusahaan yang akan menerima Yasmin, namun Abrar gerak cepat. Ia mengancam setiap perusahaan yang akan menerima Yasmin bekerja.
Di dalam kamarnya, Yasmin menatap layar laptopnya untuk melihat pesan email dari perusahaan yang menolak lamarannya.
“Hah, mencari pekerjaan memang sulit!” Ucap Yasmin pasrah.
Trriing……
“Eh, ada pesan email!” Kata Yasmin cepat-cepat membuka pesan tersebut.
Yasminpun membaca pesan email itu dan melihat kalau ada sebuah perusahaan yang menawarkan pekerjaan padanya.
“Apa ini sungguhan?” Gumamnya.
__ADS_1
Biasanya perusahaan membuka lowongan untuk pelamar, namun kali ini sangat aneh perusahaan yang menawarkan langsung kepadanya. Tapi Yasmin yang memang polos percaya saja dengan tawaran perusahaan itu. akhirnya senin pagi dia akan di interview di perusahaan itu.
Tibalah Yasmin dengan pakaian rapi di perusahaan kecil yang menawarkan dirinya untuk menjadi sekretaris. Setelah melakukan interview yang baginya cukup menegangkan, akhirnya ia di terima sebagai sekretaris.
“Tolong kau tanda tangani surat kontrak ini.” Kata karyawan yang menginterview Yasmin.
“Baiklah.” Sahut Yasmin langsung menandatanganinya.
Setelah menandatangani surat kontrak kerja, karyawan itu mengatakan peraturan dari perusahaan.
“Baiklah nona Yasmin, setelah kau menandatangani surat kontrak ini, kau tidak boleh berhenti secara sepihak, jika itu terjadi maka kau harus membayar ganti rugi kepada perushaan sebanyak 1 milyar.” Kata karyawan itu.
“Baiklah, aku mengerti!” Sahut Yasmin.
“Kau bisa bekerja besok pagi! Ini alamat perusahaan yang menjadi tempatmu bekerja.” Kata karyawan itu menyodorkan alamat kantor Azlan.
Yasmin kaget saat melihat alamat kantor yang hampir setiap hari ia kesana untuk membawa bekal makan siang Azlan.
“Ini kan……..
“Iya benar, kau akan jadi sekretaris CEO Azlan!” Sahut karyawan itu terkekeh licik.
“Ya tuhan, lagi-lagi aku di jebak.” Ucap Yasmin nangis bombai.
Yasmin mendatangi Azlan di kantornya dengan membawa makan siang untuknya. Biasanya Yasmin tersenyum manis padanya, namun kali ini ia cemberut dan membanting bekal makanan untuk Azlan di atas meja membuat Azlan kaget. Azlan menatap Yasmin yang cemberut dan duduk di sofa.
“Ada apa? Kau membuatku jantungan saja!” Kata Azlan kaget dan mendekati Yasmin.
“Kau menyebalkan!” Umpat Yasmin.
“Apa?” Tanya Azlan bingung sambil mengunyah makanannya.
“Lagi-lagi kau menjebakku!” Kata Yasmin.
“Apaan sih?” Si Azlan semakin bingung dengan perkataan Yasmin.
Yasmin pun menceritakan semuanya pada Azlan. Yasmin menuduh Azlan yang menjebaknya untuk menjadi sekretaris di perusahaannya, padahal Azlan tak tau apa-apa karena iu semua adalah ulah Abrar yang ingin Yasmin dekat dengan Azlan setiap hari.
"Huh, aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan, Yasmin!” Kata Azlan.
Yasmin tetap tak peduli dengan perkataan Azlan yang sebenarnya.
“Sini, aku tunjukkan sekretaris cantikku!” Kata Azlan menarik tangan Yasmin menuju ke ruangan sekretarisnya yang ada di samping kiri ruangannya. Saat membuka ruangan itu ternyata ruangannya sudah kosong melompong.
“Eh, kemana si kiki?” Gumam Azlan tidak menemukan sekretaris cantiknya.
Tak lama Dandi menghampiri mereka.
“Bos, cari kiki ya?” Tanya Dandi.
“Iya, kemana dia?” Tanya Azlan.
“Sudah di pecat!” Jawab Dandi dengan entengnya.
“Apa?” Teriak Azlan terkejut.
“Iya! Perintah dari tuan Abrar.” Bisik Dandi pada telinga Azlan.
Azlan tersenyum saat tau bahwa Abrar merencanakan semuanya. Azlan sangat paham apa yang diinginkan oleh orang tuanya.
“Hehehe, papiku memang hebat!” Seru Azlan dalam hatinya.
Yasmin melepaskan tangannya dan pergi dari kantor Azlan. Azlan malah terekekeh jahat saat tau Yasmin akan menjadi sekretarisnya.
“Hahaha, aku akan semakin sering menindasmu, Yasmin!” Kata Azlan tertawa puas melihat Yasmin pergi.
Setibanya ia di toko bunga, Yasmin melemparkan tasnya begitu saja. Sakura kaget saat melihatnya sedang kesal.
“Hei kau kenapa lagi?” Tanya Sakura.
“Saat aku sudah dekat padanya, dia malah menjebakku lagi!” Sahut Yasmin kesal.
“Aku akan jadi sekretarisnya, besok!” Kata Yasmin lagi.
“Hahahahahaha, terima saja nasibmu, Yasmin!” Kata Sakura tertawa geli melihat penderitaan sahabatnya itu.
“Dia pasti akan lebih sering lagi menciumku!” Gumam Yasmin kesal.
“Bukannya kau suka di cium oleh CEO tampan itu? Hehehehe.” Kata Sakura meledek Yasmin.
“Huh, menyebalkan!” Sahut Yasmin dengan wajah memerah.
Hening…
“Iya, baiklah!” Sahut Yasmin.
Malam hari Azlan datang kerumah Yasmin untuk makan malam sekalian untuk menciumnya. Azlan sangat suka mencium Yasmin.
“Kenapa kau datang kesini? Jangan bilang kau mau makan malam dirumahku!” Kata Yasmin pada Azlan yang baru saja tiba dirumahnya.
“Tentu saja! Hehehe.” Sahut Azlan main nyelonong masuk ke dalam rumah Yasmin.
“Kau selalu saja merepotkan aku!” Ujar Yasmin dongkol.
“Nikmati saja, perjanjian kita tinggal 18 hari lagi! Setelah itu kau tidak wajib lagi menyiapkan aku makan siang.” Sahut Azlan.
“Iya, tapi tetap saja aku akan repot setiap harinya, aku sudah menjadi sekretarismu di kantor.” Kata Yasmin.
“Hahahahahaha.” Azlan tertawa senang.
Mau tak mau Yasmin menyiapkan makan malam untuk Azlan. Azlan menyantap masakan Yasmin dengan sangat lahap. Azlan pria yang hobi makan, seakan sudah terbiasa dengan rasa masakan Yasmin, Azlan selalu meminta Yasmin membuatkan makanan untuknya.
“Aku sangat kenyang!” Seru Azlan dengan perutnya sedikit buncit.
“Kau sangat suka makan?’ Tanya Yasmin.
Azlan mengangguk sambil tersenyum.
“Besok aku mau kau buatkan aku bolu kukus!” Kata Azlan.
“Aku tak sempat!” Sahut Yasmin.
“Kenapa?” Tanya Azlan.
‘Apa kau lupa kalau besok hari pertamaku bekerja menjadi sekretarismu?” Sahut Yasmin.
“Hehehehehehe! Selamat bergabung di perushaanku, Yasmin.” Ucap Azlan meledek Yasmin.
“hhheeemmmpppp!” Yasmin begitu jengkel ketika Azlan meledeknya.
Azlan mendekati Yasmin.
“Jangan cium aku!” Teriak Yasmin pada Azlan.
“Aku tak peduli!” Sahut Azlan.
Azlan menyerang Yasmin dan menciumnya. Setelah puas mencium Yasmin, Azlan terkekeh jahat, sementara Yasmin nangis bombai karena selalu di paksa Azlan. Puas menindas Yasmin, Azlan pergi kumpul dengan Geof, Boy dan juga kenzo.
“Azlan, akhirnya kau muncul juga!” Sapa Boy.
“Iya aku sibuk!” Sahut Azlan mengambil minuman soda.
“Sepertinya mainanmu sangat menarik, sehingga kau jarang bergabung dengan kami.” Sambung Geof.
“Dia bukan mainan"’ Sahut Azlan tak senang kalau Yasmin dikatakan barang mainan.
“Eh, Apa kau jatuh cinta pada gadis itu?” Tanya Kenzo.
Azlan hanya tersenyum dengan wajah konyolnya. Ia enggan menjawab, namun dengan ekpresinya yang seperti itu, semua sahabatnya itu tau kalau Azlan sedang jatuh cinta pada Yasmin.
“Apa kau sudah tau, kalau Syeril akan pergi ke luar negeri?” Tanya Geof pada Azlan.
“Dia pergi ke luar angkasa pun aku tak perduli!” Sahut Azlan yang terlanjut membenci Syeril.
“Hahahaha, dasar konyol! Mau apa dia ke luar angkasa?” Ujar Kenzo tertawa geli.
“Mencari alien untuk jadi pacarnya!” Sahut Azlan cengengesan.
Mendengar perkataan Azlan, Geof dan Boy ikut tertawa, sementara Kenzo ngakak jungkir balik karena tak tahan mendengar banyolan yang keluar dari mulut Azlan.
Keesokan paginya Yasmin sudah datang ke kantor Azlan untuk menjadi skretarisnya, Dandi banyak mengajari Yasmin tentang pekerjaanya itu. Tak lama Azlan datang dengan dandanan yang tak biasanya. Ia memakai jas yang sangat rapi dan sepatu kilat serta wangi parfum yang baru ia beli. Ia melakukan itu hanya untuk membuat Yasmin tertarik padanya.
Azlan duduk di ruanganya sambil menatap Yasmin dari dinding kaca yang tembus keruangan Yasmin. Awalnya ruangan itu selalu di tutupi kain gorden tebal, karena Yasmin sekarang menjadi sekretarisnya, ia membuka kain gorden itu selebar-lebarnya agar dia biasa menatap Yasmin sepanjang hari.
“Dia sangat cantik!” Gumam azlan terus menatap Yasmin.
Yasmin tetap fokus dalam pekerjaanya sebagai sekretaris. Sesekali Yasmin melirik pada tembok kaca yang ada di ruangannya itu. kaca itu hanya bisa memantulkan bayangan Yasmin saat ia menatapnya, namun Azlan dapat melihat Yasmin di dalam.bisa memantulkan bayangan Yasmin saat ia menatapnya, namun Azlan dapat melihat Yasmin di dalam.
Yasmin menuju ke tembok kaca itu. ia melihat tubuhnya yang ramping dan cantik dengan pakaian sekretarisnya itu.
“Hehehe, ternyata aku cantik juga dengan pakaian seperti ini!” Ucap Yasmin cengengesan.
Yasmin pun bergaya bak model di depan kaca itu, sementara Azlan ngakak jungkir balik melihat Yasmin dari ruangannya. Azlan tak henti-hentinya tertawa melihat Yasmin yang tak tau kalau Azlan sedang melihat gayanya.
“Aku akan mengganggunya.” Ucap Azlan sambil mengangkat gagang teleponnya.
__ADS_1
“Yasmin, segera keruanganku!” Kata Azlan pada teleponya.
“Iya pak!” Sahut Yasmin.
Azlan tambah semakin tertawa geli saat Yasmin memanggilnya dengan sebutan bapak. Yasmin pun datang dan masuk keruangan Azlan.
“Bapak panggil saya?” Kata Yasmin pada Azlan
Tanpa menjawab, Azlan berjalan mendekati Yasmin.
“aku suka melihat tubuhmu dengan pakaian seperti ini, Yasmin! Kau memancing gairahku.” Bisik Azlan berniat membuat Yasmin kesal.
“Pak, ada yang perlu saya bantu?” Tanya Yasmin sambil menahan kesalnya.
Azlan kaget melihat Yasmin yang tak kesal karena sikapnya.
“Huh, aku berniat untuk membuatmu kesal! Kenapa kau biasa saja? Tidak asik!” Ujar Azlan dongkol.
Yasmin tersenyum melihat Azlan gagal membuatnya meledak-ledak karena kesal.
“Kalau tidak ada yang bapak perlukan, maka saya akan kembali keruangan saya! Permisi, pak CEO.” Kata Yasmin sumringah dan keluar dari ruangan Azlan.
“Aaarrgghh, menyebalkan! Aku tidak bisa bersenang-senang kalau dia seperti itu.” Pekik Azlan kesal setengah mati.
Yasmin kembali keruangannya dan Azlan kembali duduk dan menatapnya dari tembok kaca itu. Tak lama Abrar masuk dan melihat Azlan hanya bengong sambil menatap Yasmin.
“Hei, kenapa kau hanya duduk di sini? Ayo ganggu dia!” Kata Abrar pada Azlan.
“Hah, papi apaan sih! Ganggu saja.” Sahut Azlan.
“Berterima kasihlah pada usahaku menjadikannya sekretarismu agar kau selalu dekat dengannya!” Teriak Abrar kesal.
“Iya, terima kasih!” Ucap Azlan tak ikhlas.
Abrar duduk di sofa bersama Azlan.
“Azlan, nanti malam papi sudah membuat pertemuan dengan tuan Teo.” Kata Abrar.
“Untuk apa?” Tanya Azlan.
“Untuk membicarakan hari pertunanganmu dengan Yasmin.” Sahut Abrar.
“Aku tak yakin Yasmin mau bertunangan denganku! Sampai saat ini aku tak tau dia suka padaku atau tidak!” Kata Azlan dengan tampang yang menyedihkan.
Ppllleeeetttaaakkkkk……
“Dasar anak bodoh! Selama ini kau ngapain saja? Kenapa kau belum bisa mengetahui isi hatinya?” Ujar Abrar kesal pada putranya itu.
“Apa kau pernah menciumnya?’ Tanya Abrar.
“Sering!” Sahut Azlan.
“Apa dia membalas ciumanmu?” Tanya Abrar.
“Iya, tapi lebih sering aku yang memaksanya!” Jawab Azlan.
“Azlan persis seperti aku yang menindas Balqis!” Ucap Abrar dalam hatinya.
“Teruslah berusaha!” Kata Abrar menyemangati Azlan.
“Iya.” Sahut Azlan.
“Aku pastikan, setelah kau pulang dari perjalanan bisnismu kalian akan bertunangan.” Kata Abrar.
Setelah Abrar pergi dari ruangan Azlan, Dandi menghampiri Azlan yang sedang bersandar pada kursinya sambil menatap Yasmin.
“Bos, ada 5 negara yang akan kita datangi untuk perjalanan bisnis!” Kata Dandi.
“Berapa lama kita pergi?” Tanya Azlan.
“Sekitar 2 minggu!” Jawab Dandi.
“Aku pasti akan merindukannya.” Gumam Azlan masih menatap Yasmin.
Dandi heran melihat Azlan terus menatap Yasmin.
“Di bawa saja, bos!” Kata Dandi melirik Yasmin.
“Alasan apa aku bawa dia?” Tanya Azlan.
“Bukannya kau itu CEO perusahaan? Kenapa musti pakai alasan untuk membawa sekretaris? Dasar aneh!” Sahut Dandi.
‘Hehehehehe, kau calon adik ipar yang jenius!” Sahut Azlan.
“Eh, Aku dan Delina di restui nih?” Tanya Dandi antusias.
“Aku sih yes! Tapi kalau big bos (Abrar) aku sih tak tau ya.” Sahut Azlan.
Dandi kembali lemas.
“Jadi, karena aku akan mengajak sekretaris baruku, maka kau gantikan aku disini! Apa kau mengerti?” Kata Azlan pada Dandi.
“Baik.” Sahut Dandi.
Azlan melirik jam di tangannya, ia melihat sudah jam 12 siang. Dia yang punya hobi makan, membuat perutnya terasa cepat lapar. Cepat-cepat ia memanggil sekretaris barunya itu untuk datang keruangannya. Yasmin hanya berdecak kesal saat Azlan bolak-balik memanggilnya.
“Ada yang anda butuhkan, pak?” Tanya Yasmin pada Azlan.
“Aku lapar!” Sahut Azlan.
“Oke, akan saya ambilkan makan siang untuk bapak!” Kata Yasmin yang sudah menyiapkannya sebelum ia pergi ke kantor.
Makanan sudah tersaji di atas meja, Azlan duduk di sofanya dan mulai melahap makanan yang sudah tidak hangat lagi. Ia tak perduli dengan makanan yang dingin itu, yang ada di pikirannya hanya makan dan kenyang.
“Kau tidak makan?” Tanya Azlan pada Yasmin yang duduk di sampingnya.
“Aku akan makan di kantin bersama karyawan lainnya.” Sahut Yasmin.
“Kalau dia makan disana, nanti karyawan yang lain akan menggodanya.” Ucap Azlan dalam hatinya.
“Jangan!” Kata Azlan melarang Yasmin.
“Kenapa? Aku kan karyawan di kantor ini.” Kata Yasmin.
“Aku bilang kau hanya boleh makan bersamaku saja!” Teriak Azlan membuat Yasmin gemetar.
“I..ii…iya.” Sahut Yasmin.
“Sekarang buka mulutmu.” Kata Azlan sedikit memaksa.
“Aku bisa makan sendiri.” Sahut Yasmin.
“Buka!” Bentak Azlan.
Yasmin pun membuka mulutnya dan Azlan menyuapi Yasmin.
“Hehehehe, gitu dong!” Kata Azlan selalu menang dari Yasmin.
“Nanti malam siapkan keperluanmu, kita akan pergi ke luar negeri.” Kata Azlan.
"Eh, ngapain?” Tanya Yasmin.
“Honeymoon!” Sahut Azlan asal bicara.
“Hei, kapan nikahnya woi!” Sahut Yasmin.
“Aku akan mengajakmu ikut dalam perjalanan bisnisku selama dua minggu!” Kata Azlan.
Yasmin hanya bengong.
“Disana hanya kita berdua, jadi aku akan menindasmu, Yasmin.” Ucap Azlan terkekeh jahat.
“hheemmmmppp!” Yasmin memalingkan wajahnya karena kesal.
“Ke negara mana kita akan pergi?” Tanya Yasmin.
“Singapura, Jepang, Korea, Belanda, dan yang paling jauh Itali!” Sahut Azlan.
“I..i…itali?” Tanya Yasmin begitu terkejut.
“iya!” Sahut Azlan.
“Kita akan ke itali?” Tanya Yasmin lagi.
“Iya, Yasmin!” Sahut Azlan mulai kesal.
Yasmin kegirangan saat ia akan pergi ke Itali.
“Hei, kenapa kau terlalu gembira?” Tanya Azlan pada Yasmin.
“Iya dong! Disana kan banyak pizza.” Sahut Yasmin asal bicara.
“Hie, sejak kapan kau ikutan somplak? Jauh amat mau makan pizza doang, noh di depan kantor kedai pizza.” Kata Azlan gondok.
Yasmin tak perduli Azlan menghujatnya somplak. Yang ada di pikirannya adalah ia akan melihat suasana negara romantis yang diimpikannya. Yasmin sangat ingin pergi ke Itali bukan karena ada Fatur disana, tapi karena dia ingin menikmati suasana negara romantis itu.
__ADS_1