Menunggu Jandamu

Menunggu Jandamu
Pekerja yang Kepo


__ADS_3

Samuel sering sekali datang ke tepi sungai di pinggiran desa x. Tidak ada yang dilakukan Samuel di tepi sungai itu. Dia hanya berdiri menatap ke arah sungai yang tenang, dan tak jarang terlihat Samuel menyentuh dan mengelus-elus dadanya. Rasa sakit ditinggal nikah oleh sang kekasih belum juga pudar dari dadanya.


Sungai yang sering didatanginya untuk melepas lelah dikala penat datang melanda dirinya, merupakan tempat pertama kali dia menyatakan cintanya pada Meilink. Disini pulalah Meilink menerima pernyataan cinta Samuel. Di tepi sungai ini mereka berdua mengikat janji akan saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Dulu, dia berencana akan membeli tanah di sekitar sungai kenangan mereka berdua, untuk di bangun sebuah rumah masa depan bersama Meilink. Kini, pembangunan rumahnya sudah hampir selesai. Namun, rencana hidup bersama Meilink di rumah masa depannya itu hanya tinggal kenangan saja. Manusia dapat berencana, tetapi Tuhan yang menentukan takdir manusia.


#


Siang ini Samuel juga datang ke tepi sungai x. Dia menatap rumahnya yang sudah hampir selesai dengan tatapan nanar. Salah seorang pekerja bangunan berkata padanya.


"Tuan, sebentar lagi rumah tuan akan selesai! Saya yakin calon nyonya rumah tuan akan sangat menyukai rumah ini!" Bersungut-sungut berkata kepada Samuel.


"Hmmm...calon nyonya rumah saya belum ada, Pak!" Samuel memaksakan diri tersenyum ramah.


"Ganteng-ganteng masak gak laku sich, Tuan?" Pekerja bangunan tersebut langsung menutup mulutnya karena dia menyadari kalau ucapannya terdengar tidak sopan.


"Hahahaa....Bapak ada-ada saja." Samuel tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Tapi kan memang tuan ganteng. Kalau di kampung saya laki-laki tampang pas-pasan aja istrinya tiga. Masak tuan ganteng banget gitu gak punya calon istri!" Pekerja bangunan itu bersungut-sungut berkata pada Samuel.


"Kalau begitu bapak salah mengatakan saya ganteng, pas-pasan pun saya tidak, Pak! Buktinya saya belum laku juga!" Masih menempelkan senyum manis di ujung bibirnya.


Memang dasar bapak pekerja bangunan ini orangnya keponya kebangetan. Pantang diajak ngobrol langsung merembet kemana-mana.


"Memangnya tuan ingin wanita yang bagaimana sich? Kok sampai sekarang belum ada calon nyonya rumah!" Terlihat mukanya serius bertanya meminta tanggapan dari Samuel.


"Saya gak mencari wanita yang aneh-aneh, Pak! Cukup yang baik hati aja!"


"Wah... kalau begitu banyak, Tuan! Apa tuan mau saya bantu carikan!" Bersemangat membantu tuannya.


"Ya, ada la tuan. Wanita yang baik hati jelas banyak. Kalau nggak, uda penuh rumah sakit diisi oleh wanita yang tidak baik hatinya, alias sakit hatinya, Tuan! Hahaha....!" Pekerja bangunan tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...bapak ini ada-ada saja!" Samuel tidak dapat menahan tawanya.

__ADS_1


"Saya serius loh, Tuan!" Memasang wajah menyakinkan di depan Samuel.


"Saya sedang menunggu seseorang yang sangat saya cintai, Pak!"


Wajah Samuel yang tadinya ceria kini berubah menjadi sendu. Pekerja bangunan yang sedang mengobrol dengan Samuel dari tadi, merasa sangat tidak enak hati melihatnya.


"Siapakah gerangan wanita beruntung yang sedang ditunggu, Tuan?"


"Mantan kekasih saya, Pak!"


"Mantan kekasih kok ditungguin sich, Tuan?Cari yang baru aja, Tuan!" Membujuk Samuel.


"Saya sangat mencintainya, Pak! Sampai sekarang saya belum bisa melupakannya. Saya pernah bermimpi kalau kami akan bersatu kembali di tepi sungai ini, memiliki sepasang anak yang manis sedang berlari-larian di tepi sungai ini!" Tersenyum manis.


"Mudah-mudahan tuan dapat bersatu dengan mantan kekasih tuan lagi." Mendoakan dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Tapi, saya juga tidak berharap kalau dia bercerai dengan suaminya, Pak!"


"Apa? Suami?" Pekerja bangunan itu terkejut dengan perkataan tuannya.


__ADS_2