
Adira Winata teringat sesuatu yang harus dilakukannya dari tadi.
" Aku harus menghubungi seseorang yang dapat memberikan Samuel kebahagiaan."
"Meilink, ya Meilink. Aku harus memberi kabar pada Meilink kalau Samuel sedang berada di rumah sakit."
Setelah beberapa menit Adira Winata menghubungi Meilink, dokter yang menangani Samuel pun keluar menghampiri Adira Winata untuk memberikan informasi bagaimana keadaan Samuel.
"Bagaimana keadaannya, Dok!" Adira Winata tampak terlihat khawatir pada Samuel.
" Keadaan pasien sudah mulai membaik kami sudah mengeluarkan serpuhan kaca yang tertinggal di tubuhnya. Hanya saja pasien belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius." Dokter menjelaskan perihal keadaan Samuel pada Adira Winata.
"Apakah saya boleh melihatnya, Dok?"
"Tentu saja boleh. Tapi tolong biarkan pasien istirahat jangan membuat hal-hal yang akan mengganggu pasien. Pasien akan sadar dengan sendirinya jika efek obat bius telah habis." Dokter memperingatkan Adira Winata.
Adira Winata masuk ke dalam ruangan Samuel dirawat. Dia melihat Samuel tertidur di kasur rumah sakit, Samuel tampak tak berdaya. Adira Winata duduk di sebelah kanan Samuel dia menatap Samuel dengan penuh sayang.
__ADS_1
Tiba-tiba saja pintu kamar rawat Samuel terbuka. Tampak sosok seorang wanita berpakaian muslimah berdiri di depan pintu kamar perawatan Samuel.
Meilink datang tergesa-gesa ke rumah sakit untuk melihat keadaan Samuel yang kata Adira Winata sedang dirawat di rumah sakit karena luka tusukan. Meilink melihat Samuel terbaring tidak berdaya di atas kasur pesakitan, dia mendekati Samuel dan Adira Winata. Meilink menanyakan keadaan Samuel pada Adira Winata.
"Bagaimana keadaan Samuel, Adira?" Meilink menahan isak tangisnya yang hampir pecah karena melihat keadaan Samuel.
"Samuel, sudah membaik. Dia hanya butuh istirahat yang cukup."
"Siapa yang melukainya, hingga Samuel mengalami hal seperti ini, Adira?" Meilink mencari tau informasi yang terjadi pada Samuel.
'Mana mungkin aku memberi taumu kalau Samuel menusukkan pecahan kaca gelas di pahanya untuk menghindari menjamah tubuhku. Samuel melakukan itu agar rasa sakit di pahanya lebih mendominasi dari pada hasrat kelaki-lakiannya. Aku pasti tidak akan punya muka jika mengatakan itu semua kepadamu. Aku bahkan tidak punya harga diri lagi di hadapan Samuel. Jangan sampai di hadapanmu aku juga tidak punya harga diri.'
Gumam Adira Winata dalam hati.
Samuel akhirnya sadarkan diri, efek obat biusnya sepertinya lama kelamaan memudar. Samuel mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengembalikan cahaya penglihatannya. Samuel melihat sosok gadis yang sangat dirindukannya sedang tersenyum manis di hadapannya dengan mata sembab yang agak sedikit bengkak karena menangis.
"Meilink, apakah itu benar kau?" Samuel tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Iya, ini aku Meilink. Aku datang untuk menjengukmu. Adira yang menghubungiku dan memberitahukanku kalau kau ada di rumah sakit ini."
"Adira?" Mencari sosok Adira Winata di dalam ruangan perawatannya sekarang.
Adira tampak cemas, kalau-kalau Samuel akan mengungkapkan kejadian yang sesungguhnya terjadi antara Samuel dan Adira Winata.
Kecemasan Adira Winata tertangkap dengan jelas oleh mata tajam Samuel.
"Jadi, kau yang membawaku ke sini?" Tanya Samuel dengan nada datar kepada Adira Winata.
"I, iya." Jawab Adira Winata takut-takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Samuel? Mengapa kau sampai mengalami Luka tusukan di paha?" Tanya Meilink pada Samuel.
"Oh...itu."
#Jangan lupa like, vote, dan komentari setiap kata-katanya ya.
__ADS_1