
Zidan yang akan menikahkan putranya di Indonesia tidak kembali ke Itali sampai pernikahan putranya selesai diadakan. Karena sisa waktu yang hanya tinggal beberapa minggu lagi membuat Isabel meminta bantuan kepada keluarga yang lain untuk membantunya mempersiapkan pernikahan putranya tersebut. Semua orang kerepotan karena mempersiapkan pernikahan yang ingin di adakan secara mewah namun dalam waktu yang singkat.
Para wanita yang ada di keluarga Balqis ikut turun tangan membantu mempersiapkan pernikahan Reyn dan Fatya. Begitu pula sebaliknya, keluarga Fatya juga sangat kerepotan mempersiapkan perniakahan itu dalam waktu yang singkat.
Tinggal menghitung hari saja pernikahan akan terjadi dan segera di laksanakan. Fatya masih bingung dan ragu dengan keputusan orang tuanya yang akan menikahkan dirinya dengan Reyn. Fatya masih memikirkan keinginannya melanjutkan pendidikannya menjadi seorang dokter.
"Bagaimana ini? Apa mungkin setelah aku menikah aku masih bisa melanjutkan pendidikanku di Itali? Aduh, aku sangat bingung!" Ujar Fatya frustasi di dalam kamarnya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering dan ia mengangkat panggilan dari ponselnya.
"Halo kak, ada apa?" Tanya Fatya pada Reyn yang sedang menghubunginya.
"Aku ingin bertemu denganmu, sebentar saja." Kata Reyn.
"Iya baiklah." Sahut Fatya.
Fatya pun pamit kepada ibunya untuk bertemu dengan Reyn yang sudah menunnggunya di tempat yang sudah di janjikan. Awalnya ibu tidak memberikan izin di karenakan pesta perniakahan tinggal beberapa hari lagi, namun Fatya memaksa ingin bertemu dengan Reyn di luar. Akhirnya ibu mengizinkan ia pergi sebentar menemui Reyn.
Sampai di tempat yang di janjikan, Fatya melihat Reyn yang berdiri menunggunya.
"Ada apa kak?" Tanya Fatya.
"Aku merindukanmu!" Seru Reyn memeluk calon istrinya itu.
"Mereka sangat jahat karena tidak mengizinkan aku untuk bertemu denganmu!" Kata Reyn lagi dengan bahasa konyolnya.
"Bukannya memang begitu ya? Sebentar lagi hari pernikahan mana boleh bertemu." Sahut Fatya.
"Ck, aku ini tidak tahan kalau tidak melihatmu, Tya!" Ujar Reyn lebay.
"Lah, waktu kakak di Itali juga tidak melihatku selama berbulan-bulan, kok bisa?" Kata Fatya.
"Beda dong! Itu lain lagi ceritanya karena sudah terpisah oleh samudra yang membentang luas." Sahut Reyn.
"Haaddehhh, lebay banget sih!" Gumam Fatya.
"Kak, ada yang ingin aku katakan." Kata Fatya.
"Apa itu? Katakan saja." Kata Reyn.
"Apa setelah menikah aku masih bisa melanjutkan pendidikanku menjadi dokter? Itu keinginanku dari kecil." Kata Fatya.
"Dasar bodoh! aku sudah bilang padamu kalau papaku itu orang terkaya di Itali. untuk masalah biaya pendidikan itu urusan gampang, yang penting kau harus selalu ingat kalau kau adalah istriku! jadi setelah menikah denganku kau tidak boleh bergaul dengan pria manapun di kampus." Kata Reyn.
"Ck, yang benar saja!" Ujar Fatya.
"Tya, kang mas mu ini adalah tipe pria yang paling, sangat, dan amat pencemburu! Jadi jangan salahkan aku jika suatu hari aku membunuh pria yang mendekatimu. hehehe." Sahut Reyn.
"Bukan hanya konyol ternyata kau juga psikopat!" Ujar Fatya.
"bodo amat!" Teriak Reyn.
"Hehehehe, sini peluk calon suamimu!" Kata Reyn menarik Fatya dengan paksa.
Fatya hanya menghela nafas saat Reyn yang suka memaksakan kehendakanya.
"Eeemm, kak, berarti selama aku kuliah aku gak boleh hamil kan?" Kata Fatya.
"Oh masalah hamil ya? Sepertinya kalau untuk masalah itu kau tidak bisa tawar menawar denganku. Aku ingin segera punya bayi denganmu Tya." Sahut Reyn.
"Bagaimana mungkin aku hamil saat kuliah?" Teriak Fatya kesal.
"Masalah itu biar Tuan Zidan saja yang mengurusnya! Beres kan? hehehehe." Jawab Reyn.
__ADS_1
"Hhuuuhhh, seenak jidatnya saja dia!" Ujar Fatya menahan kesalnya pada pria yang cengengesan di hadapannya.
Reyn selalu mengandalkan kekuasaan dan kekayaan dari Zidan. Fatya melihat langit akan mendung, ia berencana untuk segera kembali pulang kerumah. Namun lagi-lagi Reyn memaksanya untuk tinggal lebih lama dengannya.
"Kak, aku mau pulang! Tadi aku bilang pada ibu hanya sebentar untuk pergi menemuimu." Kata Fatya.
"Tapi aku masih rindu." Kata Reyn.
"Setelah menikah nanti kau akan meihatku setiap hari." Sahut Fatya.
"Tya, selama ini kita belum pernah berciuman. Ayo kita berciuman di bibir!" Kata Reyn yang membuat wajah Fatya memerah.
"Jangan berkata seperti itu, aku malu tau!" teriak Fatya dengan wajah yang sudah sangat memerah.
"Untuk apa malu sebentar lagi aku juga akan melihat semua yang ada pada dirimu." Kata Reyn yang membuat Fatya semakin malu.
"Jangan bicara lagi!" Teriak Fatya menahan rasa malunya di hadapan Reyn.
"Hehehehe, wajahmu sangat merah." Ucap Reyn.
"Kan sudah aku bilang jangan bicara la.....
Reyn langsung mendekap dan mencium bibir Fatya dengan lembut. Fatya awalnya sangat terkejut dengan yang di lakukan oleh Reyn padanya, namun akhirnya Fatya membalas semua yang di lakukan oleh Reyn padanya. Mereka berdua pun bercumbu dengan mesra untuk pertama kalinya.
Puas mencumbu Fatya, Reyn mengantarkannya kembali pulang kerumah. Dengan wajah yang masih sangat memerah Fatya langsung keluar dari mobil tanpa bicara apapun lagi pada Reyn setelah tiba dirumah. Reyn tau kalau Fatya sangat malu saat bercumbu dengannya. Bagaimanapun juga usia Fatya yang masih tergolong sangat muda dan malu-malu bila berhadapan dengan lawan jenisnya.
Fatya masuk kedalam kamarnya dengan wajah yang masih sangat memerah. Fatya berbaring di atas ranjang tidurnya sambil memeluk bantal guling dan senyum-senyum sendiri.
Fatya mengingat kembali apa yang sudah Reyn dan dirinya lakukan tadi saat mereka bertemu. Mereka saling cumbu dengan sangat mesranya.
Ibu masuk kedalam kamar Fatya dan meihat wajahnya yang sangat memerah.
"Tya, apa yang terjadi? wajahmu sangat merah! Apa kau terserang demam?" Tanya Ibu khawatir.
Acara pesta perniakahan pun diadakan secara meriah dengan adat minang pastinya karena itu permintaan dari pihak keluarga Fatya.
Reyn dan Fatya mengenakan pakaian pengantin minang. Mereka duduk di pelaminan yang di dekorasi sangat indah. Reyn sangat senang karena Fatya telah menjadi istrinya. Reyn melihat wajah Fatya yang tampak sedikit pucat saat itu.
"Kenapa wajahmu sangat pucat?" Tanya Reyn pada Fatya.
"Hiasan kepalanya terlalu berat. Kepalaku pusing." Sahut Fatya.
"Kalau begitu di lepas saja dan ganti gaun yang lain." Kata Reyn.
"Iya." Kata Fatya.
Fatya bangkit dari duduknya dan saat akan melangkah Fatya langsung jatuh pingsan. Dengan gerak cepat Reyn menangkap tubuh Fatya yang jatuh pingsan. Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dimana-mana bahkan hampir di setiap sudut ruangan pesta.
Disaat yang bersamaan, ternyata Yasmin, Melia, Melani, Gaby, Syeril juga jatuh pingsan. Ditambah lagi suara kegaduhan pecahan gelas yang di sebabkan oleh Ari yang menarik taplak meja yang di atasnya di penuhi dengan benda-benda yang sangat mudah pecah. Dengan cepat Chika menarik sang keponakan yang nakalnya gak ketulungan dan memarahinya.
Reyn celingak-celinguk melihat kekacauan yang terjadi pada saat persta pernikahannya tersebut.
"Kenapa pestaku menjadi semakin meriah?" Teriak Reyn frustasi.
Pingsan massal yang terjadi di pesta pernikahan Reyn dan Fatya di sebabkan karena para wanita itu sedang hamil.
Yasmin, Melia, Melani, Gaby dan Syeril sedang mengandung. Para suami dari mereka sangat bahagia saat mendengar kamar kehamilan dari istri-istri mereka.
__ADS_1
Zidan yang sudah mengatur jadwal penerbangannya untuk segera kembali ke Itali, membawa istri, anak dan juga menantunya itu untuk pergi ke bandara setelah acara pesta pernikahan usai. Reyn sangat dongkol dengan keputusan Zidan yang dia anggap terlalu terburu-buru.
"Gara-gara papa, aku jadi menunda malam pertamaku dengan Fatya." Ujar Reyn kesal.
Ppppllleeettttaakkkk...........
Zidan memukul kepala Reyn yang membuat Fatya kaget.
"Setelah tiba di Itali kau akan lebih leluasa untuk melakukannya dengan istrimu!" Teriak Zidan kesal pada Reyn.
"Ck, iya..iya!" Sahut Reyn.
"Dasar tidak sabaran!" Gumam Zidan lagi.
Kemudian Reyn melihat Zidan sedang berbisik pada Fatya.
"Pa, papa jangan menghasut istriku!" Teriak Reyn.
"Diamlah!" Ujar Zidan pada Reyn.
"huuuhh, menyebalkan!" Gumam Reyn.
Reyn penasaran dengan apa yang di bisikkan pada Fatya. Ia pun mendekati istrinya itu.
"Papa, bilang apa tadi?" Tanya Reyn.
"Rahasia, hehehehe." Sahut Fatya.
"Hei, sejak kapan kau ketularan jadi somplak, hah?" Teriak Reyn pada Fatya.
Orang tua Fatya mengantarkan kepergiannya di bandara. Dengan tangisan yang sangat haru biru itu, Ibu menggenggam tangan Reyn.
"Ibu pasti akan sangat merindukanmu, Reyn." Kata Ibunya Fatya.
"Ayah juga! Hhuuuwwwaaa." Teriak Ayahnya Fatya nangis bombai sambil memeluk Reyn.
Reyn yang memang terlahir menjadi manusai yang sangat amat lebay, tak mau kalah dengan suara tangisan yang lebih kencang.
"Ibu, Ayah, Malin kundang akan pergi ke Itali dulu! Hhuuwwaaaaa." Ujar Reyn berlutut di hadapan kedua mertuanya itu.
"Hei, sejak kapan namamu berubah menjadi Malin kundang, Reyn?" Teriak Zidan kesal pada tingkah Reyn yang memang super duper konyol.
Fatya hanya diam saja menatap kedua orang tuanya yang bukan menangisi dirinya.
"Ibu, Ayah! Anak kandung kalian itu aku!" Teriak Fatya ikut kesal karena di cuekin oleh orang tuanya.
"Tya, sepertinya dulu kau dan Reyn tertukar saat lahir! Orang tuamu memiliki sifat yang sama persis seperti Reyn." Kata Zidan lebih konyol lagi.
"Papa, itu jelas saja tidak mungkin!" Sahut Fatya.
"Hahahahaha, iya ya! Usai kalian berbeda jauh." Kata Zidan cengengesan.
Isabel datang dan membawa Fatya untuk menjauh dari mereka.
"Tya, Ayo menjauh! Sepertinya kau belum terlalu terinfeksi ke konyolan dari mereka." Kata Isabel pada Fatya.
"Sepertinya aku akan terjangkit penyakit konyol setelah melaksanakan kewajibanku sebagai seorang istri dari Reyn si super duper konyol!" Sahut Fatya.
"Hhhaaaiiihh, sudah nasibmu kalau begitu." Ucap Isabel menghela nafas panjang sambil bergeleng kepala.
__ADS_1
Setelah saling berpamitan dan haru biru itu selesai, Sang Malin kundang alias Reyn pun pergi membawa Fatya ke Itali.