Menunggu Jandamu

Menunggu Jandamu
Pak Komo


__ADS_3

"Sedang apa kau di sini, Meilink?"


Meilink menengadahkan kepalanya ke atas, melihat siapa yang sedang mengejutkannya.


Mulut Meilink terbuka sedikit terperangah melihat yang sekarang ada dihadapannya. Tak pernah Meilink menyangka bahwa yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Pak Komo. Guru matematikanya yang super xxxxx sedang ada dihadapannya dan melihat keadaan Meilink yang sedang acak-acakan tak karuan. Meilink menghapus sisa-sisa air mata yang mengalir di pipi putihnya dan merapikan pakaian sekolahnya agar dia tidak terlihat acak-acakan tak karuan.


'Mati aku. Kenapa yang memergoki aku lagi nangis Pak Komo sich. Guru super xxxxx tingkat sekolahan yang tiada tandingan. Aaaaahhhh... bisa-bisa kexxxxxan Pak Komo nambah satu tingkat nich dari biasanya. Gimana ini, apa aku kabur aja ya? Tapi gak sopan kan kalau main kabur aja. Sudah mau tamat sekolah SMA kok malah gak sopan sama gurunya. Jangan karena uda mau tamat terus mulai menganggap angin lalu guru. Bisa-bisa ilmu yang diberikan guru selama ini jadi gak berkah.' gumam Meilink dalam hati.


Meilink bukannya menjawab pertanyaan Pak Komo malah sibuk dengan pikirannya sendiri


Sampai-sampai oak Komo harus bertanya ulang kepadanya.


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan bapak, Meilink? Sedang apa kau di sini?" Bertanya sambil memelintir kumisnya.


Secara fisik Pak Komo memiliki tubuh kekar, tinggi, berkuli sawi matang, bentuk wajah lonjong memiliki kumis dan sedikit janggut, berambut ikal berwarna hitam, perut sedikit agak buncit, berhidung mancung, wajahnya ala-ala India gitu deh.


"Hehehe... gak lagi ngapa-ngapain, Pak. Hanya sedang selonjoran aja, Pak. Meluruskan kaki saya."


Meilink nyengir-nyengir mencari alasan untuk mengalihkan perhatian Pak Komo atau lebih tepatnya menutupi bahwa dia tadi menangis tersedu-sedu sambil terduduk di lantai sekolah.


Sepertinya Pak Komo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Meilink kepadanya. Sehingga membuat Pak Komo bertanya kembali untuk menyelidiki kebenarannya.


"Meluruskan kaki?" Pak Komo memperhatikan Meilink dengan intens.


"Apakah meluruskan kaki seperti itu meilink?" Jari telunjuk Pak komo menunjuk ke arah Meilink.


Meilink langsung melihat ke arah dirinya sendiri. Terang saja pak Komo berkata demikian, karena kaki meilink sedang ditekuk menyamping seperti duduknya orang sholat, yaitu duduk antara dua sujud. Betapa konyolnya alasan yang diberikan Meilink kepada Pak Komo tadi melihat keadaan Meilink saat ini. Meilink memang gadis yang lugu, untuk berbohong saja dia tidak pandai. Meilink sangat tidak berpengalaman dalam hal berbohong. Belum apa-apa aja sudah ketauan bohongnya.

__ADS_1


"Hehehe...bukan Pak!"


Meilink hanya bisa memberikan senyum sejuta makna. Tapi entah makna apa dia pun tak tau, yang penting senyum aja dulu pokoknya. Urusan paham harus tersenyum karena apa aja gak penting saat ini. Karena yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan diri dari pertanyaan-pertanyaan dari pak Komo.


Karena dilihat Pak Komo Meilink masih saja duduk di lantai. Masih tidak berinisiatif untuk bangkit dari duduknya, maka Pak Komo memberikan perintah pada Meilink agar Meilink segera berdiri dari duduknya.


"Berdiri Meilink jangan seperti anak kecil ngesot-ngesot di lantai!" Perintah Pak Komo pada Meilink.


'Apa. masak aku dikatain seperti anak kecil yang ngesot-ngesot di lantai. Meilink uda besar loh Pak Komo. Malahan sebentar lagi mau dinikahkan sama cogan asal bapak Tau aja ya.' Hanya berani mengatakannya dalam hati saja tidak berani mengutarakannya. Jika Pak Komo tau kalau Meilink sebentar lagi mau nikah bisa berabe urusannya. Meilink bakalan dapat omelan-omelan pak Komo tiada henti sampai matahari terbenam pun gak bakalan selesai-selesai.


"Saya tidak sedang ngesot-ngesot di lantai seperti anak kecil, Pak Komo!"


Meilink tidak terima atas apa yang dikatakan Pak Komo padanya, tampak Meilink memanyunkan mulutnya kendepan. Karena jengkel dikatain seperti anak kecil yang sedang ngesot-ngesot di lantai.


Pak Komo melihat tajam ke arah Meilink dan mengkerutkan keningnya seperti sedang berpikir keras.


Memberikan pertanyaan yang tak masuk akal, yang membuat Meilink semakin jengkel saja dengan pertanyaan-pertanyaan Pak Komo.


'Mulai deh.' Meilink memutar bola matanya ke atas tanda dia jengah dengan kata-kata Pak Komo.


'Tambah panjang nich kebawelan Pak Komo, kalau dibiarkan semakin menjadi-jadi ini. Ini saja sudah merambah ke dunia astral segala, kalau dibiarkan bisa mencapai dunia antah berantah pula. Bisa-bisanya gadis cantik nan manis seperti aku dikatain suster ngesot. Walaupun aku habis melakukan adegan melankolis sambil nangis-nangisan kan gak mengurangi kecantikanku juga Kan? Masak aku dibilang membuat adegan suster ngesot di sekolah ini? yang bener aja, Pak.' Hanya berani mengungkapkan protes kerasnya di dalam hati dan tidak sanggup untuk mengutarakannya secara gamblang kepada Pak Komo.


" Ya enggak lah, Pak! Masak gadis cantik seantero jagat dan manisnya melebihi manisnya madu bapak katain lagi membuat adegan suster ngesot di sekolah ini. Bisa hancur reputasi saya, Pak!" Memasang senyum manis tiada tanding, dan menepuk-nepukkan tangan kanannya ke dadanya.


"Jangan berlebih-lebihan memuji dirimu, Meilink! Kau tidak secantik dan semanis itu, Meilink!" Memasang tatapan sinis ke arah Meilink seperti sedang mengejek Meilink.


Pak komo dengan terang-terangan membantah kalau Meilink cantik dan manis. Bagi Pak Komo, Meilink tidak termasuk kategori wanita yang cantik dan manis.

__ADS_1


"Jadi, menuruti bapak siapa wanita yang paling cantik dan manis seantero jagat ini?" Meilink berucap sambil terkekeh dan seperti sedang menantang Pak Komo tak ada wanita yang lebih cantik dan lebih manis dari pada dirinya menggunakan tatapannya.


Walaupun ditantang, Pak Komo tidak gentar mengatakan bahwa bukan Meilink yang paling cantik seantero jagat dan paling manis mengalahkan manisnya madu.


"Tentu saja ibu dan istriku tercinta." Dengan pongahnya Pak Komo berkata sambil bersedekap dada, mengangkat sedikit alis matanya.


Sungguh Pak Komo adalah pria sejati ya. Jawabannya membuat Meilink langsung terperangah tak bisa berkata apa-apa lagi.


Pak Komo berlalu ingin meninggalkan Meilink di tempatnya sekarang. Baru beberapa langkah Pak Komo berjalan, Pak komo menolehkan kepala ke belakang dan berkata pada Meilink.


" Meilink lap ingusmu itu! Kalau mau menangis cari tempat yang tepat. Sakit Mata bapak melihatmu menangis di sembarangan tempat." Berkata dengan entengnya.


'Apa, jadi tadi Pak Komo melihatku menangis.' Sambil mengelap hidungnya.


'Aaahhhhh.... malunya sampai disuruh mengelap hingus lagi. Dasar mata kau berkhianat padaku tau.' Meilink membentur-benturkan kepalanya ke dinding sekolahnya.


"Aduh.... sakit."


Meilink mengelus-elus kepalanya.


#


#


#


Jangan lupa like, vote Dan komentari juga setiap partnya ya

__ADS_1


__ADS_2