
Seberapa keras pun usaha seseorang untuk memiliki sesuatu, tapi kalau memang itu bukanlah ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Maka akan terlepas juga. Seperti pasir yang di tepi pantai, semakin erat kita menggenggamnya maka akan semakin banyak pasir yang akan lepas dari sela-sela genggaman.
Walaupun kita merasa kita lebih pantas memiliki, namun nyatanya hanya Tuhanlah yang paling berhak menentukan segala sesuatunya. Begitu jugalah yang terjadi di antara Cuko Sukatmaja dan Meilink. Seberapa banyaknya pun cara yang digunakan Cuko Sukatmaja untuk menahan Meilink untuk tetap berada digenggamannya. Pada akhirnya takdir yang ditentukan oleh Tuhan yang berkata. Pernikahan mereka kandas dengan perceraian yang terbilang rumit. Cuko Sukatmaja mempersulit jalannya perceraian. Karena kasihan kepada Meilink, orang tua Cuko Sukatmaja malah membantu proses jalannya perceraian. Pernyataan dari orang tua Cuko Sukatmaja membuat jalannya perceraian yang rumit menjadi mudah buat Meilink. Dan akhirnya perceraian pun tidak dapat dihindari lagi.
Kini Meilink sudah menjadi janda di usia yang masih terbilang muda. Andai saja dulu Meilink melanjutkan pendidikannya mungkin dia sekarang sudah menjadi seorang sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Nasi sudah menjadi bubur, sudah tidak dapat diubah lagi. Meilink hanya bisa berusaha agar dia kedepannya tidak menjadi beban kedua orang tuanya. Meilink menjual pakaian ke rumah-rumah penduduk di sekitar rumah orang tuanya dengan menggunakan sepeda motornya.
"Kalau gamis berwarna tosca itu murah lo tante Emi. Cuma Rp 450.000,00 saja." Ucap Meilink kepada salah seorang pelanggan tetapnya.
"Cantik gak sich kalau tante pakai gamis ini." Kata tante Emi.
__ADS_1
"Cantik donk tante. Malahan cantik banget. Karena kulit tante yang putih bersih jadi apa saja yang tante pakai jadi cocok semua warna." Meilink mengulas senyum manisnya.
"Iya sich. Tapi harganya itu loh. Tante gak nahan. Mahal banget Meilink." Ucap tante Emi.
"Sesuai kualitas bahan gamisnya tante. Coba deh tante pakai gamisnya. Pasti tante tau bagaimana kualitas bahan gamisnya. Tante sentuh dengan tangan saja sudah jelas banget kan, Tante?" Ucap Meilink meyakinkan pelanggannya tentang kualitas gamis yang dijualnya.
Tante Emi menganggukkan kepalanya pertanda membenarkan perkataan Meilink. Meilink selalu menjaga hubungan baik dengan para pelanggannya dengan memberikan penilaian yang objektif dan selalu menjaga kualitas barang yang dia jual. Itu yang membuat barang dagangan Meilink selalu dinanti-nanti para pelanggan Meilink.
"Kak Meilink, kita dapat job besar ini, Kak!" Ucap salah seorang pekerja di rukonya.
__ADS_1
Meilink memang menyuruh para pekerja di rukonya untuk memanggilnya dengan sebutan kakak saja. Meilink tidak ingin dipanggil dengan sebutan yang menunjukkan dirinya adalah pemilik toko pakaian tersebut. Agar tidak ada jarak yang akan membuat kecanggungan di antara dirinya dan pekerja di rukonya. Meilink ingin mereka menjadi keluarga walaupun dalam hubungan pekerjaan.
"Job besar apa, Tika?" Ucapa Meilink.
"Kita mendapat pesanan baju dalam skala besar untuk salah satu keluarga kaya di kota ini, Kak!"
"Keluarga kaya? Siapa?" Meilink tampak mengernyitkan keningnya.
"Keluarga..."
__ADS_1
#Jangan lupa like vote dan komentari setiap episodenya ya 😍