Menunggu Jandamu

Menunggu Jandamu
Bertemu Calon Suami


__ADS_3

Samuel tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Meilink akan kandas begitu saja. Impiannya hidup bersama dengan orang yang dia cintai harus kandas di tengah jalan. Apalah daya, dia saja masihlah seorang pelajar. Mana mungkin dia memaksakan kehendaknya untuk tetap bersama Meilink. Jika dilihat dari keinginan orang tua Meilink yang ingin Meilink segera menikah dengan anak sahabatnya, pastilah lelaki itu sudah cukup mapan untuk menghidupi Meilink. Mana mungkin orang tua Meilink menikahkan putri semata wayangnya kepada lelaki yang belum mapan sepertinya. Walaupun Samuel memiliki usaha laundry bukan berarti Samuel sudah berani melamar Meilink untuk menjadi istrinya. Untuk menikah bukan hanya dibutuhkan kesiapan finansial. Masih banyak lagi kesiapan yang harus disiapkan oleh Samuel. Salah satunya yang masih belum dimiliki oleh Samuel yaitu kesiapan mental. Keberanian untuk menghadapi kisruh dalam biduk rumah tangga. Dengan usia yang masih terbilang remaja masih rentan dengan mempertahankan ego masing-masing. Jika salah langkah dalam menyikapi sikap pasangan kita, akan menyebabkan kekacauan dalam kehidupan rumah tangga. Samuel ingin saat ia menikah, dia sudah siap lahir batin dalam menghadapi badai dalam rumah tangganya. Keinginannya untuk menjalani semua itu hanyalah bersama dengan Meilink. Namun, semua itu kandas ditengah jalan karena Meilink menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan anak sahabat orang tuanya.


Meilink memang seorang gadis remaja yang penurut kepada orang tuanya. Hal itu tidak terbantahkan lagi. Semuanya dapat terlihat dari semua yang terjadi dalam kehidupan meilink.


Setelah pulang sekolah orang tua Meilink mengajak untuk bertemu dengan calon mertua dan calon suami Meilink di sebuah restoran x yang dekat dengan daerah pusat perbelanjaan. Meilink tetap menuruti keinginan orang tuanya walaupun hatinya menjerit.


Ingin rasanya Meilink meneriakkan kata-kata. 'Tidak mau' dihadapan orang taunya. Namun, diurungkannya.


Meilink mau tak mau bersiap-siap untuk bertemu dengan calon mertua dan calon suaminya. Meilink mengenakan pakaian gamis sederhana yang membuat dia terlihat sangat anggun dan elegan. Siapa pun yang melihat Meilink saat itu pasti akan berdecak kagum saat melihatnya. Tapi, wajah cantiknya itu ternodai dengan kegelisahan yang tidak dapat disembunyikan oleh Meilink. Sepanjang jalan ibunya melihat Meilink tampak gelisah. Meilink berulang kali mengubah posisi duduknya di bangku mobil. Bahkan Meilink memilin ujung baju gamisnya, meremas-remas jari- jemarinya. Untuk membuat putrinya tenang, ibu Meilink pun mengajak Meilink berbicara.


"Meilink, dulu Ibu dan Ayahmu juga di jodohkan. Kami tidak saling mengenal satu sama lain."


Meilink mengernyitkan keningnya setelah mendengar perkataan ibunya.


'Mana mungkin ayah dan ibu juga dijodohkan.'Dalam hati Meilink bergumam.


"Pasti kamu tidak percaya kan, Nak?" Ibu menebaknya dengan tepat.


"Tentu saja Meilink tidak percaya. Kalau ibu dan ayah tidak saling mengenal sebelumnya mana mungkin sekarang terlihat sangat mesra." Meilink menyatakan protes keras.


Ayah Meilink langsung memotong pembicaraan istri dan anaknya.


"Meilink, Ayah dan ibumu memang tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Bahkan, kami dipertemukan setelah selesai ijab kabul." Ayah menjelaskan bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengan orang yang menjadi istrinya sekarang. Ayah dan ibu Meilink menumbuhkan rasa cinta mereka setelah mereka menikah.


"Meilink anakku, Ayah harap kau juga akan bahagia membina rumah tangga dengan nak Cuko Sukatmaja nantinya. Ayah berharap kau dapat menghangatkan hatinya, yang sekarang beku seperti bongkahan es. Dia sebenarnya anak yang baik, hanya saja keadaan yang merubah dirinya." Ayah mengutarakan harapannya kepada Meilink dengan penuh pengharapan.


'Jadi namanya Cuko Sukatmaja'.

__ADS_1


'Lumayan lah.'


'Mudah-mudahan orangnya sebagus namanya.' Dalam hati Meilink berucap.


Tak terasa mereka pun sampai di restoran x. Ternyata keluarga Pak Yudi Sukatmaja sudah sampai terlebih dahulu di restoran. Terlihat dari kejauhan ada dua orang lelaki yang sedang menunggu, yang satu sudah tua sepertinya usia sama dengan ayah Meilink. Sedangkan yang satunya lagi masih terlihat sekitar usia 28 tahunan. Serta seorang wanita seumuran dengan ibunya. Sudah pasti wanita ini adalah ibunya Cuko Sukatmaja.


Meilink dan kedua orang tuanya mendekati ketiga orang tersebut. Semakin terlihat jelaslah bagaimana paras orang yang tadinya Meilink lihat dari kejauhan. Ayah Meilink dan Pak Yudi Sukatmaja saling berpelukan satu sama lain melepas rindu dan saling menyapa.


"Bagaimana kabarmu Yudi?"


Sapa Ayah Meilink sambil mengulurkan tangan.


Pak Yudi Sukatmaja menyambut tangan ayah Meilink dengan antusias.


"Kabarku Alhamdulillah baik, Radit. Kuharap kau tak melupakan janjimu padaku."


"Kalau begitu mana calon menantu kami Pak Radit?" tanya nyonya Yudi.


"Oh...perkenalkan dirimu anakku. Jangan malu-malu." Ucap Ayah Meilink kepada Meilink sambil memegang bahu Meilink.


"Perkenalkan Om, Tante nama saya Meilink." Meilink mengulurkan tangannya kepada sahabat ayahnya dan disambut oleh kedua orang tua cuko.


" Meilink, perkenalkan ini anak tante yang paling ganteng. Namanya Cuko Sukatmaja yang akan menjadi suamimu sebulan lagi." Nyonya Yudi memperkenalkan putranya dengan semangat. Nyonya Yudi orang yang supel, ceria, enerjik dan agak sedikit gaul dibandingkan dengan ibu-ibu seumurannya.


Meilink hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku calon mertuanya itu. Kemudian melirik kearah Cuko Sukatmaja, yang terlihat acuh dengan orang yang ada di sekitarnya.


Mereka menyantap makanan yang telah mereka pesan sebelumnya sambil berbincang-bincang mengenai persiapan pernikahan Meilink dan Cuko. Saat para orang tua lagi asik membahas masalah pernikahan Cuko mengangkat bicara.

__ADS_1


" Bolehkah saya permisi mengajak Meilink ke pusat perbelanjaan di seberang sana, Paman?"


Semua orang menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum.


"Tentu saja boleh, Cuko."


Sambut Ayah Meilink.


Nyonya Yudi pun meledek anak lelakinya. "Sepertinya anak mami sudah gak sabar nih cepet- cepet mau nikahin Meilink. Kamu ngajak meilink ke pusat perbelanjaan jangan melakukan hal yang macem-macem loh. Sabar ya sayang kita halalin dulu."


"Cuma mau membicarakan hal penting. Gak ada hal aneh-aneh mi."Ucap Cuko yang terlihat acuh dengan godaan maminya.


"Ayo." Sambil melirik ke arah Meilink.


Mau tak mau Meilink mengikuti Cuko sambil mensejajarkan jalannya dengan Cuko. Sesampai di pusat perbelanjaan Cuko membawa Meilink ke tempat seperti cafe dan memesan minuman. Cuko menyesap kopinya dan meletakkannya kembali, begitu juga Meilink.


Cuko membuka pembicaraan, "Meilink, apa kau sudah yakin akan menikah denganku?"


Meilink mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk begitu mendengar ucapan calon suaminya dan menjawab.


"Kenapa mas berkata seperti itu?"


"Apakah mas sendiri tidak menginginkan pernikahan ini terjadi?"


Bagaikan disambar petir Meilink mendengar jawaban calon suaminya yang sangat menyayat hatinya.


#

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentari setiap partnya ya


__ADS_2