MENIKAHI CEO SOMPLAK

MENIKAHI CEO SOMPLAK
BERANGKAT


__ADS_3

Setelah menghadiri pesta pertunangan GEBOY, Azlan dan Yasmin pergi menaiki pesawat terbang ke kota Roma yang terkenal akan keromantisannya. Segala sesuatunya telah di atur oleh Abrar dan Balqis untuk sang anak dan menantu mereka. Tiba di sana, Azlan dan Yasmin menginap di salah satu hotel. Azlan merebahkan tubuhnya akibat kelelahan, sementara Yasmin masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Selang beberapa menit Yasmin keluar dari kamar mandi dan saat itu juga Azlan mengintip dengan matanya yang terbuka sebelah. Ia melihat Yasmin menggunakan handuk kimono.


"Waktu penindasan segera dimulai!" Gumam Azlan dalam hati.


Azlan bangkit dan berjalan menuju Yasmin yang sedang duduk di depan meja rias.


"Show time!" Bisik Azlan pada Yasmin.


Yasmin tau apa yang di inginkan suaminya.


"Pergi mandi, kau bau!" Ujar Yasmin.


"Benarkah?" Sahut Azlan mencoba mencium bau tubuhnya sendiri.


"Mandi sana, kalau kau tak mandi aku gak mau menuruti keinginanmu!" Ancam Yasmin dengan wajah datar.


"Oke, sayang! Aku akan mandi dan segera menjadi wangi, hehehehe!" Sahut Azlan langsung berlari menuju kamar mandi.


Yasmin kemudian tersenyum melihat Azlan yang sangat semangat dan antusias ingin segera punya momongan. Selang beberapa menit Azlan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Lalu ia melihat Yasmin sudah berbaring diatas ranjang dan ditutupi oleh selimut tebal hingga kepalanya.


"Kenapa ditutup semuanya sih? Tanya Azlan sedikit kesal.


"Hehehehe, aku malu." Ucap Yasmin dengan wajah memerah.


Azlan bingung dan berpikir keras sejenak mencerna perkataan Yasmin. Ia bingung kenapa malu, toh mereka sudah sering melakukannya. Azlan penasaran kenapa Yasmin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Kemudian Azlan menarik selimut tebal itu dengan sekali tarikan dan melemparkan selimut itu ke sofa di sebelah ranjang. Wajah Azlan memerah melihat tubuh Yasmin yang hanya menggunakan lingerie seksi.


"Jangan melihatku seperti itu! Aku malu!" Pekik Yasmin yang membuat Azlan gemas padanya.


"Kau menyiapkannya untukku?" Tanya Azlan.


"Kata mami aku harus menyenangkan suami dengan cara ini." sahut Yasmin malu-malu.


"Hehehehhe, mari kita mulai, sayang!" Seru Azlan melompat naik keranjang.


 


*****


Disisi lain, Boy mengajak Gaby kerumahnya. Disana Boy membawa Gaby duduk di halaman belakang dan terdapat gazebo di pinggir kolam renang yang luas. Malam itu terang bulan, cahayanya menyinari halaman itu. Boy duduk disamping Gaby sambil merangkul pinggangnya dan menggenggam tangannya.


"Sayang, bulannya indah ya." Ucap Boy pada Gaby.


Gaby hanya diam tak menjawab dan menundukkan wajahnya. Sadar tak ada jawaban, Boy mengangkat dagu Gaby. Boy melihat air mata sudah membasahi wajah wanita bule itu.


"Sayang, kenapa? Kau tak nyaman?" Tanya Boy.


"Aku pasti akan sangat merindukan kak Boy di Itali." Sahut Gaby.


Boy memeluk Gaby dengan erat.


"Sayang, jika aku memiliki waktu luang, aku pasti akan menjengukmu disana." Kata Boy.


"Sudah, jangan sedih lagi!" Kata Boy sambil mengusap air mata tunangannya itu.


Gaby dan Boy saling menatap, tatapan sedih terlihat jelas di mata keduanya.


"Setahun tak akan lama, sayang." Ucap Boy pada Gaby.


Boy mendekap Gaby dengan erat seakan tak mau jauh-jauh dari Gaby dan begitu pula sebaliknya. Malam itu adalah terakhir Gaby berada di Indonesia sebelum ia kembali ke Itali untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Boy tak mau membuang waktunya sia-sia malam itu, ia pun kembali mencium dan mendekap mesra tunangannya itu di bawah sinar rembulan yang terang. Kemesraan itu membuat Gaby dan Boy terhanyut. Sesekali Gaby menyebut namanya ketika membalas ciuman itu. Mendengar panggilan dari Gaby padanya, seketika Boy tersentak sadar dengan perbuatannya.


"Aku tak mau merusaknya." Gumam Boy dalam hatinya.


Boy menarik tangannya keluar dari pakaian Gaby dan membenamkan wajahnya sebentar di atas dada Gaby. Gaby bingung boy menghentikan aktifitas panas itu padanya.


"Kenapa?" Tanya Gaby pada Boy.


"Belum saatnya, hehehehe." Sahut Boy bangkit dan duduk di samping Gaby.


"Hhuuh, menyebalkan! Nanggung banget sih!" Ujar Gaby kesal.


Gaby kembali duduk dan memeluk Boy.


"Kak, Jangan selingkuh ya saat aku di Itali!" Kata Gaby pada Boy.


"Hei, seharusnya itu ucapan ku untukmu Gaby! Di Itali banyak pria-pria kaya yang mengejarmu!" Sahut Boy.


"Disini juga banyak wanita genit yang mengejar kakak!" Ujar Gaby.


"Aku tidak munafik, dulu memang banyak wanita yang aku jadikan kekasihku! Tapi aku punya pendirian kalau aku sudah berkomitmen maka aku gak akan mengingkarinya!" Kata Boy.


"Aku pasrah deh, dengan prinsip kakak! Semoga tuhan memberikan yang terbaik untuk kita!" Kata Gaby.


"Iya sayang." Sahut Boy kembali mendekap Gaby.

__ADS_1


Gaby dan Boy menikmati malam yg terang dengan sinar bulan itu dengan suasana penuh romantis. Saling mendekap mesra, berciuman dan canda tawa. Mereka melakukan itu karena mereka tau dengan jarak dan waktu mereka akan terpisah jauh untuk beberapa saat.


 


*****


Geof masih dengan hobinya yang suka bersenang-senang di salah satu bar yg biasa ia kunjungi. Dengan banyak wanita di sekelilingnya, Geof duduk sambil menenggak minuman di gelasnya. Tak lama kemudian, Geof melihat minumannya sudah habis di meja, ia kembali memesan minuman favoritnya.


Tak menunggu lama, masuk lah seorang wanita pengantar minuman ke dalam ruangan yang Geof pesan. Wanita itu terlihat masih sangat muda. Dengan pakaian yang minim, wanita itu berjalan menuju ke meja Geof.


Geof menatap wanita itu dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Putih, mulus, wajahnya cantik, dadanya besar! Dia sangat cantik! Sayang sekali dia hanya pengantar minuman!" Gumam Geof menatap wanita itu.


Merasa ditatap oleh Geof, wanita yang bernama Merta itu sedikit risih. Ia meletakkan botol minuman ke meja Geof dengan perlahan. Geof mendekatkan wajahnya pada Merta.


"Apa kau hanya pengantar minuman?" Tanya Geof dengan tatapan mesumnya.


"I..i..iya tuan." jawab Merta ketakutan.


"Apa kau ingin melakukan hal lain selain menjadi pengantar minuman?" Tanya Geof.


Merta tau apa yang di maksud oleh Geof padanya. Merta tak mau menjawab dan bergegas pergi menghindari Geof.


Geof kesal saat Merta tak menanggapinya. Geof mengejar dan menghalangi Merta saat akan keluar dari ruangan itu. Geof menahan pintu ruangan itu dengan tangannya.


"Aku sedang bertanya padamu, wanita!" Ujar Geof kesal pada Merta.


"Maaf tuan, aku sedang bekerja, jadi tolong jangan ganggu aku." Ucap Merta berusaha untuk sopan pada tamu.


"Kau bekerja untuk melayani pelanggan disini kan? Jadi kau harus melayani aku dengan benar!" Ujar Geof sedikit berteriak.


"Kau mau tau jawaban dariku, tuan?" Tanya Merta.


"Tentu saja!" Sahut Geof kembali menatap mesum pada Merta.


"Aku tak sudi melakukan hal lain dengan mu!" Ujar Merta menatap Geof dengan tajam.


Geof tersentak saat melihat tatapan tajam Merta padanya. Geof menyatukan alis matanya dan menarik lengan Merta dengan kasar.


"Apa kau ingin di pecat dari sini, hah?" Terima Geof marah.


"Aku akan bilang pada manager di bar ini untuk segera memecatmu!" Sambung Geof lagi mengancam Merta.


Geof semakin kesal dengan sikap berani Merta padanya.


"Berani sekali kau! Kau tau siapa aku, hah?" Bentak Geof.


"Aku tau siapa kau! Kau hanya lah anak orang kaya yang punya hobi berfoya-foya dan bermain dengan wanita rendahan yang sama rendahnya seperti dirimu!" Jawab Merta dengan gamblangnya dan tepat sasaran.


Merta tak pernah mengenal Geof sebelumnya, karena ia baru saja mulai bekerja di bar itu. Merta hanya asal bicara mengenai Geof. Geof semakin murka mendengan jawaban Merta untuknya.


"Beraninya kau menghinaku!" Bentak Geof.


Geof mencengkram lengan Merta semakin kencang, Merta tampak meringis kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh Geof padanya.


"Kau kesakitan, hah?" Ujar Geof.


"Lepaskan aku!" Sahut Merta.


"Kau berani menghinaku, aku pastikan hidupmu tak akan tenang setelah malam ini!" Ancam Geof.


Geof melepaskan lengan Merta dan menghempaskannya dengan kasar sehingga Merta terpental di lantai.


"Ladies! Kalian tau harus berbuat apa padanya kan?" Kata Geof pada wanita-wanita yang menghibur dirinya malam itu.


Geof mengisyaratkan kepada wanita-wanita yang menemaninya untuk membully Merta di ruangan itu. Dengan senang hati wanita-wanita itu langsung mendekati Merta dan mulai membully nya. Para wanita itu menjambak dan bahkan merobek pakaian Merta. Merta berontak berusaha untuk terlepas dari para wanita yang membully nya. Awalnya Geof menikmati perbuatan para wanita itu pada Merta, namun saat ia melihat air mata mengalir dari sudut mata Merta, hatinya menjadi iba padanya.


"Berhenti!" Teriak Geof.


Wanita-wanita itu menghentikan perbuatannya pada Merta. Merta masih menangis sambil berusaha untuk menutupi tubuhnya karena pakaiannya robek. Geof menatap iba pada Merta yang saat itu masih duduk di lantai. Ia mengambil jasnya dan menutupi tubuh Merta. Namun Merta bangun dan melemparkan jas itu ke wajah Geof.


"Aku tak butuh belas kasih mu!" Ujar Merta seraya pergi meninggalkan ruangan itu.


Geof mengepalkan tangannya dan menjadi semakin kesal. Geof kembali duduk dan bersenang-senang dengan wanita-wanita sexy yang menghiburnya.


Keesokan paginya, semua sudah siap untuk pergi menuju bandara dan akan kembali ke Itali.


"Eehh, Reyn mana?" Tanya Isabel pada Zidan.


"Katanya dia akan menyusul ke bandara nanti!" Sahut Zidan.


Isabel melihat Zidan yang tampak tampan saat menggunakan kemeja berwarna putih bergaris abu-abu. Isabel mendekat pada Zidan.

__ADS_1


"Om, kau sangat tampan!" Ucap Isabel.


"Belbel, jangan memancing gairahku sekarang! Kita akan berangkat ke bandara!" Sahut Zidan.


"Hhuuuuhhh, menyebalkan!" Gumam Isabel.


Zidan melihat istrinya cemberut. Zidan menarik tubuh istirnya dan menciumnya dengan mesra.


"Kita akan lanjutkan di pesawat, nanti! Hehehehe." Bisik Zidan pada Isabel.


"Dengan senang hati, Om." Sahut Isabel girang.


Zidan menatap Isabel.


"Gak sia-sia menikah dengan daun muda! Disaat usiaku sudah setua ini, dia masih saja terlihat segar dan cantik. Hehehehe." Gumam Zidan bahagia.


Mereka pun berangkat ke bandara dan disana Boy serta orang tuanya telah menunggu untuk mengantar mereka.


Penerbangan masih sekitar satu jam lagi, namun Reyn masih belum menampakkan batang hidungnya di bandara itu


Di sisi Reyn.


Reyn datang untuk menagih janji pada Fatya yang akan mengenalkan kakak perempuannya pada Reyn.


Reyn duduk di sofa rumah Fatya. Tak lama Reyn melihat fatya berjalan dengan kakak perempuannya yang bernama seruni.


"Kak, Ini kak Seruni." Kata Fatya.


Reyn melihat Seruni dengan seksama.


"Cantik sih, tapi kenapa tidak ada setruman listrik seperti aku melihat Fatya? Dan di telingaku juga tidak ada nyanyian lagu-lagu cinta seperti saat aku melihat Fatya!" Gumam Reyn dalam hatinya.


"Hai." Sapa Seruni pada Reyn.


Reyn masih diam dan tak lama melirik Fatya.


"Sini!" Panggil Reyn pada Fatya.


"Ada apa kak?" Tanya Fatya.


"Dia cantik, tapi aku suka padamu Fatya!" Kata Reyn.


Seruni auto cemberut saat mendengar perkataan Reyn pada Fatya.


"Emm, kak aku masih 15 tahun. " Ucap Fatya.


Reyn berpikir sejenak.


"Ayo buat perjanjian denganku, saat kau berusia 18 tahun aku akan datang kesini untuk melamarmu!  Bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Reyn dengan wajah konyolnya.


"Ya Tuhan, dia maksa banget sih!" Gumam Fatya dalam hatinya.


"Hehehe, bagaimana?  Kau pasti mau kan?" Tanya Reyn lagi.


"Terserah kakak!" Sahut Fatya asal bicara.


"Heheheh, kalau begitu mulai dari sekarang kau harus belajar masak rendang pada ibumu, jadi saat kita menikah kau sudah bisa memasak rendang yang enak untukku. Oke!" Kata Reyn.


"Segitu gilanya dia dengan daging rendang! Sampai-sampai dia mau menikah dengan gadis Minang sepertiku! Gumam Fatya lagi dalam hatinya.


"Fatya, jangan rindukan aku ya! Rindu itu berat biar aku saja yang menanggungnya. Hehehe." Kata Reyn mencubit pipi Fatya dengan gemas.


"Dia ini jelmaan Dilan kah?" Lagi-lagi Fatya bergumam dalam hatinya.


Reyn masih menatap Fatya dan mengacuhkan Seruni.


"Katanya kakak mau ke bandara." Kata Fatya pada Reyn.


"Eehh, mampus aku! Aku lupa." Teriak Reyn.


Reyn berlari keluar pintu dan Fatya mengikutinya dari belakang. Lalu Reyn kembali berbalik kepada Fatya.


Reyn mendekat dan mencium pipi Fatya dengan tiba-tiba. Fatya kaget setengah mati saat reyn mencium pipinya. Wajah Fatya memerah.


"I Love You, Gadis Minang ku!" Ucap Reyn berjalan mundur sambil tersenyum pada Fatya.


Fatya hanya bisa bengong dengan wajah yang datar sambil mengelus pipinya yang di cium Reyn barusan. Reyn sudah masuk kedalam mobil dan pergi menuju bandara. Sedangkan Fatya yang masih bengong di hampiri oleh ibunya.


"Fatya, kau kenapa?" Tanya ibunya.


"Ibu, kalau aku menikah di usia 15 tahun boleh tidak?" Tanya Fatya pada ibunya.


"Astaga, anakku kerasukan setan!" Teriak Ibunya memeluk Fatya.

__ADS_1


__ADS_2