
Seperti biasa Meilink menyambut hari-harinya dengan semangat dan senyuman manisnya. Meilink termasuk gadis yang memiliki sifat patuh kepada orang tua dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Setiap hari Meilink bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Ayah dan Ibunya. Kedua orang tuanya selalu mendidiknya berdasarkan agama. Walaupun latar belakang keluarga Meilink bukan dari keluarga yang kental akan ajaran agama. Tetapi orang tua Meilink tetap berusaha mendidik Meilink berdasarkan ajaran agama dengan keterbatasan pengetahuan agama yang mereka ketahui. Agar Meilink tidak terjerumus ke jalan yang tidak benar, yang mungkin saja akan menjadi penyesalan dikemudian hari bagi Meilink atau pun mereka sebagai orang tua Meilink.
Hari-hari yang dilalui Meilink penuh limpahan kasih sayang yang dicurahkan kedua orang tua Meilink hanya kepadanya saja. Karena Meilink merupakan anak semata wayang.
#
Kedua orang tua Meilink pada saat menjalani biduk rumah tangga sangat sulit sekali mendapatkan keturunan. Sepuluh tahun setelah pernikahan mereka, kedua orang tua Meilink masih belum juga memperoleh keturunan. Hingga pada akhirnya, saat orang tua Meilink bertemu dengan sahabatnya kembali. Mungkin ini bisa dikatakan hanya candaan teman saja pada awalnya. Tapi, candaan itu berubah menjadi suatu kenyataan yang memberikan kebahagiaan bagi kedua orang sahabat ini. Ayah Meilink berjanji kepada sahabatnya, jika istrinya hamil dan dia memperoleh keturunan baik itu laki-laki atau pun perempuan. Maka ia akan menikahkan anaknya dengan anak sahabatnya. Tidak pernah disangka-sangka, berselang beberapa minggu kedua sahabat itu bertemu. Ibu Meilink pun hamil. Tentu saja kehamilannya disambut dengan penuh kebahagiaan oleh kedua orang yang bersahabat itu.
Sahabat ayah Meilink sudah lama memiliki anak laki-laki yang sangat tampan. Keinginan untuk memiliki anak lagi tidak dipungkiri namun apalah daya. Istrinya tidak dapat hamil lagi karena mengidap penyakit kanker rahim yang menyebabkan rahimnya harus diangkat.
Karena keinginan istrinya yang ingin memiliki anak perempuan, maka sahabat ayah Meilink menagih janji ayah Meilink untuk menikahkan anak mereka. Tentu saja ayah Meilink orang yang tidak suka mengingkari janji. Ayah Meilink pun berjanji akan menikahkan anak perempuannya setelah anak perempuannya menyelesaikan pendidikan SMA.
#
Hari ini setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah dengan kedua orang tuanya, Ayah Meilink ingin mengutarakan keinginannya. Kedua orang tua Meilink menatap Meilink dengan penuh kasih sayang. Ayah Meilink membuka pembicaraan.
"Meilink, apakah kau bisa mengabulkan keinginan Ayahmu ini, Nak?"
Meilink menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan penuh rasa heran. Ayah Meilink adalah orang yang tidak banyak bicara dan orang yang tidak banyak menuntut kepada anaknya selama ini. Mungkin sebagian orang tua lainnya akan banyak menuntut prestasi yang gemilang dari anaknya untuk mengharumkan namanya. Namun berbeda dengan Ayah Meilink, beliau akan mendukung semua hal positif yang dilakukan anaknya dan tidak menuntut banyak dari anaknya. Cukup patuh dan taat kepada orang tua serta mengikuti ajaran agama. Pagi ini ayahnya bertanya apakah meilink dapat mengabulkan keinginan ayahnya.
__ADS_1
Sambil tersenyum simpul Meilink bertanya kepada ayahnya.
"Apakah gerangan keinginan ayah yang harus Meilink kabulkan?"
Ibu Meilink mengelus pucuk kepala meilink dengan penuh kasih sayang. Ibu Meilink merupakan wanita yang sangat lembut, baik hati, penyayang, anggun, dan tentu saja cantik di mata ayah Meilink. Ibu Meilink dengan penuh kehati-hatian berkata.
"Ayah dan Ibu ingin Meilink menikah dengan anak sahabat Ayahmu, Nak."
Meilink pun terkejut dengan apa yang telah diutarakan Ibunya, mata Meilink pun berkaca-kaca karena menahan tangis.
'Jika Meilink menikah di usia yang masih sangat muda bagaimana dengan cita-cita yang ingin dicapainya. Bagaimana dengan kekasihnya yang sudah merajut kasih selam 3,5 tahun selama ini.'
"Tapi, Ayah dan Ibu kan tau kalau Meilink masih sekolah. Meilink masih SMA lagi."
"Ayah tau kalau Meilink masih sekolah tapi sebentar lagi Meilink selesai SMA. Jika Meilink ingin melanjutkan pendidikan Meilink dapat melanjutkannya setelah menikah." Ayah Meilink mengutarakan pendapatnya dengan ketegasan yang nyata.
Meilink ingin sekali menolak keinginan ayahnya terlihat dari ekspresinya yang terpampang jelas di wajahnya. Namun sebelum Meilink membantah ayahnya, ayahnya langsung memotong.
"Meilink,apakah ayah pernah meminta sesuatu darimu selama ini?" Secara otomatis Meilink menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayah ingin Meilink mengabulkan keinginan Ayah yang pertama dan mungkin ini yang terakhir kalinya Ayah meminta kepadamu, Nak."
Sebagai anak yang penurut Meilink pun mengabulkan keinginan Ayahnya walaupun hatinya menolak.
"Baiklah Ayah Meilink akan menikah dengan anak sahabat ayah, jika itu keinginan Ayah."
Dalam hati Meilink bertanya-tanya mengapa ayahnya berkata ini permintaannya yang terakhir. Jika memungkinkan Meilink akan mengabulkan semua keinginan orang tuanya tapi mengapa orang tuanya berkata seperti itu. Namun keinginannya untuk bertanya diurungkannya karena ayahnya menyuruhnya untuk membantu Ibu Meilink menyiapkan sarapan lalu bersiap-siap berangkat sekolah.
Meilink memang dari keluarga yang sederhana bukan dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya hanya bekerja sebagai Pegawai sedangkan Ibunya seorang guru. Karena kehidupan keluarganya yang sederhana jadi menuntut Meilink menjadi gadis yang tidak manja. Meilink dapat mengerjakan pekerjaan rumah dengan sangat cekatan karena setiap hari ia melakukan pekerjaan rumah dengan ibunya tanpa ada bantuan dari asisten rumah tangga.
Setelah selesai membuat sarapan pagi mereka bertiga pun menikmati sarapannya dengan penuh rasa syukur. Meilink pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, saat Meilink ingin berpamitan kepada kedua orang tuanya Meilink terkejut dengan kata- kata ayahnya yang menusuk langsung ke jantungnya.
"Jagalah tingkah lakumu baik di dalam maupun di luar rumah, Nak. Karena jika kau melakukan suatu kesalahan maka bukan kau saja yang akan menanggung akibatnya.Tapi orang tuamu juga yang akan terkena imbas dari apa yang kau lakukan."
Meilink tertegun mendengar ucapan ayahnya. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah ayahnya mengetahui apa yang telah dilakukannya di luar rumah tanpa pengawasan dari orang tuanya. Untuk menutupi kegugupannya Meilink langsung menjawab perkataan Ayahnya.
"Baik Ayah."
'Apakah ayah mengetahuinya?' Gumam Meilink dalam hati.
__ADS_1
#Jangan lupa like, vote dan komentari setiap partnya ya