
"Keluarga kaya? Siapa?" Meilink tampak mengernyitkan keningnya.
"Keluarga Pak Subrata, Kak! Pak Subrata akan menikahkan anaknya. Ini pesta pertama yang akan diadakan keluarga Pak Subrata."
"Oh..." Meilink berpikir bahwa kelurga Cuko Sukatmaja yang memesan. Masih Ada terbersit rasa kecewanya terhadap Cuko Sukatmaja, yang telah membuat luka yang masih membekas dalam hatinya. Mungkin jika Cuko Sukatmaja yang memesan pakaian, dia akan menolak pesanan tersebut.
"Apakah kita kan menerima orderan ini, Kak?"
"Memangnya keluarga Pak Subrata membutuhkan pakaian yang bagaimana?"
"Istri Pak Subrata tadi menelpon, dia berpesan kalau desainer kita ada di tempat, dia akan datang ke ruko kita, Kak. Untuk membicarakan perihal pakaian yang dibutuhkan karena cukup banyak katanya." Maya pekerja Meilink tampak berbinar menjelaskan.
"Lalu apa yang kau katakan?"
"Maaf, Kak. Saya sudah lancang mendahului kakak. Saya tadi mengatakan bahwa desainer kami ada di tempat, dan saya mempersilahkan Ibu Subrata untuk datang ke ruko kita, Kak." Wajah pekerja Meilink tampak pias karena menyadari dia telah lancang mendahului atasannya.
Meilink tersenyum untuk menghilangkan rasa bersalah pekerjanya.
"Tidak apa-apa. Mudah-mudahan Kita mendapatkan job besar ini ya supaya pemasukan kita bertambah. Jika kita mendapatkan job besar ini, kakak akan menambah uang lembur kalian semua." Meilink kembali mengulas senyum manis.
"Horeee... terima kasih ya, Kak! Saya akan mengatakan pada yang lain, agar mereka juga mendoakan job besar ini tembus." Sambil berlari pekerja Meilink menemui teman-temanya yang berada di lantai bawah.
"Hei... hati-hati! Nanti kau bisa jatuh kalau berlari-lari di tangga!"
__ADS_1
"Hehehe...Iya kak!"
#
Siang hari Meilink menyempatkan diri untuk memantau pekerjaan para pekerjanya setelah lelah membuat desain-desain pakaian yang akan dijahit. Bukan dia tidak percaya kepada para pekerjanya tapi Meilink hanya ingin memantau kinerja para pekerjanya agar menjadi lebih baik kedepannya. Tidak jarang Meilink juga menanyakan pendapat para pekerjanya tentang apa kekurangan dari desain yang dibuatnya. Supaya Meilink dapat memperbaiki hasil karyanya menjadi lebih baik lagi.
"Selamat siang."
"Selamat siang juga Ibu. Ada yang dapat saya bantu?" Ucap Meilink kepada pengunjung yang datang.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik butik ini."
"Maaf, Ibu. Tempat ini bukan butik. Tempat ini hanya sebuah toko kecil." Meilink mengulas senyum manisnya.
Meilink tersenyum melihat tingkah Ibu yang ada dihadapannya.
"Eh...walaupun ini bukan butik tapi saya tidak pernah melihat ada desain pakaian di toko ini ada dijual di tempat lain."
"Benar Ibu. Tapi menurut saya tempat ini hanya sebuah toko kecil."
"Ah... terserahlah mau ini butik, mau ini toko kecil atau apanpun namanya saya ingin bertemu dengan desainernya. Bisakah anda membantu saya bertemu dengan desainernya?" Ibu paruh baya tersebut memegang kedua tangan Meilink dan matanya tergambar keinginan penuh harapan.
"Tentu saja, Ibu. Ibu sudah bertemu dengan desainernya." Meilink tersenyum manis.
__ADS_1
"Aaaa...dimana dia?"
"Dia ada dihadapan Ibu sekarang."
"Wah...maksudnya dirimu gadis manis." Ibu paruh baya tersebut memegang dagu Meilink sambil tersenyum.
"Iya, bu." Meilink tersenyum.
"Kau tau tidak, Nak. Aku berpikir desainernya pasti sudah tua dan pasti bawel seperti diriku. Ternyata....ckckckc...masih sangat muda dan cantik pula. Kau mau tidak kunikahkan dengan putraku?" Wajah Ibu paruh baya tersebut mengulas senyum.
'Ada-ada saja ibu yang satu ini. Baru jumpa sudah mau menyodorkan putranya padaku.'
Gumam Meilink dalam hati.
"Mau, ya! Mau, ya! Nyesel deh kamu kalau nolak anak Ibu. Anak Ibu baik orangnya. Tampan? jangan ditanya. Sudah pasti lo, nurun dari bapaknya."
Dan pada akhirnya semua hal-hal yang baik tentang putranya pun diumbar secara gamblang di hadapan Meilink, tanpa sensor dan penuh dengan bumbu-bumbu yang berlebihan disana-sini. hahahaa😅
"Ibu..."
Tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Meilink dan Ibu paruh baya tersebut.
#
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentari setiap episodenya ya 😍