
Makan malam itu membuat Gaby dan Boy semakin canggung. Yasmin dan Azlan hanya tersenyum saat melihat Boy dan Gaby berbalas melirik satu sama lain. Sementara Reyn masih sibuk mengunyah dan memuhi daging rendang buatan Melda.
“Gaby.” Panggil Romi.
“Iya om.” Sahut Gaby.
“Kapan kau akan selesai kuliah?” Tanya Romi.
“Mungkin tahun depan, om.” Jawab Gaby.
“Wah, calon dokter nih!” Sambung Melda.
“Hehehe, iya!” Kata Gaby.
“Tante sangat ingin punya menantu dokter.” Ucap Melda.
Gaby dan Boy malah tersedak lalu mereka cepat-cepat minum.
“Santai makannya kak!” Ujar Reyn menyindir keduanya.
Gaby menginjak kaki Reyn yang duduk di sebelahnya. Reyn hanya bisa menahan rasa sakit saat Gaby menginjak kakinya karena kesal.
“Mama, apa-apaan sih!” Bisik Boy pada Melda.
Melda hanya tersenyum tak ingin menanggapi putranya itu. Setelah selesai makan malam mereka berbincang sebentar di ruang tengah. Namun saat itu tiba-tiba saja listrik padam. Boy berniat untuk memanggil pelayan untuk memeriksa saklar listrik utama, tapi Romi mencegahnya karena pelayan pasti akan segera memeriksanya tanpa disuruh.
Hening sesaat dan tak lama terdengar suara dentuman petir yang sangat kuat membuat Gaby terkejut memeluk orang yang berada di dekatnya. Gaby gemetar ketakutan. Lalu listrik pun menyala dan tampak kalau Gaby sedang memeluk Boy yang saat itu memang duduk dekat dengannya.
“Gaby, listriknya sudah nyala.” Kata Boy senyum-senyum malu.
Gaby tersadar kalau dia sedang memeluk Boy di hadapan semuanya.
“Eeehh, maaf kak, maaf.” Ucap Gaby malu dengan wajah yang memerah.
“Tidak apa-apa! Aku tau kau hanya kaget.” Sahut Boy canggung.
Gaby dan Boy duduk kembali dengan wajah yang sama-sama memerah karena malu.
“Eeehheeemmm, merah banget!” Sindir Reyn pada Gaby dan Boy.
Yang lain hanya tersenyum untuk menahan tawanya saat melihat Gaby dan Boy malu-malu canggung.
“Om, tante, sepertinya mau hujan, lebih baik kami pulang sekarang!” Kata Azlan.
“Iya baiklah, hati-hati ya!” Sahut Romi.
Setelah berpamitan mereka pun kembali pulang kerumah setelah mengantar Yasmin kerumahnya terlebih dahulu. Setibanya dirumah, Reyn datang menghampiri Gaby di kamarnya. Tampak Gaby baru saja selesai mandi saat itu.
“Kak, sepertinya kak Boy menyukaimu.” Ucap Reyn.
“Jangan mulai lagi Reyn.” Sahut Gaby tak ingin membicarakan mengenai Boy.
“Kenapa? Apa dia bukan tipemu?” Tanya Reyn.
“Eeemmm, kak Boy itu tampan, bahkan lebih tampan dari kak Geof, tapi ketampanannya itu tidak menawan hatiku.” kata Gaby dusta.
“Terus, kau lebih suka pada si playboy itu?” Tanya Reyn.
“Siapa maksudmu?” Tanya Gaby.
“Geof!” Sahut Reyn ketus.
“Tau darimana kalau dia itu playboy? Kau saja baru sekali mengenalnya.” Kata Gaby.
“Aku ini pria yang sudah dewasa, aku tau mana pria playboy dan mana pria yang baik, kak.” Sahut Reyn.
“Jika kau tak ingin sakit hati, lebih baik jauhi si Geof! Aku tak suka padanya.” Sambung Reyn lagi.
Gaby hanya menatap wajah kesal adiknya itu. Ia tak pernah melihat wajah kesal dari Reyn kecuali malam itu saat pertama kali ia baru mengenal Geof. Selama ini Gaby percaya pada pandangan adiknya. Jika adiknya melarang, berarti itu hal yang baik untuknya.
“Pergilah tidur sana di kamarmu!” Kata Gaby.
“Tidak, aku mau tidur disini saja!” Sahut Reyn.
“Ya sudah!” Ucap Gaby berbaring di samping adiknya.
Saat tengah malam Reyn melihat Gaby sudah tertidur pulas. Reyn mengambil ponsel Gaby dan melihat medsos yang ada di ponsel kakaknya itu. Ia melihat Gaby berteman dengan Geof di medsosnya, dengan cepat Reyn menghapus pertemanan Gaby dengan Geof saat itu.
“Aku tidak akan membiarkan pria murahan sepertimu menyakiti kakakku!” Gumam Reyn dalam hatinya kesal pada Geof.
Setelah selesai mengotak-atik ponsel kakaknya, Reyn meletakkan kembali ponsel Gaby dan keluar dari kamar Gaby. Reyn kembali tidur di kamarnya. Keesokan paginya Gaby dan Reyn duduk di ruang makan, tak lama Abrar dan Balqis menghampiri mereka untuk sarapan bersama.
“Kapan om dan tante kembali?” Tanya Reyn pada Abrar.
“Semalam, sekitar jam 2 pagi!” Sahut Abrar.
“Bagaimana tinggal disini Reyn? Apa kau betah?” Tanya Balqis.
“Betah banget tante, rencananya aku tak mau balik ke Itali!” Sahut Reyn.
“Hei, kalau tidak balik ke Itali bagaimana dengan kuliahmu, bodoh?” Ujar Gaby pada adiknya itu.
“Kan ada papa! Papa pasti akan mengaturnya untukku, wweeeeeekkk.” Sahut Reyn seraya menjulurkan lidahnya pada Gaby.
“Hei, memangnya papamu yang kuliah?” Kata Abrar.
“Hah, om! Aku tak suka belajar!” Gerutu Reyn.
“Kau persis seperti mamamu!” Kata Abrar.
“Kata papa juga begitu! Hehehe.” Sahut Reyn cengengesan.
“Tapi mama berprestasi, tidak seperti dirimu yang selalu membuat papa pusing mengatur nilai-nilaimu selama ini! Si rendang ini sering dapat nilah rendah di sekolahnya, sampai-sampai papa membayar guru untuk memberikan nilai bagus padanya.” Sambung Gaby.
“Jangan seperti itu Reyn, kau akan mewarisi semua perusahaan papamu!” Kata Abrar menasehati Reyn.
“Iya om!” Sahut Reyn.
“Tante, apa aku boleh tinggal disini beberapa lama lagi?” Pinta Reyn dengan wajah memelas.
“Iya, terserah kau!” Sahut Balqis.
“Hoorreee! Aku akan mencari wanita dari suku padang.” Seru Reyn girang.
"Suku minang." Sahut Balqis.
"Uupppsss, salah ya tante?" Tanya Reyn.
"Padang itu nama sebuah kota di sumatra barat, dan minang adalah nama suku dari sumatra barat itu." Kata Abrar menjelaskan.
"Ohh, begitu! Baiklah kalau begitu aku akan ke sumatra barat untuk mencari gadis suku minang yang cantik, hehehehe." Seru Reyn bersemangat.
“Hah, dasar konyol!” Umpat Gaby melihat tingkah adiknya itu.
Keesokan harinya Gaby kembali ke Itali tanpa Reyn. Reyn nyangkut di Indonesia hanya untuk mencari wanita berdarah minang yang pintar memasak sekaligus cantik dan menarik pastinya.
*****
Abrar dan Balqis sedang mempersiapkan pernikahan untuk Azlan dan Yasmin. Melani masih sibuk beraktifitas di kantornya dan Melia disibukkan dengan pesan-pesan cinta yang di kirimkan oleh Evan padanya. Sementara Delina sedang kesal pada Dandi yang terlalu sibuk dengan pekerjaan yang di limpahkan oleh Azlan padanya. Jovanka masih di kejar-kejar oleh Ardian dan Tantia semakin getol memaksa Herdinan untuk membalas setiap serangan yang ia berikan.
Yasmin kini menjalani perusahaan yang ayahnya wariskan padanya, karena itu ia jarang bertemu dengan Azlan. hanya sabtu minggu mereka bisa bertemu. Siang itu Yasmin datang ke kantor Azlan, mereka membuat janji untuk pergi bersama memilih gaun pengantin yang akan mereka gunakan nanti saat resepsi. Saat Yasmin melangkah masuk, ia melihat Desi sedang berbincang dengan Azlan.
“Sayang, kau sudah datang?” Sapa Azlan menghampiri Yasmin.
Yasmin masih menatap Desi.
“Kau tidak perlu takut, Yasmin! Aku kesini hanya untuk mengantar undangan pernikahanku untuk kalian berdua! Hahahaha, tak kusangka aku akan mendahului kalian berdua.” Kata Desi dengan sombongnya.
“Desi, jika kau sudah selesai lebih baik kau pergi dari sini.” Kata Azlan ketus pada mantan kekasihnya itu.
“Baiklah, bye!” Ucap Desi keluar dari ruangan Azlan.
Azlan melihat Yasmin yang terbakar api cemburu.
“Sayang, hehehehe ini ada undangan dari desi! Kalau kau tak ingin kita tak perlu pergi.” Kata Azlan mencoba menenangkan Yasmin.
__ADS_1
Kemudian Yasmin melihat kain gorden yang terbuka dan tampak sekretaris baru Azlan dari ruangan itu.
“Apa kau menatapnya setiap hari?” Tanya Yasmin mengepalkan tangannya.
“Sayang, di hatiku hanya ada kau saja! Mana mungkin aku berani menatap wanita lain selain dirimu. Hehehe.” Kata Azlan.
“Kenapa gorden ini terbuka, hah?” Teriak Yasmin.
“Itu tadi si Desi yang buka, dia kira kau masih menjadi sekretarisku, makanya dia membuka gorden itu untuk melihatmu.” Sahut Azlan berkata jujur.
Azlan melihat Yasmin bernafas dengan cepat.
“Wah…wah, bakalan nangis nih si Yasmin!” Ucap Azlan dalam hatinya mulai panik.
“Sayang, ayo tarik nafas dan buang nafas, tarik nafas lagi lalu buang lagi.” Azlan menuntun Yasmin agar tenang dan tak menangis.
Kemudian Azlan membawa Yasmin duduk di sofa lalu menutup kain gorden itu.
“Sayang, kau harus bisa kendalikan dirimu, sebentar lagi kita akan segera menikah.” Kata Azlan.
“Aku…aku…cemburu….hhuuwwaaaa!” Yasmin akhirnya menumpahkan air matanya.
Azlan cepat-cepat memeluknya.
“Aku tau kau seperti ini sejak kita jarang bertemu kan? Kau sibuk dengan perusahaanmu dan aku juga sibuk dengan perusahaanku, makanya kita jarang bertemu.” Kata Azlan.
Yasmin mengangguk.
“Sayang, kau harus yakin, kita akan tetap bersama.” Kata Azlan.
Yasmin mengangguk lagi.
“Sini cium aku!” Pinta Azlan memonyongkan mulutnya kepada Yasmin.
“Aku kesini bukan untuk menciummu, tapi kita akan pergi membeli gaun pengantin!” Ujar Yasmin.
“Iya, tapi cium aku dulu.” Pinta Azlan lagi.
“Aku tidak mau!” Sahut Yasmin.
“Kalau kau tak mau ya sudah, aku saja yang cium karena aku mau! Hehehe.” Kata Azlan langsung mencium Yasmin dengan paksa.
Puas mencium bibir Yasmin, Azlan menaik turunkan kedua alisnya sambil terkekeh jahat.
“Dasar pemaksa!” Umpat Yasmin kesal dengan wajah yang memerah malu.
“Kau akan segera menjadi milikku Yasmin, nikmati hari-harimu yang akan selalu aku paksa jika kau tak mau menuruti aku! Hehehehe.” Bisik Azlan.
“Hhheemmmpppp!” Yasmin memalingkan wajahnya dengan kesal.
“Ayo kita pergi.” Azlan menarik tangan Yasmin untuk pergi membeli gaun pengantin mereka.
*****
Hari minggu Melia yang masih menjomblo mengajak Reyn untuk berjalan-jalan di mall. Mereka berniat untuk makan malam dan juga menonton film di bioskop. Sebelum mereka merasakan lapar pada perut mereka, Melia mengajak Reyn untuk melihat-lihat tas dan sepatu bermerk disana. Melia asik dengan tas-tas dan pakaian incaranya, sedangkan Reyn menunggu dengan perasaan yang sangat dongkol saat itu.
“Kak, cepat dong! Aku sudah lapar.” Teriak Reyn kesal pada Melia.
“Sabar dong, besok aku traktir makan nasi padang deh.” Kata Melia.
“Tidak! Capek nih, Aku juga bosan!”Ssahut Reyn gak sabaran.
Reyn bangkit dari tempat duduknya dan menyeret Melia untuk makan malam di mall itu. Saat keluar dari toko tas bermerk, tanpa sengaja Evan melihat melia bergandengan tangan dengan Reyn. Otak Evan langsung mendidih melihat tangan gadis impiannya di pegang oleh pria yang tak ia kenal.
“Kurang ajar! Sepertinya dia ingin bersaing denganku untuk mendapatkan Melia! Ini tidak bisa di biarkan, Melia milikku.” Ujar Evan kesal pada Reyn.
Evan mengikuti Reyn dan melia pergi. Bak seperti mata-mata Evan terus mengintai gerak-gerik Reyn terhadap melia. Reyn dan Melia masuk kedalam salah satu resto di mall itu untuk makan malam. Evan yang sedang mengintai juga masuk ke dalam resto tersebut. Dari jarak yang agak jauh, Evan terus mengintai Reyn dan Melia.
Disisi Reyn dan Melia.
“Kak, aku pesan rendang yah!” Kata Reyn pada Melia.
“Huh, menyebalkan!” Sahut Reyn kesal.
“Cepatlah pesan, sebentar lagi kita akan pergi nonton!” Kata Melia.
“Eeehh, memangnya film apaan sih? Kalau film romantis aku tak suka!” Tanya Reyn.
“Film horror!” Sahut Melia.
“Apa judulnya?” Tanya Reyn.
“Judulnya hantu rendang! Hahahaha.” Jawab Melia meledek Reyn.
“Huh, dasar menyebalkan!” Umpat rRyn kesal diledek Melia.
Reyn dan Melia pun memesan makanan untuk di santap. Tanpa mau banyak bicara mereka menghabiskan makanannya dengan begitu cepat. Evan terus memperhatikan Reyn dan Melia saat itu. Selesai makan Reyn dan Melia menuju ke lantai paling atas untuk membeli tiket nonton film horror. Lagi-lagi Evan ikut membeli tiket yang sama dengan mereka.
Kini Reyn dan Relia sudah duduk di dalam bioskop. Evan duduk tepat di belakang Reyn dan Melia. Mereka berdua asik nonton film horror, sedangkan Evan sibuk memperhatikan Reyn dan Melia. Saat adegan film itu sangat menyeramkan, Melia kaget dan menggenggam tangan Reyn. Wajah Evan berubah lebih menyeramkan dari pada hantu yang ada di dalam film itu saat melihat Melia menggenggam tangan Reyn.
“Seketika aku ingin membunuh manusia!” Umpat Evan dalam hatinya.
“Bagaimana caranya agar aku bisa membuat genggaman tangan mereka terlepas?” Gumam Evan dalam hatinya.
Seketika ide gila hinggap di otak Evan. Ia sengaja menumpahkan minuman yang ada di tangannya kepada lengan Reyn. Reyn kaget saat air itu mengenai lengannya, dengan begitu Reyn melepaskan tangan Melia saat itu juga. Reyn melihat kebelakang dan Evan malah pura-pura cuek dan tak meresa bersalah.
“Huh, dasar sinting!” Gumam Reyn menatap Evan.
Melia juga ikut menoleh kebelakang dan melihat wajah Evan samar-samar karena kondisi remang-remang.
“Kau?” Ucap Melia kaget melihat Evan.
“Halo!” Sapa Evan tersenyum pada Melia.
“Idiot!” Gumam Melia memalingkan wajahnya.
“Kakak kenal?” Tanya Reyn.
“Tentu saja! Dia itu orang gila yang paling menyebalkan.” Sahut Melia.
“Tidak usah di tanggepin!” Sambung Melia lagi.
Reyn dan Melia pun kembali fokus dengan menoton film horror di dalam gedung bioskop itu. Akhirnya film itu selesai, Reyn dan Melia keluar dari ruangan bioskop itu. Evan juga ikut keluar dan terus mengintai Reyn dan juga Melia.
“Reyn, tunggu disini, aku ke toilet sebentar!” Kata Melia pada adik sepupunya itu.
“Iya, baiklah!” Sahut Reyn.
Melia pergi ke toilet dan Evan menyusulnya. Setelah Melia keluar dari toilet, Evan mencegatnya.
“Apa sih? Minggir!” Teriak Melia pada Evan.
“Aku akan menyingkir jika kau mengatakan padaku siapa pria yang pergi bersamamu itu!” Kata Evan.
“Apa pedulimu, hah? Teman bukan pacar apalagi, banyak bacot.” Sahut Melia kesal.
“Jawab dulu!” Bentak Evan sedikit kesal pada Melia.
“Eehh, kau itu siapa, hah? Mau tau aja urusanku!” Ujar Melia melotot pada Evan.
Evan mengepalkan tangannya untuk menahan emosi karena kecemburuannya. Lalu Evan menarik leher Melia dan mencium paksa bibir Melia. Mata Melia terbelalak kaget saat Evan tiba-tiba menciumnya. Melia mendorong tubuh Evan yang sangat dekat denganya.
“Apa kau gila, hah?” Teriak Melai kesal pada Evan.
“Aku peringatkan kau jangan dekati pria lain, atau aku akan…..
“Akan apa, hah?” Potong Melia melotot pada Evan.
“Atau aku akan menculikmu dan memperkosamu berkali-kali!” Teriak Evan mengancam Melia.
Melia ketakutan saat Evan mengatakan hal itu kepadanya. Evan kembali mendekati Melia.
“Katakan padaku, siapa pria itu?” Tanya Evan membuat Melai ketakutan.
__ADS_1
Melia masih terus menatap Evan.
“Jawab!” Bentak Evan membuat Melia kaget.
“Di…dia, adik sepupuku! Hiks…hiks…hiks.” Jawab Melia dalam isak tangisnya.
“Eh, aku pikir pria itu kekasihnya!” Gumam Evan dalam hatinya.
Evan melihat Melia menangis karena ketakutan saat di bentaknya. Perasaan merasa bersalah pun sejenak singgah di hati Evan.
“Maaf, aku…aku hanya cemburu.” Ucap Evan pada Melia.
“Cemburu apaan? Memangnya kau itu siapaku, hah? Hhuuwwaaaa.” Melia nangis semakin kencang.
Evan panik saat Melia semakin kencang menangis, sehingga orang-orang yang ada di sekitar melihat mereka.
“Hei..hei, diam!” Bisik Evan pada Melia yang terus menangis.
“Tidak mau! Huuuuwwwwaaaaa. Kau membentakku tadi.” Melia semakin kencang menangis.
“Oke…oke! Aku yang salah, aku minta maaf ya, melia yang cantik.” Ucap Evan mencoba menenangkan Melia.
“Tidak mempan kalau cuma di bilang cantik, aku tidak mau berhenti menangis!” Sahut Melia terus menangis.
“Jadi aku harus bagaimana agar kau berhenti menangis?” Tanya Evan semakin panik.
“Traktir aku belanja, kalau tidak aku tak mau berhenti menangis.” Kata Melia.
“Ya sudah, kau mau uang berapa banyak?” Tanya Evan.
“Aku tidak mau uang.” Sahut Melia.
“Hei, belanja kan pakai uang, begok!” Kata Evan sewot.
“Aku mau kartu kerditmu! Sini, berikan padaku." Pinta Melia.
“Kenapa harus pakai itu?” Tanya Evan bingung.
“Biar aku puas belanjanya! Hhhuuwwwwaaaaaaa.” Melia terus menangis histeris.
“Huh, iya baiklah! Dasar cewek matre!” Ujar Evan.
Evan pun memberikan kartu kreditnya pada Melia. Melia langsung merampasnya dan pergi begitu saja. Evan menatap Melia yang terlihat senang saat mengambil kartu kredit miliknya.
“Hhhaaaiiihhh, untung dia wanita yang cantik, kalau tidak aku akan membuangnya ke lubang kadal.” Ujar Evan.
Melia kembali menemui Reyn yang sudah hampir mati kesal karena menunggunya sangat lama.
“Aku pikir kau mati saat di toilet.” Kata Reyn.
“Hahahaha, ayo kita ke toko yang tadi! Aku ingin belanja banyak hari ini.” Sahut Melia kegirangan.
Hari itu Melia banyak membeli apa yang ia inginkan dengan menggunakan kartu kredit milik Evan. Tas, sepatu dan juga pakaian bermerk yang harganya jutaan rupiah di boyong pulang oleh Melia dari mall. Abrar dan Balqis melihat Melia dan Reyn membawa belanjaan yang sangat banyak.
“Kenapa kau sangat boros, Melia?” Ujar Balqis kesal.
“Tenang mi, aku membeli ini semua bukan dengan uang tabunganku.” Sahut Melia.
“Apa kau merampok Reyn?” Tanya Abrar.
Melia menggeleng.
“Jadi, dari mana kau dapatkan semua ini?” Tanya Balqis.
“Aku merampok pria jahat yang ada di mall tadi! Hehehe.” Sahut Melia.
“Ya sudah deh, melia masuk dulu ya!” Ucap Melia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Abrar dan Balqis menatap Reyn untuk meminta jawaban atas sikap Melia.
“Jangan tanya padaku, om, tante! Aku tak tau apa-apa tentang kak melia saat di mall tadi.” Kata Reyn seraya beranjak pergi masuk kedalam kamarnya.
Abrar dan Balqis saling menatap.
“Mungkin dia punya kekasih baru dan memberikan banyak uang pada Melia.” Kata Abrar.
“Ya sudahlah.” Sahut Balqis.
Di dalam kamarnya Melani melihat Melia yang sedang mencoba semua barang-barang belanjaannya. Melani heran melihat Melia begitu banyak belanja barang-barang bermerk.
“Darimana kau dapat semua ini?” Tanya Melani.
“Dari Evan!” Sahut Melia.
“Hei, kau bilang kau tak mengincarnya lagi.” Kata Melani.
“Aku tak mengincarnya, tapi sepertinya dia sedang mengincarku! Hehehe.” Sahut Melia.
“Tau darimana kau? Dia kan sudah punya kekasih.” Kata Melani.
“Tadi dia cemburu saat aku jalan bersama Reyn! Kalau tentang kekasihnya aku tak tau sih, aku pernah lihat wanita itu memeluk pria lain di hadapan Evan dan Evan biasa saja!” Kata Melia.
“Apa jangan-jangan dia bukan kekasih Evan?” Tanya Melani.
“Entahlah! Aku tak ingin memikirkannya.” Kata Melia.
Melani kembali melihat barang-barang yang di beli oleh Melia.
“Kira-kira habis berapa ini semuanya?” Tanya Melani.
“500 juta mungkin?” Sahut Melia.
“Aaahh, kau benar-benar merampoknya.” Ujar Melani.
“Biarkan saja, dia kan kaya!” Sahut Melia.
Hening sesaat tampak Melani sedang berpikir keras.
“Melia, si Evan dengan mudahnya memberikan kartu kreditnya padamu, apa kau tidak curiga?” Tanya Melani.
“Apa?” Tanya Melia.
“Dia pasti akan menyuruhmu untuk membayarnya dengan tubuhmu.” Kata Melani.
“Apppaaaa?” Teriak Melia kaget.
“Maksudmu dia akan meniduri aku?” Tanya Melia panik.
“Bukan itu maksudku, bodoh! Mungkin dia akan mengambil jantung, ginjal atau mungkin darahmu untuk membayar semuanya.” Kata Melani.
Ppppplllllaaaakkkkk........
Melia menghajar kembarannya itu.
“Dasar begok, ternyata itu yang kau katakan! Aku bahkan sudah berpikiran jorok tadi.” Ujar Melia kesal.
“Huh, kau sangat berharap dia akan memperkosamu, hah?” Teriak Melani ikutan kesal.
“Tak masalah, dia kan tampan.” Sahut Melia.
“Huh, dasar murahan!” Umpat Melani menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Hei, lihat tas ini baguskan!” Kata Melia.
“Bodo ah, aku mau tidur!” Sahut Melani.
“Huh, dasar!” Ujar Melia.
Tring…..suara pesan masuk di ponsel Melia. Segera Melia melihatnya.
“Setelah puas membeli semua keinginanmu, jangan lupa untuk membayarnya padaku Melia! Hehehehehe.” Pesan dari Evan melalui ponselnya.
Tangan Melia gemetar.
“Jadi selama ini orang yang sering mengirim pesan cinta padaku dan menggangguku adalah Evan?” Gumam Melia.
“TTIIIIDDDAAAKKKKKKKK!” Teriak Melia di dalam kamarnya.
Melani yang hendak tidur menjadi kesal dan melempar wajah Melia dengan bantal.
__ADS_1
“Brisik!” Teriak Melani kesal pada Melia.